Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Mencari kamar lain


__ADS_3

Malam ini, Rafa, Arumi, Bu Hesti dan Pak Tama masih berada di ruang tengah.


Rafa sudah nyenyak di pangkuan Bu Hesti. Sudah dari tadi sore, Arumi berada di paviliun bersama ke dua orang tuanya.


"Arumi, kamu tidak ke rumah depan?" tanya Bu Hesti menatap Arumi lekat.


"Mau ngapain? Tuan muda juga nggak mau ketemu sama aku. Nanti aku di marahin lagi dan di bentak-bentak lagi. Mendingan aku tidur aja di sini sama Rafa," ucap Arumi.


"Arumi, yang sabar ya. Kamu harus sabar menghadapi Arkan, ibu tahu sebenarnya Arkan itu lelaki yang baik. Ibu sudah mengenalnya sejak dia masih kecil," ucap Bu Hesti.


Baik apanya. Kenapa ibu jadi belain lelaki itu sih. Dia kan sudah pernah menculik aku dan menyekap aku. Sebenarnya aku nggak mau dekatin dia dengan Rafa. Aku takut dia akan mencelakai anak aku Rafa, batin Arumi.


Arumi khawatir Arkan akan mencelakai Rafa juga setelah Rafa tinggal bersamanya. Apalagi, Rafa orang pertama yang sudah menjadi penyebab kegagalan pernikahan Arkan dengan Nilam. Tidak menutup kemungkinan, kalau Arkan akan dendam dengan Rafa.


"Ya udah, malam ini biar Rafa tidur sama ibu aja ya Arumi," ucap Bu Hesti.


"Iya Bu. Rafa sepertinya juga nurut sama ibu. Biar Arumi tidur di kamar sebelah aja."


"Iya."


Bu Hesti menatap suaminya lekat.


"Pak, tolong dong. Gendong Rafa sampai ke kamar ibu. Biar Rafa tidur sama kita di kamar malam ini. Ibu lagi pengin tidur sama Rafa cucu ibu," ucap Bu Hesti menyuruh suaminya untuk menggendong Rafa.


Pak Tama menatap cucunya lekat. Ada rasa penyesalan yang dalam dari hati Pak Tama, karena Pak Tama pernah mengusir Arumi dari rumah dan menelantarkan Arumi dengan Rafa darah daging Arkan.


Seandainya Pak Tama tahu, lelaki siapa yang sudah menghamili Arumi, mungkin Pak Tama tidak akan pernah mengusir Arumi. Pak Tama melihat, Pak Mahendra itu sangat sayang pada Rafa dan Arumi.


"Tapi apa nggak sempit Bu kalau kita tidur bertiga," ucap Pak Tama.


"Kalau sempit ya bapak tidur di sini aja," ucap Bu Hesti mengusulkan.


"Ya udahlah, sini biar bapak gendong Rafanya."


Pak Tama kemudian menggendong Rafa sampai ke dalam kamarnya.


"Arumi, ibu ke kamar dulu ya. Kalau kamu udah ngantuk, kamu boleh tidur di kamar sebelah," ucap Bu Hesti.


Arumi mengangguk" Iya Bu."


Setelah Pak Tama, Bu Hesti dan Rafa masuk ke dalam kamar, tiba-tiba saja ketukan pintu dari pintu depan terdengar.


Arumi mematikan saluran tivi nya dan melangkah ke depan untuk membuka pintu depan.

__ADS_1


Arumi tersenyum saat melihat kedatangan Pak Mahendra.


"Papa, ada apa Pa?" tanya Arumi.


"Kamu tidak tidur di kamarnya Arkan?"


"Untuk apa Pa aku tidur di sana?"


"Arumi. Sekarang kan kalian sudah menjadi suami istri. Kalian harus tidur sekamar. Nggak boleh tidur pisah-pisahan. Apalagi kalian itu pengantin baru. Papa sudah bilang sama Arkan, kalau kamu akan tidur di kamarnya "


"Tapi Pa, bagaimana kalau Mas Arkan marah lagi sama aku. Kemarin sore aja dia marahin aku sama Rafa."


"Tidak Arumi. Arkan tidak akan marah-marah lagi sama Kamu. Papa sudah bicara sama Arkan. Dan Arkan sudah berjanji kalau dia nggak akan marah-marah lagi sama kamu dan Rafa. Percayalah sama Papa. Papa minta sama kamu, kamu harus tidur di kamarnya Arkan"


Arumi berfikir sejenak. Setelah itu dia mengiyakan apa yang Pak Mahendra ucapkan.


"Baiklah Pa, aku akan tidur di kamarnya Tuan Arkan," ucap Arumi.


Pak Mahendra tersenyum.


"Ya udah Arumi. Cepat kamu tidur. Papa ingin kamu dan Arkan belajar untuk saling mencintai. Karena sekarang kalian sudah menjadi suami istri."


"Iya Pa."


"Kamu harus janji sama Papa, kamu harus jadi istri yang sabar. Sabar menghadapi sikap Arkan yang kasar. Sebenarnya Arkan itu baik Arumi. Dia sama Nilam saja sangat baik.Dia juga bisa baik sama kamu, kalau kamu sudah bisa menaklukkan hatinya. Papa harap, kamu jangan menyerah untuk mendapatkan hati Arkan."


"Iya Pa."


"Ngomong-ngomong, di mana Rafa anak kamu?" tanya Pak Mahendra.


"Rafa ada di kamar ibu aku Pa, dia udah tidur," jawab Arumi.


"Oh, Rafa udah tidur. Dia mau tidur di kamar Bu Hesti? "


"Iya Pa. Dia nurut kok sama ibu."


"Ya udah, nggak usah ganggu Rafa. Biarkan dia tidur."


"Iya Pa."


Arumi dan Pak Mahendra kemudian berjalan beriringan untuk masuk kembali ke rumah utama.


Sesampainya di ruang tengah, Pak Mahendra menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Arumi. Papa ke kamar dulu ya."


Arumi tersenyum dan mengangguk.


"Iya Pa."


Pak Mahendra berjalan menuju kamarnya. Sementara Arumi berjalan naik ke lantai atas untuk menuju ke kamar Arkan.


Sesampainya di depan kamar Arkan, Arumi menghentikan langkahnya. Dia takut untuk masuk ke dalam kamar Arkan. Dia pun ragu untuk mengetuk pintu kamar itu. Arumi sebenarnya juga masih takut dengan kemarahan Arkan.


"Duh, gimana ya kalau Tuan muda marah lagi sama aku. Bagaimana kalau dia ngusir aku dari kamarnya," ucap Arumi.


Setelah lama Arumi berfikir, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Arkan itu.


Tok tok tok...


"Tuan muda, buka pintunya Tuan muda. Ini aku Tuan muda. Aku di suruh Tuan besar, untuk tidur di kamar Tuan muda, apakah aku boleh masuk ke dalam?" tanya Arumi.


Namun tak ada sahutan dari kamar Arkan.


"Kok, sepi ya kamarnya. Kemana ya Mas Arkan. Kenapa dia nggak menyahut. Dia ada di dalam nggak sih, atau jangan-jangan dia sudah tidur di dalam," ucap Arumi.


Setelah lama Arumi mengetuk pintu, akhirnya Arumi memberanikan diri untuk membuka pintu itu.


"Lho, nggak di kunci. Apa Mas Arkan sengaja tidak mengunci pintu kamarnya, karena dia tahu aku akan ke sini. Atau dia lupa mengunci pintu kamarnya," ucap Arumi.


Arumi kemudian pelan-pelan masuk ke dalam kamar Arkan.


Arumi terkejut saat dia tidak melihat Arkan ada di dalam kamar.


"Lho, Mas Arkan kemana ya, kenapa dia tidak ada di dalam kamarnya," ucap Arumi dengan menatap ke sekeliling.


"Biarin aja lah, mungkin dia tidur di kamar lain. Karena dia tidak mau tidur satu kamar denganku,"ucap Arumi.


Arumi kemudian naik ke atas ranjang Arkan. Setelah itu dia langsung memejamkan matanya dan tidur.


Beberapa saat kemudian, setelah Arumi terlelap, Arkan masuk ke dalam kamarnya.


Dia terkejut saat melihat Arumi ada di dalam kamarnya.


"Arumi, kenapa dia bisa ada di sini. Aku yakin, ini semua pasti karena Papa. Pasti papa yang nyuruh Arumi untuk tidur di sini," geram Arkan.


Arkan mendekat ke arah Arumi. Namun dia tidak berani untuk membangunkannya.

__ADS_1


"Kasihan dia kalau di bangunin. Biarin aja lah dia tidur di sini. Biar aku tidur di kamar lain aja," ucap Arkan.


Arkan kemudian pergi meninggalkan kamarnya untuk mencari kamar yang lain


__ADS_2