Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Ketahuan


__ADS_3

Jam lima pagi, Lira masih sibuk mengacak-acak lemarinya. Dia seperti sedang mencari sesuatu di dalam lemarinya.


"Duh, ke mana ya rok aku," ucap Lira sembari mencari roknya.


Lira melangkah keluar dari kamarnya.


"Bu, lihat rok aku nggak Bu?" tanya Lira pada ibunya.


"Rok yang mana?"


"Itu lho bu, rok yang kemarin aku cuci. Ibu kan yang ngangkatin jemuran aku kemarin."


"Kemarin adik kamu yang ngangkat jemuran kamu Lir. Coba sana kamu cari di kamar adik mu. Siapa tahu, ke campur sama baju dia."


"Iya Bu."


Lira buru-buru ke kamar Arumi. Dia kemudian mengetuk pintu kamar Arumi.


Tok tok tok...


"Rum... Arumi...! ini Mbak Rum. Boleh Mbak masuk Rum...!" ucap Lira sembari mengetuk pintu kamar Arumi.


Namun tidak ada jawaban dari kamar Arumi. Sepertinya Arumi masih nyenyak tidur.


Lira mencoba untuk membuka pintu kamar Arumi.


"Ternyata, nggak di kunci. Tahu nggak di kunci, aku masuk aja dari tadi," ucap Lira.


Lira kemudian masuk ke dalam kamar adiknya. Setelah itu dia membuka lemari adiknya untuk mencari roknya.


Pluk...


Sesuatu terjatuh dari lemari Arumi. Pandangan Lira langsung menatap ke bawah.


Lira terkejut saat melihat ke bawah. Dia berjongkok untuk mengambil sebuah tespack yang dia jatuhkan ke bawah.


"Apa ini," ucap Lira sembari memungut tes pack itu.


Lira terkejut saat melihat hasil positif di dalam tas pack itu.


"Tes pack siapa ini. Kenapa bisa ada di lemari baju Arumi. Apa ini punya ibu. Tapi nggak mungkin punya ibu. Ibukan udah nggak bisa punya anak."


Lira mengalihkan pandangannya pada adiknya yang saat ini masih terlelap.

__ADS_1


"Jangan-jangan, ini milik Arumi. Nggak, nggak mungkin ini milik Arumi. Aku coba tanya sama ibu aja deh."


Lira memutar tubuhnya untuk ke luar dari kamar. Namun dia hentikan langkahnya saat dia mengingat sesuatu.


Dari kemarin, Arumi itu sering mual-mual dan sampai muntah-muntah. Jangan-jangan memang benar kalau dia hamil. Tapi, dia hamil anak siapa? siapa lelaki yang sudah menghamilinya. Duh, bagaimana kalau ada orang yang tahu tentang hal ini. Bagaimana kalau bapak sampai tahu. Bisa marah besar dia sama Arumi"


Lira mendekat ke arah tempat tidur Arumi. Dia kemudian menggoyang-goyangkan tubuh adiknya untuk membangunkannya.


"Arumi, bangun Arumi," ucap Lira.


Beberapa saat kemudian, Arumi mengerjapkan matanya. Dia menatap ke arah Lira.


"Mbak, ada apa?" tanya Arumi sembari beringsut duduk. Dia kemudian mengucek matanya.


"Mbak, ada apa sih Mbak? aku masih ngantuk tahu Mbak."


"Ngantuk-ngantuk, bukannya bangun sholat subuh. Mau sampai jam berapa kamu tidur?"


Arumi menegakan tubuhnya dan menatap lekat kakaknya.


"Apa ini Arumi?" tanya Lira sembari menunjukan benda pipih itu di depan Arumi.


Arumi terkejut saat melihat tes pack yang di pegang Lira. Arumi yakin kalau Lira pasti sudah menemukan tes pack nya. Begitu cerobohnya Arumi dalam menyimpan tes pack.


"Arumi jawab Mbak. Ini punya siapa Arumi? kenapa bisa ada tes pack ini di lemari kamu?"


"Itu ..em. Itu..."


"Itu itu apa? jangan bilang kalau ini tes pack punya kamu Arumi," ucap Mbak Lira dengan nada tinggi.


Arumi sudah tidak bisa mengelak lagi sekarang. Karena memang benar, kalau itu tes pack miliknya. Dan Arumi sama sekali tidak dapat mencari alasan lagi.


"Arumi. Jawab Mbak Arumi. Ini punya kamu?" tanya Mbak Lira sekali lagi.


Namun tampaknya Arumi belum mau menjawab. Membuat Mba Lira tampak kesal. Mbak Lira sejak tadi masih memaksa Arumi untuk bicara.


"Ayo Arumi. Jawab Mbak. Jujur saja sama Mbak Arumi. Apa ini milik kamu?"


Arumi diam. Dia tidak berani untuk menjawab pertanyaan dari Mbak Lira. Arumi hanya bisa menangis sesenggukan di depan Mbak Lira. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya.


"Itu memang benar punya aku Mbak," ucap Arumi di sela-sela tangisannya.


"Apa!" Mbak Lira syok saat mendengar penuturan Arumi.

__ADS_1


Hampir saja jantung Mbak Lira keluar dari tempatnya saat mendengar ucapan Arumi.


Di luar kamar, samar-samar Bu Hesti mendengar tangisan Arumi. Bu Hesti fikir, Arumi dan Lira bertengkar lagi. Karena mereka juga sering bertengkar layaknya anak kecil. Terkadang Lira dan Arumi tidak mau ada yang dikalahkan.


"Anak dua kenapa lagi sih itu. Si Lira lagi kenapa sih. Lagi-lagi dia bikin Arumi nangis, kalau mau cari rok, nggak sabaran banget sih," omel Bu Hesti sembari berjalan ke arah Arumi.


Sesampainya di depan kamar Arumi, Bu Hesti kemudian masuk ke dalam kamar Arumi. Dia mendekat ke arah Arumi dan Lira.


"Kalian kenapa lagi sih? lagi ributin apa lagi. Udah pagi lho ini."


Lira bangkit dari duduknya. Dia kemudian mendekat ke arah ibunya. Sebenarnya Lira tidak tega harus mengatakan ini pada ibunya. Karena Lira tahu, kalau ibunya punya riwayat penyakit jantung. Jika Lira mengetakan hal ini pada ibunya, bisa saja ibunya pingsan.


Namun Lira harus berbuat apa sekarang. Walaupun Lira mencoba untuk menutupi aib Arumi, aib itu juga pasti akan terbongkar juga suatu saat nanti. Dan lama-lama Bu Hesti juga pasti akan tahu.


Lira menunjukan sebuah benda kecil pipih pada ibunya.


"Lihat Bu," ucap Lira.


"Bu Hesti terkejut saat melihat tes pack yang ada di tangan Lira."


"Astaghfirullah, apa ini?" Bu Hesti mengambil alat tes hamil itu dari tangan Lira.


Dia kemudian menatap Lira tajam.


"Lira, kamu hamil sama Heru? bodoh sekali kamu itu Lir. Kamu itu kan belum menikah. Kalian juga belum tunangan," ucap Bu Hesti. Dia sudah menatap tajam Lira. Dia fikir kalau alat tes hamil itu punya Lira.


"Bu, ibu udah salah paham. Itu bukan punya aku Bu. Tapi itu punya anak bungsu ibu. Arumi," ucap Lira.


Bu Hesti terkejut. Tubuhnya hampir saja terhuyung ke belakang. Untung saja Lira buru-buru menangkapnya.


"Bu, ibu nggak apa-apa kan?" tanya Lira.


"Ayo Bu, kita duduk!" Lira mengajak ibunya untuk duduk.


Lira kemudian membawa ibunya untuk duduk di kursi yang ada di dalam kamar Arumi.


Tepat seperti apa dugaan Lira. Pasti Bu Hesti akan syok saat mendengar kabar buruk ini.


Lira tahu kalau ibunya punya lemah jantung. Dia pasti akan syok dan tubuhnya akan melemas jika dia dihadapkan dengan masalah besar seperti ini.


"Hiks ..hiks... " Bu Hesti tiba-tiba saja menangis.


Tanpa bicara sepatah katapun dia menangis. Dia tidak menyangka kalau Arumi anak yang dia banggakan bisa hamil di luar nikah. Dia tidak sanggup untuk menerima kenyataan ini.

__ADS_1


__ADS_2