Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Di apartemen


__ADS_3

Arkan masih menatap ke luar jendela kamar apartemennya. Saat ini, dia sedang berada di apartemen pribadinya. Arkan tidak mungkin pulang ke rumahnya. Karena ayahnya pasti akan menyuruhnya tidur sekamar dengan Arumi.


Arkan tidak akan mau tidur sekamar dengan Arumi. Karena dia tidak pernah mencintai Arumi dan dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini terjadi.


Sejak kepergiannya siang tadi, Arkan langsung bergegas pergi meninggalkan rumah dan meluncur menuju ke apartemennya. Dan saat ini, Arkan masih sendiri di apartemen.


"Nilam, kenapa kamu harus pergi dan menggagalkan pernikahan kita. Seharusnya kita itu sudah menikah, dan malam ini, adalah malam pertama kita," ucap Arkan di sela-sela lamunannya.


Sejak tadi, Arkan masih memikirkan Nilam. Arkan sudah berkali-kali menghubungi Nilam, namun Nilam belum mau mengangkat panggilan dari Arkan. Sepertinya Nilam memang masih marah dengan Arkan.


Arkan tahu, semua orang pasti sudah kecewa dengan kebohongan Arkan itu. Apalagi Arumi sudah mengungkapkan kejahatan Arkan juga di depan orang-orang.


Arkan benar-benar malu, karena semua aibnya sudah menyebar keluar. Arkan yakin, kalau sekarang media-media pasti akan memberitakannya. Arkan tidak berani keluar rumah karena dia pasti akan di kejar wartawan untuk bahan pemberitaan.


Arkan saat ini, sangat marah pada Arumi. Dia semakin membenci wanita itu.


"Kamu sudah mempermalukan aku di depan umum Arumi. Awas saja kamu Arumi. Aku tidak akan pernah memaafkan semua perbuatan kamu. Gara-gara kamu, aku menanggung malu seperti ini," geram Arkan.


Sejak tadi dia masih bergumam sendiri. Menyalahkan Arumi yang sudah menghancurkannya. Seharusnya Arkan sadar, kalau dulu dia juga sudah menghancurkan kehidupan Arumi dengan menghamilinya. Mungkin ini adalah karma untuk Arkan karena sudah jahat pada Arumi.


Arkan lelaki yang selalu menjunjung sekali harga dirinya, kini di depan masyarakat, tidak lebih dari seorang lelaki pengecut.


Dia sudah menghamili seorang gadis namun dia tidak mau tanggung jawab dengan kehamilan gadis itu.


"Kenapa semua jadi berantakan begini. Seharusnya ini malam pertama aku dengan Nilam. Tapi kenapa Arumi harus datang dan menghancurkan acara pernikahan aku dengan membawa anaknya. Apa dia memang sengaja ingin menghancurkan ku karena dia dendam denganku," ucap Arkan dengan nada tinggi.


Arkan menutup korden jendela kamar apartemennya. Setelah itu dia memutar tubuhnya dan kembali ke tempat tidurnya. Arkan naik ke tempat tidur dan berbaring untuk istirahat.


Arkan merasa sangat lelah sekali malam ini. Lelah hati, dan lelah fikiran.


Arkan mengambil ponselnya yang ada di atas kasur. Dia kemudian kembali menghubungi Nilam. Entah sudah ke berapa kalinya Arkan menelpon Nilam.


"Mudah-mudahan, Nilam mau mengangkat panggilan dariku," ucap Arkan.


Arkan kemudian menekan nomer Nilam.


Tut Tut Tut...

__ADS_1


"Nilam, angkat dong sayang. Aku pengin bicara sama kamu Nilam. Kita harus bicara berdua," ucap Arkan..


Arkan kembali menekan nomer Nilam. Dia mencoba untuk menghubungi Nilam kembali.


"Halo..."


"Halo Nilam. Kenapa kamu baru angkat telpon aku. Kamu kemana aja sayang."


"Halo Nak Arkan. Ini Tante Hana Nak."


"Tante Hana. Nilamnya mana Tan?"


"Nilamnya sudah tidur. Sepertinya dia lelah. Dari siang, dia nangis terus dan dia juga belum mau makan. "


"Ya ampun. Ini semua pasti gara-gara aku ya Tan. Maafkan aku ya Tan. Bisa aku bicara dengan Nilam Tan."


"Tante kan udah bilang, kalau Nilamnya udah tidur. Tante nggak berani membangunkannya. Nilam juga sepertinya masih marah dan kecewa sama kamu. Biarkan dia sendiri dulu ya Nak Arkan."


"Tapi Tan. Besok aku pengin ketemu Nilam. Aku mau membicarakan soal masalah ini."


"Tan, aku itu tidak cinta sama Arumi. Aku itu cuma cintanya sama Nilam. Kan dua tahun aku pacarannya sama Nilam. Seharusnya aku nikahnya sama Nilam. Kenapa Nilam harus pergi meninggalkan acara pernikahannya."


"Nak Arkan, Nilam itu sebenarnya syok saat mengetahui kalau Nak Arkan itu sudah punya anak dari wanita lain. Seharusnya Nak Arkan jujur dari awal. Mungkin Nilam bisa ngerti."


"Tan, tolong. Jangan suruh aku untuk melupakan Nilam. Aku tidak akan bisa melupakan dia."


"Ya udahlah Nak Arkan. Tante tidak mau ikut campur urusan kamu sama Nilam. Apalagi soal perasaan. Biar Nak Arkan saja yang menyelesaikannya dengan Nilam. Nak Arkan bisa bicara langsung sama Nilamnya nanti. Sudah dulu ya Nak Arkan. Udah malam. Tante tutup dulu telponnya."


"Iya Tan."


Tut Tut Tut.


Bu Hana memutuskan saluran telponnya begitu saja.


Arkan menarik nafas panjang. Dia kemudian meletakkan ponselnya kembali dan mencoba untuk memejamkan matanya.


Ring ring ring...

__ADS_1


Baru saja Arkan terlelap, suara ponsel Arkan berdering. Arkan mengerjapkan matanya saat mendengar deringan ponselnya.


Arkan tersenyum. Dia fikir, itu telpon dari Nilam. Arkan buru-buru mengambil ponselnya.


Arkan terkejut saat melihat panggilan yang ada di dalam ponselnya. Ternyata bukan Nilam yang menelpon Arkan. Tapi ayahnya yang menelponnya.


"Kenapa sih, Papa harus telpon aku segala," ucap Arkan.


Arkan kemudian mengangkat panggilan dari Pak Mahendra.


"Halo..."


"Halo Arkan. Kamu kemana aja Arkan. Kenapa kamu tidak aktifkan hape kamu. Kamu di mana sekarang. Kenapa jam segini kamu belum pulang."


"Mau ngapain aku pulang Pa. Aku malas pulang ke rumah, kalau Arumi masih ada di rumah itu."


"Apa maksud kamu Arkan. Arumi itu istri kamu sekarang. Dan kamu harus ingat. Kalau Rafa adalah anak kandung kamu. Kamu harus sayangi mereka berdua.


"Pa, papa masih percaya dengan Arumi. Aku nggak pernah menghamili dia Pa."


"Arkan sudahlah, kamu nggak usah ngelak terus dan banyak berkelit. Sudah jelas-jelas Rafa itu mirip kamu Arkan. Dan asal kamu tahu Arkan. Papa itu sudah sangat mengharapkan seorang cucu di kehidupan Papa. Dan Papa tidak akan pernah biarkan Arumi dan Rafa pergi dari rumah Papa. Kalau kamu nggak mau sama Arumi, lebih baik kamu aja yang pergi dari rumah Papa."


"Apa! Papa kok gitu Pa. Ini nggak adil namanya. Seharusnya aku menikah dengan Nilam."


"Tapi Nilam nggak mau nikah sama kamu Arkan. Buktinya dia pergi dari acara pernikahannya dan menggagalkan pernikahan kalian. Dia nggak benar-benar cinta sama kamu Arkan."


"Pa, Nilam itu cinta sama aku. Dan aku juga cinta sama Nilam. Kami saling mencintai Pa. Jika Arumi tidak datang di acara pernikahan aku, semuanya nggak akan seperti ini."


"Bagus kalau Arumi datang. Dia juga datang dengan tepat waktu, kalau Arumi tidak datang ke pernikahan kamu, tidak mungkin Papa tahu semua kebusukan kamu Arkan. Kamu sudah menyembunyikan masalah sebesar ini dari Papa."


"Pa, aku ngantuk Pa. Aku mau tidur. Aku nggak mau berdebat terus sama Papa. Aku capek."


"Sekarang kamu di mana? "


"Papa nggak perlu tahu aku di mana. Pokonya aku nggak mau pulang ke rumah. Titik."


Arkan memutuskan saluran telponnya begitu saja. Setelah itu Arkan menonaktifkan ponselnya. Dan kembali tidur. Untuk malam ini, dia ingin tidur dengan nyenyak tanpa ingin, ada lagi orang yang menggangunya.

__ADS_1


__ADS_2