Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Rencana tes DNA


__ADS_3

Arkan kemudian pergi meninggalkan kamarnya. Dia berjalan menuruni anak tangga untuk menemui Pak Mahendra yang ada di ruang tengah.


Sesampainya di ruang tengah, Arkan menghentikan langkahnya. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di dekat ayahnya.


"Papa, ada apa Pa?" tanya Arkan menatap ayahnya lekat.


"Arkan, papa ingin bicara sama kamu," ucap Pak Mahendra menatap Arkan tajam.


"Bicara apa Pa?" tanya Arkan lagi.


"Dari mana aja kamu selama seminggu ini? kamu tidak masuk kantor, kamu juga tidak pulang ke rumah," ucap Pak Mahendra dengan nada tinggi.


Sepertinya Pak Mahendra kesal dengan Arkan. Karena sudah satu minggu dia pergi meninggalkan rumah tanpa kabar.


Arkan menghela nafas dalam.


"Selama satu minggu ini aku ada di rumah sakit Pa," jawab Arkan jujur.


Pak Mahendra mengernyitkan alisnya.


"Di rumah sakit? ngapain kamu di rumah sakit?" tanya Pak Mahendra.


"Nilam Pa. Nilam ada di rumah sakit selama seminggu ini. Jadi aku di sana untuk jagain dia," ucap Arkan menjelaskan.


"Nilam sakit? sakit apa dia?" tanya Pak Mahendra penasaran.


"Dia keracunan Pa."


Pak Mahendra terkejut saat mendengar ucapan Arkan.


"Apa! keracunan?"


"Iya. Dia sudah melakukan percobaan bunuh diri dengan minum racun."


Pak Mahendra kembali terkejut.


"Apa! bunuh diri? Nilam mencoba melakukan bunuh diri?" ucap Pak Mahendra.


"Iya Pa."

__ADS_1


"Terus bagaimana kondisinya sekarang Arkan? kenapa dia bisa melakukan hal nekat seperti ini."


"Dia baik-baik saja kok Pa. Malah sekarang dia sudah dibawa pulang ke rumahnya."


"Kenapa kamu tidak memberi tahu Papa soal hal ini Arkan."


"Aku takut Papa akan marah sama aku, karena aku sudah meninggalkan Arumi dan menemui Nilam diam-diam. Tapi aku cuma mau bantu Nilam aja kok Pa."


Sebenarnya Arkan takut, mendapatkan kemarahan ayahnya karena dia sudah pergi dari rumah dan meninggalkan Arumi. Tapi Arkan juga tidak punya alasan lain, selain alasan itu.


"Ya syukurlah, kalau Nilam sudah pulang ke rumahnya. Itu tandanya, dia sudah tidak apa-apa," ucap Pak Mahendra.


Arkan menatap tajam Pak Mahendra.


Menurut Arkan, orang yang seharusnya disalahkan itu ayahnya, karena dia yang sudah memaksa Arkan untuk menikah dengan Arumi waktu itu.


Dan itu adalah penyebab, kenapa Nilam bisa melakukan bunuh diri. Dia kecewa karena Arkan, lelaki yang dicintainya sudah punya anak dari wanita lain, dan sekarang Arkan sudah menikahi wanita itu.


"Ini semua gara-gara Papa. Seharusnya Papa tidak menyuruh aku menikah dengan Arumi. Mungkin, jika aku tidak menikah dengan Arumi, kejadian seperti ini, tidak akan terjadi pada Nilam," ucap Arkan.


"Kok kamu jadi nyalahin Papa. Apa salah Papa. Papa cuma minta kamu untuk tanggung jawab. Begitu saja. Sebelum papa menyuruh kamu menikahi Arumi, Nilam juga sudah pergi dan menggagalkan pernikahan kalian. Gimana sih, kenapa kamu harus nyalahin Papa."


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" ucap Pak Mahendra tampak marah.


"Pa, aku tidak mungkin bahagia dengan pernikahan yang di lakukan tidak atas dasar cinta. Papa seharusnya memikirkan perasaan aku dong. Aku ngga akan mungkin bahagia menikah dengan Arumi.


"Tapi Arumi itu sudah jadi istri kamu. Dan ingat Arkan, Rafa itu anak kandung kamu. Kamu harus belajar untuk mencintai dan menerima mereka."


"Pa, bisa saja Rafa itu bukan anak aku. Tapi anak Arumi degan pria lain. Papa jangan percaya begitu saja dong Pa dengan Arumi. Bisa saja Arumi itu bohong."


Arumi meneteskan air matanya saat mendengar percakapan Arkan dengan Pak Mahendra. Namun dia buru-buru mengusapnya.


Kenapa ya, Tuan muda bicara seperti itu. Sampai sekarang, dia tidak mau mengakui Rafa sebagai anak kandungnya. Padahal aku belum pernah melakukan hubungan dengan lelaki kecuali sama dia malam itu. Tega sekali dia bicara seperti itu, batin Arumi.


Arumi kemudian melanjutkan langkahnya untuk ke belakang.


"Arkan, Papa yakin kalau Rafa itu anak kamu. Dia aja mirip sama kamu," ucap Pak Mahendra.


"Mirip bukan berarti itu anak aku Pa. Papa harus buktikan dulu dengan tes DNA. Jangan asal percaya begitu saja," ucap Arkan.

__ADS_1


"Oke. Papa akan tes DNA Rafa. Kalau dia benar-benar anak kamu, Papa minta sama kamu, kamu harus sayangi dia. Jangan bentak-bentak dia kayak tadi, dan sampai dia nangis."


Arkan terkejut saat mendengar ucapan ayahnya.


"Nangis? siapa yang nangis Pa?" tanya Arkan.


"Rafa nangis. Dia bilang kamu sudah marahin dia."


"Apa! Rafa bilang gitu?"


"Iya. Apa yang sudah kamu lakukan pada anak itu? Dia masih kecil Arkan. Dia belum tahu apa-apa."


"Aku nggak ngapa-ngapain dia kok. Aku cuma nyuruh Arumi dan Rafa pergi dari kamar aku. Karena kamar aku sangat berantakan sekali Pa. Papa tahu kan kalau aku paling tidak suka berantakan. Dan apakah Arumi dan Rafa tidur di kamar aku selama aku pergi?"


"Iya. Papa yang nyuruh mereka untuk tidur di kamar kamu."


"Kenapa sih Pa, Papa malah nyuruh Arumi dan Rafa untuk tidur di kamar aku. Kan kamar di rumah ini ada banyak. Kenapa papa nggak nyuruh mereka tidur di kamar tamu."


"Arumi itu sekarang istri kamu Arkan. Kamu harus tidur satu kamar dengan dia."


Arkan menghela nafas dalam. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia tidur bareng dengan Arumi dan Rafa.


"Tapi Pa, aku kan sudah bilang, aku nggak cinta sama Arumi. Jangan paksa aku untuk tidur sekamar dengannya."


"Arkan, Papa minta sama kamu, mulai sekarang kamu harus belajar melupakan Nilam dan belajar mencintai Arumi. Karena istri kamu sekarang itu Arumi. Bukan Nilam. Kamu nggak usah ngurusin urusannya Nilam lagi Arkan. Karena kamu sekarang sudah punya istri. Papa yakin, suatu saat nanti, kalian bisa saling mencintai."


Arkan tidak tahu lagi apa yang akan dia bicarakan dengan ayahnya. Ayahnya ngotot sekali ingin Arkan tidur satu kamar dengan Arumi.


"Tapi Pa..."


"Ingat Arkan, selama papa masih hidup, Papa masih berkuasa atas semua harta papa. Kalau kamu nggak mau nurut dengan Papa, Papa akan cabut semua fasilitas kamu termasuk jabatan kamu di kantor."


"Maksud Papa apa? kenapa sih, Papa suka sekali mengancam aku dengan kata-kata itu. Aku ini anak Papa satu-satunya. Cuma aku yang berhak mewarisi semua harta Papa."


"Tapi kalau kamu berani membantah perintah dari Papa, papa bisa melakukan apapun Arkan termasuk memindahkan nama rumah ini dan perusahaan atas nama Rafa."


"Apa? Rafa?"


"Ya, kalau sampai tes DNA itu membuktikan Rafa adalah anak kamu, Papa bisa aja memberikan harta papa ke Rafa."

__ADS_1


Apa papa sudah gila, Arumi benar-benar menyebalkan. Ini nih, yang aku takutkan dari dulu, anak yang Arumi kandung, akan menghancurkan hidupku, kenapa dia harus hidup dan ada di tengah-tengah kehidupan keluargaku, batin Arkan.


__ADS_2