Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
lelaki licik


__ADS_3

Dua pilihan yang sangat sulit untuk Arumi. Dia harus pergi meninggalkan negaranya atau dia akan tetap tinggal di sini namun dengan syarat dia harus menggugurkan kandungannya.


Arumi tidak mungkin menggugurkan kandungannya karena dia takut dosa. Dan dia masih ingat nasihat-nasihat dari dokter Leo. Arumi akan mempertahankan kandungannya sampai kapanpun.


Namun Arumi juga tidak bisa pergi ke negara lain. Akan seperti apa hidupnya seandainya Arumi di buang ke luar negeri oleh Arkan, sementara dia sedang mengandung. Arumi juga tidak mungkin menemukan orang baik di sana. Karena bahasanya saja pun sudah beda.


Seandainya Arumi boleh memilih. Arumi akan memilih untuk tinggal di kampung ke dua orang tuanya yang jelas-jelas banyak saudara di sana..


"Aku nggak mau. Aku nggak mau jauh dari keluargaku Tuan Arkan. Aku mohon, aku janji. Aku tidak akan pernah menggangu kehidupan kamu Tuan Arkan. Aku juga tidak akan pernah mengatakan apapun pada orang lain tentang siapa anak ini. Tapi tolong, jangan suruh aku pergi jauh dari ayah dan ibuku. dan jangan suruh aku untuk menggugurkan kandungan aku Tuan."


"Arumi. Aku tidak suka dibantah. Dan aku tidak suka ada orang yang berani melawanku. Apalagi seorang wanita sepertimu...!" ucap Arkan dengan nada tinggi.


"Kalau kamu tidak mau menggugurkan kandungan kamu, aku akan suruh anak buah ku untuk membawa paksa kamu ke luar negeri Arumi."


Hiks...hiks...hiks...


Arumi sudah tidak bisa lagi menahan tangisannya. Arumi menangis sejadi-jadinya di depan Arkan.


"Tuan aku mohon. Jangan berikan aku pilihan yang sangat sulit. Aku sudah menuruti semua keinginanmu untuk tidak mengatakan apa-apa pada orang lain tentang siapa ayah bayi yang aku kandung. Bahkan aku sudah rela di usir dari rumah oleh bapak aku karena aku tidak menceritakan siapa ayah kandung bayiku. Aku mohon Tuan, jika kamu mau, ongkosi saja aku untuk pulang ke kampung halaman orang tuaku," ucap Arumi yang sejak tadi masih membujuk Arkan.


"Kamu fikir aku orang bodoh Arumi. Kamu bisa saja kembali di kehidupan aku dan membawa anak kamu. Dan kamu akan meminta tanggung jawab ke aku. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah tanggung jawab dengan kehamilan kamu. Karena aku juga tidak pernah ingat bagaimana aku melakukan hubungan itu sama aku."


"Bagaimana mungkin kamu ingat. Karena kamu mabuk."


"Tapi aku tetap nggak mau kamu melahirkan bayi itu. Jika anak itu lahir, dia pasti akan bawa masalah untuk aku Arumi."


"Tapi aku akan tetap pertahankan bayi ini Tuan Arkan. Aku rela bertaruh nyawa untuk mempertahankan bayi ini."


"Kamu benar-benar wanita yang keras kepala Arumi."


Di sela-sela Arkan dan Arumi ngobrol, tiba-tiba saja ketukan pintu dari luar kamar terdengar.


"Diam kamu. Dan nggak usah nangis! aku benci perempuan yang nangis di depanku."


Arkan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia membuka pintu kamar.


"Arkan, aku sudah belikan Arumi makanan."


Arkan diam. Dia kemudian menoleh ke belakang dan menatap Arumi kembali.

__ADS_1


"Lepaskan ikatannya dan suruh dia makan. Urusan aku dengan Arumi belum selesai. Aku akan kembali ke sini nanti sore, setelah pulang kerja. Jangan sampai dia lepas Denis."


"Iya Kan. Kamu tenang aja. Dia tidak akan bisa lari dari rumah ini."


Tanpa berucap sepatah katapun, Arkan kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Arumi.


Arkan melangkah ke depan rumah untuk ke mobilnya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan ruang Denis.


Setelah Arkan pergi, Denis masuk ke dalam kamar Arumi. Dia kemudian duduk di sisi Arumi.


"Aku tidak tahu, ada masalah apa di antara kamu dan Arkan. Tapi, aku harap kamu jangan macam-macam sama dia. Dia itu temanku yang sangat menakutkan."


"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Arumi pada Denis.


Denis tersenyum.


"Aku Denis. Bukankah aku sudah memperkenalkan diri tadi."


"Maksud aku, kamu siapanya Tuan Arkan? apa kamu sudah mengenalnya ?" tanya Arumi yang sudah mulai penasaran dengan lelaki tampan yang ada di depannya..


Denis mencoba untuk membuka ikatan tangan Arumi. Begitu juga dengan ikatan di kaki Arumi.


"Saya temannya Arkan. Dan kami sudah saling mengenal sejak kami duduk di bangku SMA."


"Kamu tinggal serumah sama Arkan?" tanya Denis menatap Arumi lekat.


"Iya. Tuan Arkan itu anak dari majikan ku," jelas Arumi.


"Oh... Terus apa masalah kamu dengannya? kenapa dia menyuruh aku untuk menculik kamu dan menyuruhku untuk menyekap kamu di sini?" tanya Denis.


Tapi apapun masalahnya, Denis tidak mau terlalu ikut campur. Dia hanya ingin menjalankan tugasnya saja dengan baik.


"Jadi Tuan Arkan sudah menyuruh kamu?" tanya Arumi yang saat ini sudah duduk di tepi ranjang setelah ikatannya terlepas.


"Ya, sebenarnya aku nggak tega Arumi memperlakukan wanita seperti ini. Dan baru kali ini aku nyulik orang. Aku itu tidak pernah berbuat kriminal walau waktu sekolah aku sering ikut tawuran dan aku terkenal anak bandel. Tapi untuk nyulik orang, bunuh orang, dan perbuatan kriminal lainnya, aku tidak pernah melakukannya."


"Terus, kenapa kamu nurut dengan Tuan Arkan untuk menculik aku?" Arumi sudah menatap Denis lekat.


Denis diam. Ya, dengan uang apa yang tidak akan bisa Arkan lakukan. Dia pun berani untuk membayar Denis mahal untuk masalah ini.

__ADS_1


"Aku yakin, Tuan Arkan pasti sudah membayar kamu mahal kan?" terka Arumi.


"Yah, begitulah Arumi. Namanya kebutuhan. Aku sebenarnya malas untuk melakukan pekerjaan ini. Tapi aku lagi butuh uang Arumi. Sebentar lagi aku mau nikah. Dan aku butuh uang banyak untuk mengadakan resepsi. Dan Arkan sudah memberikan aku uang banyak untuk itu."


"Apa kamu tidak bisa bebaskan aku dari sini. Biarkan aku pergi dari Tuan Arkan?" tanya Arumi.


"Jika aku membebaskan kamu, apa kamu mau membayar aku satu milyar seperti Arkan?"


Arumi terkejut. Dia tidak menyangka kalau Arkan akan memberikan uang sebegitu banyaknya pada Denis demi untuk menculiknya.


Arumi diam. Dia kemudian menundukan kepalanya.


Ya, siapalah Arumi. Arumi hanya anak pembantu. Mana mungkin Arumi punya uang sebanyak itu untuk membebaskan dirinya dari jeratan lelaki iblis itu. Dan siapa juga yang akan sanggup menebus Arumi dari Tuan Arkan.


Denis bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menatap Arumi lekat.


"Kamu cuma punya modal cantik Arumi. Aku bisa membebaskan kamu, tapi aku tidak yakin kalau kamu mau menerima syarat dari aku," ucap Denis tiba-tiba. Yang membuat Arumi tersenyum.


"Kamu yakin bisa membebaskan aku? apa yang bisa aku lakukan untuk kamu?" tanya Arumi. Dia kemudian mengikuti Denis berdiri.


"Aku bisa bebaskan kamu, asal kamu mau tidur denganku satu malam."


Deg.


Arumi terkejut saat mendengar ucapan Denis. Denis terlihat sangat kalem, namun ternyata dia juga tidak kalah licik dari Arkan.


Denis fikir, Arumi masih gadis tanpa dia tahu, kalau Arumi sekarang sedang hamil anaknya Arkan sahabatnya.


Makanya dia meminta Arumi untuk tidur dengannya. Nampaknya Denis juga sudah mulai tertarik dengan kecantikan Arumi sejak Arkan menunjukkan foto Arumi pada Denis.


"Apa kamu sudah gila! aku nggak akan pernah menerima syarat konyol dari kamu Denis. Nggak nyangka kamu juga sama-sama jahatnya seperti Tuan Arkan...!" ucap Arumi yang sudah mulai emosi.


"Haha... Arumi, Arumi. Itu cuma penawaran dan sebuah syarat saja, jika kamu mau bebas dari cengkeraman Arkan. Kalau tidak mau, aku pun tidak akan memaksa kamu Arumi."


"Jelaslah aku nggak mau. Untuk apa aku tidur sama kamu. Kamu itu bukan suami aku."


"Hahaha.. santai aja Arumi. Aku tidak mungkin berani ngapa-ngapain kamu," ucap Denis.


Arumi menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba untuk mengontrol emosinya.

__ADS_1


"Sekarang, aku minta kamu makan Arumi. Aku sudah bungkusin makanan untuk kamu."


Arumi kembali duduk. Dia mencoba untuk menenangkan hatinya. Dia harus bisa menghadapi para lelaki licik seperti Arkan dan Denis sekarang.


__ADS_2