
"Silahkan duduk!" ucap Pak Mahendra mempersilahkan mantan istrinya duduk.
"Makasih," ucap Bu Erina sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Setelah Bu Erina duduk, Pak Mahendra pun mengikuti Bu Erina duduk.
"Arkan mana?" tanya Bu Erina menatap ke sekeliling.
"Arkan ada di dalam,"jawab Pak Mahendra singkat.
"Ya udahlah, aku mau bicara sama kamu saja Mas. Arkan tidak perlu tahu pembicaraan kita."
"Bicara soal apa?"
"Sebenarnya saya punya rencana. Saya ingin menjodohkan Arkan dengan Nilam, anak teman saya."
Pak Mahendra mengernyitkan alisnya.
"Menjodohkan Arkan? memang Arkannnya mau?"
"Saya sudah pernah bilang sama Arkan waktu itu, tapi Arkan masih menolak. Karena dia katanya belum siap menikah dan belum siap punya pasangan."
"Terus?"
"Maksud kedatangan saya ke sini, saya mau kamu ikut membujuk Arkan, agar dia mau dijodohkan sama Nilam."
Pak Mahendra menghela nafas dalam. Selama ini, Pak Mahendra tidak pernah punya fikiran untuk menjodohkan Arkan. Dia terkejut saat mantan istrinya punya niat untuk menjodohkan Arkan.
"Bukannya saya tidak setuju. Tapi kalau masalah itu, saya tidak yakin kalau Arkan mau untuk dijodohkan. Kamu tahu sendiri bagaimana anak kamu Erika. Dia itu anak yang sangat keras kepala."
"Tapi kita bujuk aja dia. Dan kita dekatkan saja dengan Nilam. Aku yakin Mas, kalau kamu pasti akan setuju aku menjodohkan Arkan dengan Nilam. Nilam itu, sederajat dengan kita. Ayahnya seorang pengusaha juga. Dia cocok dan serasi sama Arkan anak kita."
"Kalau aku sih, terserah Arkan saja. Saya tidak mau mau memaksanya. Tapi kalau kamu meminta saya untuk membujuk Arkan, baik nanti akan saya bujuk Arkannya. Tapi saya tidak yakin kalau Arkan setuju dengan keinginan kamu itu."
"Ya Mas. Kita bujuk Arkan pelan-pelan. Biar dia mau sama Nilam. Minimal, dekatlah dengan Nilam."
"Ya, semoga mereka cocok ya."
"Iya. Lagian, Nilamnya juga belum lulus kuliah. Tapi kita coba dekatkan dulu. Siapa tahu, lama-lama mereka mau dan saling suka."
"Ya. Aku setuju."
"Namanya juga usaha Mas. Dari pada yang aku lihat, Arkan itu tidak pernah dekat dengan cewek. Kalau lelaki seperti Arkan itu seharusnya dijodohkan. Dia nggak mungkin bisa cari pacar sendiri. Karena dia lelaki yang kaku, susah untuk dapatkan pacar. Kalau kelamaan seperti itu, dia bisa jadi bujang tua."
"Iya. Aku juga pernah mikir begitu waktu itu. Arkan itu anak satu-satunya. Jika dia menikah dan punya anak, minimal, akan ada satu pewaris lagi di keluargaku. Dan aku sangat mengharapkan Arkan menikah dan cepat-cepat punya anak."
__ADS_1
"Dan kita bisa mendapatkan seorang cucu," ucap Bu Erika dan Pak Mahendra bersamaan. Setelah itu mereka tersenyum.
***
Arkan sudah menghabiskan makanannya. Setelah itu dia memanggil Bu Hesti di dapur.
"Bik. Tolong beresin meja makan ya."
"Baik Tuan muda."
Arkan kemudian meninggalkan Bi Hesti untuk naik ke lantai atas. Sesampainya di dekat tangga, Arkan menghentikan langkahnya saat samar-samar dia mendengar suara ibu dan ayahnya ngobrol di ruang tamu.
"Itu seperti suara Mama dan Papa di ruang tamu. Kok Mama cuma di ruang tamu dan nggak masuk ke dalam. Sebenarnya, apa ya yang sedang mereka obrolkan?"
Arkan yang penasaran buru-buru melangkah untuk melihat ke ruang tamu.
Bu Erina tersenyum saat melihat Arkan.
"Arkan," ucap Bu Erina.
Arkan diam dan menatap Bu Erika tajam. Nampaknya dia tidak begitu suka Bu Erika datang ke rumahnya. Karena Arkan tahu, Bu Erika pasti akan selalu membahas perjodohan jika berada di dekat Arkan. Dan Arkan sama sekali tidak suka dengan hal itu.
"Arkan, kenapa kamu berdiri saja. Ayo sini duduk!" Pinta Bu Erina.
Arkan mendekat ke arah Bu Erina dan mencium punggung tangan Bu Erina. Setelah itu Arkan pun duduk di samping ayahnya.
"Sebenarnya Mama kamu itu udah dari tadi Arkan. Cuma Papa lagi ajak ngobrol Mama kamu sebentar."
"Kenapa nggak panggil aku di dalam."
"Katanya kamu lagi makan. Mama nggak mau ganggu kamu makan."
"Ya nggak apa-apa. Sekalian aja makan bareng sama Papa."
"Papa sudah kenyang. Tadi Papa udah makan di luar."
"Mama juga udah kenyang, tadi udah makan di luar."
Arkan manggut-manggut mengerti.
Arkan, Bu Erina, dan Pak Mahendra, kemudian ngobrol bersama di ruang tamu. Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan jam setengah sepuluh.
Bu Erina menatap jam tangannya.
"Udah malam Kan. Mama pulang dulu ya. Takut kemalaman di jalan," ucap Bu Erina.
__ADS_1
"Kamu mau langsung pulang Erina?" tanya Pak Mahendra.
"Iya Mas."
"Ya udah, hati-hati di jalan ya."
Bu Erina mengangguk. Setelah itu dia bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan pergi meninggalkan ruang tamu. Sementara Arkan dan Pak Mahendra hanya bisa mengantarnya sampai teras depan.
Bu Erina kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumah Pak Mahendra.
"Ayo masuk Arkan, udah malam," ucap Pak Mahendra sembari menepuk bahu Arkan.
Arkan hanya mengangguk. Setelah itu mereka pun masuk kembali ke dalam rumahnya.
Mereka berjalan ke ruang tengah dan sesampainya di ruang tengah, Pak Mahendra dan Arkan kemudian duduk.
"Papa dari mana tadi? aku tungguin Papa di ruang makan, ternyata Papa makan di luar."
"Maaf Arkan. Tadi Papa ada urusan penting dan mendadak di luar. Dan Pak Tama dari siang kan belum makan. Jadi Papa sekalian ajak Pak Tama untuk makan malam di cafe."
"Oh begitu."
Arkan sejenak diam. Dia kemudian menatap ayahnya lekat.
"Sebenarnya tadi mama ke sini mau ngapain si Pa. Katanya dia mau bicara penting sama Papa. Dia bicara apa aja tadi?" tanya Arkan.
"Mama kamu, tadi ke sini membicarakan soal perjodohan kamu."
Arkan terkejut saat mendengar ucapan ayahnya
"Apa! perjodohan lagi. Aku kan sudah bilang, kalau aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun."
"Tapi Papa rasa, ucapan mama kamu itu ada benarnya Arkan. Usia kamu sekarang sudah 24 tahun. Sudah waktunya kamu dekat dengan wanita dan sudah waktunya kamu memilih wanita untuk jadi pendamping hidup kamu. Dan papa setuju, dengan rencana Mama kamu itu."
"Apa yang lagi Mama rencanakan? dia lagi merencanakan mau jodohin aku dengan wanita yang bernama Nilam kan?"
"Iya Arkan. Kamu udah tahu soal itu."
"Aku udah bilang sama Mama. Kalau aku nggak aku di jodoh-jodohkan. Sekarang sudah bukan jaman Siti Nur baya lagi. Dan aku juga lelaki. Kalau aku mau, aku bisa cari jodoh sendiri."
"Ya sudah, kalau begitu, sekarang buktikan sama papa kalau kamu bisa pilih jodoh sendiri. Kamu kenalkan pacar kamu ke mama dan Papa. Biar Mama kamu nggak mencari-carikan kamu jodoh lagi."
"Pa, aku itu masih muda. Aku belum ada niat untuk menikah. Aku masih mau menikmati masa lajangku dulu. Dan aku juga baru terjun ke dunia bisnis. Aku mau menikah setelah aku sudah jadi orang sukses.
Papa kan pernah bilang waktu itu, aku harus tunjukkan ke mama kalau aku ini bisa jadi pebisnis hebat."
__ADS_1
Pak Mahendra tersenyum. Dia tahu kalau Arkan anaknya itu mempunyai semangat kerja yang tinggi. Dia tidak pernah memikirkan perempuan dalam hidupnya. Pak Mahendra yakin, suatu saat nanti, Arkan akan menjadi pengusaha terkenal melebihi dirinya.