Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Kesalahpahaman


__ADS_3

Taksi Lira sudah sampai di alamat yang diberikan Susi tadi. Rumah dua lantai yang terlihat sangat unik dengan arsitektur dan hiasan-hiasan cantik yang ada di halaman depan rumah itu.


"Inikah rumah Kenzo. Rumahnya bagus, tapi kenapa sepi banget ya," ucap Lira. Matanya masih menatap dan memperhatikan dari jauh rumah Kenzo.


"Mbak, Mbak mau turun atau mau tetap di sini?" tanya sopir taksi pada Lira.


"Sebenarnya saya mau turun sebentar di sini. Saya ada urusan sebentar dengan orang yang ada di rumah ini. Apa bapak mau tunggu saya di sini?"


"Oh, tentu saja saya akan menunggu Mbak di sini."


"Ya udah, saya turun dulu ya"


"Iya."


Lira turun dari mobil taksinya. Setelah itu dia mendekati gerbang rumah Kenzo.


"Ternyata nggak di kunci. Berarti ada orangnya di dalam," ucap Lira.


Lira membuka pintu gerbang rumah itu. Dan dia kembali menatap rumah itu.


"Benar nggak sih, ini alamatnya. Tapi kenapa rumah kok, sepi banget begini ya. Biasanya kan kalau jam segini, ada Mbak yang lagi nyapu atau ngepel gitu. Apa aku langsung ketuk pintu aja ya."


Tanpa banyak berfikir, Lira kemudian melangkah ke teras depan rumah Kenzo.


Tok tok tok...


Lira mengetuk pintu rumah itu. Namun belum ada orang yang keluar dari rumah itu.


Sekali lagi Lira mengetuk pintu rumah Kenzo. Lagi-lagi tidak ada orang yang mau membuka pintu itu. Akhirnya, Lira menekan bel rumah itu.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita 35 tahunan membuka pintu.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya wanita itu.


"Saya mau cari Kenzo. Benarkah ini rumahnya."


"Anda siapa ya?"


"Saya temannya."


"Mas Ken nya masih tidur."


"Tolong Mbak, bisa bangunin Kenzo. Saya mau bicara penting sama dia."


"Oh, baiklah. Tunggu di sini ya Mbak."


"Iya."


Wanita itu kemudian masuk ke dalam rumah Kenzo untuk membangunkan Kenzo.


Beberapa saat kemudian, lelaki tampan dengan mata sipit, berhidung mancung dan berkulit putih itu keluar dari rumahnya. Sepertinya Kenzo itu masih lelaki blasteran Indonesia-China.

__ADS_1


"Maaf, siapa ya?" tanya Kenzo yang masih baru bangun tidur. Rambutnya pun masih tampak acak-acakan.


"Kamu Kenzo?"


"Iya. Aku Kenzo. Anda siapa?"


Plak.


Satu tamparan sudah mendarat ke pipi Kenzo. Membuat pipi Kenzo yang putih itu memerah. Kenzo langsung memegangi pipinya yang sakit. Dia masih bingung, kenapa ada seorang wanita yang tiba-tiba datang ke rumahnya dan langsung menamparnya.


"Maaf, kenapa anda menampar saya?" tanya Kenzo datar.


Dia sama sekali tidak marah dengan wanita itu. Tidak mungkin kan , untuk Kenzo menampar balik wanita itu. Dan juga, Kenzo lelaki yang baik. Dia pemaaf dan penyabar.


"Kamu harus tanggung jawab Kenzo!" ucap Lira dengan nada tinggi.


"Apa! tanggung jawab untuk apa?" tanya Kenzo tidak mengerti.


"Gara-gara kamu, adik saya hamil."


"Hah! apa maksudnya ini? kapan aku menghamili adik kamu. Kenal juga nggak," ucap Kenzo.


"Nggak mungkin kamu nggak kenal sama Arumi. Setiap hari aku lihat kamu jalan bareng sama dia. Dan sudah lama kan, kalian pacaran. Jangan kamu fikir saya tidak tahu ya, hubungan kamu dengan adik saya."


Kenzo terkejut setengah mati mendengar ucapan wanita yang ada di depannya.


"Ja-jadi... kamu kakaknya Arumi? dan Arumi sekarang hamil? terus Arumi hamil anak siapa?" Kenzo tampak masih bingung.


"Hamil anak siapa? kamu berani bertanya seperti itu sama saya. Arumi hamil anak kamu lah. Kamu kan pacarnya."


"Aku nggak nuduh Ken. Tapi siapa lagi yang berani menyentuh adik aku kalau bukan pacarnya."


"Ja-jadi, Arumi sekarang hamil?"


"Iya. Arumi hamil anak kamu Ken. Dan kamu harus tanggung jawab."


"Tapi, bukan aku yang menghamili adik kamu. Aku berani sumpah. Kami pacaran memang sudah dua tahun, tapi kami tidak pernah ciuman. Karena Arumi tidak mau di ajakin ciuman. Dan aku juga tidak pernah tidur bareng sama Arumi."


"Halah, aku nggak percaya. Arumi juga nggak mau mengatakan siapa ayah kandung anaknya. Mungkin dia malu mengakuinya."


Beberapa saat kemudian, seorang wanita setengah abad, keluar dari rumahnya. Mungkin dia terganggu saat mendengar ribut-ribut di luar rumah.


"Ken, ada apa ini Ken? siapa dia?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Bu Rindi ibu Kenzo.


"Tante, saya ke sini cuma mau menuntut keadilan untuk adik saya,"ucap Lira pada Bu Rindi.


"Keadilan apa?"


"Anak Tante itu sudah menghamili adik saya. Dan dia harus tanggung jawab dengan semua perbuatannya."


Bu Rindi memegangi dadanya yang tiba-tiba sakit dan sesak. Tiba-tiba saja, Bu Rindi pingsan di depan Kenzo dan Lira.

__ADS_1


Lira dan Kenzo terkejut saat melihat Bu Rindi tergeletak di bawah pintu.


"Ya ampun, mama," ucap Kenzo sembari berjongkok mendekat ke arah ibunya.


Lira hanya bisa menegak ludahnya saat melihat kejadian itu. Tiba-tiba dia teringat dengan ibunya, yang juga punya riwayat penyakit jantung.


"Ken, mama kamu kenapa?" tanya Lira panik.


Kenzo menatap Lira.


"Mama aku pingsan. Ini semua gara-gara Mbak." Kenzo sudah menatap Lira tajam.


Lira ikut berjongkok


"Maaf Ken, aku juga nggak tahu kalau mama kamu akan seperti ini."


"Mama aku punya penyakit jantung Mbak. Kenapa Mbak bikin dia kaget. Gimana kalau mama aku mati. Dia ini orang tua satu-satunya yang aku punya Mbak."


"Duh Ken, Maafin Mbak ya Ken. Terus kita harus gimana dong Ken, apa kamu mau bawa Mama ke rumah sakit?"


"Nggak. Aku mau bawa Mama masuk ke dalam kamar aja."


"Ya udah, aku bantuin ya Ken."


Lira masih merasa bersalah karena dia sudah membuat ibu Kenzo pingsan.


Saat ini, Lira masih berada di ruang tamu rumah Kenzo. Sementara Kenzo masih berada di dalam kamar ibunya.


Ring ring ring.


Suara ponsel Lira tiba-tiba saja berdering. Lira mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari Arkan.


"Duh, Tuan Arkan nelpon lagi," ucap Lira.


Lira kemudian buru-buru mengangkat panggilan dari Arkan.


"Halo Lira. Kamu ada di mana Lira? kenapa kamu belum nyampe ke kantor. Udah jam berapa ini Lira."


"Maaf Pak Arkan, aku lagi ada urusan sebentar."


"Lebih penting mana urusan pribadi kamu dengan urusan kantor heh...!"


"Iya Pak Arkan. Saya juga lagi ada di dalam perjalanan nih."


"Perasaan Bik Hesti bilang kamu sudah berangkat dari tadi pagi. Tapi sampai jam segini kamu belum ada di kantor. Apa kamu tahu, sebentar lagi meeting akan segera di mulai. Kamu mau ikut meeting kan?"


"Iya Pak Arkan. Sebentar lagi saya sampai kok"


"Kalau kamu seperti ini terus, saya bisa turunkan posisi kamu di kantor ini Lira."


"Duh jangan dong Pak Arkan. Saya kan nggak pernah telat. Baru kali ini aja saya telat."

__ADS_1


Tut Tut Tut...


Tiba-tiba saja telpon itu terputus. Arkan mematikan saluran telpon itu dengan sepihak.


__ADS_2