
Rasanya sudah cukup, lelah aku mencari keberadaan sertifikat rumahku. Aku duduk lemas di bibir ranjang, sementara Kiki merapikan lagi pakaian yang sudah berantakan.
"Obat tidur ini buat apa ya Ki?" tanyaku memencet butiran di dalam plastik lumayan banyak.
"Ya buat tidur lah San. Ricko susah tidur gitu?" Kiki menoleh ku.
"Enggak juga." Aku berpikir lagi tentang bagaimana akhir-akhir ini Mas Ricko dan aku ketika malam hari.
Tiba-tiba aku memikirkan sesuatu yang membuatku bergidik, Mas Ricko sering membuatkan Teh untukku. Jangan-jangan Mas Ricko!
Aku menggelengkan kepala, rasanya itu terlalu kejam, walaupun mungkin saja dia melakukannya padaku.
"San!"
"Ya!"
"Ponsel lu bunyi." Kiki menunjuk ponsel ku diatas meja.
"Mas Ricko."
"Angkat!" Titah Kiki padaku, sepertinya dia sangat penasaran dengan Mas Ricko.
"Ya." jawabku setelah menekan tombol hijau di layar ponselku.
"Sayang, semalam aku mencoba menghubungi mu berkali-kali. Mengapa tidak diangkat?"
"Cepat pulang Mas!" ucapku seperti perintah.
"Aku sudah setengah jalan."
Aku menutup teleponnya begitu saja, tentu aku ingin Mas Ricko segera pulang. Aku ingin tahu bagaimana wajahnya setelah kejadian semalam.
Aku menoleh jendela kamarku yang mengarah ke rumah Mbak Tami. Aku teringat di sana sering melihat Dila. Aku berdiri di depan jendela tersebut.
"Dimana dia?" tanya ku di dalam hati.
"Ngapain?" Kiki penasaran dengan mataku yang bergerak ke sana kemari melihat ke bawah sana, dia ikut mendekat.
"Di bawah sana, gue sering lihat si pelakor itu menjemur pakaian dengan handuk setengah dada. Seolah pamer dengan sisa bercinta mereka, tumben hari ini tidak terlihat?" sinis ku melihat tali jemuran di bawah sana kosong.
"Malu kali, atau sakit? Kan lu gebukin dia semalam, njambaknya kenceng banget lagi."
"Lu?"
Seingat ku, aku meminta Kiki menunggu di anak tangga.
"Gue lihatlah, gue sengaja biarin lu gebukin dia sampai puas." ucapnya terdengar kejam.
"Gila lu, kalau gue yang di gebukin gimana?" kesal ku tak percaya. Bisa-bisanya Kiki berbicara seperti itu, atau semalam ikut melerai karena ada tetangga? Ih, aku jadi curiga pada semua orang. Apalagi dia terkekeh mendengarku.
__ADS_1
"Ya enggak mungkin kalah San, lu kan hebat semalam." dia malah tertawa lepas.
"Enggak lucu Ki." kesal ku.
"Kalau keadaannya berbalik ya gue bantu elu. Tujuan gue cuma nonton karena gue tahu lu emosi banget sama itu anak. Jujur kalau gue di posisi lu juga bakalan lebih gila dari itu."
Aku berdecak kesal dengan ucapan Kiki.
"Wanita itu seperti Singa betina San, kalau merasa terancam maka taring dan kukunya muncul sendiri, bahkan suaranya membuat seluruh isi hutan ketakutan. Dan itu perlu kita tunjukkan pada mereka yang menyakiti kita. Jangan cuma menjadi betina yang jinak dan penurut. Bukan maksud gue seneng lihat lu berkelahi, enggak!"
"Ya, gue lega, sekaligus terbakar." ucapku ketus.
Satu jam sudah aku dan Kiki bercerita sambil menungguinya membuat sarapan.
Akhirnya aku hanya makan sedikit. Emosi dan berbagai macam pikiran masih bersarang di kepala ku. Tentu sulit bagiku menikmati makanan seenak apapun itu.
"Mobil siapa San?" Kiki memiringkan kepalanya mendengar deru mobil di bawah.
Aku segera membuka tirai tak jauh dari sofa. Ku lihat sebuah mobil berhenti dan ternyata mengantar Mas Ricko.
"Makasih ya!" teriak Mas Ricko diacungi jempol oleh seseorang yang mengemudi. Mobil itu segera melaju. Aku tersenyum sinis.
"Gue keluar aja? Masa iya gue jadi nyamuk diantaranya perang dunia?"
"Terserah." jawabku datar.
Suara langkah kaki begitu cepat menaiki anak tangga, ku lihat Kiki berhenti di ambang tangga dan Mas Ricko naik melewatinya. Kiki sempat menoleh lalu pergi.
"Sayang kenapa pulang mendadak?" tanya Mas Ricko meraih lenganku sebelum akhirnya ku tepis saja.
"Ya pulang Mas, ini rumah ku juga!"
"Memang ini rumah kita. Kamu kenapa?" tanya Mas Ricko duduk di sofa.
"Yang kenapa itu kamu Mas? Kenapa membawa perempuan lain masuk ke rumahku? Kamu seneng-seneng Mas? Kamu selingkuh sama dia!"
"Siapa yang selingkuh? Akunya enggak ada!" sangkal Mas Ricko membentang kedua telapak tangan. Benar-benar menjengkelkan.
"Kamu kabur kan?" Aku menarik baju Mas Ricko, menariknya masuk ke kamar dan melihat jendela.
"Apaan sih San?"
"Cepet ngaku Mas! Kamu keluar lewat mana? Kamu sembunyi di rumah Mbak Tami kan?" mendorong Mas Ricko seraya menunjuk-nunjuk jendela, bisa saja dia turun lewat jendela, pikirku.
"Sembunyi apa? Kamu ngomong apa?"
"Jangan bohong Mas! Aku tahu semalam kamu tidak pergi kemana-mana. Kamu mau alasan apa lagi, hah!"
"Aku tidak ada di rumah! Kamu gak percaya juga?"
__ADS_1
"Gak!"
Emosi ku benar-benar tidak bisa dikendalikan melihat wajah Mas Ricko, aku aku menarik-narik bajunya juga kulit dadanya. Ah rasanya aku ingin mendorongnya ke jendela agar sekalian jatuh ke halaman rumah Mbak Tami.
"Aku berangkat ke kabupaten kemarin siang San!" jelasnya sambil menahan tanganku.
"Siang katamu Mas, sedangkan kemarin sore kamu ada di bengkel! Kamu pulang sudah sangat sore."
"Kata siapa?"
"Terus ngapain ke kabupaten, dan paginya udah pulang? Jalan-jalan di malam buta, hah? Kantor juga tidak buka di malam hari Mas!"
"San!"
"Jangan terus menganggap aku bodoh Mas! Aku diam di rumah, rela seperti ini karena aku mencintai kamu, tapi ternyata kamu malah memanfaatkan aku Mas!" Aku menangis sambil memukul-mukul dada Mas Ricko, sungguh tak hanya marah, tapi kecewa dan cinta malah menyatu membentuk tangis ku.
"Memanfaatkan apa sih San?" Mas Ricko memelankan suaranya, dia tahu dengan begitu dapat menenangkan aku.
"Kamu selingkuh Mas! Kamu menggunakan uang bengkel untuk bersenang-senang, ngasih gadis kegatelan itu dan menipu aku!"
"Kata siapa?" bantahnya.
"Aku tahu Mas, aku tahu semuanya. Aku juga melihat kamu mengelus bahu Perempuan sialan itu waktu aku berangkat ke rumah Mama. Kamu keterlaluan, kamu sudah mengkhianati aku!" teriakku masih menangis.
"Kamu ngarang, kamu cemburu buta itu namanya."
"Ngarang kata mu Mas? Apa aku ngarang ketika aku pulang melihat seorang gadis ada di dalam rumah? Kamu masih nyangkal juga?"
"Aku kan enggak ada San?"
"Kamu ada Mas! Berhenti berbohong sedangkan aku sudah tahu jelas kebenarannya. Kamu tidak pergi ke kabupaten!"
"Aku pergi San!"
"Kalau pergi mana tas mu Mas? Tas mu di sana Mas." aku menunjuk meja Mas Ricko.
Dia terlihat gugup, sepertinya dia kehabisan alasan untuk menyangkal.
"Malam waktu kamu pulang dari kabupaten itu, kamu tidak ke rumah kepala sekolah kan Mas? Kepala sekolah sedang berada di kabupaten bersama istrinya!"
Aku semakin menangis perih, tak sanggup rasanya mengungkapkan semua ini.
"Kata siapa, kamu jangan menduga-duga."
"Aku tanya sama kepala sekolahmu Mas!" bohongku, padahal aku tahu dari Andi.
Dia terkejut, mulutnya sampai terbuka sedikit.
"Kemana kamu Mas?" Aku bertanya sekali lagi dengan tatapan berapi-api, aku sedang mempersiapkan diri untuk mendengar jawaban jujur Mas Ricko.
__ADS_1