Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Bertemu Susan


__ADS_3

Rasanya tak pernah usai marahku, entah bagaimana aku mengungkapkan kesal ku karena curiga ku ini.


Panas dan panas hatiku karena selain tetangga, dia juga atasan Mas Ricko di kantor. Tak di rumah pun, di kantor mereka akan sering bersama, mungkin saja mereka akan melakukan hal-hal yang tidak benar tanpa setahuku. Rasanya aku ingin cepat pulih, dan Reno cepat besar agar aku bisa mengetahui dan menjaga Suamiku. Sumpah, aku pingin nangis!


Hari berikutnya.


Suara deru mobil terparkir di depan rumahku, aku heran. Kiranya siapa yang datang membawa mobil di sore hari ini.


"Ricko! Kamu beli mobil baru?" pekik ibu, aku jadi terpancing untuk segera keluar.


"Iya Bu." jawab Mas Ricko, dia langsung mendekati aku yang diam, aku menatap wajah suamiku itu tidak percaya.


"Mas beli Mobil, hasil lembur." jawabnya, tersenyum padaku.


"Beneran?" aku menoleh pintu keluar, dapat ku lihat mobil berwarna silver itu terparkir, bagus walaupun bukan baru karena sudah ada BG nya.


"Ya, kamu bilang mau jalan-jalan bertiga." Mas Ricko meyakinkan aku. Aku jadi meleleh.


"Iya Mas." aku tersenyum senang, dari caranya begini aku jadi yakin kalau Mas Ricko benar-benar menyayangi ku, memikirkan aku, buktinya dia menuruti keinginan ku. Senangnya...


Keesokan harinya aku sengaja mengajak Mas Ricko ke rumah sakit untuk imunisasi sekalian jalan-jalan. Tak sabar aku menikmati waktu bersama mas Ricko.


"Ibu mau pulang." ungkap Ibu malah seperti ingin menghalangi rencana kami buat jalan-jalan.


"Kenapa tidak besok saja Bu?" ucap Mas Ricko.


"Nggak bisa, adikmu demam." tanpa tersenyum dia sudah siap dengan tasnya. Membuat aku dan Mas Ricko saling berpandangan.


"Ya sudah, sekalian aku antar Ibu." artinya kami akan berkeliling hari ini, tak apa. Aku tak mau ribut terlebih lagi nenek sihir itu mau pulang.


Akhirnya kami pun berangkat, namun lagi-lagi drama masih bersambung.


"Tunggu Ricko, Ibu belum pamitan sama Richa."


Ayaayy!!! Segitu pentingnya anak tetangga itu untuk ibu mertuaku? Sebenarnya Clara ini siapa? Jelas akulah menantunya di sini.


"Richa Sayang..." Ibu menurunkan kaca mobil, memanggil anak kecil dan ibunya sudah berdiri di depan rumahnya. Nungguin.


"Nenek pulang dulu ya, nanti kita main lagi." sambung Ibu ketika mendapat lambaian tangan dari Richa dan senyum dari Clara.

__ADS_1


What? Nenek guys!


Ku lirik Mas Ricko hanya tersenyum sedikit lalu kembali menatap ke depan. Ku rasa yang berlebihan itu cuma Ibu.


Mobil kembali melaju, Mas Ricko menutup kembali kaca mobil kami. sebelum akhirnya ocehan ibu kembali ku dengar.


"Richa itu cantik ya?" sambil tersenyum, membenarkan posisi duduknya.


"Hem." Mas Ricko cuma tersenyum sedikit tanpa tanggapan berlebihan.


Aku juga tidak peduli, mau cantik mau jelek dia bukan siapa-siapa ku. Dasarnya nenek sihir aja terlalu berlebihan. Aku mah ogah sok-sok perhatian sama anak orang.


"Kita ke rumah sakit dulu ya Bu." Mas Ricko membelokkan mobil tanpa menunggu jawaban Ibu.


"Hari libur seperti ini biasanya tidak terlalu ramai, dan ku harap dokter anak selalu standby.


Kami masuk, dan bersyukur ternyata dokternya ada.


"Tunggu sini aja." Mas Ricko mengajakku duduk di bangku tunggu.


"Lama nggak?" tanya Ibu gelisah.


"Coba imunisasi di bidan aja, kan cepat. Nggak perlu mengantri." memang mulut ibu tidak pernah bisa berhenti.


Mas Ricko diam, mungkin menghindari perdebatan. Ya, suamiku ini sudah sangat sabar untuk beberapa hari ini.


Hening beberapa saat, kami masih harus menunggu satu orang yang sudah masuk.


"Ricko!"


Kami semua menoleh, aku sedikit terkejut melihat siapa yang memanggil Mas Ricko. Aku pernah melihat laki-laki itu ketika kami masih di kampung. Ya, dia laki-laki yang datang bersama Susan.


"Radit!" Mas Ricko berdiri, menyapa laki-laki itu ramah, ku rasa mereka tak lagi bermusuhan.


"Lu..." laki-laki bernama Radit itu melihat ke arahku, juga Reno yang sedang tidur dalam pelukanku.


"Anak Gue." jawab Mas Ricko tanpa di tanya, dia tahu maksud tatapan laki-laki bernama Radit tersebut.


"Oh." jawab Radit kemudian menoleh Ibu mertuaku yang terlihat cuek, bahkan cenderung saling tak suka.

__ADS_1


Sebenarnya ada apa dengan ibu mertuaku sehingga dengan Radit dan Susan dia tak suka. Bukankah Susan adalah orang kaya juga? Jika di bandingkan dengan Clara sudah pasti Susan lebih baik. Tapi kok Ibu lebih suka sama tetangga yang statusnya enggak jelas. Bersuami enggak, janda pun enggak tahu. Aku mumet memikirkannya.


"Giliran kita." Mas Ricko beranjak mengajak aku dan Reno masuk ke ruangan dokter, seraya berpamitan dengan Radit.


"Silahkan." ucap Radit tetap berdiri entah menunggu siapa.


"Dia enggak musuhin kamu lagi kan Mas?" tanyaku kepada Mas Ricko sambil berjalan beberapa langkah sebelum ruangan dokter.


"Enggak." jawab Mas Radit, obrolan kami terputus.


Hanya beberapa menit saja. Kami keluar setelah menenangkan Reno yang menangis akibat di suntik. Sungguh aku takut dan bingung ketika anak ku menjerit. Tapi, di luar malah sepertinya baru saja terjadi sesuatu antara Ibu mertuaku, Radit, dan Susan mantan istri Mas Ricko.


"Maaf ya Bu, sekarang Susan bukan lagi menantu Ibu, juga bukan siapa-siapa Ibu. Jadi sebaiknya kita tidak usah bertegur sapa jika hanya akan menimbulkan dosa. Lagipula, ibu sudah tua, mending tobat, sholat dan bersiap. Malaikat itu kalau jemput enggak pakai permisi." ucap Susan membuat Ibu semakin marah.


"Mati itu urusan Tuhan, bukan urusan kamu!"


"Lha, yang bilang urusan Saya itu siapa?" Susan semakin berani. Di sampingnya Radit memeluknya, mengajaknya segera berlalu.


"Dasar perempuan tidak berguna, nggak bisa kasih cucu, pelit pula!" marah Ibu, berisik.


"Emang saya pelit, lagipula saya bersyukur enggak sampai punya anak dari anak Ibu, sukanya menebar bibit dimana-mana. Kayak jagung kiloan di tarok di tanah comberan aja idup!"


"Sialan kamu! Berani kamu sama saya!" marah Ibu mencak-mencak tapi di pegangi Mas Ricko.


"Udah Bu!" bentak Mas Ricko, seolah dia membela Susan.


"Dia menghina kamu! Kamu enggak marah apa?" marah Ibu, masih berteriak.


"Enggak, karena dia juga enggak salah. Harusnya ibu sadar dengan apa yang Ibu ucapkan. Menghina itu enggak membuat kita selalu menang Bu! Tapi ketika di balas rasanya akan sangat sakit."


"Ya sakit! Ibu tersinggung kamu malah enggak membela." Ibu mulai berkaca-kaca.


"Membela untuk apa?" Mas Ricko kesal.


"Aku ini Ibu kamu Ricko!"


"Tapi Ibu salah!" jawab Mas Ricko, mengajakku segera berlalu.


Ku tatap punggung Mas Ricko, ku rasa dia memang benar-benar berubah. Dia sedang belajar tentang hal yang benar dan salah. Semoga dia selalu seperti ini, dan membela ku suatu saat jika aku mendapatkan perlakuan yang sama dari Ibu.

__ADS_1


__ADS_2