
Pagi-pagi sekali Susan sudah bangun dan membuat sarapan. Seperti biasa dia selalu membereskan pekerjaan rumah setelah subuh.
Istriku ini berasal dari keluarga kaya dan terhormat, tapi dia bersedia hidup susah bersamaku. Sungguh aku baru menyadari bahwa dia sudah berkorban banyak untuk ku.
Aku mengenalnya sebagai anak tunggal dari sebuah keluarga yang kaya, tentu itu memberikan nilai plus di mataku. Niatku, aku harus mendapatkannya bagaimana pun caranya. Hingga akhirnya aku berhasil membuatnya jatuh cinta padaku.
Tapi, tak sesuai harapan malah orang tuanya tidak setuju dengan hubungan kami.
Entah apa alasannya sampai saat ini aku tak menemukan kejelasan, ada yang bilang padaku bahwa Susan sudah di jodohkan dengan seseorang. Tapi Susan sendiri bilang dia tidak tahu tentang perjodohan yang di gosipkan orang.
Artinya kami akan menikah tanpa ayah dan ibunya, sudah dapat dipastikan bahwa kami tidak akan mendapatkan fasilitas apapun dari orang tua Susan yang kaya raya. Aku sedikit kecewa.
Namun tak membuatku putus asa, lantaran Susan sangat cantik dimataku, setiap hari aku membayangkan bisa menyentuhnya tapi dia selalu menolak sebelum halal.
Hebat bukan, gadis polos seperti dia bisa menjaga diri dengan baik di tengah pergaulan yang semakin parah di kota besar. Terlebih lagi dia anak orang kaya yang mestinya tahu cara bersenang-senang, tapi dia tidak melakukannya. Itu membuat aku penasaran hingga apapun caranya aku harus mendapatkan Susan, menikahinya.
Awal yang sulit. Ibu ku malah ikut-ikutan tidak memberi restu karena aku menikah dengan anak orang kaya rapi tidak mendapatkan apa-apa, ku rasa ibu terlalu kejam. Aku bingung harus membawa Susan kemana, pekerjaan saja aku belum punya.
Beruntungnya aku memiliki dia sebagai istri yang polos dan pengertian, mungkin dia sudah terlanjur jatuh cinta padaku sehingga dengan ikhlas dia melepaskan seluruh perhiasannya untuk membuka bengkel yang saat ini menghasilkan uang yang lumayan. Dan dengan berpikir lagi aku juga ikut mengeluarkan tabunganku untuk membeli sebuah rumah di tempat yang baru ini, akhirnya kami memiliki tempat tinggal walaupun belum lunas. Dan beruntungnya lagi Susan mendapatkan kiriman dari ibunya setiap bulan, dan jumlahnya cukup besar sehingga kami dapat melunasi rumah ku saat ini.
__ADS_1
Kehamilan pertama membuat aku bahagia, aku berharap dengan lahirnya seorang anak akan meluluhkan hati kedua orang tua Susan dan memberikan semua hartanya kepada kami. Aku lelah hidup susah di kampung orang ini. Tapi tak sesuai harapan, dalam usia kandungan tiga bulan malah Susan keguguran. Impianku untuk menjadi pewaris kekayaan keluarga Susan hilang bersama bayiku.
Tiga bulan kemudian.
Aku yang memang dasarnya sangat mencintai Susan terus Berusaha untuk membuatnya kembali mengandung. Tak bosan aku menyentuh istriku, dia begitu menyenangkan terlepas dari statusnya sebagai anak orang kaya, dia cantik dan seksi, dia penurut dan tidak menuntut, dia juga tidak punya kebiasaan menghabis-habiskan uang, berapapun ku berikan dia hanya menerima saja.
Dia hamil, tapi kembali aku harus menelan kekecewaan ketika kandungannya sudah menginjak angka tiga bulan. Susan keguguran, dan kembali lagi aku harus Kehilangan kesempatan untuk menjadi orang kaya.
Hingga kehamilan ketiga pun sama, dia keguguran dan lagi-lagi dia aku harus Kehilangan harapan.
"Sudahlah Ricko, kamu tinggalkan saja itu istrimu. Kalau keguguran terus kapan kamu punya anak dan mendapatkan warisan mertuamu?" begitu ucapan Ibu membuat aku semakin pusing.
Tapi hari-hari ku berubah ketika aku mengenal seorang siswi baru pindahan dari kecamatan lain. Pertama aku melihat dia datang bersama Mas Heru tetangga ku untuk mengurus kepindahannya dan aku yang mengurus berkas Dila di sekolah.
Dia berbeda dengan anak-anak desa yang lain, dia terlihat modis dan seksi, terlebih lagi matanya suka mencuri pandang seolah mengagumi diriku. Aku tertarik.
Tak jarang dia bersikap menggoda, juga ketika sekali itu aku memboncengnya pulang bersama, dia seperti sengaja menempel dan ketika turun dia tersenyum penuh arti. Aku paham isyarat itu, karena aku bukanlah laki-laki alim yang akan menahan diri jika mendapat kode.
Esoknya, aku mulai melaksanakan ide konyol kepada siswi yang kemarin menggodaku itu, aku mengajaknya ke ruang komputer yang sepi, kami berdua mengerjakan sesuatu yang harus di ketik, dan dia dengan senang hati membantuku.
__ADS_1
Tak tahan aku dengan pakaian super ketatnya, aku iseng menggodanya sedikit, mencolek pipinya, lalu menggenggam tangannya. Seperti dugaanku dia tidak menolak, hingga aksi-aksi lainnya lancar kecuali yang satu itu. Tentu aku tidak mau melakukannya.
Namun ternyata kesempatan berikutnya membuat aku tidak bisa menahan diri. Semakin sering aku memberinya uang, semakin besar pula rasa memiliki terhadap dirinya. Dila pasrah saja ketika aku mulai berani, tak tanggung-tanggung aku mendatangi kosnya yang hanya berjarak pagar pembatas. Sepi dan kesepian membuat aku semakin tak berpikir jernih. Aku mengingat Susan baru saja selesai di kuret, masa pemulihannya masih lumayan lama. Itu membuat Dila terlihat menggairahkan dan tidak bis menahannya lagi.
Malam berikutnya, Aku selalu mengingat malam yang indah itu, hingga aku mengulanginya lagi dan lagi, aku melupakan indahan bercinta dengan Susan istriku. Aku benar-benar merasa senang bisa memiliki Susan juga Dila tanpa ketahuan.
Tapi ternyata, tak selamanya aku bisa menyembunyikan semuanya dari Susan. Dan malam kedua dia pulang ke rumah orang tuanya, Dila ku ajak ke rumah untuk menghabiskan malam bersama seperti malam sebelumnya. Naas ternyata, Susan pulang diantar oleh sopir keluarganya. Beruntung saat itu aku sedang berada di bawah, aku mengintip Susan keluar ternyata tidak sendirian. Aku segera berlari keluar lewat pintu gudang, memanjat tangga samping dan menjangkau pagar rumah Mbak Tami seperti biasa ku lakukan ketika akan mendatangi rumah kos Dila.
"Maaf Dila, aku terpaksa meninggalkanmu di atas, karena aku tidak mau ketahuan oleh Susan istriku."
Suara Susan marah terdengar sampai ke kosnya Dila, tak lama kemudian terdengar jeritan Dila meminta tolong, dapat ku pastikan Dila sedang di hajar oleh Susan istriku, aku bingung sekaligus khawatir. Bagaimana bisa Susan mengamuk begitu, selama ini dia tidak pernah bersikap kasar kepada siapapun termasuk aku jika sedang marah.
Ku rasa, Susan sudah tahu tentang aku dan Dila. Bahkan ketika Mbak Tami ku minta datang ke rumahku untuk menenangkan Susan dan menyelamatkan Dila, Susan masih mengamuk dan emosi.
Entah karena apa dan mengapa dia bisa curiga, padahal aku sudah bermain cukup rapi, termasuk aku membuatnya tidur nyenyak sebelum aku mendatangi Dila.
Aku duduk termenung memandangi rumahku dari kamar kos Dila, aku mengintip arah depan ternyata sopir keluarga Susan menginap dan pulang di pagi hari.
Kalau Mang Udin sudah mengantar Susan ke sini, itu artinya orang tua Susan sudah tahu keberadaannya, atau mungkin hati kedua orang tuanya sudah melunak, artinya ada perkembangan dan bukan tidak mungkin sebentar lagi mereka akan memberikan restu.
__ADS_1
"Aku harus membuat keadaan kembali baik, Susan harus percaya padaku dan kami akan memulai pernikahan ini seperti awal lagi. Jangan sampai aku kehilangan kesempatan untuk mendapatkan warisannya yang banyak, setelah dua tahun susah ku jalani."