
Hingga Sore hari aku tak juga pulang, meskipun pesan Mas Radit aku harus pulang sebelum Sore, tapi ketika melihat Clara tak juga keluar dari ruangannya aku jadi enggan meninggalkan kantor ku, aku tidak percaya dengan wanita itu.
Hingga terdengar langkah kaki melewati ruangan ku. Ku rasa Mas Radit sudah pulang.
"Kok enggak ada." gumamku melihat kiri kanan, juga ruangan Mas Radit masih tertutup rapat, aku berjalan mendekati pintunya.
Bukannya Mas Radit yang ku dapati, malah suara pertengkaran yang terdengar di rungan yang lain.
"Aku masih ada pekerjaan." sahut Clara sedikit ketus, memancing rasa penasaran ku akan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kamu enggak mungkin menunggu aku kan?" suara Mas Ricko juga terdengar jelas karena kantor sudah sepi.
"Maksud kamu?" kesal Clara.
"Aku pikir kamu beneran ingin bekerja sehingga kamu yang ingin pergi ke pabrik tadi pagi. Tapi di jalan aku sadar, ternyata kamu memiliki niat yang lain. Kamu ingin mendekat Radit!"
"Jangan sembarangan menuduh!"
"Enggak, aku enggak sembarangan menuduh. Susan benar kalau kamu bisa pergi naik mobil sendiri kalau kamu mau pergi, bukan mepet sama Radit."
"Kamu cemburu?" tebak Clara, aku terus saja menguping karena mendengar nama suamiku di sebut-sebut.
"Kalau cemburu itu bukan hal yang harus aku rasakan ke kamu. Hanya mikir, sebenarnya kamu itu maunya apa?"
"Aku mau ayah untuk Richa anakku."
"Kan sudah aku bilang, aku enggak nolak menjadi ayahnya, aku Papanya, dia anakku!"
"Tapi kamu lebih memilih istrimu yang masih ingusan itu daripada anakmu yang selama ini sudah menderita. Jangan bilang itu karena Susan? Karena sudah kehilangan Susan kan? Kamu pingin jadi laki-laki setia?" teriak Clara. Masak iya Ma Ricko berubah karena aku, Clara masih cemburu dengan masa lalu.
"Ya, itu kesalahan yang aku enggak mau mengulanginya. Tapi bukan berarti aku tidak mengakui kalau Richa anakku. Kalau masalah Dila, kamu juga harus paham kalau aku juga akan punya anak dari Dila."
"Aku tidak suka di nomor duakan, aku sudah lelah mengalah dengan Susan, dan aku tidak akan mau mengalah dengan anak ingusan seperti istrimu. Kalau enggak mau juga enggak apa-apa, artinya kita akan sama-sama hancur. Kamu di pecat, kamu dan istrimu juga tidak boleh bahagia. Jadi yang sakit tak hanya aku Ricko, tak hanya Richa! Tapi kita semua."
"Clara, jangan gila!"
"Aku seorang ibu Ricko, tentu seorang ibu akan menggila jika anaknya di sia-siakan laki-laki yang seharusnya melindungi." marah Clara.
__ADS_1
"Aku tidak menyia-nyiakan Richa Clara. Tapi aku juga harus menjaga perasaan Dila."
"Terserah. Aku hanya ingin kamu punya waktu untuk Richa!"
"Oke! Aku akan meluangkan waktu untuk anak kita." janji Mas Ricko, ku rasa dia tak sepenuh hati dengan janjinya. Entahlah..
"Oke, satu jam setiap hari! Itu sudah sangat sedikit Ricko."
"Bukankah kita memiliki waktu di kantor?" kesal Mas Ricko.
"Selain di kantor." ucapnya tak mau di bantah.
Ku dengar Clara meninggalkan ruangannya dengan langkah kasar, mereka sedang bertengkar.
Segera aku bersembunyi di ruangan yang lain agar tidak ketahuan. Ternyata Mas Ricko sedang mengalami masalah yang rumit.
Setelah rasa sakit yang pernah ku rasakan, kini aku malah sangat-sangat bersyukur bahwa aku bukan lagi istrinya.
Bayangkan, jika saat ini aku berada di posisi Dila, demi tuhan aku tidak akan sanggup. Hatiku tidak selapang itu untuk menerima kehadiran Richa, anak Mas Ricko dan Clara. Belum lagi jika ibunya bertingkah, sekarang saja aku merasa sedang bermusuhan dengannya, padahal aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.
"Sayang!"
"Kenapa enggak pulang? Ini sudah hampir Maghrib." ucapnya menghampiri aku yang berdiri kaku.
"Mas darimana?" tanyaku balik.
"Tadi mengobrol dengan Juna, terus Mama menelpon bilang kalau kamu belum pulang." sambil mengecup keningku juga pipiku.
"Aku nungguin kamu Mas." jawabku memeluknya.
"Kita pulang." mengusap bahuku.
Aku mengangguk senang, suamiku begitu hangat, romantis, dan ku harap dia tak berubah, setia sampai ajal menjemput.
Meskipun bahagia itu benar-benar sudah ada di tanganku, tapi rasanya masih tak utuh karena masa lalu yang pahit itu sesekali datang mengganggu. Entah sampai kapan aku bisa menjalani hidup yang selalu takut kehilangan. Aku ingin normal tanpa di bayang-bayangi curiga. Sungguh ini menyiksa.
"Sayang, sini!"
__ADS_1
Mas Radit memanggilku di balkon, menepuk sofa agar duduk bersebelahan dengannya.
"Kenapa?" tanyaku langsung menyandar di peluknya, menikmati malam setelah hari yang lelah.
"Enggak apa-apa, cuma pingin dekat sama kamu." dia tersenyum memandangi wajah ku dari samping. Aku mengecup pipinya sedikit, aku sangat menyayangi juga mencintai Mas Radit lebih dari sayangku kepada Mas Ricko dulu.
"Mas sayang banget sama kamu." ungkapnya semakin membuat aku senang bukan main. Seolah dia tahu bahwa aku sangat ingin mendengar ungkapan perasaannya.
"Aku juga Mas, sayangku enggak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Aku takut Mas Radit berpaling, aku enggak mau ada wanita yang deket-deket Mas Radit. Aku enggak mau!"
"Enggak akan ada, Mas cuma fokus sama kamu sejak dulu. Bahkan ketika kamu enggak membalas perasan Mas. Kamu enggak usah takut, kamu enggak perlu khawatir, Mas janji masa lalu kamu enggak akan terulang, Mas mau kita bahagia selamanya." dia mengelus wajahku, begitu dekat hingga nafas hangatnya menghambur di wajahku.
"Mas Radit milikku kan?" tanyaku membuat ia tersenyum.
"Ya, selamanya." jawabnya terdengar romantis.
Aku bahagia, sangat bahagia.
Ku lihat langit berkelap-kelip penuh bintang, aku menarik nafas lega di dalam pelukan suamiku. Sebuah doa yang tak henti ku panjatkan kepada Allah, aku ingin segera mengandung anak Mas Radit. Aku juga ingin kebahagiaan ku ini lengkap, pernikahan yang utuh, memiliki anak-anak yang lucu. Dengan begitu aku tak perlu khawatir akan ada wanita lain akan merebut Suamiku.
"Besok enggak usah kerja ya." pinta Mas Radit menyibak rambut di keningku.
"Iya, tapi enggak mau di tinggal." jawabku masih saja ingin mepet dengannya.
"Oke, tapi tidak boleh memakai baju kerja."
"Terus pakai baju apa?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Yang seperti ini saja." menunjuk gaun tipis tanpa lengan yang sedang ku pakai.
"Ini baju tidur." rengekku malu-malu di dadanya.
"Ada kamar di ruangan Papa." godanya lagi.
"Itu ruangan Papa!" pekik ku tertahan.
"Papa tidak akan ke kantor kalau ada aku."
__ADS_1
Aku tertawa, semakin tenggelam dalam pelukannya.
Aku tahu Mas Radit ingin aku istirahat dan tidak banyak pikiran. Dia juga ingin aku segera mengandung anaknya, anak kami berdua.