
"Cin, ini Tante Susan." aku mengirim pesan kepada Cindy.
"Iya Tante, sementara ini belum ada informasi. Di sekolah juga belum kelihatan mereka bertemu Tante." Begitu balasan Cindy.
"Baiklah, kamu awasi terus ya. Kalau ada sesuatu atau kamu butuh bantuan Tante kamu tinggal bilang aja." ku kirim pesan lagi.
"Baik Tante." kode ok.
Ku akhiri berkirim pesan kepada Cindy, aku kembali fokus mencatat transaksi penjualan dan jasa bengkel ku lumayan ramai hari ini.
"San, gue pulang hari ini." ucap Kiki yang sudah membawa tas, sepertinya dia sudah cek out dari penginapan.
"Kok cepet Ki, kan udah gue bilang mending tidur di rumah gue aja." ucapku padanya.
"Enggak ah, ga mau mengganggu elu sama Ricko." jawabnya nyengir kuda.
"Ganggu apaan, orang gue tidurnya terpisah, udah dua malem." menyodorkan dua jariku dengan bangga.
"Ya, itu sih gue ga bisa memberi saran. Nyamannya elu aja sih San. Kalau elu mau pertahanin Ricko juga sah-sah aja, dia suami elu."
"Emang dia suami gue Ki, tapi masalahnya dia sudah membagi hak gue, ya perhatiannya, ya itunya, ya duitnya." Aku tersenyum kecut.
"Ya, dia punya hobi begitu, susah buat di rubah. Kecuali anunya di pangkas habis, END!"
"Ngeri banget sih."
Kiki terkekeh geli, aku bersyukur dia ikut ke sini. Dua hari yang berat ini ku lewati tidak sendirian. Tapi selanjutnya tentu aku harus sendirian, dan aku harus lebih kuat meskipun sakit.
"Apa sebaiknya lu pulang aja sama gue?"
Sejenak aku berpikir dengan nafas berat. "Belum Ki."
"Kalau masalah rumah mending lu ikhlasin aja misalkan ga bisa lu perjuangin sih. Palingan seharga mobil bekas elu kan? Daripada elu bertahan tapi menangis setiap malam."
"Kok lu tahu?" aku mengangkat alisku.
"Tahu lah San, gue juga wanita kali. Pengkhianatan itu adalah hal yang paling menyakitkan dalam kasus rumah tangga." jelasnya.
"Ya, gue akan pulang setelah semuanya benar-benar terbukti. Kalau semuanya sudah terbongkar gue pasti pulang. Tapi sepertinya mereka juga sedang waspada."
"Ada dua kemungkinan menurut gue, mereka benar-benar berakhir, atau sedang menunggu elu lengah." jawab Kiki membuat aku berpikir.
"Lu bener! Makasih banyak ya udah jauh-jauh ikut gue."
__ADS_1
"Ya."
"Salam sama Tante Silvi, kemarin gue enggak sempat main ke rumah lu." ucapku lagi.
"Siap! Tapi ini mobil lama amat ya?" Kiki melihat jam yang melingkar di tangannya sudah beberapa kali sejak tadi.
"Si Andi itu mengajar di sekolah yang sama sama Mas Ricko. Jadi ya nunggu selesai kerjaan dia baru bisa narik." jelasku kepada Kiki.
"Sampingan doang berarti, kaya Driver online gitu?"
"Ya, Tapi di kampung begini namanya travel. Dia juga anak orang berada." jelas ku kepada Kiki, beberapa waktu berada di bengkel membuat ku banyak tahu tentang orang-orang di kampung ini.
"Wih, boleh tuh." Kiki menaik turunkan alisnya.
"Boleh-boleh aja." jawab ku. Kami berdua terkekeh seperti biasa, sejak SMA kamu selalu berbagi semua hal, termasuk saat ini aku lebih memilih memberi tahu Kiki daripada Mama.
***
Satu Minggu sudah berlalu, aku dan Mas Ricko masih dalam keadaan yang sama, yaitu pisah ranjang meskipun dia selalu membujukku untuk berbaikan.
Termasuk malam ini Mas Ricko mendekati aku dengan dua gelas teh hangat di tangannya, dia juga membawa martabak manis hangat, meletakkan di meja.
"Minum San." tawarnya kepadaku.
Dia mengangkat satu gelas teh dan meminumnya sedikit. Aku jadi ingat malam beberapa waktu lalu, dia tidur di sofa tanpa selimut. Bahkan lima ekor nyamuk menggigit wajahnya dia tak merasa, ku rasa obat tidur itu masih saja di pakai Mas Ricko untuk membodohi aku. Baiklah, sepertinya kita sudah bersandiwara cukup lama. aku tersenyum tipis.
"Aku lapar." ucapku ketus seraya beranjak.
"Kamu mau makan apa? Biar Mas yang cari di depan." dia ikut berdiri dan mencegahku.
Aku menarik nafas, berpura-pura kesal. "Aku cuma mau goreng telur Mas."
"Biar aku yang yang bikin buat kamu." ucapnya memintaku duduk. Sepertinya dia sedang membujuk. Aku menurut, duduk di sofa dan membiarkan membuat telur ceplok untuk ku.
Aku ingat tadi siang Cindy mengirimkan pesan padaku jika kedua orang itu sempat berbicara sebentar di kelasnya.
Menurut Cindy Dila terlihat bersedih setelah berbicara dengan Mas Ricko.
Aku segera membuang Teh yang di buat Mas Ricko ke luar jendela, lalu segera ku letakkan dengan sisa yang sedikit.
Dengan begini aku akan tahu apa yang akan Mas Ricko lakukan jika aku sudah tidur.
Jujur saja, aku berharap Mas Ricko membuktikan bahwa dia tidak berselingkuh. Walaupun aku sendiri yakin dia sudah melakukan itu di belakangku.
__ADS_1
Antara benci dan cinta aku sulit berbicara dengannya, hatiku juga masih terasa panas jika mengingat gadis itu menginap di rumahku. Jujur saja, terkadang aku ingin menelan obat tidur itu sendiri agar aku bisa tidur nyenyak dan melupakan masalahku.
"San, ini telur sekalian mie instan." Mas Ricko menghidangkan di hadapanku.
"Makasih Mas." ucapku meraih telur dan mulai menyendoknya ke dalam mulutku.
"Habiskan." dia tersenyum senang.
Selesai ku habiskan makanan Ku, sengaja aku hanya mengambil sebagian Mie instan dan sisanya di makan Mas Ricko. Artinya aman bukan?
Aku segera masuk ke dalam kamar dan melancarkan aksiku. Aku harus tahu.
"San, pintunya jangan di kunci." ucap Mas Ricko menggedor pelan pintu kamar kami.
Aku berpura-pura saja tidak mendengar, lagipula ada kamar sebelah kan, atau kamar kos sebelah? Aku kembali meradang mengingat hal itu.
Malam semakin larut dan aku sengaja tidak tidur. Sepi ku dengar di luar kamar, kalau dulu biasanya TV sudah mati sendiri.
Aku beranjak dari tempat tidurku, membuka pintu perlahan dan melihat apakah Mas Ricko ada di luar.
Sofa kosong.
"Kemana dia! Kalau benar kamu ke kamar kosnya Dila Mas, Awas!" aku mengepal tanganku.
Ku buka pula pintu kamar di sebelah kamarku, aku harus menemukan Mas Ricko baik itu di rumah ataupun di luar rumah, Malam ini kamu tidak akan bisa lolos.
"Kosong!" aku mengeratkan gigi, segera kembali ke kamar dan mencari ponselku. Aku harus membangunkan Cindy.
"Iya Tan." suara serak Cindy terdengar.
"Cin, apa Mas Ricko datang ke sana?" tanyaku sudah tak sabar, dag-dig-dug-der juga gemetar.
"Tidak ada Tante, tadi sore ku dengar Dila menangis." jawabnya setengah berbisik.
"Nangis?" tanyaku terkejut.
"Iya, enggak tahu apa masalahnya. Besok Cindy cari tahu." ucap Cindy lagi.
"Ok, maaf Tante udah ganggu tidur kamu." ucapku segera mengakhiri panggilanku.
"Hemm,, ada apa sama si pelakor?" gumamku dalam hati.
"San!" tiba-tiba suara Mas Ricko memanggilku, dia masuk ke dalam kamar.
__ADS_1