Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
POV Ricko


__ADS_3

Happy reading menuju karma..😁


Semoga readers sekalian sehat selalu.


*


*


*


Bagaikan buah simalakama, sungguh posisiku saat ini tak ada enak-enaknya. Salah ku juga menerima tawaran Clara untuk bekerja di perusahaan ini. Aku jadi terjebak dalam kesalahan masa lalu yang belum berlalu. Entahlah...


"Mas Ricko." Dila menyambutku dengan senyum dan wajah yang segar, dia habis mandi.


"Sayang." ucapku mesra, mengecup pipinya dan menggandengnya masuk. Aku jarang memperlakukannya begini, bahkan memanggilnya sayang dapat di hitung ketika aku sudah menikah. Tapi demi misi ku, aku harus membuatnya merasa dialah satu-satunya milikku, cintaku dan kesayanganku.


"Mandi dulu atau makan dulu Mas?" tanya Dila senang.


"Makan dulu juga boleh, karena nanti habis Maghrib ada pekerjaan sedikit di kantor." ucapku langsung menuju wastafel mencuci tangan.


"Lama?" tanya Dila, aku tahu dia tidak mau di tinggal lama.


"Enggak, paling satu jam lebih, kan deket." ucapku langsung mengambil nasi putih hangat itu ke dalam piringku.


"Oh, kenapa enggak nyambung lembur saja?" tanya Dila lagi.


"Harusnya, tapi enggak tenang karena kamu sedang hamil tua. Mas suka kepikiran." jawabku, memang benar aku mengkhawatirkan Dila.


"Makasih ya Mas." dia menggenggam tanganku.


Tak sabar aku menghabiskan makanan ku, tak lupa mandi dan bersiap untuk pergi. Aku berpamitan dengan begitu mesra, tak lupa ku elus perut Dila yang besar, juga mengecup pucuk kepalanya lama. Ada sedikit merasa bersalah di hatiku, tapi tak apa, aku pasti bisa. menjalani ini, lama-lama Dila akan terbiasa.


Aku menghidupkan sepeda motor ku, melaju hingga ke tikungan depan, lalu berputar arah pelan, agar jangan sampai ketahuan Dila bahwa aku hanya bertamu ke rumah sebelah.


"Papa!" teriakan anak ku ketika aku datang, begitu fasih dia memanggilku demikian, aku rasa Clara sudah mengajarkan lebih dulu sebelum aku menyebut diriku sendiri 'Papa'."


"Sedang apa Sayang?" tanyaku seraya menggendong gadis kecil ku.


"Dia baru saja selesai makan." Clara menyahut sambil memberikan air minum kepada Richa. Aku membantunya.


"Udah?" tanya Clara tersenyum kepada Richa.


"Udah." jawabnya mengangguk senang, tak tahan aku dengan tingkah menggemaskan Richa, aku mengecup pipinya.


Gadis kecil itu terkekeh geli mendorong wajahku, ku rasa kumis ku yang membuat dia begitu.

__ADS_1


"Tajam ya Sayang?" tanyaku menggodanya, aku mengelus kumis ku.


"Cakit Papa." dia terkekeh lagi, suara cempreng khas Richa membuatku ingin lagi dan lagi, terus menggodanya.


"Sudah Sayang, nanti kamu mimpi buruk, menangis karena terlalu banyak tertawa." cegah Clara menghalangi dada Richa yang aku cium berkali-kali.


"Apa benar begitu?" tanyaku penasaran, aku tidak berpengalaman tentang anak-anak.


"Iya, nanti dia nangis, parahnya kalau nanyain kamu. Gimana?" Clara menatapku, seolah memberi kode untuk menemani Richa malam ini.


"Baiklah, kita main yang lain saja ya." ajak ku, beralih di depan televisi. Richa mengajakku main boneka.


"Ini punya Ica, ini punya Papa." dia memberikan boneka beruang padaku.


"Makasih Sayang." aku mengusap kepala Richa. Ada desir halus mendadak menyapa hatiku, ternyata begini rasanya menjadi seorang Papa. Bahkan anakku sudah besar, pintar dan lucu. Andaikan aku tidak bermain-main dengan banyak wanita, mungkin hidupku tidak serumit ini, sayangnya itu sudah terjadi dan kehadiran Richa tidak untuk ku sesali. Aku menyayanginya.


"Ica mau bobok." Richa memeluk leherku. Setelah empat puluh menit bermain ku rasa dia lelah.


"Mau Papa gendong?" tanyaku, aku ingat malam itu Clara menggendong Richa. Jadi aku melakukannya, mencoba menjadi Papa yang baik untuk anakku.


Tringgg....tringgg...


Bunyi ponselku menganggu tidur Richa.


"Tidurlah sayang." ucapku, aku mematikan ponselku. Walaupun ku tahu Dila akan marah setelah ini.


Begitu pula beberapa hari setelahnya, aku berusaha mengatur waktu untuk bertemu Richa tanpa sepengetahuan Dila. itu berlangsung sudah dua Minggu, bahkan ada sekali aku menginap di rumah Clara tidur bertiga selayaknya keluarga, dan pulang menjelang subuh.


Hingga hari itu Dila mengalami kontraksi, aku panik melihat istriku kesakitan, segera membawanya ke klinik terdekat.


"Mas..." tangis Dila menahan sakitnya, aku benar-benar kasihan.


Dan bersamaan ponselku berdering, panggilan dari Clara, ku dengar dari sambungan telepon itu Richa menangis.


"Maaf Clara, Dila akan segera melahirkan." jawabku, ku harap dia mengerti kali ini.


"Mas, tolong..." ucap Dila merintih, merengek dan berteriak bergantian.


"Iya, aku di sini Sayang." aku memegang tangannya, memeluknya sejenak. walaupun akhirnya dokter lah yang berkuasa untuk membantu persalinan Dila, aku berdiri memegang tangannya.


Hampir satu jam aku menjaga Dila yang terus berteriak-teriak, dan akhirnya dia benar-benar kesakitan dan akan melahirkan. Aku ikut berkeringat dingin menyaksikan perjuangan Dila, sungguh aku sudah membuatnya kesakitan dalam usia masih belasan tahun.


"Alhamdulillah." begitu ucap Dokter muda itu ketika bayiku keluar dari perut Dila. Aku pun tak kalah bersyukur, aku senang bayiku lahir sehat, dia gemuk, jenis kelaminnya laki-laki.


"Alhamdulillah." ucapku pula, aku sudah punya anak laki-laki dan perempuan.

__ADS_1


Dila terbaring lemas dengan keringat mengucur di keningnya. Dan itu belum usai, dia masih harus di bersihkan juga di jahit bagian intinya. Dia kesakitan.... Dua wanita mengalami itu semua karena aku. Ya, aku ingat Clara juga melahirkan normal, dan itu dia hanya sendirian tanpa aku.


Keesokan harinya Dila dan bayiku sudah pulang.


"Mas, kamu udah harus masuk kerja ya?" tanya Dila, dia pasti bingung bagaimana sendirian di rumah.


"Iya, tapi aku mau cari asisten rumah tangga dulu untuk menemani kamu." jawabku.


"Oh, syukurlah." dia duduk sambil menggendong anak kami.


Terdengar pintu bel pintu berbunyi.


"Siapa Mas?" tanya Dila.


"Sebentar." Aku meletakkan box bayi di dekat Dila, lalu membuka pintunya.


"Clara." aku sedikit terkejut dengan kedatangan Clara.


"Maaf, cuma mau ngasih ini buat anakmu." Clara memberikan stroller baby yang masih terbungkus rapi.


Aku jadi bungkam, menoleh Dila yang ada di kamar depan.


"Siapa Mas?" tanya Dila sedikit berteriak.


"Oh, ini Bu Clara Sayang." jawabku gugup. Terlebih lagi Clara masuk dan menuju kamar dimana Dila berada bersama Richa.


"Halo Dila, ku rasa kau sudah sehat." ucap Clara menyapa istriku.


"Iya, terimakasih sudah datang." jawab Dila. Aku juga masuk ke kamar meletakkan Stroller baby.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi harus ke kantor." ucap Clara lagi.


"Terimakasih juga kadonya, apakah sebaiknya kau minum dulu." tawar Dila.


"Tidak, terimakasih. Aku sudah sarapan tadi." Sepertinya Clara enggan berlama-lama, sikapnya juga terlihat tak seperti biasa.


"Baiklah, terimakasih banyak. Dila menyentuh tangan kecil Richa.


"Mama..." rengek Richa tak suka, padahal Dila tersenyum ramah pada anak ku itu.


"Tidak apa-apa Sayang." Clara menepuk pundaknya pelan, seraya tersenyum lalu keluar kamar.


"Papa...!" teriak Richa menoleh aku.


Sumpah, aku jadi tegang terlebih lagi Dila menatap heran kepada Richa dan aku bergantian.

__ADS_1


__ADS_2