Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Tidak Mau Bercerai


__ADS_3

Aku berteriak-teriak seperti orang gila, mengamuk dan melemparkan apa saja , bahkan sebagian benda di meja rias ku habis ku lemparkan kepada Mas Ricko. Emosiku membubung tinggi seolah ingin meledakkan dadaku. Aku yakin sekali Mas Ricko selingkuh dengan Dila, sudah jelas semuanya menjurus pada mereka.


"Kamu jangan menuduh San."


"Aku tidak menuduh Mas!" bentak ku marah.


"Tapi tidak ada buktinya kan? Kamu hanya terbawa perasaan."


Aku kehabisan kata-kata dengan sikap Mas Ricko terus menyangkal.


Ya Tuhan, aku benar-benar lelah...


Aku duduk lemas setelah menghambur semua barang di sekitarku. Yang aku tak habis pikir, Mas Ricko tetap duduk di ranjang dengan menatapku tanpa amarah. Benar-benar patut diacungi jempol untuk ba-jingan di hadapanku ini.


"Lebih baik kita bercerai." lirihku, berteriak membuatku kehabisan tenaga.


"Aku tidak mau."


"Jika bercerai kau akan bebas bermain-main dengan siapapun yang kamu mau. Lagipula, pernikahan kita sudah tidak memiliki harapan."


Hening beberapa saat, entah apa yang di pikirkan Mas Ricko, ku harap dia setuju.


"Mana sertifikasi rumah?" tanyaku kemudian.


Mas Ricko menatapku sejenak, beberapa kali ia menarik nafas sebelum akhirnya bicara. "Aku tidak akan memberikannya."


"Ini rumahku juga! Bahkan uangku lebih banyak di gunakan untuk membayar rumah ini. Kamu tidak bisa egois dong Mas!"


"Terserah, kalau kamu mau rumah ya jangan bercerai. Kamu istriku!"


"Hah! Ini rumahku Mas!"


"Sertifikatnya Atas namaku, kamu tidak lupa kan?" dia menatap tajam padaku, sepertinya ajakan untuk bercerai membuatnya marah.


"Aku akan mendapatkan sertifikat itu apapun caranya, termasuk jika harus di bagi dua, aku akan menjual rumah ini."


"Tidak akan bisa tanpa persetujuanku. Lebih baik kamu tetap menjadi istriku, menurut dan tidak usah bertingkah."


"Aku tidak mau. Dan aku tidak akan pernah rela rumahku kamu tempati bersama selingkuhan kamu. Sampai mati aku tidak rela Mas!"


"Ya sudah, kamu tetap di sini, jadi istriku."


"Mas!!... Mas!... Arrghhhhh... !"


Aku melempar Mas Ricko dengan tas yang ku gantung di dinding walau meleset, dia berlalu masuk ke kamar sebelah.


Percuma!


Aku menyandar, lalu duduk menenangkan diri, mengatur nafasku yang menyatu dengan emosi. Kata orang, dada mu akan mengandung api jika suamimu selingkuh.


Ternyata benar, panasnya terasa hingga ke ujung kaki, darah ku mendidih, dadaku seperti tungku yang menyala-nyala siap membakar habis siapapun yang menjadi musuh. Merasa tulang ku adalah besi, ototku seperti baja, keberanian ku meningkat seribu kali lipat.

__ADS_1


Aku rasa setan sedang berkuasa di dalam diriku, dan aku mengizinkannya.


"San."


"Ya."


"Keluar yuk!" ajaknya berdiri diambang pintu kamarku, entah Kapan dia sudah ada di sana. Ku rasa dia tidak benar-benar pergi saat aku bertengkar dengan Mas Ricko.


"Ya." aku meraih tas yang tadi ku lempar. Mengecek isinya, takut ponselku pecah! Benar, tapi masih bisa di pakai.


"Kita mau kemana?" tanya Kiki sudah keluar lebih dulu, dia berdiri di teras.


"Ke bengkel, kita bisa istirahat juga di sana." jawabku.


Ku tutup pintu rumah, aku bahkan tidak berpamitan dengan Mas Ricko.


Tepat ketika kami berdiri di jalan, menunggu ojek yang lewat. Sepeda motor Mbak Tami melintas dan berhenti di depan rumahnya. Entah dari mana dia pergi, herannya dia semakin lengket dengan Dila, padahal sebelumnya tidak seperti itu.


"Nanti kamu beli motor sendiri aja Dila, biar bisa pergi kemana-mana." ucapnya seperti mengomel, tapi jelas ku dengar nada bicaranya sedang memanas-manasi aku.


"Aku enggak bisa pakai motor Tante." jawab Dila menenteng kantong plastik yang entah apa isinya.


"Belajar dong, sama si..." Mbak Tami menoleh sinis padaku.


"Siapa Mbak?" tanyaku menyahut, menantang tatapan Mbak Tami.


"Apaan sih San, sensi aja." kesalnya mendapat tatapan tajam diriku.


"Sembarangan kamu, jangan bawa-bawa Mas Heru!" dia berkacak pinggang marah padaku.


"Denger ya Mbak! Sekarang itu karma di bayar kontan! Enggak nunggu Mbak Tami tua atau mati. Balasannya akan datang besok atau lusa, itu pasti!" Kiki ikut menjawab.


"Kamu ikut-ikutan!" teriak Mbak Tami kepada Kiki.


"Udah, kita jalan aja." Kiki menggandeng lenganku.


"Udah tua bukannya tobat!" sungut ku kesal, kami meninggalkan Mbak Tami yang masih berbicara tak jelas.


"Gila! Kampung yang luar biasa!" Kiki terkekeh sambil melihat kiri kanan, dia juga mendongak di ujung desa yang lumayan jauh tampak bukit hijau dengan asap di pucuknya.


Aku tidak tahu apa yang di maksud luar biasa, suasana kampung ini atau orang yang ada di sini, entahlah!


"Jauh bengkel elu?" tanya Kiki sambil terus berjalan.


"Lumayan sih, tapi nanggung naik ojek juga, udah setengah jalan."


Kiki mengangguk, melihat ruko-ruko yang berjualan berbagai macam kerajinan, dia terlihat senang.


"Sebenarnya di sini asik ya San." ungkapnya setelah berjalan cukup jauh.


"Ya, gue betah sebenarnya. Tapi kalau sudah begini ya gue enggak mungkin bertahan, gue lebih baik pulang." jelas ku kembali lagi kepada perasaanku yang kacau.

__ADS_1


"Lu masih cinta sama Ricko?" Kiki menoleh ku.


"Jelas lah Ki, mana ada istri yang tidak mencintai suaminya. Munafik dong gue kalau bilang enggak cinta. Tapi gue juga enggak mau kalau Mas Ricko selingkuh."


Kiki tak menyahut, mungkin dia juga tidak tahu harus memberi saran seperti apa.


"Itu bengkelnya?" tanya Kiki melihat bengkel di depan kami.


"Iya."


Kami segera masuk ke bengkel milikku. Berjalan kaki cukup lama membuat kamu terengah-engah Duduk beristirahat.


"Rame San." ungkapnya meraih botol air mineral yang ku berikan.


"Ya, lumayan." jawabku kemudian duduk bersama Kiki.


"Mbak Susan udah pulang?" sapa Dani sambil meraih kunci di meja kasir.


"Udah Dan, Mbak nggak percaya ninggalin bengkel lama-lama." ungkap ku kepada Dani, mendapat senyum darinya.


"Mbak enggak percaya sama aku?" guraunya.


"Menurut kamu Dan?" aku ikut gurauannya.


"Menurutku bukan padaku Mbak." jawabnya masih mode tertawa.


"Ya, bisa kamu tebak lah Dan." jawabku menggeleng.


Dani duduk beristirahat, kebetulan Rahmat rekannya sudah kembali masuk bekerja.


"Dan." panggilku ragu.


"Ya Mbak." dia menoleh aku juga Kiki.


"Semalam Mbak memergoki Dila menginap di rumah."


"Hah! Serius Mbak?" Dani memutar posisi duduknya menghadap aku.


"Ya. Tapi Mas Ricko tidak ada di rumah. Katanya pergi ke kabupaten kemarin siang, anehnya malah pagi-pagi udah pulang lagi. Mbak enggak percaya." jelas ku.


Dani malah garuk-garuk kepala bingung.


"Kemarin Mas Ricko di sini sampai sore kan?" tanyaku menyelidik.


"Sebenarnya..... iya Mbak. Pukul tiga Mas Ricko pulang." jelas Dani tak mau berbohong.


"Emang Cindy pulang ke rumah orang tuanya?" tanyaku lagi.


"Iya Mbak, kemarin. Tapi pagi ini udah balik lagi kok."


Berarti benar yang dikatakan Mbak Tami, Cindy pulang ke rumah orangtuanya.

__ADS_1


"Dan,... Sepertinya Mbak butuh bantuan kamu sama Cindy."


__ADS_2