Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
POV Ricko, Pindah


__ADS_3

Dua Minggu sudah aku bekerja di kantor Clara. Baru saja kemarin aku merasa hidupku akan segera membaik setelah bertemu kembali dengan Clara. tapi kemudian kecewa karena di kantor itu juga ada Radit yang sengaja ber-pamer kemesraan dengan mantan istriku, Susan.


Dan sungguh aku kesal, mengetahui Susan akhirnya menikah dengan Radit, anak pungut ayahnya. Jujur saja aku tidak rela, aku masih berharap bisa kembali dengan Susan, aku masih belum bisa melupakannya.


Tak bisa ku bayangkan bagaimana Susan tertawa senang di dalam pelukan pria itu, aku terbakar cemburu yang hebat membayangkan mereka saat ini sedang tidur berdua, masih dapat ku rasakan bagaimana indahnya menghabiskan malam bersama Susan Istriku, demi tuhan aku menyesal sudah kehilangannya.


"Aaaarghhhh....!" aku berteriak kesal di ruang tamu rumah Ibu. Aku pulang malam, aku juga mabuk. Aku sedang kehilangan Susan ku.


"Apa-apaan kamu!" marah Ibu, mungkin dia terganggu karena teriakan ku.


"Mas!" begitu juga Dila yang bangun dengan perutnya membuncit seperti mau pecat.


"Susan ku hilang." ucapku antara sadar dan tidak, aku tidak peduli.


"Mas! Istrimu itu aku, bukan dia!" marah Dila.


"Heleh, sama aja. Dulu kamu juga merebut Ricko dari Susan, wajarlah sekarang Ricko merasa kehilangan." omel Ibu kepada Dila.


"Jangan nyalahin Dila dong!" kesal Dila, tak urung juga kedua wanita di hadapanku ini beradu mulut. Kepalaku sakit, semakin sakit mendengar ocehan mereka.


"Diaaammm!!" bentak ku, mereka diam.


"Ibu juga udah capek ribut sama dia, kamu lagi udah gak punya duit mabok lagi!" marah Ibu.


"Aku banyak duit lho Bu!" jawabku jujur, hanya saja ibu tak akan percaya karena dia tidak tahu bahwa rumah ku sudah di beli Susan.


"Kalau banyak duit ajak segera istrimu pergi dari sini, Ibu sudah males ribut sama dia. Apalagi nanti mau melahirkan, ogah ngurusin menantu durhaka!" marah Ibu.


"Ya, besok Ricko pindah." jawabku berjalan menuju kamar kami.


Pening di kepalaku membuatku langsung tertidur hingga pagi.


"Mas udah gajian?" tanya Dila di pagi hari dia menyiapkan bajuku.


"Belum, cuma mungkin nanti atau besok kita akan pindah rumah, biar lebih dekat dengan perusahaan tempat ku bekerja." jawabku. Aku belum jujur tentang Clara ataupun Susan. Aku tidak mau ribut dengan Dila, terlebih lagi dia akan segera melahirkan.


"Gajinya pasti lumayan Mas?" tanya Dila lagi.


"Ya. Tapi ini kita pakai uang hasil penjualan rumah di kampung." jawabku.


"Laku?" tanya Dila berbinar bahagia.


"Ya, lumayan buat DP rumah, terus buat biaya persalinan kamu." jawabku tak lagi bersedih seperti kemarin-kemarin. Ku rasa yang di katakan Susan ada benarnya, aku akan memulai hidup baru bersama Dila, dan anak kami.

__ADS_1


"Syukurlah, Dila enggak betah di rumah ini Mas." ucapnya jujur. Ya, aku juga tidak betah sebenarnya.


"Mas berangkat bekerja dulu ya. Kamu siapkan semua pakaian kita biar nanti sore atau besok bisa langsung pergi."


"Siap! Dila tahu kok." jawabnya senang. Ku lihat wajahnya yang bulat, dia semakin gemuk saja setelah hamil tua. Aku tersenyum dan mengecup keningnya.


Ya, aku akan mencoba hidup yang lebih baik. Cukup aku sudah kehilangan Susan, dan sekarang bukan waktunya menyesal.


"Ricko, bisa keruangan saya sekarang?" begitu suara Clara terdengar di telepon.


Aku beranjak dari kursiku, langsung menuju ruangan Clara.


"Selamat pagi Bu." ucapku belajar lebih sopan kepada atasan ku.


"Kok formal gitu?" ucap Clara bingung.


"Ya harus formal, aku kan asisten kamu." jawabku tersenyum, Duduk di hadapannya.


"Nanti kamu kasih ini ke Linda." dia menyodorkan map berisi beberapa lembar kertas.


"Baiklah. Ada lagi?" tanyaku kepada Clara.


"Enggak ada sih. Tapi...."


"Tapi apa?" aku menunggu kata-katanya.


"Ya. Tapi yang Depe-nya seratus jutaan saja, dan angsuran perbulannya kecil. kamu tahu sendiri aku harus menyicil dengan ganji ku." jawabku jujur. Tentu aku harus punya pegangan untuk biaya persalinan Dila dan tabungan untuk berjaga-jaga lainnya.


"Ada! Posisinya bertetanggaan sama rumah yang baru saja aku beli. Beda tipe doang. Uang mukanya 150 juta, angsurannya cuma lima juta. Dua lantai, lumayan lah. itu kreditnya cuma dua tahun."


"Serius?" tanyaku. Aku tertarik mendengarnya.


"Ya. Kita bisa lihat sekarang kalau kamu mau." jawab Clara senang.


"Tapi aku udah punya pilihan sih." aku jadi ragu.


"Udah di bayar?" tanya Clara. Aku menggeleng.


"Ya udah, kita lihat rumah yang Deket rumah baru ku dulu." dia beranjak, terlalu bersemangat.


Dan ternyata benar, rumah yang di tawarkan Clara lebih Bagus dan tergolong murah.


Tapi, bagaimana nanti kalau Dila tahu bahwa aku pernah dekat dengan Clara?

__ADS_1


"Udah, enggak usah mikir banyak. Nanti aku yang urus semuanya." Clara tersenyum meyakinkan aku.


"Ya." akhirnya aku memilih rumah atas saran Clara. Tak perlu khawatir juga, kami hanyalah masa lalu.


Ke esokan hari kemudian, aku baru bisa membawa Dila ke rumah baru ku. Dan aku bersyukur di dalamnya sudah ada kasus yang nyaman. Kami bisa langsung beristirahat malam ini.


"Makasih Mas, aku seneng akhirnya kita punya rumah sebelum aku melahirkan." ucap Dila memelukku.


"Ya, Kita akan memulai hidup baru di sini. Aku tahu aku sudah melakukan banyak kesalahan di masa lalu. Sekarang waktunya kita memperbaiki diri." ucapku lebih dewasa.


"Ya, aku juga Mas. Aku salah, tapi aku mencintaimu." ucap Dila tersenyum haru, dia tak henti memeluk diriku.


Kami duduk bersantai di ruang tamu sejenak, bercerita dan bercanda sambil meraba perut Dila yang terkadang bergerak, junior ku sedang bergerak di dalamnya. Sungguh aku bahagia, tak lama lagi aku akan memiliki anak.


"Dia menendang Mas." seru Dila tertawa.


"Ya, semoga saja dia laki-laki." jawabku terus merabanya.


"Dokter bilang kemarin itu di menutup miliknya." Dila terkekeh.


"Tidak masalah, laki-laki atau perempuan bagiku sama saja. Aku sudah lama menunggu kehadiran seorang anak." ucapku mengecup keningnya.


"Tidur yuk Mas." ajak Dila memberi kode seperti biasa.


"Di sini saja." jawabku langsung menciumi Dila yang tak mau kalah dariku.


"Mas." panggilnya memintaku berhenti.


"Hem?" aku menatap wajah tegang Dila.


"Siapa yang datang?" tanya Dila mendengar pintu di ketuk berkali-kali. Aku juga bingung, kami bahkan baru pindah.


Dengan terpaksa aku menghentikan aktifitas panas kami. Ku harap yang datang itu bukanlah orang yang penting.


"Ricko."


"Clara?" aku heran mengapa Clara ada di sini, bukankah dia tinggal di rumah orangtuanya?


"Kamu udah pindahan?" tanya Clara melangkah mendekat, dia ingin masuk tapi kemudian berhenti ketika melihat Dila di belakangku. Mata keduanya beradu.


"Siapa ya Mas?" tanya Dila tak mengalihkan pandangannya kepada Clara.


"Dia atasanku yang juga beli rumah di dekat sini." jawabku merangkul Dila. Ku lihat Clara juga terkejut, dia menatap Dila langsung kepada perut buncitnya.

__ADS_1


"Clara, dia istriku Dila!" ucapku memperkenalkan Dila.


"I... istri." ucap Clara hampir tak berkedip menatap kami berdua, terlebih lagi pakaian Dila yang yang sedikit berantakan karena ulahku.


__ADS_2