
Aku memegang perut rata ku seraya terus berdoa bahwa apa yang di katakan Mas Radit adalah benar, aku ingin memiliki anak seperti Dila. Aku iri atau apa ya? Yang jelas, aku sudah sangat ingin menggendong bayi terlebih lagi ayahnya adalah Mas Radit. Laki-laki sempurna menurutku, seorang kakak juga suami yang luar bisa segala-galanya untuk ku. Aku tidak mau kehilangan dia.
"Sayang, ayo masuk." Mas Radit segera mengajakku, menghapus air mata dan kemudian merangkul diriku.
Hatiku dag-dig-dug ketika dokter kandungan itu memeriksa perutku, melihat wajahku dan menekan sedikit perut bagian bawahku.
Seolah baru pertama, padahal aku sudah mengalami ini tiga kali sebelumnya bersama Mas Ricko. Aku jadi takut mengingat itu.
"Dok, saya sudah tiga kali keguguran." ungkapku, takut kecewa dan mengecewakan Mas Radit, itu yang aku pikirkan saat ini.
"Tenang ya Bu, memiliki riwayat keguguran bukan berarti akan terus demikian. Yang paling penting Ibu jaga kesehatan dan tidak boleh lelah terutama di trisemester pertama." Dokter yang memeriksa ku itu tersenyum, mengerti apa yang aku rasakan saat ini.
"Saya pastikan istri saya tidak akan mengalami capek. Saya akan menjaganya, kesehatan batin dan fisiknya Dok." sahut Mas Radit. Ah, suamiku ini yakin sekali. Sebenarnya aku ini hamil atau tidak?
"Nanti saya resepkan vitamin dan susunya ya. Jangan lupa di minum sesuai jadwal yang saya catatkan." ucap dokter itu lagi.
"Susu Dok?" tanyaku.
"Ya." jawab Dokter itu seraya menulis.
"Jadi... istri saya?"
Dokter itu tersenyum lagi, menyerahkan catatan yang sudah di buatnya. "Selamat ya Pak, istri Anda sedang hamil, usia kandungannya lima Minggu." ucapnya kepada Mas Radit.
"Hah! Serius Dok?" Mas Radit jadi tidak percaya, terlebih lagi dokter itu santai sekali seolah hamil bukanlah hal yang besar.
"Ya." sesuai ucapan Anda ya, jaga istrinya dengan baik." dia sedikit terkekeh.
Mas Radit menoleh aku, juga dokter itu seolah ini adalah candaan. Begitu pula aku yang memang terus khawatir. Kalau hamil aku takut keguguran lagi, tapi jika tidak hamil aku takut Mas Radit berpaling. Aku serba salah, bingung.
Mas Radit mengambil kertas dari tangan Dokter tersebut. Membaca sejenak mungkin masih saja tak percaya.
"Alhamdulillah. Sayang, kamu beneran hamil!" Mas Radit memelukku, menciumi pipiku dan seluruh wajahku, tak ketinggalan tanganku, jari-jari ku dikecupnya begitu lama. "Terimakasih Sayang."
"Hehe, i...iya Mas." jawabku senang tapi aneh. Aku sedang berpikir bagaimana selanjutnya? Apakah anak di dalam perutku ini akan bertahan?
"Harus selalu berpikiran positif ya Bu." Dokter wanita itu lagi-lagi mengingatkan aku, dia seperti Mas Radit saja bisa menebak apa yang aku pikirkan.
__ADS_1
"Iya Dok, terimakasih." jawabku.
Kami pulang dengan wajah suamiku sangat bahagia, dia sudah tidak sabar memberitahukan kabar gembira ini kepada Papa dan Mama. Aku sedang membayangkan bagaimana kehebohan di rumahku nanti. Dan lagi aku berdoa agar keguguran itu tidak terulang lagi.
"Mobil siapa Sayang?" tanya Mas Radit ketika memasuki halaman rumahku.
"Kayaknya aku kenal Mas, tapi mobil siapa ya?" aku jadi mengingat-ingat sambil keluar menggandeng lengan Mas Raditku.
Kami masuk dengan sesekali menoleh mobil yang terparkir itu.
"Susan!" pekik Kiki ketika aku masuk, ku lihat di sofa dia tidak sendiri melainkan bersama Andi. Pantas saja aku merasa tak asing dengan mobil di luar, bahkan aku pernah pulang dengan mobil itu.
"Lu sombong banget sekarang." jawabku, Kiki memeluk aku erat.
"Gak boleh kenceng ya." larang Mas Radit, dia meminta Kiki mengakhiri pelukannya.
"Ih, suami lu bawel juga. Gue cewek kali, enggak bakal tergoda sama elu." Kiki menunjuk aku, bagiku ini lucu.
"Bukan enggak boleh, tapi Susan sedang hamil." jawab Mas Radit langsung menarik aku dalam pelukannya.
"I...iya." jawabku, melirik Mama.
"Hoh, pas banget gue ke sini sekalian denger kabar bahagia." Kiki menatapku lagi, jika tidak ada Mas Radit tentu dia sudah memeluk aku lagi, bahkan berlompat-lompat heboh.
"Beneran ini?" Mama mendekati kami berdua, mata yang sudah berkerut itu mulai berkaca-kaca.
"Iya Ma, Susan hamil. Anak Radit, cucu Mama." jelas Mas Radit memeluk aku, seolah mengingatkan bahwa dia juga adalah bagian dari orang kesayangan Mama.
"Ya, Mama senang." Mama langsung menangis, memeluk aku dan Mas Radit bersamaan.
Heh, aku sedih...
Ternyata sebahagia ini bisa hamil dari orang yang benar-benar di terima oleh orang tua. Bangga sekali rasanya mengandung anak dari Suamiku yang selalu mencintaiku juga orang tuaku. Semuanya terasa lengkap.
"Ma." ucapku kemudian.
"Ya." jawab Mama menangkup wajahku.
__ADS_1
"Doakan Susan agar selalu sehat, dan kehamilan Susan ini lancar hingga dia melihat dunia." aku mengelus perutku.
"Tentu saja Sayang." jawab Mama menghapus air matanya, terharu.
"Susan minta maaf, juga mohon ampun sama Mama atas semua kesalahan Susan dulu." aku menangis, sungguh berbagai pikiran timbul dengan sendirinya karena khawatir.
"Sayang, enggak boleh begitu." Mas Radit mengusap bahuku, ambil menatap sendu kepada Mama yang malah semakin menangis.
"Mama sudah maafkan kamu Nak." jawabnya terkekeh pilu. Aku memeluk Mama, lega karena sudah meminta maaf dan hari berikutnya aku hanya ingin menjalani hari dengan tenang.
"San, maaf ya gue mengganggu momen kebahagiaan elu." Kiki merasa tak enak hati, begitu juga Andi yang sejak tadi diam. Entah jika ia bingung dengan aku yang saat ini malah menikah dengan Mas Raditku.
"Enggak apa-apa Ki, gue seneng elu ada di sini." aku duduk di sofa, sementara Mas Radit masuk ke kamar sejenak meletakkan vitamin ku.
"Sebenarnya gue ke sini itu mau ngundang Elu San. Kita... kita ..." Kiki menolah Andi.
"Kita mau nikah San." sambung Andi. Dan sungguh aku terkejut sekaligus bahagia.
"Serius?" tanya ku, kedua orang di hadapan ku ini mengangguk, kompak sekali. "Syukurlah. Kalian berjodoh." aku geli memikirkan awal mereka bertemu, juga karena masa laluku.
"San, gue mau pinjam rumah elu di kampung itu. Buat tempat keluarga gue." Kiki menatapku, ragu mungkin atau tak enak hati.
Benar saja bahwa aku mengingat kejadian pahit itu, sedikit. Tapi pada akhirnya aku bahagia karena sekarang sudah bersama Mas Radit.
"Pakai saja." sahut Mas Radit, ternyata dia tidak meninggalkan aku sendiri dalam obrolan ku bersama Kiki sahabatku.
"Susan..." Kiki menatap aku yang masih diam.
"Sayang, kasih aja." bujuk Mas Radit, sebenarnya aku tak keberatan.
"Ya." Aku mengangguk.
"Elu juga harus datang." ucap Kiki lagi.
Entahlah, aku enggak mau ketemu Mas Ricko yang pasti di undang oleh Andi. Tapi aku jadi ingat sesuatu.
"Apa kabar Mbak Tami ya?" Aku kok jadi kepo begini, amit-amit. Aku mengelus perutku, ngeri.
__ADS_1