Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Amukan Warga


__ADS_3

"Tega kamu Mas." aku meratap dalam tangisku.


"Udah San, nanti tenaganya habis kalau menangis terus." ucap Bu Endang.


"Bu! Bu cepet ke rumah Pak RT!" suara suami Bu Endang terdengar memanggil istrinya.


"Iya Pak!" Bu Endang beranjak keluar.


Tak mau ketinggalan aku pun ikut beranjak bersama Cindy, aku ingin tahu apa yang terjadi di sana sehingga Bu Endang di minta datang menjelang subuh ini.


Kami berjalan kaki, jarak lima rumah saja dari rumah ku membuat kami tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Pak RT. Ramai dan ternyata banyak sekali ibu-ibu mengamuk di sana.


"Dasar perempuan gatel, masih sekolah aja udah jadi pelakor? Gimana dewasanya nanti!" terdengar salah satu ibu-ibu muda menghina Dila.


"Iya, dia harus di basmi!" seru seorang lagi tak mau ketinggalan, mereka menunjuk-nunjuk muka Dila. Beberapa orang lagi menarik-narik baju Dila sedangkan dua orang bapak-bapak melerai, menghalangi ibu-ibu yang sudah terlanjur emosi.


"Pake di halangain segala, jangan-jangan bapak sudah punya rencana untuk menggilir si Dila?" kesal salah satu wanita muda, ku rasa salah seorang bapak-bapak yang menghalangi itu adalah suaminya.


"Astaghfirullah Bu, ini rumah Pak RT, mereka lagi di adili." jawab laki-laki berbaju biru tersebut.


"Itu lagi si Tami, melindungi pelakor!" teriak wanita lainnya geram sekali.


"Dia juga harus di kasih pelajaran!" sahut seorang wanita bertubuh gemuk, diikuti yang lain mereka menarik Mbak Tami dan terjadi jambak- jambakan.


"Stop Bu- ibu!" kali ini Pak RT yang angkat bicara, beberapa orang juga melerai ibu-ibu yang mengamuk berubah haluan itu. Tak dapat Dila, Tami pun jadi.


"Sudah tahu kamar kos nya di jadikan tempat mesum, dia malah menutupi!" teriak ibu-ibu kompak mengikuti.


Entahlah, aku harus Senang atau bersedih dengan pembelaan mereka. Yang pastinya, aku kecewa dengan Mas Ricko.


"San." panggil Mas Ricko beranjak dari duduknya, menatapku sendu.


Aku membuang muka.


"San, maafkan Mas, ini salah paham." ucapnya lagi. Terdengar suara riuh ibu-ibu meneriaki Mas Ricko. Malunya...


"Nikahi saja Mas, jangan lepas tanggung jawab setelah puas tidur dengannya." ucapku kemudian berbalik, meninggalkan Mas Ricko yang masih memanggil-manggil namaku.


Sudahlah, mungkin ini sudah takdirnya...


Aku memilih kembali ke rumah, hatiku semakin kacau berada di tempat ini.


***


"Sudah Tante, Pak Ricko itu jahat, enggak usah di kasih air mata." ucap Cindy meletakkan segelas Susu diatas nakas, mungkin dia lelah melihatku menangis tanpa henti hingga matahari sudah meninggi.

__ADS_1


Aku melihat gadis polos itu, dia tak meninggalkan aku dari semalam.


"Kamu enggak sekolah Cin?" tanyaku.


"Enggak Tante, ini hari Minggu." jawabnya, duduk di kursi kecil di depan meja riasku.


"Minum susu ya Tante." bujuk Cindy, dia sudah membuatkan susu hangat untukku.


Aku menoleh gadis kecil yang polos itu, sungguh wajahnya berkerut melihat keadaanku yang menyedihkan. Sejak semalam dia bahkan tidak tidur karena menjagaku.


"Makasih ya Cindy." ucapku kembali menangis pilu.


"Enggak perlu terimakasih Tante, tapi jangan nangis." pintanya polos.


Ku raih segelas susu itu dan ku teguk hingga tandas, bukan karena aku haus, tapi aku menghargai Cindy yang setia menemaniku. Ku lihat dia tersenyum senang.


Aku duduk merenungi kesalahan ku sudah menikah dengan Mas Ricko. Mungkin sebaiknya aku pulang.


"Cin, sepertinya Tante akan pulang." ucapku mulai menurunkan kaki ku, lemas.


"Pulang?" tanya Cindy bingung.


"Ya, ke rumah Mama." jawabku beranjak meraih koper di kolong ranjang.


Tentu Cindy hanya bisa memandangi ku, aku memasukkan pakaian ku.


Suara Mas Ricko membuat aku terkejut, pun Cindy kami saling bertatapan.


"San." panggil Mas Ricko lagi masuk ke dalam kamar.


Aku tak mempedulikan Mas Ricko, tetap pada keputusanku, aku akan pulang.


"Kamu nggak boleh pergi, kamu masih istriku." cegah Mas Ricko menghentikan tanganku memasukkan baju.


"Mulai sekarang aku ingin kita selesai Mas, aku tidak mau menjadi istri pertama dari yang kedua. Itu menyakitkan, juga menjijikkan."


"San, kamu tidak bisa mengambil keputusan sepihak, kita masih suami istri dan aku tak mengizinkan kamu pergi!" suara Mas Ricko meninggi. Entah apa yang membuat dia emosi, yang salah bukan aku kan?


"Aku minta cerai."


"Nggak!" Marah Mas Ricko.


"Terserah Mas, yang pasti tekad ku sudah bulat. Aku minta cerai!"


"Aku tidak akan menceraikan kamu." kukuh mas Ricko.

__ADS_1


"Terserah ya Mas, aku tidak sudi di madu." aku mendorong Mas Ricko agar menjauh.


"Aku tidak akan menikahi Dila, kamu tidak boleh kemana-mana." dia kembali menjauhkan koperku.


"Mas!" marahku, merebut koper yang sudah di lembar jauh.


"Kita akan tetap suami istri, kamu nggak boleh pergi. Dulu Kita selalu bahagia. Biar aku ingatkan bagaimana dulu ketika kita saling mencintai." ucap Mas Ricko menyeringai.


Dia mulai mendorongku ke atas ranjang, aku kembali bangun tapi dia malah menekan dan mengunci tubuhku. Aku berusaha menendang tapi Mas Ricko bisa menghindari, ku rasa dia terlalu mahir mengendalikan tubuh wanita.


"Mas jangan gila!" aku memukul-mukul dada Mas Ricko sebelum akhirnya dia memegang tanganku kuat-kuat


"Kamu tidak akan pergi setelah ini." ucap Mas Ricko menarik paksa bajuku, robek sana-sini tak bisa di hindari.


"Cindy tolong...!" teriakku, tentu dia tak berani, ku lihat dia keluar entah kemana.


"Diam!" kesal Mas Ricko. semakin menekan ku.


Aku masih berusaha melawan, tapi tentu kalah tenaga, Mas Ricko semakin gila dan aku nyaris pasrah. Air mataku meluncur hangat, aku teringat ketika kami saling mencintai, tapi sungguh saat ini keadaannya sudah berbeda.


Braakkk!!


Aku terkejut ketika pintu yang setengah terbuka itu di banting kuat.


"Brengsek!" teriak seorang laki-laki menarik Mas Ricko dari atas ku, pria itu terlihat sangat marah, memukul dan menghajar Mas Ricko membabi buta, tinjunya yang besar menghantam wajah Mas Ricko hingga berdarah-darah.


"Susan!" Kiki mendatangiku, memelukku dengan iba.


"Kiki." tangisku.


Ku lihat Mas Ricko bangun dan melawan, perkelahian di dalam kamarku tak terelakkan bahkan meja rias ku berantakan, alat make-up ku jatuh di lantai pecah berhamburan.


"Sejak dulu gue memang udah pingin menghajar bajingan kaya Elu." geram laki-laki itu kepada Mas Ricko.


"Heh! Anak pungut!" desis Mas Ricko tersenyum sinis.


"Dari pada elu, cuma SAMPAH!"


Mas Ricko kembali memukul, tapi malah kebalikannya dia yang terjerembab di tendang pria berjaket hitam itu, tak tanggung-tanggung dia langsung menyeret Mas Ricko keluar, ku rasa Mas Ricko babak belur.


Pria itu berbalik menatap keadaan ku yang menyedihkan, bajuku robek sana sini.


Dia meraih selimut, menutup ujung kakiku hingga dadaku.


"Mas Radit!" aku menghambur memeluknya, meluapkan segala rasa.

__ADS_1


"Kita pulang."


__ADS_2