
Sial! begitulah kira-kira yang aku alami setelah ketahuan oleh Susan. Aku di gugat cerai, pekerjaanku terancam, kemungkinan aku akan di berhentikan secara tidak hormat. Belum lagi sekarang aku sudah terlanjur menikahi Dila, ah rasanya duniaku sudah hancur!
Aku memutuskan pulang ke rumah Ibu, tak mungkin aku bertahan di kampung orang ini dengan pandangan jijik dari semua orang. Apalagi harus tinggal di kos-kosan Dila, itu hanya membuat hatiku sakit karena memandangi rumah sebelah, tempat tinggal ku bersama Susan. Akhirnya aku pulang membawakan Dila ke rumah Ibu.
"Ricko!" teriak Ibu melihat kedatanganku. Mungkin ibu merindukan aku.
"Apa kabar Bu?" tanyaku kepadanya.
"Itu siapa?" tanya Ibu menatap tajam Dila, kening tuanya berkerut.
"Itu Dila Bu, istri ke dua ku."
"Apa!" begitu pekik Ibu, tak percaya tapi nyata aku sudah membawa Dila.
"Kamu serius Ricko!" dia memperhatikan penampilan Dila dari kepala hingga ujung kaki.
"Ya serius Bu." jawabku masuk mengajak Dila, ia mencoba menjabat tangan Ibu, syukurlah ibu tak menolak.
"Ibu mau bicara." Ibu menarik tanganku menuju kamarnya.
"Ada apa Bu, aku capek." sedikit kesal.
"Anak orang kaya?"
Sungguh itu pertanyaan yang membuat aku tercengang. Mana mungkin aku bilang Dila anak orang kaya kalau nyatanya dia minta hidup sama aku.
"Ricko!" tanya Ibu lagi.
"Bukan." jawabku singkat.
"Bukan? Terus ngapain kamu nikahin dia?" kesal Ibu.
"Aduh Bu, jangan keras-keras." aku mencoba menenangkan Ibu.
"Ya habisnya kamu aneh! Susan aja tidak menguntungkan, malah kamu ingin menghidupi anak orang?" marahnya tak peduli akan di dengar Dila.
"Bu, Dila sedang mengandung anak ku."
"Hah! Kamu!" Mata ibu melotot.
"Ya, Ricko harap Ibu bisa menerima Dila di sini."
__ADS_1
"Eh, kenapa di sini?"
"Ya ini rumah Ibu, rumahku juga." ucap ku meninggalkan Ibu. Tak mau terlibat perdebatan lagi, aku keluar dan mengajak Dila ke kamarku.
"Mas, Ibu kenapa?" tanya Dila mungkin sudah mendengar ucapan-ucapan Ibu.
"Enggak apa-apa, yang pasti kamu akan sulit untuk satu pendapat dengan Ibu. Dan itu sudah resiko, beginilah hidupku, beginilah rumah dan orang tuaku. Juga inilah yang dirasakan Susan sebagai istriku."
Dila menunduk, mungkin merasa tersinggung dengan ucapan ku, tapi itulah semua adanya tanpa ku tutup-tutupi. Ku rasa dia juga terkejut dengan keadaan yang tak sesuai harapannya. Aku kasihan padanya, tapi juga tidak punya pilihan, selain aku harus bertanggung jawab atas anak yang sedang di kandungnya, aku juga masih sangat ingin mempertahankan Susan walau tidak tahu caranya.
Keesokan harinya, aku berangkat ke kantor pengadilan untuk mempertahankan Susan. Aku tidak akan menyerah meskipun aku tahu aku salah!
Tapi...
Lemas rasanya tubuhku ketika mendengar putusan hakim, menyatakan bahwa tuntutan Susan di kabulkan. Aku kehilangan...
Ku lihat dia di kawal beberapa orang bodyguard, juga laki-laki yang amat ku benci tak pernah melepaskannya, Radit. Ingin sekali aku menonjok muka sok tampannya itu, aku tahu persis diam-diam dia mencintai Susan sejak dulu. Beruntung saat itu aku lebih gesit dan berhasil mengajak Susan menikah, tapi sekarang malah sebaliknya.
Aku berteriak menyerukan bahwa Radit adalah laki-laki yang buruk, ku rasa Susan akan memikirkannya. Aku tahu persis dia begitu polos dan mudah di pengaruhi. Heh, aku tidak akan membiarkan laki-laki itu menang dan menguasai Susan, aku masih mencintainya, juga tidak mau kehilangan dirinya juga asetnya yang sama sekali belum dapat ku nikmati.
"Anak perempuan itu harus bangun pagi, beres-beres. Bukannya males-malesan. Mentang-mentang lagi hamil jangan seenaknya saja!"
Omelan Ibu begitu keras terdengar hingga ke teras, aku tahu persis siapa yang sedang menjadi sasarannya.
"Itu istrimu masak tengah hari begini baru bangun?" tunjuknya kepada Dila.
"Bu, Dila itu lagi hamil. Lagipula perjalanan ke sini semalam luar biasa capeknya. Maklumlah sedikit Bu." pintaku kepada wanita tua yang melahirkan aku itu.
"Tau ah, kalau mau makan masak sendiri. Ibu enggak masak!" ucapnya kasar, lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Ku tatap Dila diam menutup matanya, aku tahu dia menahan kesal.
"Maafkan Ibu ya." ucapku pelan, sepanjang kami bersama memang aku tak pernah berkata kasar padanya. Dia masih terlalu muda untuk mengalami sulitnya hidup dengan mertua.
"Dila yang salah kok." ucapnya mencoba mengerti posisinya, walau ku tahu hatinya tidak terima.
"Sudah, biar aku pesan makanan." ucapku kepada Dila. Aku tahu dia masih lelah.
"Aku menatap sekeliling ruang tamu, dulu aku pernah membawa Susan juga ke rumah ini, dia begitu bahagia disambut senyum oleh Ibu. Tapi setelah menikah malah kami tidak di terima gara-gara Susan tidak mendapat dukungan orangtuanya. Aku sendiri bingung bagaimana sebenarnya keinginan Ibu, mengapa hanya aku yang di tuntut untuk menikah dengan anak orang kaya. Mengapa tidak kakak atau adik perempuanku saja, toh mereka juga berpendidikan dan cantik. Tapi suami kakak ku malah hanya pegawai pabrik biasa.
"Bisa enggak istri kamu itu di pulangkan saja." pinta Ibu kemudian membuyarkan lamunan ku yang sudah jauh kemana-mana.
__ADS_1
"Dia hamil Bu, anak ku, cucu Ibu " jawabku tegas.
"Lagian kan kamu punya rumah di kampung sana, ngapain harus pulang ke rumah Ibu!"
"Rumahku dalam tuntutan Bu, kami sudah bercerai." ucapku cukup membuat Ibu terkejut.
"Cerai!"
"Ya, aku ketahuan selingkuh dengan Dila, dia menuntut cerai dan rumah itu akan di jual." jelas ku, kepalang semua ku katakan saja agar ibu paham.
"Kamu bodoh atau apa? Kamu buang Susan cuma buat bocah gatel itu? Udah bunting, miskin lagi!"
"Ibu! Bisa tidak bicaranya yang lebih baik!"
"Nggak, kamu memang harus di kasih tahu biar enggak terus-menerus bodoh!"
"Bu!" Aku kesal, dan aku melihat Dila berdiri di pintu mendengarkan kami, Dila mendekat dengan wajah datar.
"Memang kamu bodoh, membuang Susan yang kaya raya demi dia_"
"Cukup Bu." Dila menyahut dengan tatapan tajam.
"Kamu? Bagus kalau sudah dengar jadi enggak usah di kasih tahu lagi bahwa aku tidak suka punya menantu seperti kamu." ucap Ibu semakin pedas.
"Oh ya, asal Ibu tahu! Aku juga tidak suka punya mertua yang udah tua tapi mulutnya seperti kaleng rombeng, berisik." balas Dila, aku tercengang mendengarnya. Bahkan Susan tidak pernah melakukan itu.
"Ngelawan kamu sama orang tua? Durhaka, masuk neraka." kesal Ibu tak kalah sengit.
"Ibu juga akan masuk neraka karena mulutnya enggak di jaga." balas Dila.
"Eh kurang ajar! Enggak tahu diri kamu udah dateng ke rumah saya pake acara ngelawan, males-malesan lagi! Nanti anakmu akan balas kelakuan kamu ini, persis! Hih!" bibir dan hidungnya menyingkat khas ibu-ibu nyinyir.
"Terserah, ini cucu Ibu juga loh!" jawab Dila lalu kembali ke kamar.
"Istrimu kurang ajar, ajak dia pergi dari sini! Ibu tidak mau kena darah tinggi dan stroke gara-gara dia."
"Nggak bisa sekarang Bu, aku lagi tidak punya uang." jawabku mengatakan yang sebenarnya.
"Terserah, ibu tidak mau tahu. Pokonya kamu ajak dia pergi!" usir ibu lagi.
Aku jadi pusing tujuh keliling jika terus seperti ini, aku berpikir bagaimana caranya agar bisa pindah dari rumah Ibu, kalau di kontrakan aku tidak mau.
__ADS_1
"Apa sebaiknya aku percepat saja menjual rumah ku dan Susan, mungkin dengan begitu aku bisa mencari rumah baru, atau..."tersenyum tipis.
Aku segera mengirim pesan kepada Susan, dan beruntungnya dia setuju untuk bertemu.