
"Kamu ragu karena ucapan Ricko?" tanya Mas Radit setelah kami turun dari mobil.
Aku bergeming, aku urung bertanya karena Mas Radit selalu tahu apa isi kepala ku.
"Jangan meragukan hubungan yang sudah ada jauh sebelum kamu mengenal Ricko, Mas Sudah sayang sama kamu jauh sebelum kamu melihat dunia. Kalau kamu berpikir Mas mau ambil uang Papa, harusnya Mas tidak usah capek-capek bekerja. Toh Papa percayakan semuanya sejak lama."
"Tapi dia sudah dua kali mengatakan itu" gumamku dalam hati. Aku tidak sanggup menanyakan langsung, aku takut Mas Radit tersinggung.
"Bisa?" tanya Mas Radit ketika kaki kami mulai menaiki anak tangga.
Aku mengangguk, tapi tak membuatnya percaya. Aku masih pucat dan lemas, hadir di persidangan itu hanya memaksakan diri saja.
"Makasih ya Mas." ucapku setelah aku duduk di ranjang kamarku, dia memegang kuat bahuku sepanjang menaiki tangga.
Sungguh, perhatian seperti ini membuatku betah, sejak kecil dia tak pernah berubah. Jujur bahwa perhatian Mas Ricko saja masih jauh dibandingkan dengan Mas Radit. Walaupun dia juga begitu mencintaiku pada awalnya.
"Mas. Kenapa ya, Papa sangat tidak suka dengan Mas Ricko?" Aku mengungkapkan apa yang aku pikirkan, mengganjal sejak lama.
"Apa masih perlu di jawab?" dia meraih air minum darn memberikan padaku.
"Ya, masih mengganjal aja, bukan masih berharap kembali lagi sama dia." jawabku.
"Karena Papa sayang sama kamu." jawabnya, sepertinya Mas Radit ingin aku berpikir positif.
"Terus kenapa Mas Tidak suka sama dia? Bahkan ketika aku menikah Mas tidak terlihat bersahabat, tidak berjabat tangan sama dia." intinya aku ingin tahu apa penyebab kebencian keduanya.
"Karena Mas tahu dia seperti apa, dia punya banyak teman wanita dan itu semuanya lebih dari sekedar jalan-jalan dan makan, semua orang tahu itu. Parahnya malah kamu yang kena jerat sama dia sampai menikah."
"Mas kenal banget sama dia?" tanyaku lagi.
"Iya. dia sering ikut Tim sepakbola sama dengan Mas. Dia sering bawa cewek salah satunya sepupunya Dedi. Saudara temen kamu juga, Kiki."
Aku mengangguk-angguk, aku ingat Kiki pernah bercerita tentang sepupunya yang Susah move on dari Mas Ricko bahkan sampai kabur ke luar kota. Kalau tidak salah namanya Clara.
"Ayah Clara itu salah satu rekan bisnis Papa. Dia orang yang baik karena pernah berhutang budi sama Papa."
"Hah! Jadi Papa tahu tentang itu Mas?" tanyaku benar-benar tidak menyangka.
"Ya. Sekarang tahu kenapa Papa tidak suka sama Ricko? Mas juga tidak suka tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kamu sudah memilih dia waktu itu."
"Kenapa Mas nggak marahin aku? Malah Mas membujuk Papa biar nggak marah?"
Dia tersenyum dengan tarikan nafas berat. "Mas takut kamu nekat dan kabur tanpa menikah. Itu lebih menyakitkan buat Mas, karena saat itu kamu tidak mau mendengarkan apapun selain Ricko."
Kali ini aku yang merasa sesak, menyesali kebodohan ku di kala itu. Entah apa yang lakukan Mas Ricko padaku, kalau Kiki bilang aku di pelet, kalau menurut Mbah google ada juga ilmu magic yang seperti hipnotis dan sejenisnya. Ah, aku tidak terlalu mengerti.
__ADS_1
"Dah, mending istirahat." titah Mas Radit membenarkan bantal di belakangku.
"Sekarang aku udah cerai, Mas seneng atau enggak?" ucapan ku membuat kening Mas Radit berkerut.
"Pertanyaan apa itu?" Mas Radit menautkan alisnya.
"Ya, mau tahu aja."
"Seneng karena kamu bebas dari Ricko, tapi juga sedih karena ternyata kamu harus tersakiti karena dia." dia tersenyum lembut, manis banget kalau di perhatikan.
"Nanti sore Mas berangkat ke Jakarta. Kamu harus sembuh." ucapnya tulus.
Dia beranjak meninggalkan aku, perintah untuk istirahat darinya benar-benar ku lakukan, aku tertidur hingga sore hari.
Cahaya matahari sore menyerang lewat jendela kamarku, aura orange menyentuh sebagian ranjang ku dan aku menatap keluar. Pohon yang terlihat bagian ujungnya itu membuat hatiku pilu tanpa sebab, nafasku berat.
Apa yang membuatku sedih? Mas Ricko? Ah itu sudah jelas.
Hatiku terasa kosong, sungguh banyak hal yang sudah ku lalui. Aku lupa ada banyak orang yang menyayangiku, bukan hanya satu.
Pukul 16:00.
Ku lempar selimut, segera beranjak dari ranjang ku. Aku ingat sore ini Mas Radit akan berangkat ke Jakarta.
"Eh, jatuh nanti!" seru Mama panik.
"Mas Radit mana?" tanyaku cepat.
"Tadi dia pamit, katanya kamu masih tidur."
Aku segera ke depan, ku rasa mobil yang menderu itu adalah Mang Udin.
"Mas!" panggilku cepat, bahkan kakiku terpeleset tepat di depan Papa dan Mas Radit.
"Pelan-pelan!" ucapnya, sigap sekali dia menahanku.
"Sakit Mas." menggerutu kepalaku kena dagunya.
"Terus Mas enggak sakit?" kesalnya mengelus dagu sedikit berjenggot itu.
"Maaf." aku juga mengusap kepalaku.
"Ada apa?" tanya Papa menanyai aku.
"Bisa enggak ke Jakartanya besok aja."
__ADS_1
Alis kedua pria di hadapanku terangkat, ternyata permintaan ku terdengar aneh sehingga keduanya berpandangan.
"A..." Mas Radit tampak ragu.
"Cutinya sudah habis." jawab Papa kemudian meninggalkan kami.
"Ikut Mas, mau?" dia berbisik, sengaja.
"Hah!"
Mas Radit terkekeh, dia mengerjai ku, ku lihat Mang Udin sudah siap.
"Mas ga kasihan sama aku?" bujukku lagi.
"Kasihan kenapa?" tanya Mas Radit masih tertawa.
"Baru juga sekali keluar jalan-jalan." gerutu ku, aku tak bisa membayangkan hari berikutnya pasti sangat berat.
Dia menarik nafas, memandang sekeliling halaman rumahku seperti berpikir.
"Ya udah, enggak pa-pa." aku tahu Mas Radit bingung, lagipula aku tidak boleh kemana-mana sementara surat ceraikan belum di kirim.
"Jum'at nanti, pengadilan akan mengirim akta cerai kamu. Jadi kamu istirahat saja di rumah untuk beberapa hari." pesan mas Radit lagi.
"Iya." jawabku tak ada pilihan.
"Mas usahakan pulang Jum'at nanti." ucapnya kemudian masuk ke dalam mobil tanpa menolehku lagi.
Tin, mobil melaju meninggalkan rumahku. Rasaku kembali kacau, masa laluku seolah datang menyerbu. Tubuhku kembali dingin dan pusing kepalaku. Mas Radit pergi, demam ku datang lagi. Aku sendiri dengan rasa yang sepi...
Empat hari kemudian, benar seperti kata Mas Radit bahwa akta cerai ku di kirim dari pengadilan.
Tentu aku tidak bahagia dengan tulisan CERAI ini, Aku menangis pilu di balik pintu kamarku. Meskipun aku yang menginginkan perpisahan ini tapi sungguh, ketika sudah terjadi dadaku seperti di cabik-cabik hingga tak berbentuk lagi. Sakit, perih, marah, kecewa dan semua rasa sakit itu ada...
Tapi biarlah, akhirnya aku bebas dari rumitnya rumah tangga ku dengan Mas Ricko. Meski terselip tanya bagaimana kah kabar mantan suamiku itu? Dimana kah dia berada saat ini? Entahlah... Ku harap dia baik-baik saja.
Triing... Sebuah notifikasi pesan berbunyi.
"San, bisakah kita ketemu malam ini."
"Buat apa?" balasku.
"Cuma mau bahas perihal rumah kita. Gak lebih."
Aku berpikir sejenak, mungkin benar jika rumah itu harus di jual secepatnya. Sesuai putusan pengadilan bahwa rumah itu akan di bagi dua. Haruskah ku menemui Mas Ricko?
__ADS_1