Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Drama


__ADS_3

Bertahan sakit, pergi pun sulit.


Hanya menangis dan terus menangis, seandainya pulang ke kampung bersama ibunya dia tidak tidak yakin akan mampu bertahan, selain keadaan di sana sulit, tentu berpisah dengan Ricko lebih sulit karena saat ini Dila tidak bisa melakukan apa-apa setelah melahirkan.


"Dila." panggil Ricko di malam itu, Dila duduk sendiri melamun.


Dila menoleh, menatap sendu wajah suaminya yang juga kusut dan lesu. "Mas, aku sudah memikirkan semuanya. Aku akan mencoba bertahan demi Reno. Asalkan, kamu tidak berubah, tetap mencintai aku daripada Clara." ucap Dila penuh harap.


Ricko menatap wajah Dila, mencari kesungguhan atas kata-katanya. "Kamu serius?"


Dila mengangguk.


"Oh, Dila Sayang. Sungguh berat aku jika harus memilih antara kamu dan Richa." ucap Ricko memeluk Dila erat. Dia tidak tahu jika wanita yang di peluknya menangis, hatinya sakit mendengar ucapan Ricko yang tidak sama sekali membuatnya puas, padahal dia berharap Ricko lah yang akan melepas Clara dengan Ikhlas, tapi sepertinya Ricko malah senang.


***


Sementara di rumah yang lain, Susan sedang beristirahat saja di hari


akhir pekan ini. Radit pergi bersama ayahnya untuk mengecek beberapa usaha ayah sekaligus ayah mertuanya itu. Walaupun tidak sesibuk sebelumnya, ia hanya menemani ayah mertuanya hari ini saja, sedangkan hari Minggu esok dia tak akan kemana-mana, hanya menemani Susan di rumah.


"Mas, cepat pulang. Aku ingin makan sesuatu." Pesan yang di kirim Susan untuk Radit.


"Baiklah Sayang, satu jam lagi aku akan tiba di rumah. Katakan kamu mau di belikan apa?" balas Radit.


"Semua makanan yang ada saus kacangnya Mas." jawab Susan lagi.


"Semua Sayang?" Radit menelponnya kali ini.


"Iya Mas, aku lapar." rengek Susan, membuat Radit di seberang sana semakin tidak fokus bekerja.


Dia menoleh ayah mertuanya berkali-kali, pikirannya sudah ada di luar, membeli makanan untuk istri tercinta. Tapi untuk pulang, tak enak hati.


"Pulanglah, Papa juga sebentar lagi akan pulang." ucap Pria berjas hitam itu sambil mengecek laporan pegawainya.


"Hehe, sebentar lagi aja Pa. Barengan Papa." jawab Radit serba salah.


"Hem, turuti saja kemauan istrimu. Papa akan ikut bahagia jika kau dan Susan bahagia. Hanya itu." ucap Pak Subroto melepas kacamatanya sejenak, dia tersenyum sedikit kepada anak angkatnya itu.


"Ta...tapi."


"Tidak ada tapi. Sebaiknya kau pulang sebelum dia merajuk." ucap pria itu lagi, kembali fokus pada layar di hadapannya.


"Iya Pa, terimakasih." Radit tersenyum menoleh ayahnya tersebut, dia segera pamit pulang, sebelum akhirnya ia berkeliling untuk membeli jenis-jenis makanan yang di inginkan Susan istrinya.

__ADS_1


Dia pulang dengan senyum terus mengembang, dia benar-benar merasa hidupnya sudah lengkap. Hanya sedang menunggu kehadiran bayi yang sedang di jaganya. Yakin sebentar lagi bahagianya akan sempurna.


"Mas Radit!" Susan segera keluar menghampiri Radit.


"Ayo makan, Mas sudah beli banyak makanan." Radit langsung memeluk Susan, sambil membawa kantong berisi banyak Makanan menuju ruang makan.


"Makasih Mas." jawab Susan Senang. "Papa mana?"


"Papa masih di kantor, Papa bilang Mas boleh pulang biar kamu gak terlalu lama menunggu." Mengecup kepala Susan yang bersandar di bahunya.


"Hehe." Susan terkekeh mendengar ucapan Radit, sungguh dia merasa bahagia dengan pengertian ayahnya. Kalau tahu menikah dengan Radit akan sebahagia ini, kenapa tidak sejak awal saja ia menjadi istrinya.


"Mas ambil sendok dulu Sayang." Radit beranjak ke dapur, sementara Susan duduk di menunggu sambil memandangi gado-gado dengan tak sabar.


"Cabainya juga Mas." pinta Susan sedikit berteriak.


"Asal tidak terlalu banyak." jawab Radit setelah membawa kedua benda tersebut.


"Aku mau rujaknya juga." Susan meraih bungkusan yang lain.


Radit hanya tersenyum melihat Susan bersemangat menyatukan dua makanan dengan bumbu yang hampir sama itu.


"Makan yang banyak Sayang." mengelus kepala Susan.


"Mau?" Susan menyodorkan potongan buah kepada Radit.


"Satu aja Mas." pinta Susan memaksa. Membuat suaminya tak punya pilihan.


"Ba... baiklah." mulai membuka mulutnya, dan matanya tertutup mendadak ketika mulai mengunyah potongan buah mangga mentah tersebut.


"Kenapa Mas?" tanya Susan heran, mendekatkan wajahnya ke wajah Radit.


"Asam." jawabnya segera mengambil kerupuk dan minum lebih banyak.


"Masak?" Susan tak percaya, dia tak suka Radit mengatakan asam kepada makanannya.


"Mas makan gado-gado saja ya." Radit menyendok sayur dan kerupuk bercampur saus kacang itu ke mulutnya, sambil tersenyum kaku.


"Besok acara ngunduh mantu di rumah Andi Mas, apakah kita akan datang?" tanya Susan pelan, berharap bisa ikut walaupun tak yakin Radit akan mengizinkannya.


"Sebaiknya kamu enggak ikut Sayang. Kamu bisa kirimkan hadiah untuk mereka." jawab Radit sudah bisa di tebak.


"Mas datang?" tanya Susan lagi.

__ADS_1


"Belum tahu. Kalau Dedi minta dan kamu mengizinkan, Mas datang. Kalau kamu enggak mengizinkan Mas enggak datang." Radit mengusap bibir Susan yang belepotan.


"Terserah Mas saja, asal tidak macam-macam." membuat Radit terkekeh, mencubit pipi Susan gemas.


Ke esokan harinya.


Ternyata benar Dedi meminta Radit untuk ikut bersamanya ke rumah besan keluarga Kiki.


"Jangan pulang malam ya Mas." rengek Susan memeluk Radit sebelum pergi.


"Ya elah San, hadir doang habis itu pulang." sahut laki-laki yang masih jomblo itu.


Radit tersenyum senang, membiarkan istrinya bergelayut manja di hadapan sahabatnya. "Iya, Mas enggak lama. Lagipula ini pernikahan sahabat kamu yang sudah berjasa dalam banyak hal. Dia teman yang baik." ucap Radit memeluk Susan.


"Hem, iya Mas." Susan tersenyum senang, tentu dia ingat bagaimana Kiki menjadi teman sejati sejak lama.


"Adik gue memang baik. Tadinya gue ngarep dia jadi jodohnya Radit." Dedi melirik Radit, sengaja.


"Eh." Susan mengerucutkan Bibirnya.


"Apaan lu!" Radit menyenggol bahu temannya.


"Bercanda kali, serius amat. Udah mau punya anak juga." Dedi terkekeh, masuk ke mobil lebih dulu sementara Radit masih memeluk Susan bagaikan enggan berpisah.


"Mas." rengek Susan lagi.


"Ya. istirahat dan makan yang banyak ya, biar anak kita sehat." Radit mengecup pipi dan seluruh wajahnya.


"Drama." ucap Dedi yang sengaja ikut mobil Radit.


"Lu juga akan begitu nanti, setelah menikah dan istri lu hamil. Rasanya dunia ini milik berdua." Radit terkekeh.


"Kalau bini gue dua?" tanya Dedi asal.


"Ya milik bertiga." sahut Radit tertawa.


"Yang ada perang dunia ke tiga." Dedi ikut tertawa.


Di tempat lain, Drama yang berbeda juga terjadi di rumah Dila.


"Sayang, hari ini aku harus mengantar Clara ke kampung untuk menghadiri pernikahan Andi dan Kiki." ucap Ricko.


"Pak Andi?" tanya Dila.

__ADS_1


"Ya."


"Aku ikut Mas."


__ADS_2