Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Ragu sama Mas Radit


__ADS_3

Aku mengeratkan selimut di tubuhku, sudah lebih dari enam jam aku berbaring tapi tak dapat tidur. Kepala ku sakit, merinding sesekali terasa dari kaki hingga kepala, nyeri juga di bagian punggung ku.


"San!" suara Mama memanggil tapi malas menyahut.


"San buka Nak, kamu belum makan." panggil Mama sekalian menggedor pintu kamar ku.


Tak mungkin ku biarkan Mama khawatir, aku berusaha membuka mata, kok ga bisa. Seperti ada lem yang merekat kuat, di mata dan mulutku.


"San...San!" suara Mama semakin memekik.


"Pa, Radit!" nah, betul kan Mama khawatir.


"Ma, ada apa?" suara Mas Radit di balik pintu, entah mengapa aku merasa begitu lemas.


"Susan, dari siang dia mengurung diri. Mama khawatir!" rengek Mama.


"San! Buka, kamu gak apa-apa kan?" kali ini Mas Radit yang menepuk pintu kamar ku.


"Ya Allah, Mama takut." ucap Mama.


"Radit dobrak saja!"


"Eh, enggak Dit. Mama ada kunci serep. Mama lupa!" terdengar langkah Mama menjauh. Tak berapa lama pintu di buka.


"San!"


"Dek!"


Kedua orang itu mendekat, Mama membuka selimut dan menggoyang tubuhku.


"San bangun Nak." panggil Mama khawatir. Tapi mataku masih terasa berat dan sulit di buka.


"Adek Sakit Ma!" ungkap Mas Radit meraba keningku.


"Ya Allah, gimana Dit?" ucap Ibu panik.


"Kerumah sakit aja Ma, nanti hubungi Papa langsung ke sana."


Mas Radit menggendongku, membawaku menuruni tangga. Hingga sudah di mobil aku baru bisa membuka mata.


"Mas." panggilku pelan.


"Mang, bawa mobil ya." perintah Mas Radit tak menjawab ku, langsung meminta Mang Udin menyetir.

__ADS_1


"Panas banget Dit." Mama menggenggam tanganku, sementara kepala ku menyandar di bahu Mas Radit.


Ah, drama sekali aku! Mau bercerai saja pake masuk rumah sakit, padahal besok adalah sidang pertama ku. Tapi tak bisa menolak juga, dokter bilang aku harus menginap.


"Dit, kamu jaga adekmu. Mama laper mau cari makanan buat kita." ucap Mama memang mereka belum makan gara-gara aku, sedangkan kini sudah menunjukkan pukul 22.


"Radit saja yang cari makanan Ma."


"Gak usah, kamu jaga Susan aja." begitu kata Mama tak mau di bantah.


Hening di ruangan rawat ku. Hanya terdengar deru nafas Mas Radit sesekali berat duduk disampingku.


"Mas." panggilku membuka mata sedikit, ku lihat dia sedang memandangiku.


"Ya, kenapa?" tanya Mas Radit khawatir, dia meraih tanganku.


"Aku enggak mau demam. Besok sidang Mas." ungkapku, jelas hal itu membuat aku kesulitan istirahat.


"Kamu enggak usah mikirin besok, mending istirahat, biar cepat pulih."


Aku menarik nafas berat, Rasanya dadaku sesak membayangkan hari esok. Jika di bilang siap, siapa yang siap bercerai dengan kasus seperti diriku.


"Kamu masih cinta sama Ricko?" tanya Mas Radit tiba-tiba, sorot matanya serius, dengan kelembutan tetap terpancar di sana.


"Dek." panggil Mas Radit, seolah aku masih kecil.


"Masih lah Mas. Mana ada orang bisa enggak cinta mendadak. Dua tahun aku hidup bersama Mas Ricko dan sekarang harus berpisah. Membayangkan dia hidup dengan orang lain rasanya sakit banget."


"Mas tahu. Tapi pilihannya benar-benar enggak baik buat kamu. Bertahan tapi di madu, atau bercerai dan kehilangan semua kenangan kamu. Dua-duanya membutuhkan ikhlas yang besar, dan itu enggak mudah."


"Aku tetap bercerai Mas, hanya saja hatiku benar-benar enggak siap, dan terpaksa siap."


"Kamu pasti bisa, Mas janji gak akan ninggalin kamu sampai kamu benar-benar merasa baikan. Dan soal perceraian Mas bisa bikin sekali sidang langsung selesai. Buktinya lengkap dan kesalahan jelas bukan sama kamu. Tapi yang buat Mas ragu itu perasaan kamu, jangan sampai setelah bercerai kamu malah ingin balik lagi sama Ricko."


"Enggak Mas, aku sudah mantap ingin bercerai. Sudah cukup Mas Ricko menyakiti aku.


"Ya, kalau begitu kamu istirahat." dia menarik selimut hingga perutku.


"Mas."


"Hemm."


"Kata Papa, cuti kerja Mas Radit besok habis." tanyaku sendu.

__ADS_1


"Iya. Ini juga karena dua tahun enggak pulang. Mas bisa cuti dua Minggu. Lagipula besok sidang kamu langsung selesai. Mas harus perpanjangan kontrak dulu ke Jakarta. Bekerja proyek besar ya seperti itu." . " jawabnya tersenyum.


"Bukannya tadi bilang, janji tidak meninggalkan aku. Kalau besok udah pergi berarti aku sendiri Mas."


"Kan Mas bisa pulang."


"Kapan?" tanyaku membuat dia tersenyum.


"Ikut Mas mau?" tanya Mas Radit pelan, tiba-tiba nada bicaranya terdengar romantis. Apa hanya perasanku saja?


"Enggak ah Mas. Enggak akan mungkin di izinkan Papa."


"Kalau di izinkan Mau?" tanya Mas Radit memancing.


"Enggak mungkin Mas, Papa gak akan kasih izin."


"Kalu Papa kasih izin?"


"Nggak mungkin."


"Mungkin saja. Nanti Mas minta izin Papa."


"Mustahil Mas."


Mas Radit tersenyum, entah apa arti dari senyuman itu aku tidak tahu. Yang jelas dia memang suka bersikap seperti itu, mengisyaratkan kalau aku adalah adik kesayangannya. Kami memang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Aku terlahir sendiri, dia pun tidak tahu dia berasal darimana. Yang kami tahu hanya memiliki satu sama lain, aku cuma punya mas Radit, dan Mas Radit cuma punya aku.


Sidang pagi hari itu akhirnya berjalan lancar, aku tak perlu ragu perihal kemampuan mas Radit yang sejak sekolah memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Terlebih lagi dukungan Papa yang tidak tanggung-tanggung, aku hadir dengan di kawal banyak laki-laki tegap anak buah Papa. Bisa dikatakan mereka bodyguard.


"San, bisa kita bicara sebentar." suara Mas Ricko terdengar dari sisi kiri ku, ia mengajar ku. Tapi empat orang kepercayaan Papa tidak mengizinkan dia mendekat, aku pun tak di izinkan menoleh.


Sudahlah, kami memang sudah tidak memiliki apa-apa untuk di bahas bersama. Berkhianat, itu adalah kata kunciku untuk melupakan Mas Ricko.


"Ini pasti rencana elu!" teriaknya ketika aku akan memasuki pintu mobil. Aku menoleh cepat.


Di belakang ku lihat Mas Ricko sedang mendorong-dorong bahu Mas Radit.


"Lu sengaja ngurus semuanya tanpa mediasi, lu mau rebut Susan dari gue, brengsek!" satu tinju melayang namun meleset. "Lu pikir Susan mau sama laki-laki pengecut kaya lu! Jangan berharap mimpi lu jadi kenyataan, terlebih lagi kalau gue masih hidup." Marah Mas Ricko menunjuk-nunjuk Mas Radit yang hanya menghindar.


Sudah dua kali Mas Ricko mengatakan kalau Mas Radit ingin merebut aku darinya. Masak iya Mas Radit begitu?


"San dengerin aku! Dia hanya berpura-pura baik padahal dalemnya busuk, dia mau kamu juga harta Papa kamu!" teriak Mas Ricko masih dapat ku dengar karena pintu mobil belum tertutup. Dan Mas Radit ikut masuk tanpa peduli teriakannya, lalu duduk tenang di sampingku.


Sepanjang jalan aku semakin berpikir, apa sebenarnya maksud Mas Ricko. Aku juga menoleh Mas Radit berkali-kali. Aku ingin bertanya.

__ADS_1


__ADS_2