
"Yakin Dek mau ikut, apa sebaiknya biar aku saja yang datang ke sana." Mas Radit menatap ragu padaku.
"Yakin Mas. Kan udah izin Papa dan Mama." jawabku menunggu Mas Radit membukakan pintu.
"Biarkan Adik mu ikut." suara Papa terdengar dari pintu, Papa memandangi keraguan Mas Radit atas diriku.
"Tapi Pa." Mas Radit menoleh ku tak yakin.
"Ini prosesnya Radit, kamu temani saja Susan." ucap Papa, yang kemudian diangguki Mas Radit.
Tiga setengah jam kami melaju, aku memilih diam menikmati jalan yang lagi-lagi membuatku perih. Tapi tidak, aku harus kuat dan membuang pengkhianat seperti Mas Ricko dari hidup ku.
"Mau istirahat dulu atau langsung ke rumah?" tanya Mas Radit ketika mobil sudah memasuki kecamatan kota tempat tinggal ku.
"Langsung saja Mas." jawabku, yang kemudian mobil berbelok menuju rumah ku.
Mas Radit turun lebih dulu, dia membukakan pintu.
Tiba-tiba saja dadaku berdegup ketika melihat pintu rumahku terbuka, entah apa yang akan ku temui di dalam sana.
"Ayo masuk." Mas Radit menggandeng tanganku, dia tahu aku ragu.
Belum sepenuhnya tubuh tegap Mas Radit masuk, dia berhenti di ambang pintu. Aku pun tak kalah terkejutnya, di dalam rumahku ada beberapa orang dan salah satunya Dila, dia menggeret koper menaiki tangga.
"San!" panggil Mas Ricko, ku rasa dia tak kalah terkejut dengan kedatangan ku.
Dadaku kembali panas melihat pemandangan ini, bisa-bisanya mereka mengobrol santai di rumahku. Dan Mas Ricko, berani sekali dia membawa selingkuhannya tinggal di rumah ini.
"Turun!" teriakku membuat semua orang terdiam, tak terkecuali Dila yang menoleh, seolah takut tapi sorot matanya menantang. Dasar ular!
"San." Mas Ricko beranjak mendekati aku, dan segera ku tunjuk kakinya, agar berhenti.
"Suruh dia keluar dari rumah ku atau ku seret dia dari tangga!" perintahku tak tanggung-tanggung sekalian aku menatap tajam semua orang.
"Heh Susan, Dila itu akan tinggal di sini, dia sedang mengandung anak Ricko!" Mbak Tami menyahut.
"Ini rumahku, aku tidak mengizinkan siapapun tinggal disini!" teriakku emosi.
"Ini rumah Ricko, bukan rumah kamu!" ucap Mbak Tami menang.
Hah! heran sekali aku mengapa Mbak Tami ngotot begitu, atau Mas Ricko yang memberi tahu tentang surat rumahku?
"Asal Mbak tahu, uangku lebih banyak daripada uang mas Ricko, jadi jangan bermimpi untuk berkuasa di rumah ini selama aku masih hidup!" tegasku menunjuk wajah Mbak Tami.
__ADS_1
Mas Ricko tegang melihat marahku.
"Kamu! Turun kalau tidak mau ku seret dari atas sana. Aku jamin anak dalam perutmu akan keluar dengan paksa!" geram ku, tak sampai sedetik Dila kembali menuruni anak tangga, ku rasa ancaman ku berhasil.
"Gimana sih Ricko? kamu harus tanggung jawab dan menjamin hidup Dila, ada anak kamu di dalam perutnya!" rengek ibunya Dila. Jijik sekali aku melihat wajah-wajah mereka.
"Keluar dari rumahku!" usirku kepada mereka semua, tanganku tak terkendali menghambur taplak meja dan membuat pas bunga beserta wadah puntung rokok itu jatuh pecah.
Mereka berdiri, ku rasa mereka bergidik ngeri dengan aksiku. Tak hanya itu saja jika mereka ngotot tetap tak mau pergi, aku akan melempar wajah mereka dengan kursi.
"Pulanglah Bu, kami sedang ada urusan." ucap Mas Ricko lemah. Heh, pasti maksudnya setelah aku pergi akan membawa gadis murahan itu lagi masuk ke rumahku.
Aku berlalu, dengan sengaja menubruk bahu Dila, iseng tanganku juga mendorongnya kuat. Ingin ku cekek juga dia! Tapi tangan Mas Radit memelukku, dia melarang aksiku yang sudah terbaca.
"Dimana tempatnya?" tanya Mas Radit setelah berada di kamarku.
Aku menunjuk laci paling bawah, di sana semua berkas biasa tersimpan. Aku membukanya.
"Ada?" tanya Mas Radit.
Aku mencari di tumpukkan kertas satu persatu.hingga akhirnya aku menemukannya.
"Ada Mas." ucapku senang.
Aku tak menjawab, malas. Ku kantongi saja buku nikahku, kebetulan aku memakai sweater yang memiliki kantong besar.
"Aku ingin bicara berdua dengan Susan." ucap Mas Ricko kepada Mas Radit, tak disangka Mas Radit keluar tanpa emosi. Mungkin karena aku juga Mas Ricko tidak sedang bersitegang.
"Mau bicara apalagi Mas?" tanyaku memilih menyandar di dinding dekat jendela.
Terdengar tarikan nafas Mas Ricko. "Beri aku kesempatan San, aku khilaf."
What! Khilaf sampai bunting, enggak salah?
"Aku tidak mau kita berpisah." sambung Mas Ricko lagi. Dia lebih mendekati aku, hingga jelas ku lihat raut wajah berantakan dengan rambut kusut. Ku rasa dia tidak makan dengan benar, juga tidak istirahat. Dalam hati aku bangga, ternyata yang menderita tak hanya aku.
"San, aku akan ikut semua yg kamu mau asalkan kamu mau kembali, termasuk kita pindah dari sini dan memulai hidup baru."
"Pindah?" tanya ku tak habis pikir.
"Ya, kemanapun asalkan bersamamu." jawabnya lagi.
"Kamu ngajak aku pindah Mas, kamu mau menghindari tanggung jawab kami atas kehamilan Dila?" Aku beristighfar berkali-kali mendengar ini.
__ADS_1
"Bukan begitu San, aku akan menikahinya, hanya menikahinya. Sungguh hatiku hanyalah untuk mu." Mas Ricko meraih wajahku.
"Enggak ya Mas!" sambil ku tepis tangannya.
"San, beri aku kesempatan."
"Enggak, aku sudah putuskan untuk bercerai. Kita selesai!"
"Aku tidak mau ya San!" Mas Ricko mendorongku ke dinding, dia tak mengizinkan aku keluar.
"Lepas Mas, aku mau pulang!" teriakku tak didengarkan olehnya.
Terjadi dorong-dorongan dan pasti aku kalah tenaga. Hingga aku terbebas ketika seseorang meraih kasar tubuh Mas Ricko.
Brak!! lagi-lagi Mas Radit mendorong kasar tubuh suamiku itu mengenai kursi kecil.
"Lu!" Mas Ricko marah, ia berdiri menatap nyalang Mas Radit.
"Apa?" Mas Radit tak mau kalah, dia berdiri membelakangi aku.
"Lu suka sama istri gue?" tanya Mas Ricko membuatku terkejut, tapi ku lihat Mas Radit tetap tenang dan waspada.
"Kita pulang San." perintah Mas Radit padaku tanpa menoleh.
"Berhenti San, kamu harus tahu anak pungut ini_"
Bugh!
Bogem mentah mendarat di wajah Mas Ricko.
"Hahah! Gue benar kan? Lu mau istri gue?" Mas Ricko terkekeh dan tak di duga dia membalas Mas Radit sekuat tenaga.
"Mas, STOP!" teriakku menghalangi keduanya, aku tidak mau Mas Radit terluka lagi pun sebaliknya.
"Jangan pergi San." pinta Mas Ricko menatapku. Aku jadi sedih.
"Maaf Mas, Papa memintaku pulang tanpamu. Dan aku tidak mungkin melawan Papa untuk kedua kalinya, sudah cukup aku membangkang ketika kita menikah. Dan akhirnya kita tidak bahagia. Sekarang waktunya kita membahagiakan orang tua kita masing-masing, Kamu juga harus membuat ibu bahagia. Jikalau masih ada jodoh, maka Tuhan akan mempertemukan kita lagi, dalam keadaan yang lebih baik."
"Aku mau sekarang San!" ucap Mas Ricko memohon, sudut matanya berair.
"Tidak sekarang Mas, waktunya salah."
Aku keluar lebih dulu, aku tak lagi menangisi Mas Ricko, aku lelah.
__ADS_1