
Malam ini Mas Ricko tampak gelisah, duduk di sofa tapi matanya menyusuri seluruh langit-langit rumah. Aku penasaran ada masalah apa dengan Mas Ricko. Apakah sebaiknya ku berikan saja uangnya? Aku jadi kasihan.
Drrrrtttt.... Ponsel Mas Ricko berbunyi.
"Halo. Iya Bu." jawabnya menghembus nafas kasar.
"Ibu Mas?" tanyaku.
"Iya." jawabnya pelan.
Aku beranjak ke kamar mengambil uang dua juta lalu memberikannya kepada Mas Ricko.
Dia mendongak wajahku.
"Ambillah Mas." dasarnya aku memang enggak tegaan.
"Tapi San." dia terlihat ragu.
"Ambil saja Mas. Tanpa Ibu kamu juga enggak bakal ada." ucapku meletakkan uang dua juta itu di meja. Aku kembali ke kamar.
"San." Mas Ricko meraih tanganku. Entah apa yang membuat suamiku ini terlihat sedih sejak tadi siang.
"Aku mau tidur Mas, ngantuk banget." ucapku.
"Makasih Sayang." dia tersenyum kemudian melepaskan tanganku.
Ku tutup pintu kamar, aku mengintip Mas Ricko memandangi teh yang sudah habis. Tentu saja aku buang!
Aku mencoba memejamkan mata, tapi entah mengapa begitu sulit malam ini, lampu sudah ku matikan berharap mataku segera terpejam. Tapi panas dan risih membuatku bangun dan berdiri dengan baju tanpa lengan, dan celana pendek selutut.
Aku menyibak tirai jendela, cahaya dari luar menembus kaca. Aku dapat melihat jelas di luar sana.
"Mas Ricko!" gumamku tak menyangka. Dia sedang berdiri di depan rumah dengan seseorang juga berdiri di sudut teras Mbak Tami.
Ku amati siapa orang itu, wanita tua dengan pakaian ibu-ibu khas di kampung ini, panjang dan berlapis.
Tak berapa lama kemudian Dila juga muncul mendekati ibu-ibu itu. Ah, aku baru ingat jika itu ibunya Dila.
Dadaku kembali mendidih dengan pemandangan itu. Ku lihat lagi ternyata Mas Ricko memberikan uang kepada ibunya Dila. Astaghfirullah Mas Ricko....!!!
Aku berlari turun ke bawah, aku harus tahu kenapa Mas Ricko memberikan uang padanya.
Tapi ku urungkan niatku ketika suara mobil kemudian menderu di depan mereka. Ibunya Dila masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Dila, berdua dengan Mas Ricko.
__ADS_1
"Itu apa maksudnya." ucapku di dalam hati. Aku merapatkan diri ke dinding, menahan dadaku yang seolah ingin meledak.
Kemudian terdengar suara Mas Ricko melangkah, Aku semakin mengecilkan diriku di balik pintu. Dia pasti akan melihatku.
Ternyata aku salah, dia malah menutup pintu dari luar dan kemudian melangkah ke rumah Mbak Tami.
Dari dinding tempat ku bersandar dapat Ku dengar mereka melangkah masuk ke dalam kos-kosan Mbak Tami.
Cindy. Aku segera naik ke kamarku, mencari keberadaan ponsel dan langsung menghubungi Cindy.
"Cin!" panggilku.
"Pak Ricko di sebelah Tante, pintunya di kunci." ucap Cindy.
Aku memikirkan bagaimana mana caranya agar mereka ketahuan banyak orang.
Aku kembali turun ke bawah, tanpa alas kaki aku keluar dan menggedor rumah tetangga ku yang lainnya. Tak ku sia-siakan kesempatan ini, tak akan ku biarkan mereka bercinta sepuas hati dibelakangku. Aku pastikan kalian akan menanggung malu, aku pastikan kalian akan menikmati hari dengan tatapan jijik dari semua orang.
Beberapa saat aku berlari kesana-kemari hingga akhirnya berhasil mengumpulkan beberapa orang. Ya, lima orang sudah cukup.
"Pak, Bu, mereka sedang berada di kamar kos Dila, di rumah Mbak Tami." ucapku bergetar, sungguh aku sendiri tidak tahu bagaimana nanti, bisa jadi aku akan menangis, tapi saat ini hatiku sedang di penuhi kemarahan.
Kelima orang itu masuk lewat pintu pagar rumahku, naik pagar penyekat yang tak terlalu tinggi di bagian teras rumahku dan Mbak Tami.
"Dor..dor..dor..dor!" gedoran keras di pintu kamar kos Dila. Tentu tiga orang laki-laki tetanggaku tidak memiliki kesabaran ketika mendengar ada perbuatan mesum di sekitar rumah mereka.
"Pak Ricko, buka!"
"Dila buka pintunya! Atau kami dobrak Sekarang juga."
"Ya, kami sudah tahu kalian sedang berbuat mesum" mereka berteriak hampir bersamaan.
Aku mencengkeram kuat kerah bajuku, aku menguatkan diriku yang sebenarnya sudah lemah.
"Buka! Buka! Buka!" mereka berteriak teriak sehingga beberapa anak kos lainnya ikut keluar termasuk Cindy.
Tak lama kemudian pintu kamar Dila terdengar di buka dari dalam.
Dan keributan terjadi, warga tetangga ku masuk dan menarik Mas Ricko keluar, juga Dila yang lebih dulu ada di luar dengan daster pendek diatas lutut. Dila menunduk ketakutan.
Aku mendekat perlahan, telingaku nyeri mendengar keributan mereka dan Mas Ricko pun mencoba membela diri.
"Pak, ini hanya salah paham." ucap Mas Ricko.
__ADS_1
"Bohong, dia bohong pak, mana ada maling ngaku. Terus ngapain dia ada di kamar kos Dila jam segini? Tuh, lihat wajah dan rambut mereka kusut, acak-acakan, dan lehernya Dila!"
Aku langsung melihat arah telunjuk Bu Endang. Tanda merah di leher Dila sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan kelakuan mereka, terlebih lagi ikat pinggang Mas Ricko kedodoran.
"Ini yang kamu lakukan di belakangku Mas." ucapku terputus-putus.
"San, ini salah paham." ucap Mas Ricko meraih tanganku, aku menepisnya, Jijik.
"Dan kamu! Kamu ketagihan di tiduri suamiku. Enak?" tanyaku menahan panas di dada.
Plak, plak, plak!
Tak puas aku menampar Dila, ku tarik rambutnya dan ku serang dia dengan menggila.
"Tante Jangan Tante!" teriakan Cindy juga tetangga lainnya tak ku perduli.
"San, jangan seperti ini." Mas Ricko meleraiku, memelukku.
"Lepas Mas!" aku memberontak, lalu aku berbalik menatap Mas Ricko dengan benci.
Plak, plak, plak.. dan seterusnya aku menampar juga memukul Mas Ricko sekuat hati. "Brengsek kamu Mas!" teriakku bercampur tangis.
Tak ku sangka, menemukan suamiku bercinta dengan wanita lain akan sesakit ini. Demi tuhan rasanya tak terjelaskan.
"Maafkan aku San." Mas Ricko memeluk kakiku, berlutut.
"Jangan sentuh aku Mas, kau menjijikkan." tangis ku tak terbendung lagi.
"Ampun, San?" ucapnya tak melepaskan aku.
"Enggak Mas, aku tidak bisa." Aku mendorong Mas Ricko, dibantu oleh suami Bu Endang akhirnya Mas Ricko mengalah.
"Nikahkan mereka Pak!" ucapku kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Tante!"
Cindy menyusul ku juga Bu Endang. Sedangkan yang lain menahan Dila dan Mas Ricko untuk di adili, bersama dengan Mbak Tami yang baru saja keluar dari rumahnya.
"San!" panggil Bu Endang menyusulku masuk ke dalam rumah.
Aku menghempas duduk di sofa bagian depan lantai dasar rumahku. Aku meringkuk memeluk lutut, menangisi nasibku yang akhirnya menyaksikan suamiku berselingkuh dengan gadis SMA, muridnya, anak kos di rumah sebelah.
Separuh malam ini akan habis dengan tangisku, Fajar terasa lama, mata hari seolah enggan menampakkan diri, aku tidak tahu akan menjalani hari ini seperti apa.
__ADS_1
Semalam, aku sudah kehilangan suami...