Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Menikah


__ADS_3

"Mas Ricko." panggilku mendekati laki-laki yang terlihat emosi itu.


"Keluar Lu!" marahnya menunjuk kaca mobil, di dalamnya Mas Radit duduk menyandar memandangi Mas Ricko yang semakin emosi.


"Mas!" aku menurunkan tangan Mas Ricko, dapat ku rasakan lengannya bergetar. Selama kami menikah, ini pertama kali aku melihat Mas Ricko marah seperti ini.


"Lu laki kan?" marah Mas Ricko menatap nyalang ke dalam mobil. Rasanya sia-sia aku keluar untuk menghalangi keduanya agar tidak berkelahi. Pada akhirnya Mas Radit keluar dari mobil karena tak mau dianggap pengecut.


"Lu mau apa?" tanya Mas Radit masih tenang.


"Batalkan niat elu buat nikahin Susan. Gue enggak rela!"


Mas Radit tersenyum sinis. "Yang mau menikahkan gue sama Susan itu Papa, bukan Elu. Lu bukan siapa-siapanya Susan lagi?"


Tanpa bicara Mas Ricko melayangkan tinjunya, dia melewati aku dan menyerang Mas Radit. Sungguh aku tak habis pikir, mengapa Mas Ricko harus semarah itu.


"Mas Berhenti! Stop!" aku berteriak, tak urung juga memanggil kerumunan orang untuk melerai mereka.


"Kalau bukan karena dia, kita tidak akan pernah bercerai." ucap Mas Ricko dengan nafas yang terengah-engah, wajahnya pias karena amarah.


"Dasar Sinting, salahnya gue dimana coba? Elu yang berbuat gue yang di salahin. Kalau nyesel bilang aja terus terang!"


"Ya!" bentak Mas Ricko kesal.


"Telat!" Mas Radit juga tak mau kalah.


"Udah Mas! Udah. Aku malu di lihat orang-orang kaya gini." aku melihat banyak orang berkerumun memandangi kami bertiga. Sungguh aku ingin menangis, pasti mereka sudah memberi tanda mukaku.


"Aku mau kita bicara." pelan Mas Ricko sadar kalau kami sedang menjadi tontonan.


"Ya, kita memang perlu bicara Mas." jawabku menoleh Mas Radit, ku rasa dia akan mengerti.


Aku berjalan lebih dulu menuju kedai Mie tak jauh dari posisi kami saat ini.


"Aku enggak rela kamu menikah sama dia!" ucap Mas Ricko kesal, ku lirik dia mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah.


"Jangan kayak anak kecil Mas. Kamu sudah menikah dengan Dila, kamu juga akan segera memiliki anak darinya. Untuk apa kamu marah karena aku ingin menikah. Apa aku enggak boleh bahagia?" tanya ku.


"Harusnya aku yang bikin kamu bahagia San, bukan dia! Beri aku kesempatan!"


"Kesempatan yang mana Mas? Kesempatan itu sudah tidak ada! Kamu sudah memiliki istri. Kita tidak bisa memaksakan keinginan. Terlepas dari kisah kita yang sudah berakhir, kesempatan kita untuk bahagia pun telah habis. Sebaiknya Mas menikmati waktu kamu sama Dila dengan bahagia bukan mengingat masa lalu."


"San."

__ADS_1


"Mas!"


"Sakit rasanya mendengar kamu akan menikah dengan Radit, aku tidak bisa membayangkan..." ucapannya terputus, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Aku juga sakit ketika kamu berselingkuh dengan Dila Mas, dia hamil anakmu. Aku sungguh sangat sakit, bahkan kamu sendiri tidak akan bisa membayangkan sakitnya." aku menunduk, menahan air mata agar jangan sampai jatuh.


"Maafkan aku San, aku menyesal. Kamu tahu mengapa aku menerima pekerjaan dari Clara, itu karena aku ingin dekat sama kamu lagi." ucapnya sendu Tapi aku malah menyadari sesuatu. Mereka juga punya Richa. Entah Mas Ricko sudah tahu belum. Hampir saja aku terbawa suasana, lupa betapa ba-jingannya Mas Ricko.


"Mas, sekalian kita bicara tentang rumah Kita."


"San, bisakah tidak perlu di jual. Aku berharap suatu saat kita bisa berbaikan lagi."


"Rumah itu tidak akan ku jual. Tapi aku akan membayar bagianmu."


"San!"


"250 juta. Besok aku akan meminta Linda mengurus surat dan uangmu. Dengan begini kita akan sama-sama bisa memulai hidup baru."


"Tapi San."


"Carilah rumah yang bisa kamu tempati bersama keluarga kecilmu di kota ini. Semoga kamu bahagia."


"San, tunggu!"


Hari selanjutnya aku memilih tidak pergi ke kantor. Lagipula sekarang sudah ada Juna dan Linda yang bisa aku andalkan. Dan Mas Radit yang mengurus semuanya untuk ku.


Papa sibuk mempersiapkan pesta pernikahan ku dengan Mas Radit. Aku bahagia, tapi juga sedih dengan suasana yang tak semestinya begini. Andaikan tak ada Mas Ricko sebelumnya.


Kami menikah di sebuah hotel ternama, banyak undang yang datang dengan ucapan selamat untuk kami berdua. Semua orang tanpak bahagia terutama Papa.


Ketika kata SAH itu terucap, Papa memeluk Mas Radit sangat erat, dia menumpahkan bahagia sekaligus sedihnya kepada anak laki-lakinya itu. "Jaga Susan untuk Papa." ucapnya dengan berlinang air mata. Sungguh aku ikut menangis haru.


"Papa." panggilku juga, memeluk Papa begitu erat.


"Jadilah istri yang baik untuk suamimu. Dia menunggumu sudah sangat lama Nak." ucap Papa bergetar.


Tentu saja, Papa. Aku tidak akan menyia-nyiakan laki-laki yang sungguh mencintaiku sejak aku membuka mata. Bagiku, dia sungguh berarti, sama seperti Papa dan Mama.


Satu jam kami berdiri menerima ucapan selamat dari banyak orang, termasuk semua pegawai di kantor milikku.


"Selamat ya San, akhirnya lu nikah sama kakak sendiri." ucap Clara, entah apa maksudnya aku tak peduli. Yang penting sekarang aku bahagia bersama Mas Radit ku.


"San!" pekik Kiki memeluk ku erat.

__ADS_1


"Ki, lu kemana aja?" tanyaku, dari seminggu lalu aku memintanya datang.


"Gue lagi ada urusan." jawabnya cemberut. Dia melirik Mas Radit berkali-kali.


"Jaga mata lu! dia suami gue sekarang." kesalku.


"Iya." jawabnya kemudian terkekeh. "Pantesan aja dia enggak melirik gue, di hatinya cuma ada elu." bisiknya padaku.


"Hehe... gue aja baru tahu." jawabku ikut tertawa.


"Patah dong hati gue." dia mengerucutkan bibirnya.


"Kan ada Andi." jawabku kemudian kami tertawa.


Sungguh lelah, hingga menjelang sore kami baru selesai. Ku lihat Papa sudah bersiap pulang bersama Mama.


"Mas kita enggak pulang?" tanyaku.


"Enggak, kita akan menginap di puncak tiga hari." jawabnya menaik turunkan alisnya. Otakku jadi traveling kemana-mana.


Tentu saja kami butuh waktu berdua.


Mobil kami melaju tanpa menunda, lelah kami akhirnya terbayar ketika berada di ketinggian yang hijau, kabut sore menyelimuti Vila tempat kami berpijak.


Sungguh aku lebih gugup daripada pernikahanku yang pertama. Jika Mas Ricko lebih kurus dengan rambut lurus, Mas Radit lebih gagah dengan dada lebar menantang, lebih tinggi dan berisi. Aku panas dingin sebelum di sentuhnya.


"Sayang." panggil Mas Radit mengetuk kamar mandi, aku sedang bersembunyi.


"I...iya Mas." jawabku, mau tak mau akhirnya aku keluar. Dia tersenyum manis, matanya menatap wajahku.


"Mama mau ngomong." dia memberikan ponselnya padaku.


Aku tersenyum, meraih ponsel dan berbicara dengan Mama. Yang ternyata hanya basa-basi saja, ku rasa Mama tahu aku sedang gugup. Aku tersenyum sendiri.


"Kok senyum?" tanya Mas Radit memelukku, mengecup pipiku.


"Enggak Mas, cuma..."


"Cuma apa?" dia tersenyum, semakin dekat dan memulai ciuman hangatnya.


Aku menggila di buatnya. Laki-laki yang ku pikir suka sama Papa ternyata luar biasa. Dia tidak mengizinkan aku terlelap hingga subuh menjelang.


Aku lelah, tapi bahagia...

__ADS_1


__ADS_2