Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Mirip Mas Ricko


__ADS_3

Tak ku sangka, kepergian Mas Radit membuatku menyadari bahwa sebenarnya dia begitu berarti di hatiku. Hanya dengan satu ciuman sekilas aku jadi merindu setengah mati. Tak jarang guling yang bisu menjadi sasaran kerinduanku, hanya saja dia tidak tahu, aku malu.


Dering telepon selalu menjadi nada terpenting bagiku, suara Mas Radit menjadi nyanyian syahdu yang melambungkan rasaku. Aku jadi ingin dia cepat pulang padahal baru empat bulan.


"Halo Sayang."


Begitulah sekarang dia memanggilku sayang. Pertama kali mendengarnya membuatku ingin jungkir balik, konyol sekali!


"Sedang apa Mas?" tanyaku menatap wajah tampannya di layar ponsel, berandai-andai dia ada di dekatku.


"Sedang memikirkan mu Sayang." jawabnya tersenyum manis.


"Mas suka gombal begini, jangan-jangan pacarnya banyak?"


"Hahaha..." Dia tertawa.


Aku mulai curiga, rasaku sudah semakin menuntut. Tak urung cemburu juga akan menyusul jika ada pemantiknya. Terlebih lagi semakin hari dia semakin tampan saja.


"Sayang, Papa bilang kau akan mulai bekerja?" tanya Mas Radit serius.


"Ya, di perusahaan Papa. Aku akan belajar bekerja sambil menunggu Mas Radit pulang."


"Oh ya, apakah sangat bosan menunggu sebentar lagi? Ini enggak lama lho. Mas nungguin kamu bertahun-tahun, atau bisa di bilang seumur hidup." dia memamerkan lagi senyumnya yang sangat manis menurutku. Aku semakin rindu membayangkan di cium waktu itu.


"Aku enggak sesabar kamu Mas, aku enggak mau menunggu lama." jawabku sengaja, mana tahu dia segera pulang.


"Ya, kalau begitu belajarlah bekerja, tak lama lagi aku akan pulang dan kita akan menikah." begitu pula janjinya.


Mengapa aku baru sadar kalau ternyata aku juga sangat mencintai Mas Radit, bukan Mas Ricko. Harusnya aku menikah dengan Mas Radit sejak awal.


Ah, iya. Aku jadi teringat Mas Ricko. Terakhir dia berurusan dengan Papa dan masuk penjara selama beberapa Minggu saja, ku dengar dia di pecat dari pekerjaannya.


Sia-sia semua perjuangan kami yang semuanya di mulai dari Nol. Pada akhirnya Mas Ricko juga harus memulai lagi dari nol bersama Dila. Yang ku yakin saat ini perut Dila semakin besar walau ku tak tahu berapa usia kandungannya.


Aku yang sangat ingin hamil anak Mas Ricko malah selalu kehilangan bayiku, sedangkan mereka begitu mudahnya memiliki anak dan kandungan Dila baik-baik saja. Aku jadi takut membayangkan bagaimana nanti aku menjalani pernikahan ku dengan Mas Radit.


"San!"


Suara sahabatku itu membuat aku menoleh.


ketika aku memasuki area perkantoran Papa.


"Kiki, lama banget kita enggak ketemu."

__ADS_1


"Ya elah, gue sibuk kali." jawabnya menggandengku.


"Sibuk pacaran sama Andy?" tanyaku menggodanya. Dia terkekeh.


"Gimana kabar Mas Radit?" tanya Kiki santai, tapi mengejutkan bagiku.


"Kok Mas Radit?" tanyaku sedikit kesal. Aku cemburu dong!


"Hehe, gue ketemu dia waktu itu. Katanya lagi sibuk ngurus perceraian Elu sama Ricko." dia nyengir Kuda.


"Ya, dia udah balik kerja." jawabku, sengaja aku mengajak Kiki ke kantin, aku belum sempat sarapan.


"Lu bersiap jadi pemimpin sekarang?" tanya Kiki menatapku, kemudian melihat bangunan lima lantai di samping kami.


"Belajar Ki, paling nanti Mas Radit yang gantiin Papa." jawabku yakin.


"Tapi kan tetep punya elu." dia mendekatkan susu hangat yang di antar ibu kantin.


"Ya! Tapi bukan punya gue semua, punya sepupu lu juga. Kan Papa joinnya sama Paman elu."


"Paman gue?" tanya Kiki menatap ku heran.


"Iya, Mas Radit bilang dia saudara elu, yang anaknya pernah pacaran sama Mas Ricko."


"Sakit?" tanya ku, berpikir jika Papa pasti tahu kalau temannya sakit.


"Ya, Om Danu memang udah sakit sejak lama. Dan sekarang parah San, dia lagi di rawat di rumah sakit." ungkap Kiki lagi.


"Rumah sakit mana Ki?" tanyaku lagi.


"Rumah sakit Bhayangkara. Adiknya om Danu kan kepala rumah sakit di sana."


Aku mengangguk-angguk mendengarnya. Mungkin aku harus mengajak Papa melihat keadaan rekan bisnis Papa.


"Ya udah ah, gue udah kenyang." Kiki beranjak setelah menghabiskan sarapannya.


"Enggak nemenin gue aja Ki?" tanya ku ikut beranjak karena harus bekerja.


"Enggak ah, gue ada janji sama Andy." jawabnya mengedipkan mata.


Sepagi ini mereka sudah janjian, Cinta memang membuat orang tidak mengenal waktu. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana besarnya cinta Mas Radit padaku. Aku ingin dia cepat pulang dan segera bertemu.


"Selamat pagi Bu Susan." sapa seorang karyawan Papa. Aku membalasnya dengan senyum mengangguk.

__ADS_1


Perusahaan Papa ini sudah memiliki dua cabang di daerah lain, beberapa perkebunan sawit dan memiliki ribuan pegawai, dari buruh pabrik hingga pegawai inti. Papa memiliki saham 65% dan sisanya adalah milik Om Danu, ayah dari Clara.


Terdengar pintu ruangan ku di buka.


"Papa." sapa ku tersenyum melihat Papa mengunjungi ruangan ku.


"Bagaimana? Apakah ini pas?" tanya Papa melihat mejaku juga sekeliling ruangan ku yang baru saja di renovasi agar aku nyaman.


"Ini sudah sangat nyaman Papa." aku tersenyum seraya beranjak, mengajak Papa duduk di sofa.


"Apa Radit masih sering menghubungimu?" tanya Papa menepuk punggung tanganku yang memeluk lengannya.


"Ya, tadi pagi Mas Radit mengubungi ku."


Papa tersenyum senang, ku rasa Papa juga sudah tidak sabar untuk menikahkan aku dan Mas Radit.


"Tidak akan lama, dia akan segera pulang." jawab Papa lagi menatapku.


"Oh, iya Pa. Tadi Kiki bilang kalau Om Danu itu sakit parah, dia sedang di rawat di rumah sakit."


"Papa sudah tahu, itu sebabnya Papa ingin mengajakmu."


"Oke. Sebaiknya kita pergi sekarang saja Pa."


"Ya." Papa mengangguk.


Hanya beberapa puluh menit saja menuju rumah sakit tempat Om Danu di rawat, kami sudah sampai di halaman rumah sakit tentara itu.


"Mang Udin, tolong ambilkan oleh-olehnya." perintah Papa, kemudian Mang Udin mengambil parsel buah yang sudah di kemas rapi. Aku membawanya.


"Assalamualaikum Danu." sapa Papa ketika kami masuk keruangan rawat Om Danu, laki-laki tua itu terlihat lemas. Dia menoleh seraya menjawab pelan.


"Ini putriku Danu, kami sengaja datang untuk melihat keadaanmu." Papa memperkenalkan aku.


"Apa kabar Om?" aku membungkuk sedikit, tersenyum. Tapi wajah Om Danu itu tak membalas senyumku. Dia memperhatikan wajahku sedikit lama, hingga pintu ruangan itu kembali di buka.


Suara langkah kaki kecil berlari sambil berteriak, anak perempuan itu melewati aku dan langsung meraih tangan Om Danu.


"Kakek...!" panggilnya khas suara cempreng anak perempuan.


Ku perhatikan anak perempuan itu, memakai Rok yang lucu, rambutnya hitam lurus di kuncir dua, tangannya kecil halus menggemaskan. Tapi yang membuat jantungku berdegup adalah....


Wajahnya mirip Mas Ricko.

__ADS_1


__ADS_2