Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
POV Dila, Dadah Papa


__ADS_3

Malam terasa mencekam ketika hatimu sudah di penuhi rasa cemburu. Panas, berdebar, sulit mengungkapkan gemuruh yang belum ada buktinya. Belum lagi rengekan Reno membuat aku ingin marah, belum sempat terlelap dia sudah bangun lagi dan membuat aku urung menutup mata, itu terjadi hingga pukul tiga. Hingga aku tertidur dalam keadaan galau, mimpi ku juga tak indah lantaran suara berisik ibu mertuaku yang bangunnya subuh. Sungguh dia hanya mengganggu saja.


Sudah pukul tujuh lewat, ku lihat anakku sudah kembali tidur dengan botol susu sudah habis. Aku bersyukur Mbak Tri sangat cekatan mengurus Reno, bahkan anak ku itu sudah mandi.


"Sepi amat!" gumamku duduk lemas karena kurang tidur.


Tapi sayup ku dengar suara berisik di rumah sebelah, ada tawa yang sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang seru. Ya, itu suara Ibu. Kira-kira ngapain Ibu mertuaku malah datang ke rumah Clara di pagi-pagi begini.


Cklek.


Mas Ricko masuk dengan pakaian yang sudah rapi.


"Maaf Mas, aku kesiangan." ucapku beranjak mendekati suamiku yang ternyata belum pergi.


"Ya, enggak apa-apa. Mas pergi ya!" ucap Mas Ricko. Aku mengangguk saja, membiarkan Suamiku berangkat tanpa mengantarnya ke bawah, kepala ku sedikit pusing.


Pelan motor Mas Ricko melaju, juga membunyikan klakson ketika berada di depan rumah Clara, mungkin berpamitan kepada ibunya, aku tak begitu memperhatikannya. Tapi kemudian menjadi penasaran ketika mendengar kata-kata yang aneh di telinga.


"Dadah Papa... dadah Papa....!"


"O M G...!" Aku berdiri di atas ranjang ku, mengintip di jendela dan dapat ku lihat jelas Clara menggendong anaknya dengan tangan mereka dada-dada.


"Ini enggak mungkin salah!" Masak iya dada-dada sama suamiku, sama Papanya anak ku. Mereka pasti ada apa-apa!


Hatiku semakin mendidih melihat pemandangan itu, terlebih lagi ibu lebih suka berada di sebelah daripada sama aku. Ibu lebih suka mengasuh anaknya Clara daripada Reno anak ku. Sebenarnya, cucu Ibu itu siapa? Anaknya tetangga atau anak ku?


Sengaja aku keluar rumah setelah mandi, aku ingin tahu apa maksudnya 'dadah Papa' yang mereka ucapkan tadi pagi.


Kebetulan Ibu juga sudah pulang, masuk ke dalam rumahku tanpa basa-basi. Jadi aku bisa bertanya langsung kepada tetanggaku ku itu tanpa embel-embel ribut sama Ibu, secara kami tak pernah akur.


"Richa!" sapa ku ketika anak kecil itu masih bermain, tak mau di ajak masuk ibunya.


"Eh, Dila." sapa Clara padaku.


"Iya Mbak." aku tersenyum, terpaksa.


"Ada apa Dila, kok tumben datang kemari?" tanya Clara, benar aku enggan datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Oh, itu. Sebenarnya, saya cuma mau tanya sesuatu. Hemmm..."


"Tanya aja Dila." jawabnya.


"Iya, begini. Tadi pagi kan saya lihat Mas Ricko berangkat bekerja, terus aku dengar Mbak Clara dan Richa dada-dada sama Mas Ricko. Dadah Papa, begitu?" aku menatap Clara, mau tahu dia gugup atau gimana.


"Oh..." dia tersenyum, sok manis. Tapi cukup membuat aku jadi serba salah dan penasaran dengan senyumnya. Takut aku salah, tapi ku yakin aku tidak salah.


"Ini si Richa kangen sama Papanya, tapi ya karena enggak bisa bersama jadinya ya begitu sama suamimu." jelas Clara.


Benarkah? Aku bingung harus gimana ini? Jadinya cuma nyengir kuda.


"Kamu cemburu ya?" tanya Clara lagi.


"Hehehe." kedua kalinya juga aku memaksa bibirku untuk tersenyum. Ya iyalah aku cemburu, masak ikhlas!


"Udah enggak usah cemburu-cemburuan." ucapnya tertawa. Sumpah aku jadi enggak enak sama dia, udah tanya-tanya terus dia malah ketawa dengan kecurigaan. Malu jadinya...


Sore pukul 16:00, Mas Ricko pulang lebih cepat dari hari biasa. Tak ku dengar lagi suara tetangga setelah setengah hari enggak berhenti mengobrol dengan Ibu atau juga dengan anaknya. Enggak capek apa?


"Tumben enggak lembur Mas?" tanyaku.


Kemarin sudah di kerjakan atau karena Clara enggak masuk kerja. Sumpah aku semakin curiga, aku khawatir mereka ada apa-apa.


Jadinya, aku lebih banyak diam menahan gejolak curiga ku. Belum juga semuanya terbukti aku sudah gelisah setengah mati. Apalagi kalau sudah terbukti, tak akan ku biarkan betina bernama Clara itu hidup tenang. Yakinlah dia akan selalu mengingat ku sepanjang hidupnya.


Ku pikir, malam ini semuanya aman. Tapi berubah lagi ketika Suara pintu rumahku di ketuk, bel pintu juga sangat berisik di tekan berkali-kali, mengganggu tidur anakku hingga aku harus menggendongnya. Kesal aku!


"Bu, Ricko mana?" terdengar suara khawatir Clara, ya Tuhan...dia lagi!


"Ada di dalam lagi di kamar. Ricko, ada Clara!" teriak ibu kemudian. Pentingnya dia apa coba, nyari suamiku malam-malam?


"Ya Bu!" jawab Mas Ricko beranjak, aku langsung ikut berdiri, tak akan ku biarkan suamiku menemui wanita itu sendiri.


"Ricko, tolong Richa demam. Dia harus segera di bawa ke rumah sakit!" ucapnya panik.


"Sakit?" tanya Mas Ricko.

__ADS_1


"Kamu malah balik tanya, cepet sana anter Richa ke rumah sakit!" perintah Ibu, langsung membuat aku segera bertindak.


"Nggak!" ucapku tegas, aku menatap tajam Mas Ricko dan Clara bergantian.


"Nggak gimana Dila? Richa itu lagi sakit, dia harus di bawa ke dokter!" kesal Ibu.


"Sekali enggak ya enggak Bu. Mas Ricko itu suamiku, bukan suaminya dia!" marahku, aku tak mau mengalah baik dengan Clara ataupun ibu.


"Pinjem sebentar Dila!" Ibu ngotot.


"Nggak!" Enak aja main pinjem.


"Dila kamu nggak tahu ya Richa itu_"


"Clara, kamu bisa kan ajak Bibi untuk membawa Richa ke klinik. Deket juga kan?"


Aku menoleh Mas Ricko, dia itu nolak atau membujuk sih? Aku menatapnya bingung.


"Ya sudah, sama ibu aja!" dengan kesal Ibu keluar mengajak Clara, sekali ku lihat Clara masih sempat menoleh aku. Gak terima, aku tidak meminjamkan suamiku.


Terserah saja, aku tidak akan menyerahkan suamiku pada wanita manapun apalagi itu Clara.


"Kamu selingkuh sama dia Mas?" aku menoleh Mas Ricko.


"Selingkuh apa? Aku enggak ada apa-apa sama dia?" Mas Ricko masuk ke dalam kamar, menghindar.


"Kalau enggak ada apa-apa terus kenapa dia minta kmu yang antar anaknya ke rumah sakit?"


"Ya mungkin_"


"Kamu bukan bapaknya kan? Atau benar kamu sekarang jadi bapaknya anak tetangga?" marahku.


"Udah ya Dila, aku enggak mau ribut!"


"Kalu enggak mau ribut jangan buat masalah Mas!"


"Masalahnya apa? Kan aku enggak nganterin dia." Mas Ricko mencoba meredam marahku.

__ADS_1


"Ya, tapi ibu yang nganterin anaknya seolah dia itu anak kamu, sama Reno aja dia enggak peduli. Enggak ada tuh dia mau gendong Reno sekali aja!"


__ADS_2