Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Aku Pulang Ma.


__ADS_3

"Makasih." ucapku ditengah sesenggukan.


"Andi yang ngasih tahu gue, jadi gue langsung ke rumah lu." jawab Kiki sambil mengemas barang ku.


"Mama udah tahu?" tanyaku mendongak Mas Radit yang masih setia merangkul bahuku, mengelus kepala ku.


"Ya." jawabnya.


"Papa?" tanyaku lagi.


"Papa juga tahu." jawab Mas Radit memperhatikan wajahku.


Aku menunduk sedih, dadaku sakit, aku sudah terlalu lama menangis.


"Kita pulang, lupakan semua yang ada di sini." Mas Radit membenarkan selimut yang melorot, bajuku benar-benar robek parah.


"Aku ganti baju dulu Mas." ucapku kemudian diangguki Mas Radit. Dia keluar kamar, mungkin melihat Mas Ricko.


"Nih, pake." Kiki memberikan aku baju. Tentu aku langsung memakainya.


"Ayo Ki ." ajak ku sudah siap. Kiki tak mengizinkan aku membawa koper.


"Tanda tangan!"


Langkahku terhenti, ku lihat di luar kamar Mas Radit sedang menyodorkan kertas kepada Mas Ricko yang sudah babak belur. Sungguh aku tak tega melihatnya.


"Dia istriku, kau tidak berhak mamaksaku untuk menceraikan Susan. Kau bukan siapa-siapa." Mas Ricko menatap tak suka pada Mas Radit.


"Heh, aku memang bukan siapa-siapa. Tapi jangan lupa secara hukum dia adikku! Aku bahkan berhak melaporkanmu kepada Polisi, juga Pengadilan atas semuanya yang sudah kau lakukan pada Susan."


"Aku juga bisa melaporkanmu, kau sudah membuat ku begini!" tunjuk Mas Ricko di wajahnya.


"Laporkan saja, mereka akan bertanya apa sebabnya?"


"Tentu karena kau melarang ku menyentuh istriku!" marah Mas Ricko.


"Dengan merobek bajunya?" geram Mas Radit. "Ki, ambil baju robek itu, jangan sampai bajingan ini berulah dan menekan Susan suatu hari nanti."


Kiki menurut, mengambil pakaian robek ku dan memasukkan ke dalam koper.


"Kita pulang, biarkan sampah ini tetap pada tempatnya. Dia tidak layak menjadi menantu Sandiaga Subroto."


"Jangan pergi San, ingatlah kebersamaan kita." Mas Ricko berdiri terhuyung mencegahku, meraih tanganku sebelum akhirnya di tepis Mas Radit.


"Berani lu sentuh Susan lagi, gue lempar ku ke bawah."


Mas Radit merangkul ku, berjalan tak mengizinkan Mas Ricko mendekat.

__ADS_1


"Tante!" ku lihat Cindy berdiri di teras dengan wajah pucat.


"Makasih ya, udah jagain Susan." Kiki menepuk pundak Cindy. Ku rasa tadi Cindy keluar meminta bantuan, dan kebetulan Kiki sudah datang.


"Sama-sama Tante." jawabnya melirikku.


Aku memeluk Cindy sejenak, tanpa kata aku sungguh berterimakasih pada gadis polos itu. Dia benar-benar baik.


"Cindy takut Tante." bisiknya. Setelah ini semua terbongkar wajar jika Cindy takut berhadapan dengan Mas Ricko juga Dila. Bisa saja mereka curiga.


Aku jadi berpikir, bagaimana cara melindungi Cindy.


"Kamu ikut Tante mau?" ucapku.


"Enggak Tante, bagaimana dengan Ibu." jawabnya terdengar sedih.


"Ikut Tante, kita ke bengkel sebentar." Kiki mengajak Cindy naik ke dalam mobil, aku tidak tahu apa yang sedang temanku pikirkan.


"Dimana bengkelnya?" tanya Mas Radit.


"Itu di depan, enggak jauh." jawab Kiki.


Tak berapa lama kami sudah sampai di bengkel milikku. Benar juga usul Kiki, aku harus berpamitan dengan Dani.


"Mbak." Sapa Dani padaku, dia menatap heran melihat kami berempat.


Tak berapa lama mobil Andy juga datang, sepertinya sudah janjian sama Kiki.


"Iya lah Ndi, masak aku harus bertahan di sini." jawabku sudah lebih baik.


"Ndi, gue bisa titip Cindy kan?" Kiki langsung saja pada intinya.


"Nitip gimana?"


Ku dengar mereka berbicara banyak hal, termasuk Kiki memberikan janji nanti dia akan berkunjung ke sini lagi. Dia memang bisa diandalkan.


Tapi yang terpenting bagiku adalah Cindy aman. Dan memang lebih baik dia ada yang melindungi di sekolah.


"Ada sih kamar kos kosong di rumah satu." ucap Andi kepada kami.


"Ok, aku bayar untuk satu tahun." Mas Radit ikut mengurus Cindy, demi aku.


"Dan, kamu bantu Cindy pindahan ya." pintaku kepada Dani.


"Siap Mbak." jawab Dani senang.


"Alhamdulillah." sungguh aku tenang sekarang.

__ADS_1


"Tante balik lagi kan?" tanya Cindy bersedih melihat kami akan masuk ke dalam mobil.


"Ya, suatu saat Tante akan ke sini. Nanti Tante telepon kamu." janjiku kepada gadis kecil itu.


Sepanjang jalan aku hanya menyandar menatap jalanan. Pikiranku melayang ketika kami baru saja menikah, kami bolak-balik menempuh perjalanan yang jauh ini hanya untuk menyiapkan kehidupan yang sederhana tapi bahagia.


Mas Ricko begitu mencintaiku saat itu, dia memanjakan ku dengan sikap lembut penuh perhatian meskipun tanpa uang, sungguh aku sangat bahagia, merasa dunia ku begitu sempurna.


Semuanya melintas satu persatu, tangan hangat mas Ricko masih terasa membelai jiwaku, senyumnya dan suaranya masih sangat jelas di mata dan telingaku. Aku tertawa bahagia dalam pelukan Mas Ricko ketika itu, bahkan tidur pun tak mau jauh darinya, begitu pun sebaliknya.


"San." panggil Mas Radit.


Aku tersadar ketika mobil kami sudah berhenti, dan pemandangan yang begitu ku rindukan tapi membuatku takut juga menyesal. Rumahku, rumah Papa dan Mama, di dalamnya aku tumbuh dengan limpahan kasih sayang dari Papa dan Mama. Juga Mas Radit...


"Kita sudah sampai." ucap Mas Radit lagi. Ku lihat Kiki sudah turun lebih dulu membawa koperku, langsung disambut Mang Udin.


"Bagaimana aku menjelaskan semuanya pada Papa?"


"Tidak perlu mengatakan apa-apa." jawab Mas Radit meyakinkan aku.


Aku turun, melangkah di belakang Mas Radit. Pria yang sejak lahir ku kenal sebagai kakak ku itu masuk, dapat dipastikan dia sedang memastikan Papa tak akan mengamuk.


"Aku pulang Ma." lirihku berkata,


Pelan aku berjalan memasuki rumah besar. Hatiku hancur harus pulang dengan kegagalan. Jalan yang aku pilih ternyata hanyalah sebuah jurang kesakitan. Laki-laki yang ku pilih ternyata tak lebih dari seorang bajingan.


"Akhirnya kamu pulang juga." suara Papa menggema di ruangan besar itu.


Tak terbendung air mata yang sempat berhenti kini jatuh penuh sesal melihat wajah Papa.


"Sejak awal Papa memang tidak menyukainya, dan kau masih bersikeras menikah dengan dia. Kau membangkang Papa demi dia."


"Pah!" Mas Radit menyela.


"Dia harus tahu, dan sekarang dia membuktikannya sendiri. Tak berguna pulang dengan air mata, menangisi kesalahan yang tidak akan mengembalikan apapun."


Aku menunduk dalam, tak ku sangkal ucapan Papa, ini semua memang salah ku. Biarlah Papa meluapkan kekecewaannya padaku, yang dulu bahkan tak sempat marah karena Mas Radit dan Mama melarangnya.


"Susan sudah sadar Pa." bela Mas Radit, dia menoleh ku dengan iba.


"Kamu masih bela dia?" ucap Papa kepada Mas Radit.


"Maaf Pa, aku tidak mau Susan bersedih."


"Sekarang kamu lihat, dia bahkan seperti orang yang enggan hidup." membuat Mas Radit bungkam.


Tak tahan lagi, aku mendekat dan berlutut di kaki Papa.

__ADS_1


"Ampuni Susan yang sudah membantah Papa." tangisku sambil memeluk kakinya Papa, aku menyesali kebodohan ku.


"Maafkan Susan Pa."


__ADS_2