Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
POV Ricko


__ADS_3

Hari dimana aku bertengkar dengan Susan, meskipun aku sudah berusaha untuk membujuknya, mengajaknya berbaikan tapi Susan masih saja bersikap dingin padaku.


Jujur saja, aku menyesal sudah bermain gila dengan Dila. Sebisa mungkin aku menghindari Dila baik di sekolah ataupun di rumah, aku harus merelakan kesenangan ku jika ingin mempertahankan Susan, tentu saja Susan lebih prioritas daripada Dila, dia istriku, aset ku paling berharga yang entah esok atau lusa pasti akan mewarisi harta orangtuanya.


Tapi semua berjalan tak sesuai harapan, hari itu Dila menemui ku di sekolah, dia protes karena sudah beberapa hari aku tidak mendatanginya. Ku putuskan hubunganku padanya, dia menangis.


Aku tahu dia sakit hati, setelah lima bulan ini menemani malam-malam ku dan aku dengan sepihak memutuskannya. Tapi maaf Dila, Susan tidak boleh lepas dariku.


Hingga hari Jum'at itu, semua orang pulang lebih cepat dari hari-hari biasa. Tapi aku sengaja tinggal, pulang lebih akhir karena Senin lusa akan ada ujian, dan aku diminta kepala sekolah untuk menyimpan soal-soal ujian anak-anak, aku ditugaskan menunggu paket besar soal ujian dari kabupaten itu, baru setelahnya bisa pulang.


"Pak, aku hamil!"


Aku terperanjat.


Ucapan yang sama sekali tak ku harapkan, bahkan kehadiran Dila menjadi kekhawatiran untuk ku saat ini.


"Jangan bercanda Dila, kamu tahu sekarang ini aku sedang mempertahankan Susan, aku tidak mau kehilangan istriku." aku tersenyum sinis.


"Tapi aku hamil, ini anak bapak." ucapnya berkaca-kaca.


Aku mengusap kasar wajahku. Ku tatap dalam wajah Dila, wajahnya pucat dan lemas. Aku tahu itu adalah ciri-ciri wanita hamil, sama seperti yang dialami Susan sebelumnya. Tapi sungguh aku tak mengharapkan ini dari Dila.


"Aku tidak mau menanggung ini semua sendirian. Bapak harus bertanggung jawab." ucapnya tegas, ku rasa dia sudah mempersiapkan diri dari jauh hari untuk sekuat ini mengungkapkannya padaku. Ku akui, Dila memang gadis yang berani dan tidak takut apapun. Terbukti saat kami bermain gila saat istriku ada di rumah, dia malah tak merasa takut atau was-was, dia begitu menikmati bahkan selalu menginginkan aku datang. Itu pula yang membuat aku semakin menikmati perselingkuhan kami.


Aku tidak berkata apa-apa lagi, hingga esok hari. Aku sangat terkejut ketika akan keluar membeli makanan untuk Susan istriku, aku di cegat Dila di teras rumah, dia bilang Ibunya dan Mbak Tami butuh bicara.


Aku berusaha bersikap sebaik mungkin dengan Susan, aku kira Susan sakit karena dia kesiangan. Tapi tak dapat ku alihkan pikiranku bahwa ada Mbak Tami dan Ibunya Dila menungguku di bengkel Mas Heru.


"Anda harus bertanggung jawab Pak Ricko." begitu kata Bu Jariah ibu dari Dila selingkuhan ku.


"Aku punya istri Bu." jawabku, aku mencoba mengelak, tak mau menikahi Dila.

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu, sekarang ini Dila sedang hamil. Kalau begitu bapak ceraikan saja istrinya!"


Aku cukup terperangah dengan ucapan kejam Bu Jariah, dia berkata seenaknya saja.


"Ya, lagipula kamu akan lebih bahagia bersama Dila, masih muda, dan akan punya anak." sahut Mbak Tami dengan gayanya yang sombong.


"Aku tidak bisa menceraikan Susan, sejak awal Dila pun tahu aku sudah beristri. Lagipula tidak semudah itu menikah kedua kali dengan statusku saat ini, jika Susan mengadukan aku, maka aku akan kehilangan pekerjaan." alasanku.


Kedua wanita di depanku saling pandang, ku rasa mereka sedang berpikir ulang dalam mendesak ku. Aku tahu alasan mereka membiarkan aku selingkuh dengan Dila karena aku adalah laki-laki yang termasuk mapan, bisa memberi uang untuk Dila, aku yakin ibunya juga sudah tahu sejak lama, tidak mungkin Mbak Tami dan Mas Heru tidak memberitahu ibunya, secara mereka adalah kerabat.


"Tapi kamu bisa menikahi Dila secara siri. Yang penting sah, terutama di kampung Ibu, Ibu tidak mau Dila hamil tanpa suami." kukuh ibunya Dila.


"Baiklah, aku akan bertanggung jawab tapi tidak sekarang. Aku harap ibu bersabar menunggu istriku pulang ke rumah orang tuanya." janjiku yang sebenarnya aku malas.


"Oke, kami pegang janjimu Pak Ricko. Jangan pernah mencoba lari dari tanggung jawab, kami juga bisa membuat karier mas Ricko hancur." ancam ibunya Dila.


"Ya." aku mengangguk saja.


"Tapi Bu_"


"Tidak ada tapi-tapian, Ibu minta uang dua juta."


Aku tak bisa berkutik, kalau aku tak jawab iya, bisa saja mereka memberi tahu Susan dan sudah pasti dia akan minta cerai.


Dan beruntungnya aku, ketika Susan merasa kasihan padaku karena menganggap Ibuku sedang butuh uang.


Aku langsung memberikan uang itu kepada ibu Jariah, ku harap setelah di berikan uang ini wanita tua itu segera pergi. Aku merasa terancam dengan keberadaannya lama-lama di sini.


"Makasih Pak Ricko." ucapnya tersenyum senang, dia pulang.


"Aku butuh bicara." ucapku kepada Dila.

__ADS_1


Aku ingin Dila segera pindah dari kos-kosan Mbak Tami ini, aku tidak mau Susan semakin curiga. Lagipula Dila sudah kelas tiga, tinggal beberapa bulan lagi akan ujian akhir, menurut ku perutnya masih aman untuk menjalani ujian akhir.


"Dila kangen." ucapnya mulai memeluk leherku.


Aku yang sudah berpuasa beberapa hari sejak ketahun Susan, langsung mode on dan memulai pemanasan, mengurungkan niat untuk berbicara serius, atau lebih baik di bicarakan setelah bercinta saja.


Jeritan-jeritan kecil Dila membuatku semakin menggila seimbang denganku yang sedang kehausan menyerangnya tanpa ampun.


Lagi enak-enaknya, pintu kamar kost Dila di gedor seperti mau patah.


Bergegas ku melepaskan Dila, memakai pakaian terburu-buru. Kali ini, habislah aku!


Kami di tarik-trik, kami di teriakki dan di hina oleh tetangga. Aku jamin nasib rumah tangga ku tidak akan selamat.


Ku lihat Susan mendekat, dia begitu emosi melihat aku dan Dila, itu pasti. Aku pun akan menggila jika memergoki Susan selingkuh.


Tak tega aku melihat Susan mengamuk, dia begitu emosi kepada Dila, aku melerainya. Tapi sedetik kemudian dia mengamuk padaku, sungguh aku tak akan melawan, kubiarkan saja dia memarahi dan memukuli aku. Dia pergi dengan kecewa, aku diadili dan di hina warga.


***


Empat hari kepergian Susan.


Pagi-pagi sekali aku sudah mendapatkan gedoran di pintu rumahku. Aku bangun dengan malas karena Setiap malam aku tak dapat tidur nyenyak. Sungguh aku merindukan Susan istriku, aku terus memikirkannya, ku rasa dia tidak akan kembali lagi, terlebih lagi sudah ada campur tangan keluarganya.


"Selamat pagi Pak Ricko."


Ku lihat wajah-wajah tak asing di depan pintu, Mbak Tami, Mas Heru, Bu Jariah, dan Dila.


"Dila akan tinggal di sini." ucap Bu Jariah menarik tas besar milik Dila.


Aku mengusap kasar wajahku. "Bagaimana kalau Susan kembali?"

__ADS_1


__ADS_2