Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Tidak Mau Kecolongan


__ADS_3

Udara pagi terasa menyejukkan. Aku bergelung selimut semakin merapatkan mataku, tak mau segera beranjak dan menempel dengan Mas Radit.


"Sayang." bisik Mas Radit memeluk diriku, mengecup pipiku.


"Dingin Mas." rengekku.


"Jangan merengek atau aku akan terlambat pergi ke pabrik." dia mengeratkan pelukannya, sungguh baru beberapa jam saja kami beristirahat, aku masih mengantuk berat.


Kalau Mas Radit harus ke pabrik, artinya aku harus ke kantor hari ini. "Mas pergi ke pabrik dengan siapa?" tanya ku membuka mata.


"Sama Juna, dan ricko." jawabnya masih menutup mata.


"Oh, ku pikir sama Clara?" memainkan bulu-bulu halus di sekitar bibir Mas Radit.


"Lebih enak kalau sama-sama laki-laki. Kan sudah ada Ricko."


"Dia enggak kesel lagi sama kamu kan Mas?" tanya ku.


"Enggak, udah lebih baik sih. Tapi..."


"Tapi apa?" aku penasaran.


"Kemarin Clara marah, teriak mau pecat Ricko."


"Kenapa?" tanya ku semakin penasaran.


"Gara-gara anaknya nangis." jawab Mas Radit, mengecup pipiku lama.


Aku memeluk Mas Raditku erat, tak mau memikirkan urusan Mas Ricko. Lagipula sekarang aku tidak ada lagi sangkut pautnya dengan mereka. Mas Radit sudah membebaskan aku dari semua kerumitan, sakit hati, dan kesedihan.


Tugasku sekarang hanyalah satu, menjadi istri yang baik untuk Mas Radit, dan berharap aku segera hamil.


Begitulah harapanku setiap kali melihat wajah tampan Mas Radit, anak kami pastilah cantik dan tampan karena ayahnya adalah laki-laki yang sempurna menurutku. Aku merasa waktuku selalu kurang jika sudah bersama dengannya. Aku mau kami selalu bersama.


"Sayang, nanti kamu bisa pulang duluan, Mas takutnya pulang terlalu sore." ucap Mas Radit ketika kami sudah memasuki kantor Papa.


Aku mengangguk, menggandeng tangan suamiku dengan bangga.


"Pagi Pak, Bu." sapa Juna yang sudah bersiap.


"Pagi Juna, apakah Ricko sudah datang?" tanya Mas Radit.


"Sepertinya sudah Pak, pastinya dia tidak akan lupa, sebentar lagi kita akan berangkat." jawab Juna sopan.


Kami masuk ke ruanganku. Mengambil beberapa berkas dan bersiap pergi ke pabrik. Tentu aku mengantar suamiku hingga ke depan kantor. Ku lihat mobil sudah di siapkan Juna.

__ADS_1


"Sayang, jangan lupa makan dan pulang jangan terlalu sore." pesan Mas Radit, memelukku, mengecup kening dan pipiku, juga bibirku. Ah... aku malu tapi menikmatinya, bangga.


"Mas juga, jangan pulang malam, aku kangen." rengekku manja.


"Ya." dia mengecup pipiku lagi, barulah ia masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati Mas." ucapku, suamiku itu mengangguk.


belum juga satu detik Mas Radit ku masuk ke dalam mobil. Clara datang terburu-buru dan langsung masuk ke dalam mobil. Aku heran, bukannya Mas Ricko yang akan pergi?


"Tunggu!" aku menunjuk Clara, agar berhenti membuka pintu, aku gak terima dong, dia duduk bersebelahan dengan Mas Raditku.


"Ada apa?" tanya Clara kesal.


"Bukannya, Mas Ricko yang akan pergi, kok jadi kamu?" selidik ku kepada wanita yang belakangan ketahuan buruknya, dia tidak layak sama sekali untuk di percaya, terlebih lagi untuk dekat-dekat dengan suamiku.


"Aku bosnya! Bukan urusanmu aku yang pergi atau Ricko yang pergi." sinisnya, jengah menatapku.


"Oh.. Tentu saja menjadi urusanku jika kau mendadak pergi dan ingin duduk di dekat suamiku." Aku menunjuk Clara lagi.


"Dasar aneh." umpatnya, dia segera masuk ke dalam mobil, dia benar-benar duduk di samping Mas Radit dan itu membuat darah ku naik semakin tinggi.


"Keluar!" aku mendekati pintu mobil, menunjuk Clara dengan garang.


"Keluar gue bilang!" teriakku lagi membuat Juna menoleh Clara. Membuka kunci pintunya. Mau tak mau Clara membuka pintu, juga Mas Radit keluar mendekati aku.


"Pak, panggil Pak Ricko." titahku kepada satpam yang sejak tadi melongo menatap ku.


"Baik Bu." dia bergegas masuk ke dalam kantor.


"Kamu cemburu?" dia tersenyum mengejek ku.


"Ya, gue enggak percaya sama betina kaya elu! Lagian kalau mau pergi kenapa enggak pakai mobil sendiri?" sinisku, gak mau kalah dan enggak mau kecolongan.


"Sayang." Mas Radit merangkul ku, dia menenangkan aku.


"Aku enggak mau kamu pergi sama dia ya Mas!" aku mendelik tajam Mas Radit.


"Mas juga enggak setuju." jawabnya. semakin memeluk dan mengecup kepalaku.


"Maaf, ada apa?" Mas Ricko datang dengan wajah bingung.


"Kamu pergi ke pabrik sama suamiku." aku berkata dengan sombongnya, dapat ku lihat wajah tak percaya Clara dengan perintahku.


"Tapi..." Mas Ricko melirik Clara.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan San, aku juga pemimpin dan berhak pergi!" marah Clara.


"Enggak sama suami gue ya!" aku benar-benar sudah lupa cara berbicara yang baik di hadapan semua bawahan ku.


"Ricko, sesuai rencana kita bertiga yang pergi." Mas Radit angkat bicara. Membuatku tersenyum menang mendengarnya.


Ku lirik Clara mendengus kesal, biarkan saja, yang penting aku berhasil menjauhkan belatung nangka yang sudah jelas kelakuannya. Jangan sampai aku kehilangan Mas Raditku. Aku tak lupa dulu aku juga berpacaran dengan Mas Ricko, artinya dia masih mau aja di tidurin sama Mas Ricko yang jelas berpacaran denganku.


"Sayang." Mas Radit mengecup keningku dua kali sebelum pergi.


"Malu-maluin aja." Clara berjalan setengah menghentakkan kakinya, masuk kedalam dengan di iringi tatapan karyawan yang mendadak ramai berkumpul.


"Silahkan kembali bekerja." perintahku kepada anak buah ku. Tentu mereka hanya mengangguk patuh, tak ada yang berani menatapku.


"Bu." Linda memanggilku, ikut masuk ke ruanganku.


"Duduklah." titahku.


Dia menatap wajahku, entah mungkin dia merasa heran dengan yang baru saja terjadi.


"Ada apa?" tanya ku.


"Ah, hemmm..." dia salah tingkah karena terlalu lama menatap wajahku.


"Kamu merasa aku berlebihan ya?" aku tertawa sedikit.


"Tidak, hanya sedikit membuat tegang." jawabnya membuka berkas yang dibawanya.


"Kamu tahu, ketika kamu sudah pernah merasa di khianati, maka sulit untuk percaya kepada siapapun termasuk orang baru, atau orang terdekat sekalipun. Curiga akan selalu membuatmu waspada, takut kehilangan dan takut akan mengulang kejadian yang sama. Itu tidak akan pernah pergi dari hatimu, aku tidak menyukainya tapi itulah yang aku rasakan."


Linda hanya mendengarkan aku. Ku rasa dia sedang mencoba mencerna apa yang telah terjadi padaku dari masa lalu hingga masa sekarang.


"Pengkhianatan itu benar-benar menguras kesabaran. Dan setelah amarahmu meledak, di kemudian hari kamu akan mengulanginya, sulit untuk mengendalikannya. Orang yang paling sabar pun bisa berubah menakutkan jika sudah mengalaminya."


"Lalu Bu Clara?" tanya Linda pada akhirnya.


"Dia masa lalu Mas Ricko, mantan suamiku." jawabku sambil meraih berkas yang di sodorkan Linda.


"Sebaiknya memang tidak terlalu percaya kepada Bu Clara." ucap Linda tiba-tiba membuat keningku berkerut.


"Maksudmu?"


"Ah... emmm. Ma... Maksudku. Dia bukanlah orang yang baik." jawab Linda gugup. Tapi menurutku itu tidak lah spesifik, aku yakin Linda tahu sesuatu sehingga dia berani berbicara begitu padaku.


Satu hal yang aku yakini, Clara tidak menyukaiku!

__ADS_1


__ADS_2