Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Mereka Berantem


__ADS_3

"Ngapain Mas?" tanyaku menatap heran sekaligus waspada, entah mengapa aku enggan berdekatan dengan Mas Ricko apalagi sampai disentuhnya.


"Ngapain apa?" Mas Ricko balik tanya.


"Ya kamu, perasaan tadi kamu tidak ada di sofa?" ucapku meletakkan ponsel di tanganku.


"Kebawah sebentar, takut lupa mengunci pintu. Soalnya tadi keluar sebentar beli martabak buat kamu, masuknya terburu-buru takut keburu dingin." jawabnya, masuk akal.


"Oh." jawabku malas.


"Kamu kenapa bangun?" tanya Mas Ricko.


"Ponselku bunyi, Mama bilang Mas Radit baru saja pulang ke rumah." bohong ku, padahal kata Mama dia sudah pulang tiga hari yang lalu.


"Radit?" Mas Ricko menautkan alisnya.


"Ya, Anak Papa dan Mama."


"Anak angkat kan?" ucap Mas Ricko, entah mengapa aku tak suka mendengarnya.


"Ya, tapi dia sudah hadir lebih dulu sebelum aku. Jadi jangan sebut dia anak angkat." bela ku dengan sedikit meninggi.


"Aku tahu, tapi tetap saja dia bukan saudara kandungmu. Lebih baik kita istirahat." dia naik ke atas ranjang sambil memegang tanganku. Dan segera ku tepis.


Aku mengambil bantal juga selimut, keluar dari kamar tanpa berdebat.


"San, Sayang..." panggilnya lembut.


Aku menutup pintu, menggenggam ponselku dan menggulung selimut di tubuhku agar tidak terlalu dingin. Tidur di sofa lebih baik daripada seranjang dengan pengkhianat.


***


Aku kesiangan, sungguh jam tujuh ini mataku masih berat dan mengantuk. Padahal sebelumnya aku tidak pernah seperti ini.


"Ini gara-gara mengintai Mas Ricko." gumam ku di dalam hati.


Sayup ku dengar dia sedang mandi, aku sengaja tak beranjak dari posisiku lantaran lemas juga malas. Tapi sesuatu menyita perhatianku, hingga aku segera beranjak dan melihat benda yang berbunyi itu.


"Hem... Mas Ricko lupa membawa ponselnya semalam ketika masuk ke kamar ku." aku segera melihat layar yang menyala itu.

__ADS_1


"Aku ingin kita bicarakan Pak, di tempat biasa." pengirim Jaka.


"Jaka?" gumamku.


Ku letakkan lagi ponsel Mas Ricko pada posisinya. Aku kembali tidur dengan selimut menggulung ku.


"San, kamu sakit?" suara Mas Ricko begitu dekat, tercium aroma segar khas Mas Ricko jika di pagi hari. Tak munafik, aku merindukan aroma itu berpindah di tubuhku. Apalagi tangannya menyentuh pipiku dengan lembut, penuh perhatian dan, aku menikmatinya.


"Enggak Mas, cuma lemes." jawabku pelan, kemudian membuka mata.


Ku lihat wajah suamiku ini, dia masih terlihat tampan di mataku, tak sedikitpun aku melupakan betapa kami sangat bahagia ketika awal menikah, susah senang tetap bahagia saja karena siang dia bekerja, malam kami habiskan berdua.


Aku sedih dengan suasana ini, mengapa harus ada dusta diantara kita Mas, mengapa harus ada Dila?


"Kalau kamu enggak enak badan, Mas tidak usah bekerja hari ini." ucap Mas Ricko terdengar tulus.


Hatiku mulai meleleh, bukankah setiap orang butuh kesempatan untuk berubah, apakah aku harus memberikan kesempatan itu? Rasanya aku tidak rela pernikahanku hancur oleh anak SMA. Apakah aku se lemah itu sehingga menyerah begitu saja?


"Mau makan apa?" tanya Mas Ricko lagi, dia semakin menunjukkan perhatiannya terlebih lagi ketika aku menggeleng berusaha sadar dari pikiranku yang mulai berubah haluan. Ah, jangan sampai aku kembali di bodohi Mas Ricko.


"Tidak usah Mas, aku hanya butuh tidur tambahan Lima belas menit." jawabku kembali menutup kepala ku dengan selimut.


"Mas belikan makanan ya." ucapnya beranjak keluar. Aku mengintip dari sela selimut, kulihat dia turun dan tak lama kemudian terdengar suara motor di teras di nyalakan.


Dila, gadis itu sedang berdiri di teras rumah Mbak Tami. Dia menatap Mas Ricko begitu pula Mas Ricko, tapi sepertinya mereka tidak sedang saling menggoda atau bahagia. Keduanya saling memperhatikan wajah masing-masing dengan perasaan yang entah, saling rindu tapi menahan, atau sedang terpaksa berpisah? Ah itu terlalu drama.


"Mas!" panggilku sengaja dengan wajah khas baru bangun tidur.


"Ya." jawabnya tersenyum padaku.


"Aku mau Ketoprak saja." pintaku yang kemudian di iya kan Mas Ricko.


Ku lihat Dila membuang muka, dia pasti tidak suka atau bisa saja cemburu. Tentu saja istri lebih utama daripada selingkuhan, sudah jelas bahwa malam itu dia ditinggal begitu saja ketika aku pulang, Mas Ricko tidak siap kehilangan aku. Artinya Dila bukan apa-apa, dia bukan siapa-siapa, dia tidak terlalu penting dibandingkan aku bukan?


Ah, lagi-lagi kepala ku pusing dengan perasaan yang berubah-ubah ini, sekalinya aku ingin berpisah, sekali kemudian aku ingin mempertahankan Mas Ricko, dan sekarang aku malah senang melihat nyali Dila menciut, menunjukkan bahwa dia tidak berarti apa-apa di mata suamiku.


Mas Ricko mengusap kepala ku sebelum akhirnya pergi tanpa menoleh Dila. Aku puas!


Aku kembali naik ke lantai dua, dan ku lihat lagi ponsel Mas Ricko menyala.

__ADS_1


"Bapak tega." pengirim Jaka.


"Wow, Jaka!"


Aku tersenyum sinis, ternyata namanya Jaka, aku mulai mengerti.


Jika di media sosial aku mengenal cerpen yang mengisahkan toples gula dan garam bertukar nama agar semut salah melihat? Sayangnya semut tidak bisa membaca, tapi memiliki indera lebih tajam sehingga dia tahu yang mana berisi garam atau gula.


Di sini aku melihat nyata, suamiku menulis nama Dila menjadi Jaka agar aku tidak tahu siapa yang sedang menghubunginya. Ah, aku terlalu polos sehingga menjadi semut yang tidak bisa membaca. Tapi jangan lupakan bahwa seorang istri memiliki indera penglihatan, pendengaran dan hati yang lebih tajam. Mata boleh tak bisa melihat, tapi hati tak akan bisa dibohongi!


Ingin ku balas pesan tersebut, sayangnya aku hanya bisa membaca tapi tidak bisa membuka layar ponsel Mas Ricko.


Baiklah, aku harus bersabar, anggap saja sekarang aku sudah percaya pada Mas Ricko, sampai dia benar-benar yakin bahwa keadaan sedang membaik.


"Susan, Sayang." panggil Mas Ricko sudah pulang.


Aku segera meletakkan ponselnya dan mengatur posisi tidurku. "Ada Mas?" tanyaku bersemangat.


"Ada Sayang." Mas Ricko tersenyum senang, dia juga menyiapkan piring dan membukakan bungkusan makanan tersebut.


"Di habiskan ya." perintahnya, aku mengangguk.


"Tadi ada pesan Mas, dari Jaka." celetukku dengan sengaja.


Dia cukup terkejut, lalu segera membuka Ponselnya, dan kemudian terlihat tenang melihat pesannya belum di buka, dia melirikku.


"Temen." jawabnya mengabaikan ponselnya, dan menyambung makan bersamaku.


Aku tak menyahut, berpura-pura tenang dan terus makan sampai kenyang.


"Enak?" tanya Mas Ricko.


Aku mengangguk membuatnya semakin senang.


"Nanti Mas pulang cepat." ucapnya setelah selesai makan.


"Iya." jawabku terus makan.


Ya, aku tak mau berharap. Nama Jaka itu membuatku urung melunak.

__ADS_1


Hingga siang hari kemudian, Bukannya Mas Ricko datang, tapi sebuah pesan dari Cindy membuatku membuka mata sangat lebar.


"Mereka sedang berantem Tante, Dila memintanya untuk datang ke kamar kosnya seperti biasa, tapi Pak Ricko menolak."


__ADS_2