Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Dila Hamil


__ADS_3

"Pa, enggak boleh begitu." Mama mendekati Papa, dia juga meminta ku berdiri.


"Susan memang harus meminta maaf sama Papa, Ma." aku tetap memeluk kaki Papa, sungguh aku merindukan pelukan Papa yang sejak dua tahun tak kurasakan.


Mas Radit ikut duduk di bawah kaki Papa, meraih bahuku agar segera berdiri.


"Enggak mau." ucapku menepis tangan Mas Radit.


"Pa." pinta Mas Radit kepada Papa, dia tidak akan tega melihat aku begini.


"Papa sudah memaafkan kamu, kapan Papa bilang benci dan tidak mau memaafkan kamu. Tapi papa butuh bukti bahwa kamu sudah benar-benar ingin berpisah dengan laki-laki tidak berguna itu."


"Susan sudah siap bercerai Pa." lagi-lagi Mas Radit angkat bicara.


"Bangunlah, tidak usah menangis untuk pengkhianat!" ucap Papa padaku, tentu dengan sigap Mama dan Mas Radit membantuku berdiri.


"Kamu istirahat ya." ajak Mama merangkul ku, Kiki menungguku di anak tangga, dia mematung menyaksikan drama penyambutan kepulangan ku.


Semenjak aku menikah, Papa memang lebih dekat dengan Mas Radit, mungkin karena alasan kecewa dia enggan bertemu denganku. Ku harap mulai saat ini aku bisa mendapatkan lagi kasih sayang Papa kembali, aku menyesal sudah mengabaikan Papa demi Mas Ricko.


"Kiki temenin Susan sebentar ya." Pinta Mama.


"Iya Tante." Kiki mengangguk setuju, mungkin Mama ingin bicara dengan Mas Radit tentang apa yang terjadi di kampung.


"Semua orang di rumah ini sayang banget sama lu San. Jadi jangan kecewain lagi Bokap lu, Mama juga Abang lu." saran Kiki sambil meletakkan koperku di dekat Lemari.


Aku masih merenung dengan sisa tangisku.


"Mulai sekarang berhenti menangis, inget satu tujuan dalam hidup lu, membahagiakan orang tua!" sambungnya lagi.


"Iya. Gue juga udah lelah nangisin Mas Ricko." jawabku menelan paksa ludahku, sakit.


"Ya, dia enggak layak buat di tangisi."


***


Tiga hari sudah aku berada di rumah ku, hatiku masih saja nyeri mengingat kenangan bersama Mas ricko. Bohong kalau aku tak merindukannya setelah kehidupan dua tahun kami jalani berdua. Tapi ketika rindu itu datang, ada duri ikut menyerang. Mungkin saat ini mereka sedang bersenang-senang.


Heh, aku tersenyum kecut dengan nasibku ini.


"Ingat Dit, kamu harus pastikan semuanya!"

__ADS_1


Suara Papa sedang bicara kepada Mas Radit sambil berjalan menuju mobil. Aku mendekat mereka perlahan, aku perhatikan beberapa hari ini Mas Radit selalu pergi pagi pulang malam, tak ada waktu untuk mengobrol denganku.


"Mas." panggilku setelah Papa kembali masuk.


"Hei, kamu ngapain di sana." tanya Mas Radit menunjuk di belakangku kolam ikan lele peliharaan mang Udin.


"Mas Radit mau kemana?" malah aku balik tanya.


"Sedang ada urusan ke luar kota." jawab Mas Radit memperhatikan wajahku. "Kenapa?"


Aku menggeleng. Ku lihat dia menutup pintu mobil itu kembali.


"Sore nanti udah pulang kok! Kita jalan-jalan mau?" tanya Mas Radit, menghiburku.


"Bener Mas?"


"Ya."


Aku tersenyum menghantar kepergiannya, entah akan kemana lagi dia pergi, Papa tidak pernah membiarkan dia menganggur.


Aku masih enggan keluar rumah, dari pagi hingga sore ku habiskan untuk berdiam. Begitu pula hari ini aku hanya duduk, menonton, dan tiduran sambil menunggu Mas Radit pulang. Hanya dia yang mengerti aku saat ini, penengah antara aku dan Papa.


Aku segera turun kebawah ketika suara mobil menderu di garasi rumahku, Mas Radit pasti sudah pulang.


"Pa." panggilku pelan, dia menoleh.


Ku dengar dia menarik nafas berat, lalu mengulurkan tangannya padaku.


Aku segera duduk di samping Papa, semenjak aku pulang dia bahkan belum memelukku.


"San, Mas mu baru saja pulang dari kampung tempat tinggal mu." ucapnya pelan. Aku heran.


Terdengar langkah kaki Mas Radit dari kamarnya, ku rasa dia dari kamar mandi karena melipat lengan bajunya.


"Perempuan yang menjadi selingkuhan suami mu, sedang hamil."


Aku menoleh cepat kepada Papa, aku seperti salah mendengar sesuatu. "Pa?"


"Ya, gadis itu hamil." ulang Papa.


"Apa?" lirihku terkejut, tenggorokan ku mendadak kering mendengar kenyataan yang disampaikan Papa.

__ADS_1


Aku tidak pernah membayangkan hal ini, meskipun aku sudah tahu Mas Ricko dan Dila bermain gila tapi aku tak menyangka akan mendengar hal ini lagi setelah memergoki keduanya.


Aku menunduk, tak kuasa aku menahan tangis mendengar kehamilan Dila.


Ah, aku masih saja bodoh menangisi pengkhianatan Mas Ricko. Aku segera menghapus air mataku. "Aku sudah siap bercerai Papa, aku akan datang ke kampung itu lagi untuk mengambil buku nikahku." ucapku yakin.


"Maafkan Papa." ucap Papa memutar posisinya menghadap ku. "Terkadang Papa juga berpikir bahwa kesedihanmu ini karena Papa tak ikhlas. Papa terlalu mengabaikan mu, Papa keras kepala dan egois. Harusnya Papa mendampingi mu, memastikan bahwa kau bahagia Nak."


Papa merengkuh tubuhku, memelukku erat disertai luapan tangis yang tak pernah ku dengar selama hidupku. Mau tak mau aku menangis lagi, aku sungguh bersedih dengan ungkapan Papa, ternyata tak semarah itu Papa pada ku, dia menyayangi ku.


"Susan sayang Papa." bisik ku membuat Pria tua kesayanganku ini makin terisak.


Artinya, aku harus lebih kuat menghadapi kenyataan untuk mendatangi kampung tempat tinggal ku itu lagi, rumahku.


Malamnya, aku pergi jalan-jalan bersama Mas Radit sesuai janjinya. Kami pergi ke sebuah cafe milik Papa, duduk di atas gedung menikmati angin malam dan hamparan bintang. Aku jadi teringat saat bersama Mas Ricko.


Sulitnya menghapus Mas Ricko dari ingatanku.


"Besok aku akan pulang ke kampung itu Mas." ungkap ku.


"Mas antar." jawabnya menoleh ku.


"Mas kan sibuk, tiap hari pergi terus." aku juga menoleh padanya.


"Ya, hanya bantu Papa." dia tersenyum padaku, sorot matanya tulus sejak dulu, dia tidak pernah membantah Papa.


"Mas Enggak capek selalu bantu Papa, Mas kan harus mandiri, kerja." tanyaku penasaran dengan Mas Radit.


"Ya enggak. Mas seperti ini juga karena Papa. Kamu tahu kan Papa sudah tidak muda lagi, sudah cukup dia membesarkan dan merawat kita, menjaga juga memberikan kasih sayang buat Kita, sekarang giliran kita yang membuat Papa bahagia, sudah waktunya Papa memiliki hari tua yang bahagia."


Mendadak hidungku pedas mendengar ungkapan Mas Radit, hatiku seperti tertusuk. "Aku belum melakukan apa-apa buat Papa." ungkapku sedih.


"Pelan-pelan saja, di mulai dari diri sendiri. Jangan menangis, kamu harus bahagia. Papa pasti akan ikut bahagia." saran Mas Radit.


"Ya, aku akan nurut sama Papa."


Mas Radit tersenyum. Dari dulu dia selalu dewasa, sabar dan menyayangi kami sepenuh hati. Pasti bahagia sekali istrinya nanti, aku jadi berpikir kemana-mana.


"Ngantuk?" tanya Mas Radit ketika aku diam dan menyandar di bahunya.


Aku enggan menjawab, lagipula dari kecil aku sudah biasa meminjam bahu Mas Radit hingga tertidur.

__ADS_1


Semoga ketika aku bangun, aku kembali ke masa aku belum mengenal Mas Ricko, anggaplah pernikahanku yang sadis itu sebuah mimpi.


Tak harus kembali ke kampung untuk mengambil buku pernikahan yang akhirnya tinggal kenangan.


__ADS_2