
Aku senang Dani langsung meminta Cindy untuk datang ke bengkel dan membicarakan perihal permintaanku pada mereka.
Selain orang jahat, ada juga orang baik di sini, Tuhan tidak membiarkan aku sendiri.
"Cindy bisa kan bantu Tante?" aku menatapnya penuh harap.
"Bantu aja Cin, membantu orang teraniaya itu pahala." Dani membujuk Cindy.
"Teraniaya hatinya Dan." sahut Kiki tertawa.
"Itu tersakiti Mbak." Dani ikut tertawa.
"Cindy bisa Tante." jawab Cindy pada akhirnya.
"Alhamdulillah, terimakasih Cindy. Tante enggak tahu harus minta bantuan sama siapa selain kamu. Mbak Tami juga mendukung perselingkuhan Mas Ricko dan Dila." ucapku berkaca-kaca.
"Sebenarnya, di sekolah Pak Ricko dan Dila sering berdua di ruangan komputer. Bahkan sempat di tegur Kepala sekolah."
"Di tegur?" ucapku tak percaya, aku menatap Dani dan Kiki bergantian.
"Iya Tante." jawab Cindy polos.
Sumpah, hatiku kembali mendidih mendengar kelakuan Mas Ricko di sekolah.
Tega sekali Mas Ricko, sampai nekat begitu berselingkuh di sekolah dengan Dila padahal ada aku di rumah. Dia anggap apa aku selama ini. Pasti mereka menertawai kebodohanmu dan merasa menang diatas derita ku. Sudah jelas bukan, Mas Ricko tidak peduli padaku.
"Sabar San." Kiki mengelus pundak ku, Cindy pun ikut meringis melihat aku menangis.
"Apakah Mas Ricko mendatangi Dila di rumahnya?" tanyaku lagi, kepalang aku sudah sakit, aku tak bisa menghindar lagi.
Ragu terlihat, tapi akhirnya dia mengangguk juga. "I...iya Tante."
Air mata tak bisa berhenti, aku sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan sakit ku ini.
Hancur, begitulah kiranya hatiku yang sejak beberapa waktu selalu curiga. Kini menerima jawabannya.
Kepala ku terasa pening ketika membayangkan Mas Ricko bercinta dengan Dila sebagai mana ia bercinta denganku. Dia pasti senang menggagahi Dila dengan segenap jiwa dan penuh nafsu, dia menghabiskan malam dengan rasa nikmat yang haram bersama Dila, sedangkan aku?
Sakitnya ya Allah...
Sampai sulit aku mengungkap rasanya.
__ADS_1
Aku menggeleng mengingat bagaimana Dila menginap di rumahku, atau mungkin malam sebelumnya mereka benar-benar sudah melakukannya di kamar itu, atau di kamarku?
Aku menutup mulutku kuat-kuat, sungguh aku ingin berteriak, menjerit sekencang-kencangnya.
"Maaf Tante." lirih Cindy takut melihat tangis ku.
Ketiga orang di hadapanku membeku, membiarkan aku menangis hingga kemudian aku sendiri yang berhenti.
"Ok. Mulai sekarang Cindy kirim informasi ke Tante kalau Mas Ricko datang ke kosnya Dila. Cuma kamu yang bisa bantu Tante." ucapku kembali meringis menahan tangis.
"Cindy pasti bantu Tante. Asal jangan kasih tahu Pak Ricko. Cindy takut kena masalah di sekolah." ucapnya takut.
"Gak, Tante jamin Cindy akan aman. Tante yang akan pasang badan buat kamu."
Dia mengangguk sebelum akhirnya pulang, aku memberinya uang lima lembar meskipun awalnya dia menolak. Tapi ku bujuk lagi, daripada uangnya di berikan Mas Ricko kepada Dila akan lebih baik di berikan kepada Cindy yang benar-benar ingin bersekolah demi cita-cita.
***
Malam di mulai.
Aku duduk sendiri di sofa ruang tengah, aku lelah setelah mengganti semua seprei dan semua yang mungkin di sentuh oleh perempuan ja-lang itu. Menjijikkan, rasanya aku juga ingin melempar kasur busa yang berukuran king size itu ke halaman rumah Mbak Tami agar puas hati.
Ah, mengapa tak ku bakar saja semua seprei kasur dan bantal itu untuk membasmi kuman pelakor.
Aku mendengus melewatinya, membawa sprei yang sudah ku gulung menuruni anak tangga, aku meletakkannya di teras depan.
Tak lama kemudian api menyala lumayan besar di sudut pagar antara rumahku dan Mbak Tami.
Tak ayal kehebohan terjadi lantaran gulungan sprei yang kering itu di lalap api.
"Apa-apaan kamu San?" seru Mbak Tami keluar dan mengibas-ngibaskan tangannya, asap panas juga melewati pagar satu meter itu.
"Ada apa San? Itu apa yang di bakar?" Bu Endang juga ikut mendekat, dari jarak beberapa rumah dia pun bisa melihat api menyala di depan rumahku.
"Biar kuman pelakornya mati Bu." jawabku ketus, tentu aku sedang menyindir Mbak Tami.
"Dia udah gila." umpat Mbak Tami menatap tak suka.
"Justru saya sedang waras sewaras-warasnya... Malah yang enggak waras itu adalah tetangga yang menutupi perselingkuhan suami ku Bu Endang, atau malah dia mengambil keuntungan dari perselingkuhan? Kenapa nggak jadi germo aja sekalian!"
"Eh kurang ajar kamu, jangan fitnah-fitnah orang sembarangan. Mana buktinya aku mendukung perselingkuhan? Dasar stres!"
__ADS_1
"Mbak mau bukti!"
Aku mengais sprei yang masih tersisa dalam nyala api, aku mengaitnya dengan sapu dan mengangkatnya tinggi, mendekatkan kepada Mbak Tami hingga ia mundur.
"Ini buktinya!" ucapku bangga.
"Eh.. eh..!" Mbak Tami ketakutan. Juga ibu Endang meraih sapu di tanganku, dia takut aku benar-benar melemparnya kepada Mbak Tami.
"Kamu kenapa San, malu di lihat orang." tegur Mas Ricko yang baru saja turun, mungkin mendengar ribut-ribut di teras rumah.
"Enggak kenapa-kenapa. Cuma mau bersihin kamar, sekalian nanti mau ambil tanah kuning buat membersihkan seluruh lantai dan kamar, najis!" sinis ku kepada Mas Ricko.
Aku meninggalkannya berlalu masuk ke dalam rumah. Entah bagaimana reaksinya aku tak peduli.
Ku lihat teh yang dibuat Mas Ricko, satu gelasnya sudah diminum sedikit.
Berbekal dengan curiga ku yang belakangan berkuasa, aku meminum teh milik Mas Ricko hingga tinggal sedikit, lalu ku tuang teh yang masih penuh itu ke dalam gelas Mas Ricko. Ku tukar posisinya dan aku duduk kembali menonton.
Sengaja aku berselonjor di sofa, hingga Mas Ricko ikut naik dan duduk bersama ku.
"San." panggilnya pelan.
Aku berpura-pura tak mendengar, malas berbicara dengannya.
"Bisa enggak, kita baikan saja. Jangan seperti ini." pinta Mas Ricko pelan.
"Siapa yang bikin kita seperti ini?" jawabku kemudian.
"Mas minta Maaf." ucapnya terdengar serius.
"Maaf untuk apa?" tanya ku menatap wajah Mas Ricko, menjengkelkan.
"Untuk kesalahpahaman ini. Mulai malam ini kita akan memperbaiki hubungan pernikahan kita. Aku salah tidak pernah menyentuhmu selama beberapa bulan ini."
"Eh, aku enggak lagi minta di sentuh mas. Jadi tidak usah menawarkan hal yang saat ini aku tidak menginginkannya."
"Tapi kamu istriku, dosa kalau kamu menolak!"
"Aku berhak menolak setelah empat bulan lebih tidak mendapat hak ku, jadi jangan maksa ya Mas."
Aku beranjak meninggalkan Mas Ricko, tak lupa ku kunci kamar dari dalam, jangan sampai dia masuk dan berbuat macam-macam.
__ADS_1
"Tau dia bakal berulah begini, mending aku ikut Kiki tidur di penginapan."