
Aku memulai pagi dengan lebih baik, perasaanku lega setelah membulatkan tekad untuk menjalani hidup berdua bersama Dila, tidak memikirkan yang lain. Biarlah Susan menjalani kehidupan baru dengan Radit pilihan orang tuanya, ku rasa dia juga mencintai Radit seperti dulu dia mencintai aku. Dapat kulihat dari cara mereka berduaan, Susan ku bahagia.
"Pagi pak Ricko, kita meeting di ruangan Juna." begitu Linda menyapa sekaligus memberi tahu aku akan rapat akhir bulan.
"Baiklah, terimakasih Linda." aku menyiapkan berkas untuk di bawa ke ruangan Juna. Aku mencoba profesional, bekerja dengan baik agar tidak mengecewakan semua orang termasuk Susan. Dia membayar rumah ku dengan harga dua kali lipat dengan uang yang pernah ku bayarkan. Ku rasa dia hanya ingin membantuku dan berharap aku akan menjadi lebih baik. Sungguh aku berterimakasih dengan Susan yang dulu pernah ku sakiti.
"Baiklah, semuanya Clear." begitu kata Linda kepada ku. Aku senang mendengarnya, pekerjaan ku tidak lah buruk.
"Oh iya, ini data lengkap tentang laporan sebelumnya, juga data-data penting lainnya yang pastinya akan kau butuhkan." laki-laki bernama Arjuna itu memberikan flashdisk kepada ku. Ya Tuhan, dia yang sudah di pecat Clara karena aku, ternyata dia begitu baik.
"Terimakasih Juna, maaf aku tidak tahu jika kau sempat di berhentikan karena aku." ucapku mengakui, ya ini akan lebih baik daripada aku terus berada di kantor ini dengan kesombongan dalam naungan Clara. Bagaimanapun juga aku laki-laki yang harus punya harga diri.
"Tidak masalah Pak Ricko, kita bisa bekerja sama." jawabnya tersenyum bijak. Aku mengangguk senang.
Tapi satu hal yang membuat ku merasa aneh, Clara berubah.
"Bu Clara, ini laporan bulan ini." aku menyerahkan berkas yang tadi kami bahas bersama Linda dan Juna.
"Oh." dia mengangguk.
"Apakah kau sedang ada masalah?" tanyaku menatap wajahnya, murung.
"Sejak kapan kau menikah dengan Dila?" bukannya menjawab, dia malah balik bertanya.
"Oh... Kami sudah menikah sejak aku bercerai dengan Susan. Kami melakukan kesalahan." jawabku jujur.
"Kesalahan?" tanya Clara.
Aku mengangguk, memang begitu adanya bukan? "Kami sedang mencoba untuk memulai hidup baru, demi anakku."
Dia tercengang, sejenak kemudian wajahnya pias, dia menarik nafas berat, menyandar lelah. "Kau tahu, aku hamil dan melahirkan, juga membesarkan anakku tanpa seorang suami."
Aku tercengang mendengarkan ungkapan Clara yang tiba-tiba. Apa maksudnya, apakah dia sempat berpikir untuk kembali dekat denganku lalu menikah dan menjadi ayah untuk anaknya?
"Tadinya aku berharap, kau bisa menjadi ayah untuk Richa tanpa ada siapapun lagi setelah kita sempat berpisah karena kau memilih Susan." dia menunduk, aku jadi semakin bingung di buatnya.
"Tapi aku sudah menikah Clara, maaf." jawabku tak bisa menjadi seseorang yang Clara harapkan. Aku jadi berpikir tentang aku yang sekarang menjadi asistennya. Ku harap dia tidak memecat ku dengan kejam setelah tahu aku sudah menikahi lagi.
Dia menatap rumit wajahku, aku tidak tahu persis apa yang dia pikirkan. Tapi sungguh, aku sedang belajar setia meskipun terlambat, setelah aku kehilangan Susan.
"Mas..." sambut Dila segera mendekati aku, menyambut ku pulang.
"Ini jagung bakarnya." aku segera menyerahkan jagung bakar sesuai keinginan Dila.
__ADS_1
"Makasih." dia memelukku, mengecup pipiku berkali-kali. "Kita makan bersama ya Mas." ucapnya Senang, mengajakku duduk di bangku kayu sudut halaman.
"Tadi kamu periksa?" tanyaku, Dila sempat mengirim pesan padaku.
"He'em. Kliniknya Deket sini Mas, dokternya baik lagi." ucapnya dengan mulut yang penuh, menunjuk ke arah samping. Beruntungnya aku memilih rumah ini, kompleks perumahan yang ramai. Ada klinik dan mini market tak jauh dari sini.
"Kapan lahirannya?" tanyaku mengelus perut Dila.
"Hemm, dua Minggu lagi." jawabnya terus mengunyah jagung. Dia terlihat lucu, aku kembali merasa menyayanginya seperti pertama kami bersama. Walupun selalu melintas bayangan Susan menangis karena aku.
"Syukurlah, kau akan menjadi Ibu, dan aku menjadi ayah." jawabku mengelus perut Dila.
"Hemm..." dia tersenyum senang, tak ada ke khawatiran di wajahnya tentang persalinan. Aku merengkuhnya, memeluk Dila istriku. Ya, hanya Dila yang aku punya saat ini, calon ibu Dari anakku.
"Permisi Tuan." terdengar seseorang memanggil di pintu pagar rumahku.
"Ya Bu." aku beranjak membuka pintu. Ku rasa dia adalah tetangga kami.
"Pak Ricko kan?" tanya ibu tersebut.
"Iya Bu, saya sendiri." jawabku sopan.
"Ini saya di suruh Nyonya Clara mengantarkan makanan." dia memberikan rantang padaku.
"Clara Bu?" tanyaku heran.
"Siapa Mas?" tanya Dila.
"Clara. Dia juga pindahan." aku menoleh rumah sebelah, benar ternyata semua gordennya terbuka. Dapat ku lihat di balkon lantai dua itu seorang anak kecil sedang berdiri berpegangan dengan pagar berukir. Dia sedang menatap ke arahku dan juga Dila.
"Anaknya Mas?" Dila bertanya sambil mengikuti arah pandanganku.
"Iya." jawabku, aku melambaikan tangan kepada anak kecil berambut lurus itu. Dan tak di duga dia membalasnya, dia juga tersenyum, imut sekali.
"Umurnya berapa Mas?" tanya Dila lagi.
"Dua tahunan kata ibunya." jawabku.
Sejak hari itu, aku dan Clara sering pergi ke kantor beriringan. Dan dia juga sering mengajak Richa. Sesekali ku lihat Richa mengintip di kaca mobilnya, dia menempelkan wajahnya juga telapak tangannya memandangi aku yang naik motor di belakang mereka. Entah mengapa hatiku menghangat melihat tingkahnya.
"Richa." panggilku ketika berada di kantor. Berkali-kali aku merasa diperhatikan oleh anak perempuan itu membuat aku ingin lebih dekat dengannya. Terlebih lagi aku tahu dia tidak punya ayah.
Dia mendekatkan dengan boneka kecil di tangannya.
__ADS_1
"Richa cantik sekali." ucapku menggenggam tangannya. Dia tersenyum memandangku, aku tidak tahan sehingga aku memeluknya, mengecup pipinya.
"Pagi Pak Ricko, Anda di minta Pak Radit ke ruangannya sekarang." begitu Linda menyapaku di pagi ini.
"Baiklah." ternyata mereka sudah selesai berbulan madunya, pikirku masih cemburu.
"Sayang sama Mama ya." pintaku kepada Richa.
"Gak mau, Icha ikut." dia merengek memeluk leherku erat. Tak mungkin aku mengajaknya masuk ke ruangan Radit.
"Linda, bisa minta tolong kau ajak dia." pintaku kepada Linda, beruntung Linda belum pergi.
"Baiklah." dengan sedikit Drama akhirnya aku meninggalkan Richa, dia menangis. Ah biarlah...
Aku segera masuk ke ruangan Radit, walaupun hanya sebentar dan ternyata Radit akan mengajakku pergi ke pabrik.
"Ricko!" Clara memanggilku marah.
"Ya."
"Bisakah untuk tidak membuat Richa menangis?" aku menelan ludahku, dia menatap tajam. Ku rasa dia benar-benar marah. Benar saja ternyata Richa menangis tersedu-sedu, apakah aku sangat menyakitinya?
"Mulai hari ini, kamu di pecat!"
"Clara!" aku terkejut pun dengan Linda. Aku segera mengikuti Clara masuk keruangannya.
"Pergi dan bereskan barang-barang mu." usirnya lagi.
"Clara, aku tidak melakukan kesalahan apapun, mengapa kau tega begini?" aku mendekati Clara.
"Kamu sudah membuat Richa menangis. Dan itu sungguh membuat aku sakit hati."
"Mengapa harus sakit hati, aku bukan ayahnya!" marahku tak suka dengan Clara terlalu egois.
"Hah!" dia menolehku, menatap penuh amarah.
"Harusnya kau tidak menjauhkan dia dari ayahnya. Agar dia tidak terlalu sensitif bila berdekatan dengan laki-laki." jawabku ketus.
"Kau benar." dia menatapku berkaca-kaca. "Kau tahu, siapa ayahnya?" ucapnya.
"Aku tidak tahu." jawabku duduk menyandar.
"Kau!" tunjuk Clara masih tak ku mengerti.
__ADS_1
"Clara."
"Dia anakmu Ricko!"