
Hari itu adalah hari pertama aku pindah sekolah. Tadinya aku bersekolah di SMA swasta dan tinggal bersama ayah. Tapi karena ibu tiriku tidak menyukai diriku maka akhirnya aku putuskan untuk pulang, dan bersekolah di kecamatan kota dan mengontrak di rumah pamanku, adik dari ayahku Om Heru.
Hari pertama aku masuk sekolah, ku pikir bersekolah di kampung ini begitu membosankan. Tapi ternyata tidak! Aku bertemu dengan guru muda yang tampan, dia begitu mempesona, aku seolah tersihir dengan penampilan kerennya.
Karena aku masih tak tahu apa-apa, hari pertama ku semakin menyenangkan ketika guru muda itu menawarkan untuk pulang bersama. Aku duduk lebih menempel, berharap dia merasakan hal yang sama denganku. Aku ingin memilikinya, terlebih lagi ku dengar dia baru saja diangkat sebagai ASN.
Dan ternyata, bak gayung bersambut. Aku suka dia, dia juga suka padaku, aku ingin bertemu, dia pun ingin bertemu denganku, kami sama-sama saling mengagumi. "Aku pasti akan mendapatkan pak Ricko apapun caranya."
"Dila, bisa bantu Bapak mengerjakan rekap ulangan?" pinta Pak Ricko padaku hari itu.
"Bisa Pak." jawabku senang.
Aku mengikuti langkah tegap laki-laki yang ku kagumi menuju ruang komputer yang sepi. Jangan lupakan bahwa dia sudah beristri!
Kata orang, pria beristri akan lebih mudah dipancing nafsunya di banding yang masih bujangan. Aku penasaran.
Serius aku mengetik dan dia membacakan nama siswa, lumayan banyak. Tapi sungguh aku menikmati aroma mint di tubuh pria ganteng ini, nafasnya terdengar merdu dan memburu, ku rasa dia sedang menahan perasaannya padaku.
Awalnya dia seperti tak sengaja memegang tanganku, tapi kemudian dia lanjut sedikit mengelus jari ku. Aku senang.
"Makasih banyak ya Dila." ucapnya tersenyum menyentuh jariku sekali lagi.
"Sama-sama Pak, jangan sungkan minta bantuan Dila, Dila suka kok bantu Pak Ricko." jawabku memasang senyum terbaik.
"Saya juga suka di bantuin sama Dila. Kamu cantik." pujinya, Pak Ricko menggenggam tanganku.
Sejenak kami saling pandang, beradu mata seolah mengisyaratkan kekaguman masing-masing.
"Dila pulang naik apa?" tanya Pak Ricko.
__ADS_1
"Jalan aja Pak, soalnya Dila enggak tahu pangkalan ojeknya dimana." jawabku senang Pak Ricko mulai perhatian.
"Biar saya pesankan ojek, sekalian nanti kamu bayar ya." meletakkan uang dua lembar lima puluh ribu.
"Saya ada kok Pak!" tolak ku tak enak hati.
"Tidak apa-apa, kamu ambil saja. Lagipula kamu sudah bantuin saya." ucapnya tersenyum kagum padaku.
"Kalau begitu sering-sering minta bantuan Dila." Aku bercanda, tapi serius.
"Bener mau?" tanya Pak Ricko nakal, tangannya mengelus lenganku, aku merinding bahagia dan cuma bisa mengangguk.
"Sebenarnya saya selalu butuh teman mengobrol." dia menatapku penuh arti.
"Bukannya Pak Ricko sudah punya istri, masak iya masih butuh teman mengobrol?" tanyaku memancing jawabannya.
Hari-hari berjalan normal pada awalnya. Tapi menjadi tidak normal ketika kedekatan di sekolah itu akhirnya semakin menuntut. Pak Ricko mengirim pesan padaku bahwa dia ingin bertamu.
Jujur saja rasa rindu dan nafsu sering mengganggu ketika teringat beberapa kali kami habiskan waktu di ruang komputer. Pak Ricko begitu membuat penasaran dengan sentuhan hangatnya yang iseng, dia tahu benar dimana letak membuatku senang. Akhirnya aku izinkan saja dia datang dengan syarat tidak mau ketahuan Tante Tami, apalagi istrinya.
"Malam pukul 23:00 sesuai janjinya dia datang diam-diam. Sungguh aku dag-dig-dug pertama kali menerima kedatangannya, tanganku sampai dingin dan gugup. Tapi tidak setelah dia masuk, Pak Ricko menenangkan aku, memeluk dan mulai menyentuhku lagi bahkan lebih leluasa. Dia bilang, dia butuh aku karena istrinya tidak bisa memberikan haknya dalam waktu lama.
Aku tak mau kehilangan kesempatan. Jika mau diriku, maka aku mau imbalannya, dan tidak rela dia meninggalkan aku begitu saja. Yang aku butuh tak hanya sekedar janji.
Tentu saja sebagai laki-laki yang tengah berpacu dengan nafsu akan menjawab iya, bahkan dia berjanji akan memberiku uang yang banyak, dan menikah setelah selesai pendidikan SMA.
Begitulah hari-hari berikutnya, hampir setiap malam dia datang dengan membawa keinginan untuk bercinta. Aku tak peduli bagaimana dia bisa menipu istrinya yang terpenting bagiku bisa bersenang-senang. Lagipula Pak Ricko benar-benar menepati janjinya, dia memberiku uang banyak setiap satu Minggu sekali, bahkan tabunganku sudah 25 juta di ketiga bulan aku menjadi selingkuhannya.
Aku semakin menuntut, tak mau kehilangan Pak Ricko walau satu malam saja. Aku terus memintanya datang dan tidak peduli alasan apapun, aku jatuh cinta sekaligus ambisi ingin punya suami seorang ASN yang lumayan kaya, dan itu adalah dia.
__ADS_1
Ku tatap rumah dua lantai di sebelah kos-kosanku. Aku membayangkannya jika suatu hari akan tinggal di sana bersama Pak Ricko, semakin bertekad untuk memilikinya.
Aku sudah tidak peduli dengan rasa malu, aku menjadi-jadi melayani Pak Ricko. Bahkan tidak tidur semalaman asalkan dia senang, dan lupa dengan istrinya. Dia harus menjadi milikku.
Namun tak di duga ketika hubungan kami sudah mencapai lima bulan. Aku di beritahu Tante Tami kalau Istri Pak Ricko itu mulai curiga. Gawat!
Tak mau kalah langkah, aku harus meminta lebih dengan Pak Ricko. Dan beruntung dia mengabulkan keinginan ku, dia memberiku uang dua puluh lima juta asalkan aku menjaga rahasia kami apapun yang terjadi. Aku kaya jika terus seperti ini.
Dan.
Malam ketika istrinya pergi, Pak Ricko memintaku datang dan menemaninya, kami bahkan tidak tidur hingga pagi.
Pak Ricko bilang kami akan bersenang-senang hingga satu Minggu ke depan. Tapi tak di sangka, malam kedua kami bersenang-senang malah istrinya pulang. Sepertinya dia sengaja, menjebak keberadaan ku dengan Pak Ricko.
Sialnya aku dibiarkan sendiri, tak ku sangka istrinya yang di kenal pendiam dan penurut itu malah terlihat sebaliknya, dia mengamuk seperti orang gila.
Tak ku sangka pula, setelah hari itu Pak Ricko malah menjaga jarak padaku. Aku gelisah siang dan malam memikirkan hubungan kami, entah mengapa pula akhir-akhir ini aku semakin tidak mau berpisah dengan Pak Ricko, hatiku sedih bukan kepalang jika sehari saja tidak dekat dengannya, dan ini sudah hampir satu Minggu. Aku rindu...
"Pak, aku mau nanti malam bapak datang ke kamar Dila. Dila rindu." ucap ku memang aku tak pernah malu.
"Maaf Dila, aku tidak bisa. Sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita."
Sungguh, itu kata-kata paling kejam yang pernah ku dengar. Hati ku sakit bukan kepalang.
Di saat aku merindu setengah mati, malah dia ingin pergi.
Aku mengurung diri di kamar, aku menangis hingga aku lemas, pusing dan aku demam.
Tak di sangka, aku bukan demam biasa melainkan sedang mengandung anaknya.
__ADS_1