Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Mas Radit Ku


__ADS_3

Pagi cerah menyambut, aku bangun dengan berat kelopak mataku, dan samar ku lihat sosok tampan yang tak asing sedang tidur menyandar di ranjang, sedangkan aku menghadap perutnya tak bisa bergerak.


"Mas!" panggilku, aku sedikit panik melihat diriku sendiri yang terikat kaki dan tangan, bahu dan punggung ku pegal, bajuku berantakan.


"Mas..." rengek ku lagi, rasa takut menyerang akan malam yang sunyi berlalu ini. Walau sedikit yakin bahwa Mas Radit tidak akan macam-macam.


Brakk!!!


"Papa!"


Begitu pula Mas Radit, bangun karena terkejut. Dia menatap Papa dan aku bergantian.


"Dek!" panggilnya panik, dia segera melepaskan ikatan di tanganku.


"Apa yang sudah Kalian lakukan?" tanya Papa menatap tajam kami berdua.


"Enggak Pa, kita enggak melakukan apa-apa." jawabku takut, sedangkan Mas Radit sudah panik setengah mati, bahkan kesulitan membuka ikatan di tanganku.


"Radit!"


"Iya Pa." jawab Mas Radit, jakunnya bergerak menelan paksa ludahnya.


Tatapan Papa semakin tajam melihat kami yang tidur seranjang dalam keadaan kacau.


Aku kesulitan membuka ikat pinggang Mas Radit di kakiku. Dan laki-laki di sampingku itu kembali membantuku terburu-buru.


"Papa tunggu di luar." ucap Papa mendengus kesal, sempat ku lirik mata Papa menyipit ketika melihat leher Mas Radit, ada tanda merah di sana. Ah, aku yang melakukannya!


"Tunggu Mas!" aku menahan lengan Mas Radit ketika akan keluar meninggalkan aku.


"Mas harus bicara sama Papa." ucapnya.


"I...itu Mas." aku menunjuk lehernya, aku takut dan malu ketika Mas Radit meraba lehernya, lalu menghadap kaca di belakangnya. Dia menutup matanya rapat-rapat, mungkin membayangkan apa yang sudah Papa pikir tentang kami, ini salahku.


Dia keluar lebih dulu, tak mau ketinggalan aku juga ikut berdiri, tapi mengintip.


"Jelaskan!" ucap Papa dingin.


"Semalam Susan bertemu Ricko Pah, beruntung dia kasih tahu Radit dan masih sempat menyusulnya. Radit lihat Ricko membawa mobil Susan menuju hotel tak jauh dari cafe tempat Mereka bertemu. Dan ternyata Susan sedang tidak sadar, dia di kasih obat agar mau diajak ke hotel."


"Lalu dimana Ricko?"


"Di bawa sama Atta dan Bowo, soalnya semalam Susan benar-benar membuat khawatir. Radit enggak sempat urus Ricko."

__ADS_1


Ku lihat Papa kembali memperhatikan leher Mas Radit, gawat!


"Kita enggak ngapa-ngapain Pa." jelas Mas Radit, dia gugup.


"Ya, sebaiknya kamu nikahi saja Susan. Papa lihat dia juga ingin selalu dekat sama kamu."


Hah! aku menutup mulutku. Bagaimana bisa Papa mengatakan itu? Atau yang dikatakan Mas Ricko itu semuanya benar?


"Papa harap kamu berhenti bekerja."


Papa berlalu meninggalkan Mas Radit yang berdiri terpaku. Aku pun terdiam memandangi punggung laki-laki yang selalu melindungi ku itu dengan perasaan entah.


***


Senja tak secerah biasanya, mendung dan gerimis seperti debu beterbangan, tipis, samar, melayang bersama angin halus kesana-kemari menghadirkan desiran di kulit ku.


Gara-gara semalam aku dan Mas Radit menjadi canggung. Ketika sarapan kami hanya berdiam, hingga makan siang kamipun hanya sempat melirik saja. Dan aku menjadi tidak fokus ketika mataku ini melihat tanda merah itu masih saja di lehernya... Oh ya Tuhan.


Harusnya hari ini berlalu menyenangkan karena Mas Radit hanya pulang sehari dan sebentar lagi dia akan kembali ke Jakarta. Dan sudah pasti langsung ke daerah proyek tempat ia bekerja. Entah kapan dia akan pulang lagi, aku jadi sedih memikirkannya.


"Lihat apa?"


Mataku membulat sempurna mendengar suara bariton Mas Radit. Dia menemui ku di balkon lantai dua ini, tentu dia tahu akan menemukan aku dimana.


Aku berbalik, tersenyum sedikit padahal gugup.


"Kapan pulangnya?" tanyaku tak tahu malu. Heh, pasti gara-gara semalam otakku jadi tak beres.


"Cuma enam bulan kok, enggak lama." jawabnya menoleh ku yang menghindar.


Saling berdiam kemudian, canggung sekali keadaan kami saat ini.


"Maaf untuk yang semalam." ucapku pelan, aku memang salah sudah bersikap gila pada kakak ku, walaupun dalam keadaan tak sadar. Mas Ricko memang kurang ajar, tak bisa ku bayangkan jika aku semalam bersamanya, pastilah kami akan menghabiskan malam dengan bercinta.


"Lain kali kamu tidak boleh percaya pada sembarang orang seperti Ricko." dia terkekeh, mungkin agar aku tak merasa canggung.


"Hem... Susan boleh tanya sesuatu?" aku memberanikan diri menatap wajah ganteng Mas Radit, mungkin gara-gara tidur di peluk dia.


"Apa?" dia menatap wajahku dari samping, sengaja lebih dekat. Alamak...!


"Tadi pagi Susan dengar, Papa minta Mas Radit menikahi Susan?"


Dia menarik nafas. "Ya."

__ADS_1


"Apa yang di bilang Mas Ricko itu benar Mas?" kali ini kami berhadapan, aku benar-benar ingin jawaban.


"Ya."


Mulutku sampai terbuka mendengar jawaban singkat Mas Radit.


"Mas suka sama kamu sejak kamu masih belum tahu apa-apa, Papa juga tahu kalau Mas suka sama kamu lebih dari sekedar adik."


"Papa?"


"Ya, Papa juga Mama. Tapi kamu sudah memilih Ricko waktu itu. Mas patah hati. Dan sebagai sesama lelaki, tentu Ricko juga tahu perasaan Mas ke kamu, dia enggak bohong kalau soal itu." ungkap Mas Radit, sungguh aku tak menyangka.


"Tapi, sekarang sudah berbeda Mas." jawabku menunduk, tak mengelak aku juga nyaman bersama Mas Radit, bahkan sekarang ku sadari bahwa dia jauh lebih baik daripada Mas Ricko, jauh sekali.


"Apa yang berbeda? Kita masih Tinggal di rumah yang sama, juga perasaan ku yang sama. Bedanya sekarang Mas sudah kasih tahu kamu, walaupun Mas enggak tahu kamu bakal terima Mas atau malah menjauh." tersenyum tipis memamerkan bulu-bulu halus di sekitar bibirnya terlihat menggoda.


"Aku sudah pernah menikah, aku Janda!"


"Kalau cinta gak pandang gadis atau janda, yang penting mau apa enggak? Bagiku kamu masih sama, Susan yang manja, dikit-dikit merengek. Mas... bantuin Susan, sekali aja..." dia menggodaku, membuat aku tersipu malu. "Semalam juga begitu." bisiknya memegang tanganku.


"Aku malu Mas, jangan ngomongin itu..." aku merengek menutup wajahku membuat ia tertawa senang. Kami tak lagi canggung.


Senja sudah berlalu bersama gerimis, sungguh setelah seumur hidup aku begitu dekat dengannya, baru kali ini aku menyadari jika di hati Mas Radit ada cinta yang selalu menyala, dan aku akan membalasnya.


Suara mobil sudah siap di teras rumah, aku jadi semakin berat melepas kepergian Mas Radit.


"Enam bulan ya Dit?" ucap Papa kepada Mas Radit.


"Iya Pa, Radit usahakan cepat selesai dan segera pulang." jawab Mas Radit kepada Papa. Tak urung Papa dan Mama tersenyum senang. Membiarkan aku mengantar Mas Radit ke mobil.


"Masa Iddah kamu tiga bulan kan?" tanya Mas Radit pelan, ketika sudah di dekat mobil.


Aku mengangguk. "Kenapa?"


"Mas akan berusaha pulang sebelum enam bulan, lalu kita akan menikah."


"Menikah?" tanya ku pelan.


"Ya!"


Aku sedang berpikir apakah ini nyata? Aku, nikah sama kakak ku?


Cup.

__ADS_1


Mas Radit mengecup bibirku sekilas, basah dan hangat membuat ku ingin pingsan saja.


"Diam di rumah, enggak boleh macem-macem." pesannya menempel di telinga ku, salah besar aku mengira dia tidak normal. Dia tahu bagaimana memperlakukan wanita, jantungku sampai berolah raga karena ulahnya.


__ADS_2