
Sial! Begitulah kira-kira satu kata yang tepat untuk mengungkapkan nasibku setelah bercerai dengan Susan. Aku kehilangan pekerjaan beserta kehidupan yang dapat di katakan lumayan.
Sekarang aku tinggal di rumah Ibu, bukan tinggal tapi bisa di bilang menumpang. Miris bukan, aku saja yang merupakan anak Ibuku tidak betah apalagi Dila, kasihannya lagi dia sedang hamil tua. Setiap pulang kerja aku selalu disambut dengan irama pertengkaran dua mulut wanita yang sama pedasnya. Dila tak mau kalah, walaupun ibu lebih mendominan.
Soal uang? Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata bagaimana sulitnya keadaanku saat ini, aku harus menghidupi Dila dan juga Ibu yang selalu mempermasalahkan uang ketika akan memasak makanan. Dan terpaksa aku bekerja di sebuah pabrik sawit mengikuti kakak Iparku yang juga bekerja di sana.
Rasanya dunia sedang terbalik, aku harus menunggu 15 hari untuk menerima upah yang jumlahnya hanya cukup untuk ongkos dan membantu kebutuhan dapur di rumah Ibu. Dila sampai mengeluh karena pendapatan ku yang tak sesuai harapannya.
"Mas, cobalah mencari pekerjaan yang lain?" pinta Dila di malam aku pulang membawa uang Satu juta lima ratus ribu untuk kebutuhan dua Minggu, itu termasuk ongkos dan rokok.
"Aku sudah mencoba, tapi belum mendapatkan panggilan." ucapku menenangkan Dila.
Siang bekerja, malam juga harus mengimbangi sikap manja Dila. Mungkin karena usianya yang tergolong muda sehingga keinginan untuk bercinta dan dimanja sedikit berlebihan, berbeda dengan Susan yang jika dua kali bermain bisa tertidur nyenyak. Sungguh aku jadi kurus kering karena kehidupan baru ku ini.
Ya... harusnya ini bukan masalah, aku juga termasuk laki-laki yang hipers*ks sebenarnya. Tapi karena lelah otot dan pikiran membuat nafsuku menurun jauh dari biasanya.
"Ricko! Kamu sudah gajian kan? Mana uang untuk bayar listrik?" mengulurkan telapak tangan padaku, membuat nafasku berat. Padahal aku tahu uang warisan ayahku cukup banyak. Parahnya lagi mobil yang dulu di belikan ayah juga sudah di jual tanpa bicara padaku.
"Bu, Ricko ingin bicara." ucapku sudah tak sabar menghadapi Ibu.
"Bicara apa?" kesal ibu menarik tangannya yang tak mendapatkan uang listrik.
"Ibu tahu kan Ricko sedang kesulitan sekarang. Habis bercerai, masuk penjara, kehilangan pekerjaan dan istri Ricko sedang hamil besar. Ricko juga sedang tidak punya uang, uang segitu mana cukup untuk kebutuhan yang ibu tahu sendiri jaman sekarang semaunya mahal."
"Itu salahmu sendiri, sudah enak hidup sama Susan. Meskipun di kampung tapi masih punya harapan untuk mewarisi harta orangtuanya. Eh, kamu malah selingkuh sama istri kamu yang durhaka itu, bukan salah Ibu ya!"
"Bukan salah Ibu bagaimana? Bukannya kemarin waktu Susan keguguran ibu minta Ricko menceraikan Susan, Ibu benar-benar!"
"Ya, ibu memang bilang begitu. Tapi kalau mencari selingkuhan itu harusnya yang lebih baik dari Susan, bukan yang nyusahin begini!"
__ADS_1
"Ibu!"
"Udah ah, ibu pusing ngomong sama kamu." ibu mendengus kesal, meninggalkan aku yang semakin kacau saja. Tentu apa yang dikatakan Ibu benar, harusnya ku mencari wanita yang bisa mendukung kehidupan ku bukan malah seperti ini.
"Ricko, siang ini kita diminta berkumpul di aula depan, katanya bos besar mau datang berkunjung." begitu kata Kakak iparku Tejo. Aku mengangguk saja.
"Ternyata bukan hanya pegawai pabrik saja, bahkan petugas di perkebunan semuanya di minta untuk berkumpul, kata Mas Tejo akan ada pengumuman jika seperti ini.
Pemimpin pabrik tampak sibuk bersama beberapa orang penting pabrik sawit ini. Meja dan kursi sudah di tata rapi lengkap dengan makanan dan air mineral tersedia di depan sana.
Tak lama kemudian dua buah mobil mewah memasuki halaman gedung yang cukup luas ini, semua orang menatap kagum tak terkecuali aku, aku membayangkan jika itu adalah Susan, mantan istriku.
Aku berkhayal, tapi i bukan khanyalan ketika aku melihat kedua mobil itu di bukakan sopir mereka. Wanita dengan tubuh sempurna dan tentunya sangat ku kenal turun dengan anggunnya. Dia tersenyum tipis tapi sungguh manis, demi apa aku ingin memeluk Susan Pramudya ku.
Aku mendekat dengan terburu-buru, Tapi aku dihalangi beberapa orang yang juga ingin mendekati Susan. Aku mencoba menyingkirkan beberapa orang, mendorongnya sedikit agar memberi jalan.
Aku terkejut dengan suara yang membuat ambigu, aku berpikir seraya menoleh.
"Clara!" gumamku menatap wajah wanita yang sangat ku kenal.
Kami saling menatap sejenak membiarkan orang-orang berlalu, melewati kami sehingga akhirnya tinggallah aku dan Clara.
"Apa kabar?" tanya Clara pelan, dapat ku lihat, masih ada rindu di sorot matanya.
Aku tersenyum sedikit, ada rasa bersalah padanya. Masih ku ingat malam sebelum aku menikah bahkan kami masih satu ranjang hingga hampir subuh menjelang. Lalu bagaimana bisa dia bersama Susan?
"Mama...." suara anak kecil memanggilnya dari dalam mobil.
"Sayang." jawab Clara lalu menggendong anak kecil itu lalu menutup pintu mobilnya.
__ADS_1
"Mama?" tanyaku pelan, tak sadar aku bergumam menatap wajah anak perempuan itu.
"Iya." jawab Clara memandangi wajah anaknya. Aku semakin bingung, dengan pikiran menebak-nebak.
"Kok kamu ada di sini?" tanyaku.
"Aku pemilik pabrik ini." jawab Clara menatapku kembali.
Aku melirik pakaian yang dipakainya, jas Clara dan Susan sama. Atau mereka sedang bekerja sama? Jika Iya maka mereka berteman sekarang.
"Kamu bekerja di pabrik ini?" tanya Clara melihat baju ku sama dengan banyak orang lainnya.
"Iya." jawabku, aku gugup menatap anak perempuan di pelukannya juga menatap diriku. Belum lagi keadaan ku sekarang jauh dari kata layak untuk mendekati Susan ataupun Clara seperti dulu.
"Jika kamu tidak keberatan, aku sedang butuh Asisten sekaligus sekretaris di kantor pusat." ucapnya serius.
Entah apa maksudnya yang pasti dia tidak sedang mengejekku. Tapi tetap saja aku gugup, ragu juga malu.
"Ini, kau bisa menghubungiku nanti. Aku benar-benar butuh seseorang untuk membantu ku bekerja." Dia tersenyum, sambil memberikan kartu nama padaku.
Apa sebenarnya yang dia pikirkan, apa dia ingin kembali dekat denganku? Kalau iya, apakah aku harus menerimanya? Siapa anak kecil itu? Apakah Clara sudah menikah?
Jika benar dia sudah menikah, artinya dia hanya ingin membantu ku. Atau dia masih sering mengingat kenangan panas diantara kami?
Mungkin ini jalan keluar yang aku nantikan, selain ada Clara yang baik, ada Susan yang masih menghuni pikiranku. Jujur saja aku belum bisa melupakan mantan istriku itu.
"Aku pasti datang Clara." ucapku tersenyum tipis.
Dia berlalu bersama anaknya, sungguh kehidupan Clara juga tak kalah membuat aku penasaran. Melihat punggungnya berlalu, aku jadi teringat kenangan bersamanya dulu, dan berharap bisa mengulangi semua itu.
__ADS_1