
Hari sudah semakin sore tapi Mas Ricko tak kunjung pulang. Rasanya, sudah panjang leherku ini menoleh arah jalan pulang, lelah pun telingaku menangkap setiap deru kendaraan yang lewat ternyata bukan dan bukan lagi mobil Mas Ricko. Kemana kah suamiku itu?
"Pak Rickonya belum pulang juga?" tanya Mbak Tri, dia ikut gelisah melihat ku hampir setiap hari galau karena suamiku pulang terlambat, atau malah terkadang tak pulang dengan alasan pekerjaan.
Ya.
Aku merasa ini sudah tak beres, bukan karena cemburu buta tapi ini memang sudah di luar batas. Bekerja juga ada waktunya.
Satu lagi, tetangga sebelah juga ikut-ikutan sibuk. Aku jadi berpikir bahwa Mas Ricko jarang pulang itu ada hubungannya dengan Clara.
Hingga malam itu aku mendatangi kantor Mas Ricko, dan ternyata dia tidak ada di sana. Bahkan security di depan kantornya mengatakan bahwa semua karyawan sudah pulang sejak sore. Lalu, kemana Mas Ricko ku?
Malamnya, Mas Ricko pulang tengah malam dan dia langsung tidur, sepertinya sangat kelelahan. Aku tidak mungkin mengajaknya bicara atau malah dia akan semakin waspada.
"Aku harus berpura-pura polos saja, sampai semuanya jelas." Aku tertidur di samping Mas Ricko hingga pagi menjelang, walau pikiranku tidak mungkin tenang.
"Bi, bisakah Bibi mengasuh Reno untuk beberapa jam. Aku, ada keperluan di luar." Aku sudah tidak tahan dengan rasa penasaranku. Aku harus tahu apa yang terjadi di luar rumah, atau jangan-jangan aku sedang di tipu?
"Bisa, asal Asi-nya sudah siap." Mbak Tri mengambil Reno dari tanganku.
"Sudah Mbak, kalau seandainya kurang bisa di kasih susu formula saja." jawabku mengecup pipi Reno, dia sedang tidur. Ku harap anak ku tidak rewel nanti setelah aku pergi, mengikuti Mas Ricko sesuai rencana ku. Setelah dia pergi aku harus segera menyusulnya.
Beruntung aku, mobil Mas Ricko tidak terburu-buru sehingga aku bisa mengikutinya dengan taksi yang ku pesan sejak kemarin.
"Itu tetangganya Mbak?" tanya sopir taksi ku ini cukup kepo.
"Kok tetangga Mas, itu suamiku." ucapku, sewot.
"Lho, bukannya tadi saya lihat dia..." sopir itu melirik aku dari kaca spion, lalu kembali fokus ke depan.
Aku jadi berpikir kalau tadi Mas Ricko berhenti dulu di rumah Clara, atau jangan-jangan di dalam mobil itu ada Clara? "Bisa lebih dekat Pak?" pintaku.
"Kalo lebih dekat bukan mengikuti, tapi barengan Mbak." sopir itu menyahut, aku jengkel.
"Maksudnya agar aku tahu di dalamnya itu ada siapa aja!" kesal ku, tadi memang aku tidak sempat melihat Mas Ricko berhenti di rumah sebelah. Ketika aku keluar, mobil Mas Ricko sudah pergi menghilang di ujung tikungan.
__ADS_1
"Kan tadi sudah saya bilang, tetangganya Mbak sama anaknya!"
"Apa?" Aku memelototi sopir tersebut.
"Iya! Makanya saya tanya, itu tetangganya Mbak?" ulang sopir itu lagi.
Aku memilih diam, masak iya aku juga harus mengulang jawaban yang sama bahwa di dalam mobil itu adalah suamiku! Sopir taksinya sedikit saraf.
"Tuh, mobilnya melambat, kayanya mereka sudah sampai." sambung sopir taksi ku kembali bersuara, meskipun menyebalkan tapi lumayan, dia ikut bersemangat dengan aksiku mengikuti Mas Ricko.
Benar saja mereka berhenti, tapi bukan di kantor melainkan di sebuah rumah mewah.
"Rumah siapa?" gumamku mendongak rumah bertingkat itu. Lagipula ini hari kerja, mengapa Mas Ricko malah pergi ke rumah orang, bukan ke kantor?
Mas Ricko keluar dari mobilnya. Ku lihat dia juga terburu-buru membukakan pintu untuk seseorang.
Ya, seseorang itu adalah Clara. Tak lupa kemudian Mas Ricko mengendong anak kecil yang sangat ku kenal. Mereka masuk ke rumah besar itu seperti keluarga yang utuh.
"Mas Ricko." lirihku, aku benar-benar kecewa.
"Pak, Pak!" panggilku berharap tangan kokoh security itu berhenti merapatkan pintu pagarnya tapi percuma.
"Ada apa yang Mbak?" tanya pak tua itu menatap ku penuh selidik.
"Itu... tadi Mbak Clara."
"Ya, Non Clara sama suaminya. Ada apa ya Mbak?" tanya pria itu.
"Su...suami Pak?" tanya ku tak percaya, bibirku bergetar pun dengan lakiku, lemas seperti kehilangan tulangku untuk bertumpu.
"Iya! Mbak ini siapa dan ada perlu apa dengan Non Clara? Perasaan baru lihat?" laki-laki itu menatap aku dari atas ke bawah berulang-ulang.
"Aku..." ucapku seperti kehilangan akal sehat ku, aku bingung menatap sekelilingku, aku juga tidak tahu harus berkata apa. Kepalaku penuh dan kacau, ada Reno, ada Mas Ricko, Clara dan anaknya berputar-putar.
"Mbak!" panggil sopir taksi ku, dia menjulurkan kepalanya seraya berteriak.
__ADS_1
"Hah!" aku semakin linglung. Aku kembali menoleh rumah besar itu. Hatiku sakit, dadaku sesak, aku harus apa sekarang? Aku tidak tahu.
"Mbak, ponselnya bunyi." Sopirku kembali memanggil.
"Ponsel Pak?" aku meraba saku celana panjang yang ku pakai, tak menemukan ponselku. Entah apa yang terjadi padaku sehingga otakku tak bisa bekerja dengan normal. Terlebih lagi saat bayangan Mas Ricko melintas di kepalaku. Aku ingin menangis.
"Mbak, anaknya nangis katanya." ucap Sopir itu lagi, lancang dia mengangkat panggilan di ponselku. Tapi menyadarkan aku bahkan ada Reno yang sedang membutuhkan aku.
"Ya Pak, kita pulang." ucapku kemudian. Pelan aku melangkah memasuki mobil taksi yang ku boking hari ini.
Lambat mobil taksi ku berputar arah, masih dapat ku lihat dari spion kanan mobil taksi, Mas Ricko dan Clara keluar bertiga dengan Richa, pakaian mereka sama, bagus dan mahal. Sepertinya mereka akan pergi ke suatu acara penting. Sungguh di mataku Mas Ricko ganteng sekali.
Tak terasa akhirnya air mataku menetes, bahkan turun deras menyaksikan suamiku malah sedang bersenang-senang dengan orang lain seperti keluarga, atau benar kata security itu mereka sudah menikah? Sulit ku percaya walaupun hati kecilku berkata bahwa iya, mereka sudah menikah.
"Tega kamu Mas, padahal aku baru saja melahirkan anak mu, anak kita. Tapi ternyata kamu malah mengkhianati aku dengan wanita lain, dengan anak wanita itu pula. Apakah Reno tidak penting bagimu?" gumamku sambil terisak pilu, mengelus dadaku.
Pukul 08:30 pagi ini, langit begitu cerah tapi aku malah merasa gelap.
Aku menangis sambil tersenyum getir, bahkan di khianati itu sakitnya tak tertandingi. Terlebih lagi sudah ada Reno diantara kami.
Aku meraih ponselku untuk mencoba menghubungi Mas Ricko. Telat memang, harusnya aku menghubunginya tadi, ketika masih di depan rumah besar itu. Tapi tak apa, aku mau tahu apa jawabannya.
Aku sudah menekan nomor Mas Ricko beberapa kali, hingga akhirnya diangkat juga.
"Halo Mas." aku berbicara seolah semuanya baik-baik saja.
"Ya Dila. Ada apa?" begitu jawaban Mas Ricko seolah ingin panggilan dariku ini berakhir cepat.
"Enggak Mas, cuma mau tahu aja Mas udah sampai di kantor apa belum?" tanyaku berusaha tenang.
"Oh, udah. Tapi lagi keluar, sedang ada rapat bersama rekan kerja. Ya sudah nanti Mas telepon lagi."
Tut....Tut...
"Rekan kerja?" Aku tersenyum kecut, juga menangisi kebodohan ku.
__ADS_1