Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Dua Istri


__ADS_3

"Dila." sapa Clara tersenyum tipis, matanya menatap wajah ibu muda yang menggendong anak itu, tentu dia heran mengapa Dila ikut.


"Hem, aku juga ikut." jawab Dila tahu maksud tatapan Clara padanya.


"Ya, tapi kamu enggak di undang." jawab Clara tersenyum tapi merendahkan.


"Benar, tapi aku tidak sedang ingin hadir dalam acara yang tidak penting kalian. Aku hanya ingin pulang ke kampung dimana Mas Ricko akhirnya menikahi aku." jawab Dila membuat wajah Clara memerah, marah.


"Ayo masuk." Ricko meraih bahu Dila, masuk ke dalam mobil.


"Papa!" teriak Richa seolah tak boleh Dila duduk di depan.


"Ya." Ricko menoleh.


"Biarkan Richa yang di depan Sayang, lagipula dia sudah terbiasa duduk di sampingmu." ucap Clara sengaja, melirik Dila.


Dila mencebikkan bibirnya, menatap Ricko. Dia berharap Ricko tidak menuruti maunya Clara.


"Begini Sayang, kalian duduk di belakang saja. Aku takut nanti di jalan Richa akan mengantuk, perjalanan sangat jauh." Ricko membukakan pintu untuk Dila, di belakang. Lalu Clara dan Richa.


"Ini sempit Ricko." kesal Clara.


"Tidak juga, Richa bisa berada di tengah." Ricko menutup pintu dan mulai menyalakan mesinnya tanpa peduli ekspresi kedua istrinya di belakang.


Mobil mulai melaju, tak ada yang berbicara apalagi tertawa, semua orang diam hanya sesekali rengekkan Reno yang terdengar.


"Kenapa Sayang?" tanya Ricko menatap Dila dari kaca spion depan.


"Dia lapar Mas." jawab Dila pelan, sengaja agar tetangga sebelah panas.


Benar saja, dia mencebik tak suka.


"Mau istirahat?" tawar Ricko melirik kedua orang wanita dewasa itu, sementara Richa sudah tertidur sejak setengah jam lalu.


"Tidak perlu, aku ingin kita segera sampai." sahut Clara, tak peduli Dila yang sebaliknya menginginkan istirahat.


"Tapi Mas." protes Dila, memohon sedikit.


"Baiklah, kita istirahat sebentar." Ricko mencari tempat istirahat, kedai makanan di pinggir jalan.


"Bukannya kita harus cepat? Acaranya akan di mulai." Clara protes.


"Sebentar saja, kasihan Dila. Aku ke belakang sebentar." Ricko meninggalkan kedua wanita yang menuju tempat duduk di kedai sederhana tersebut.


"Manja." kesal Clara sambil menggendong Richa.


"Memang aku manja, kamu baru tahu?" balas Dila duduk menyusui Reno.


"Harusnya gak usah manja, karena sekarang Ricko sudah menikahi aku. Artinya dia tidak secinta itu sama kamu." ucap Clara dingin.

__ADS_1


"Kata siapa? Kalian menikah itu hanya demi anakmu. Sedangkan aku adalah istri kesayangannya. Kamu pikir Ricko akan menomor satukan kamu? Jangan mimpi!" bisik Dila tak kalah dingin.


"Kamu!" Clara geram, menatap nanar dan mengepalkan tangannya.


"Susan aja kalah sama aku! Uang dari Susan aja semuanya untuk membeli rumah untuk kami berdua. Sedangkan kamu hanyalah di jadikan sumber duit sama Mas Ricko." ucap Dila semakin membuat Clara mengeratkan Giginya.


"Nyatanya Ricko sudah menduakan kamu, aku istrinya." Clara masih mencoba tenang.


"Hem, aku istri kesayangannya. Paling muda dan paling bisa mengimbangi Mas Ricko di atas ranjang." sinis Dila, merasa menang.


"Kau tidak lihat Richa, dia adalah buah permainan panas kami jauh sebelum kamu dan Susan ada. Jadi, jangan sok paling tahu tentang Ricko. Karena dia tidak akan bisa jauh dariku." Clara balas tersenyum menang.


"Kalian ngomongin apa?" tanya Ricko baru saja kembali.


"Enggak ada Mas." jawab Dila.


"Baiklah, kita lanjutkan perjalanan, sebentar lagi sampai."


Hening hingga satu setengah jam kemudian, mobil mereka berbelok masuk ke sebuah gang yang tak asing bagi Ricko dan Dila.


"Kita di sini Mas? Rumah ini sudah bukan punya kamu?" tanya Dila mendongak rumah yang dulu pernah ia impikan saat menjadi selingkuhan Ricko.


"Ya, Kiki sudah meminjam sementara rumah ini untuk keluarga." jawab Ricko berdiri menatap bekas rumahnya.


"Sayang, bisa tolong menggendong Richa?" Clara menyerahkan anak kecil yang baru saja membuka mata itu kepada Ricko.


"Ayo masuk." ajak Ricko melangkah, sejenak ia melirik dua mobil pihak keluarga Kiki sudah terparkir di depan pagar rumah tersebut. Salah satunya dia kenal, mobil Radit suami Susan. Membuat Ricko berpikir apakah Susan juga ada di dalam?


"Lho, aku masuk ke kamar mana?" tanya Clara, di melihat kamar depan lantai dua itu sudah ada yang menempati.


"Kamar bawah sana ya, ada satu lagi. Cukup nyaman buat kamu sama Richa." ucap Ricko membujuk Clara.


"Kenapa enggak dia aja yang di bawah?" tunjuk Clara kepada Dila yang masih berdiri di ambang pintu mengambil tas pakaiannya.


"Kamu bisa mengalah Clara, lagipula kita di sini hanya sebentar. Lebih baik bersiap acaranya sudah di mulai." ucap Ricko.


"Enggak, aku mau di kamar ini. sebaiknya kamu segera pindah." Clara menarik Dila keluar.


"Apa sih kamu, ini kamar aku." kesal Dila.


"Ini rumah yang sudah di sediakan buat keluarga, bukan buat kamu!" marah Clara kali ini.


"Eh, Reno di dalam. Aku enggak mau pindah." Dila kembali masuk, walaupun kembali di hadang Clara, mendorong Dila agar menjauh.


"Sialan." Dila balas mendorong dan akhirnya pertengkaran antara istri muda dan istri tua itu tak bisa di hindari.


Berteriak, mengumpat, saling memukul dan tarik-tarikan.


"Stop!" teriak Ricko melerai dengan satu tangan, sebelahnya menahan tubuh Richa dalam pelukannya.

__ADS_1


"Dia yang mulai!" teriak Clara tak mau berhenti menyerang Dila, Begitu pula sebaliknya.


"Berhenti, kalian ini sudah dewasa jangan seperti anak kecil!" marah Ricko, melihat kedua wanita itu kacau karena saling menyerang.


"Apa-apaan ini?" suara Radit terdengar keras, membuat dua wanita itu berhenti.


"Clara, lu itu pemimpin di sebuah perusahaan, kok bisa kelakuan Lu kayak begini?" marah Dedi yang sudah siap pergi bersama Radit.


Clara cepat-cepat merapikan rambutnya.


"Aku tidak mau rumah istriku kacau dan menjadi arena pertengkaran. Lebih baik lu bawa mereka keluar!" ucap Radit kepada Ricko, menatap tajam Dila dan Clara bergantian.


"Gue tahu." jawab Ricko.


"Mas!" panggil Dila, tidak mau jauh dari Ricko pastinya.


"Sebaiknya kamu tinggal di rumah Mbak Tami, toh dia adalah keluarga kamu." ucap Ricko meraih tas pakaian Dila.


"Kamu juga Mas, lagipula ini rumah milik Tante Susan." jawab Dila, tentu maksudnya dia ingin bersama Ricko ke rumah Tami.


"Ya, tapi kami akan pergi ke acara ngunduh mantu di rumah Andi. Kamu duluan saja." Ricko masuk ke dalam kamar mengambil Reno yang baru saja istirahat di kasur empuk.


"Nanti Mas menyusul?" tanya Dila menatap Ricko.


"Ya." Ricko memberikan Reno kepada Dila. membawakan tas pakaiannya hingga ke rumah Tami.


"Tante!" panggil Dila. Hingga terdengar jawaban dari dalam.


"Ya udah, aku harus bersiap." Ricko meletakkan tas pakaian Dila.


"Gak masuk dulu Mas?" tanya Dila.


"Ini hampir telat sayang." jawab Ricko kemudian segera ke rumah sebelah.


"Cari siapa ya?"


Suara seorang perempuan itu membuat Dila menoleh cepat dari menatap punggung Ricko.


"Lho, inikan rumah Tante saya, rumah Om Heru." ucap Dila heran, wanita yang membuka pintu itu seperti tak asing, dan perutnya besar, sedang hamil.


"Kamu siapanya?" tanya wanita itu lagi.


"Saya keponakannya Om Heru!" kesal Dila kok malah kebalik, dia yang di tanya-tanya.


"Oh, Mas Heru lagi bekerja." jawabnya membuat Dila tercengang.


"Mas Heru?" tanya Dila.


"Iya, saya istri Mas Heru."

__ADS_1


"What!" menatap wanita yang tersenyum itu.


__ADS_2