Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
POV Ricko, Lagi-lagi Radit


__ADS_3

Aku persiapkan segalanya malam ini, sengaja aku berdandan rapi dan wangi agar Susan sedikit terpesona dan bisa kembali mengingat masa-masa kami bersama. Tentu perasan sama saja, baik laki-laki ataupun wanita tak akan mudah melupakan kenangan hidup bersama selama dua tahun. Aku yakin sekali dia masih mengingat itu.


Kami berjanji temu di sebuah Cafe. Tadinya dia ingin mengajakku bertemu di cafe milik ayahnya. Tentu aku tidak mau karena aku ingin leluasa bertemu dengannya, tanpa ada orang mengawasinya.


"San!" sapa ku melambaikan tangan, dia mendekati mejaku.


"Kok disini Mas?" tanya Susan tak suka dengan meja paling belakang.


"Tidak apa-apa, kita akan bicara serius bukan?" aku meyakinkan Susan.


"Langsung saja Mas, aku tidak bisa lama-lama." dia duduk tapi tak mau menatap wajahku.


"Oke, sambil minum." jawabku kemudian memesan minuman kesukaan Susan.


"Sesuai keputusan pengadilan Mas, rumah kita bagi dua. Soal bengkel aku tidak mau berbagi karena itu adalah milikku. Lagipula kamu sudah puas menikmati uangnya." ucap Susan, menghindari mataku.


"Kita jual harga berapa?" tanyaku pelan.


"Empat ratus juta atau lima ratus, biar cepat." sahutnya tegas.


Aku menarik nafas mendengarnya. Aku juga sedih rumah itu harus di jual. "Apa tidak bisa memberikan aku kesempatan satu kali lagi San? Demi cinta kita yang sudah berjuang dari awal, susah senang kita jalani berdua. Bisakah kamu mengerti bahwa aku khilaf." bujuk ku penuh harap.


"Mas, kita hanya membahas penjualan rumah." dia kesal.


"Ya, maaf." ucapku kemudian kami minum jus bersama.


"Kalau sudah ada pembeli cepat hubungi aku." pesannya, dia meraih tas dan akan segera pergi.


"San!" panggilku lagi.


"Ada apa lagi Mas?" tanya Susan tidak terlihat ramah, sungguh jauh sekali dengan ketik kami bersama. Dia selalu manja dan hangat.


"Aku masih sangat mencintai kamu. Aku menyesal sudah mengkhianati pernikahan kita. Andaikan ada yang bisa ku lakukan untuk menebus kesalahanku. Aku tidak pernah menginginkan kita bercerai."


"Tapi kita sudah bercerai Mas. Dan kamu harus terima itu."


"Radit yang membuat kita bercerai, harusnya ada mediasi untuk kita berdua sebelum pengadilan memutuskan."


"Bukan Mas Radit yang membuat kita bercerai, tapi dirimu sendiri. Andaikan tidak ada Dila diantara kita maka tidak akan ada perpisahan yang menyakiti aku dan orang tuaku. Asal kamu tahu Mas, hari itu aku pulang dengan harapan bisa membawamu pulang ke rumahku, kepulangan Mas Radit juga akan membuat Papa bersedia menerima dirimu. Sayangnya kau malah membawa Dila pulang ke rumah kita."

__ADS_1


"San aku bisa perbaiki semuanya!"


"Tidak Mas, sudah tidak bisa di perbaiki lagi."


"San!"


Dia pergi dengan perasanku semakin kacau, aku sedang menyesali kelakuanku yang membuat Susan sakit hati. Andaikan aku tidak berselingkuh, tentu sekarang ini aku sedang bersenang-senang di rumah besar Susan sebagai menantu dan pewaris banyak harta Subroto.


Arghhhh.... aku mengusap kasar rambutku.


Tapi tidak!


Susan berhenti di antara meja kosong di depanku, tangannya mencengkram meja sangat kuat. Dia memijat kepalanya, meraba-raba mencari pegangan di belakangnya.


"Kamu kenapa San?" tanyaku mendekati Susan, membantunya berdiri.


"Kepala ku pusing." ungkapnya, dia memegangi sebelah kepalanya.


"Mas antar ya." ucapku menawarkan bantuan.


"Enggak Mas, enggak usah." dia menepis tanganku.


Aku merangkul menuju mobilnya, kemudian melajukan mobil menuju suatu tempat tak jauh dari cafe tersebut. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Susan lagi. Setelah ini dia tidak akan menghindari aku, malah akan memintaku untuk kembali.


"Mas, antar aku pulang." pintanya, dia sadar kalau mobil ini melaju bukan ke arah jalan pulang melainkan ke sebuah hotel.


"Kamu butuh tempat untuk istirahat." jawabku tenang, terus menyetir.


"Aku mau pulang Mas!" teriaknya ketika mobil sudah terparkir di sebuah hotel.


Aku menggendong tubuh Susan dengan sedikit kesulitan, bercerai tak membuatnya kurus, tubuhnya masih saja menggiurkan.


"Mbak, tolong satu kamar. Sekalian minta tolong di bukakan, istri saya sedang pusing." pintaku kepada resepsionis hotel.


Aku mengikuti resepsionis itu ke sebuah kamar, ku lihat wajah Susan sudah memerah menyandar di dadaku. Obat yang ku berikan sudah bereaksi.


"Jangan di buka Mbak, dia bukan istrinya."


Sial, mengapa harus ada dia di saat seperti ini. Aku mengumpat tanpa menoleh.

__ADS_1


Ku turunkan Susan menyandar di pintu, ku rasa aku tidak bisa menyerahkan Susan begitu saja. Dan aku kembali berpikir, ketika berbalik dan dua orang menyeramkan sudah siap menghajar ku.


"Mau apa?" tanya ku tersenyum mengejek.


"Seret dia?" perintah Radit kepada dua laki-laki itu, aku melawan.


"San." panggil Radit mendekati Susan dan memeluknya, menahan tubuh mantan istriku yang terhuyung.


"Mas, Susan mau pulang." ucapnya bergetar. Sial sekali ketika reaksi obatnya sempurna malah Susan harus jatuh ke dalam pelukan Radit. Dapat ku lihat tangan Susan melingkar di leher Radit.


"Iya, kita pulang." ucap Radit menggendong Susan.


"Lu ga boleh bawa dia, kami sudah sepakat untuk baikan!" kesal ku kepada laki-laki saingan ku itu. Dan dua bogem mentah mendarat di pipi dan perutku.


"Heh! Sekalinya ba-jingan tetep aja ba-jingan. Jangan bermimpi untuk mendapatkan adik gue lagi." kesal Radit padaku.


"Hahah! Adik? Adik yang Lu harap buat jadi istri! Munafik!" teriakku yang ku yakin Susan masih bisa mendengarnya.


"Diem lu." marah Radit meminta dua orang suruhannya menyeret ku ke mobil.


"Lu yang mimpi! Di pelihara malah ingin berkuasa! Anak pungut yang berasal dari sampah mau mendapatkan Susan, dia itu istri gue, milik gue, dia datang karena masih kangen sama gue, ingin tidur sama gue." teriakku, aku ingin Radit menjadi emosi. Tapi malah dia mendekatiku.


"Bagaimana kalau malam ini dia tidur sama gue?" bisik Radit sambil menggendong Susan yang sudah seperti orang mabuk.


"Sialan!" kesal ku tak bisa berbuat apa-apa karena dua orang suruhannya menahan tanganku.


"Mas, tolongin Susan, cepet Mas..." rengek Susan mulai tak karuan dalam pelukan Radit.


"Brengsek Lu!" teriakku mengundang kerumunan orang-orang di koridor hotel tersebut.


Radit tersenyum menang membawa Susan menuju mobilnya. Dan yang lebih menjengkelkan, aku juga di paksa ikut masuk ke mobil mereka dengan tangan terikat. Aku takut dilaporkan ke polisi. "Mau ngapain gue di bawa-bawa?" tanya ku.


"Duduk diam, kalo enggak mau gue lempar di jembatan." marah seorang bodyguard yang menahan ku di belakang. Di kursi tengah-tengah ada Radit dan Susan yang sudah menggeliat-geliat ingin di sentuh. Membuat panas hatiku.


"Mas, tolong." rengeknya, sengaja Radit menahan tangan Susan dan memeluknya. Membiarkan wanita ku bergerak agresif memeluk bahkan mendongak minta di cium.


"Turunin gue." pintaku sudah tidak tahan lagi.


"Sebentar lagi kita sampai." ucap Radit sengaja menyibak rambut Susan, memanas-manasi aku.

__ADS_1


__ADS_2