
"San!"
Mas Radit mengejarku juga Mas Ricko, aku berjalan cepat melewati mobilku.
"Mau kemana?" cegah Mas Radit meraih tangan ku.
"Mau ke rumah pak RT, dia enggak bisa di biarkan tinggal di rumah ini, mengotori rumahku dengan wanita murahan itu Mas!" tunjuk ku ke pintu rumah Mbak Tami.
"Udah, Pak RT udah ingetin mereka."
"Nyatanya yang mereka masih di sini!"
"San!" panggil Mas Ricko kesal.
"Sebentar lagi akan ada yang ngusir dia kok." ucap Mas Radit sinis, tentu Mas Ricko meradang dengan ungkapan kakak ku tersebut.
"Ini rumah gue! Lu enggak punya hak di sini." marah Mas Ricko.
"Kata siapa? Bukti transferan dari rekening Susan ada kok sama gue, Bayarnya pake duit dia kan?" Mas Radit tersenyum menang.
"Sertifikatnya atas nama gue!" marah Mas Ricko lagi.
Sebelum jotos-jotosan terulang, kedua orang yang saling menantang itu diam setelah sebuah mobil berhenti di depan mereka.
Dua orang memakai kemeja putih keluar dengan sedikit tegang, salah satunya menempel tulisan di pagar rumahku. "RUMAH INI DALAM SENGKETA"
What! Jarang aku melihat tulisan demikian. "Pak! Kenapa rumah saya_"
Mereka juga memasang rantai di pagar, juga gembok sangat besar.
"Pak! Ini rumah saya." Mas Ricko kelabakan dengan kedatangan dua orang tersebut.
"Rumah ini sedang dalam proses sidang, terhitung dalam harta gono-gini yang akan di pertimbangkan keputusannya." jelas seorang laki-laki berkemeja itu.
"Apa Pak? Gono-gini?" Mas Ricko mengusap kasar wajahnya, juga aku tak kalah terkejut.
"Ya, siapapun tidak boleh tinggal di rumah ini sampai proses sidang perceraian saudara Ricko dan Nyonya Susan Pramudya Subroto selesai."
"Pak, tapi saya tinggal di sini dan tidak punya tempat tinggal lain selain di sini."
"Kalau begitu anda harus segera pindah dari sini, kami beri waktu tiga puluh menit untuk berkemas." jawab kedua orang itu tegas.
Hah! Dalam hati aku sungguh senang dengan keputusan pengadilan tentang rumahku ini. Walaupun aku masih sedikit kasihan dengan Mas Ricko.
"San, ku mohon jangan seperti ini, kamu tidak kasihan sama aku? Aku mau tidur di mana?" Mas Ricko memelas.
"Maaf Mas, kamu... bisa tinggal di kos-kosan Dila." jawabku tak peduli, senang melihat wajahnya sangat menyedihkan.
"Terimakasih Pak." Mas Ricko berjabat tangan dengan kedua orang itu, aku baru paham sekarang, Mas Radit sudah mengurus semuanya dengan baik, sempurna malah! Aku tersenyum dalam hati.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara elu!" kesal Mas Ricko kepada Mas Radit. Hanya di balas senyum tipis.
"Ayo Mas." ajak ku semangat, aku masuk mobil lebih dulu. Sebelumnya aku melirik rumah Mbak Tami. Mereka pasti masih ada di dalam, dapat dipastikan sebentar lagi mereka akan keluar dan heboh!
"Kita pulang?" tanya Mas Radit padaku.
"Pulang Mas, kita sudah selesai."
Mobil melaju meninggalkan Mas Ricko yang kebingungan. Biarlah dia tinggal di kos-kosan asal tidak di rumahku.
Kami berhenti sejenak di depan sekolah SMA Mas Ricko, sengaja makan dan beristirahat sejenak untuk bertemu Cindy.
Aku baru sadar kalau Mas Ricko dan Dila sedang bolos. Ternyata kasus perselingkuhannya sudah menyebar sampai ke telinga kepala sekolah dan mereka berdua sedang di hukum, tidak boleh datang sebelum kasus mereka selesai, juga terancam untuk pindah ke daerah lebih pelosok dari kecamatan kota tempat tinggal kami sekarang.
"Mas urus semuanya?" tanyaku memulai obrolan di dalam mobil yang sedang melaju.
"Ya, agar kamu tidak punya kesempatan untuk balikan lagi sama Ricko." dia terkekeh, tapi serius.
"Makasih ya Mas, udah capek-capek bolak-balik kampung yang jauh banget ini. Papa pasti maksa Mas buat ngurus semuanya secepat ini."
"Ya, memang Papa yang minta, tapi Mas juga pinginnya ini cepat selesai. Biar kamu enggak nangis-nangis lagi."
Kami tersenyum, sejenak diam dengan pikiran masing-masing.
"Kemarin Mas lihat si Andi ke kota lho, kayanya ketemu sama Kiki."
"Hah! Andi Mas?" aku tak menyangka. Mas Radit mengangguk.
"Iya kali." jawab ku tertawa. "Kenapa emangnya? Jangan bilang Mas suka sama Kiki?"
Mas Radit tertawa, mencurigakan. Jangan-jangan ada udang di balik bakwan, juga ada kol sama wortel dan toge. Kenapa enggak bilang, orang Kiki juga sempat suka sama Mas Radit.
"Mas punya pacar enggak sih?" tanya ku iseng, penasaran juga sih.
"Emmm, enggak." jawabnya santai.
"Kok enggak, mas udah tua lho, udah tiga puluhan lewat ini."
"Ya, nanti." jawabnya santai.
"Kok nanti. Sekarang dong Mas, aku juga mau lihat seperti apa kakak Iparku nanti." membuat Mas Radit menoleh ku.
"Kamu maunya seperti apa?"
"Ya enggak seperti apa Mas, Gimana Mas jatuh cintanya aja. Hem, mas pernah jatuh cinta ga sih?"
"Pernah."
Aku sedikit melongo. "Siapa?"
__ADS_1
Dia tersenyum, menolehku dengan menggeleng kepala.
"Terus Mas enggak tembak dia, enggak pacaran?" aku penasaran.
"Enggak, Papa bilang enggak boleh pacaran."
"What? Papa melarang Mas Radit pacaran, terus Mas Radit nurut aja?"
Mas Radit mengangguk. Aku memicingkan mata, curiga.
"Mas Normal kan?"
Mas Radit menepi mendadak, mungkin mendengar pertanyaan ku.
"Kamu mikir apa, Hem?" kami saling menatap curiga.
"Mas sama Papa gak lagi aneh-aneh kan?" ungkap ku takut, aku curiga karena Papa begitu menyayangi Mas Radit, juga sebaliknya Mas Radit sangat nurut sama Papa. Jangan-jangan?
"Maksud kamu? Mas sama Papa pacaran gitu? Menyimpang?" ucapnya semakin mendekati wajahku.
"I...Iya." aku gugup, menelan ludahku. Aku tersudut di jok yang ku sandari.
Mas Radit terkekeh geli, dia tertawa sambil memandangi wajahku yang mungkin, pucat.
"Sejak kapan kepala ini isinya negatif dan menduga-duga?" dia menunjuk keningku.
"Ya aku curiga dong Mas, masa di usia begini Mas Enggak pacaran? Bukannya laki-laki itu butuh seseorang untuk menyalurkan perasaannya? Lagian Mas terlalu nurut sama Papa!"
"Terus kalo bukan nurut sama Papa dan Mama, lalu siapa lagi?" jawabnya dan itu benar.
"Ya..."
"Kamu?" dia menatap ku.
Aku terdiam, memandangi wajah Mas Radit dari dekat.
"Kalau kamu udah bahagia, Mas juga akan menikah kok! Mas maunya kamu menikah dengan laki-laki yang benar menyayangi kamu, menjaga kamu, bukan untuk uangnya Papa. Baru setelah itu Mas menikah, kamu boleh carikan perempuan mana saja yang menurut kamu baik. Mas enggak keberatan."
"Kok malah gitu jawabannya." aku menggerutu membenarkan posisi duduk ku.
"Ya begitu, karena Ricko enggak bisa di percaya. Dan Mas masih harus membereskan masalah kamu." jawabnya serius.
"Jadi aku penghalangnya?" tanya ku pelan.
Mas Radit menarik nafas berat. "Ya."
Aku menunduk, merasa sudah merepotkan semua orang. "Maaf ya Mas."
"Maaf buat apa?"
__ADS_1
"Buat merepotkan Mas Radit."