
"Anakku?"
"Ya, dia anakmu." tunjuk Clara di kepala Richa. Dia tampak begitu marah, tangannya bergetar, dia menangis.
Anak! lirihku di dalam hati, sungguh bibirku tidak bisa berucap apa-apa lagi. Aku menatap Richa yang masih sesenggukan di pangkuan Clara.
"Ma...ma..a.a." tangisnya tersedu-sedu, ia kesulitan berhenti.
Ya Tuhan...
Mengapa aku tidak sadar kalau dia mirip denganku. Mengapa aku tidak berpikir jika usia Richa?
Artinya Clara sedang mengandung ketika aku menikah dengan Susan. Dan masih ku ingat malam itu Clara begitu manja, tidak mau melepaskan ku hingga subuh menjelang, akhirnya aku pergi ke pernikahan ku dengan mengantuk. Ternyata... dia...
"Aku menjalani semuanya sendirian Ricko. Aku kesulitan juga tertekan, aku merindukanmu, butuh dirimu." tangisnya memeluk Richa erat.
"Mama..." Richa menangis lagi.
"Aku hanya bisa menangis sedangkan kau berbahagia bersama Susan, sungguh aku menderita karena mu!"
"Maafkan aku Clara, aku tidak tahu kau sedang mengandung. Aku benar-benar tidak tahu." Aku duduk berlutut, meraih tangan Clara juga Richa. Demi Tuhan aku menyesal.
"Kamu jahat Ricko." dia terkekeh pilu, dapat ku bayangkan betapa sesak dadanya.
"Maaf." ucapku menggenggam erat tangan keduanya. Ku biarkan wanita yang menjadi teman ranjang ku itu menangis, sesekali dia memukul bahu ku, pada akhirnya aku memeluk kedua wanita yang sedang bersedih karena ulahku.
"Kamu jahat." bisiknya lelah.
"Ya, aku memang jahat Clara. Maafkan aku. Maaf kan Papa Nak."
Aku menangis.
Maafkan aku Clara." ulangku lagi. Aku menggendong Richa dan memeluknya.
"Aku hanya ingin Richa tahu kalau dia punya ayah." ucap Clara masih sesenggukan.
Aku terdiam, tiba-tiba aku tersadar bahwa aku juga punya istri dan calon anakku. Benar bahwa Richa butuh pengakuan, Richa harus punya ayah. Tapi bagaimana dengan Dila?
"Dia butuh Papa." ucap Clara lagi.
"Ya." jawabku singkat. Ku tatap mata bening Clara, benar aku sangat yakin dia anakku.
Kami saling pandang, sumpah keadaan ku semakin rumit melihat wajah imut anak berusia dua tahun ini.
"Tapi aku juga punya Dila, kami akan punya anak." ungkap ku pelan. Hatiku juga sedih dengan keadaan ini, tapi Richa tak mungkin ku tolak.
__ADS_1
"Richa juga anak mu Ricko, dia sudah menderita cukup lama!"
"Ya, tapi untuk sekarang aku belum siap memberi tahu Dila!"
"Ricko_"
"Aku tidak akan meninggalkan tanggung jawabku pada Richa. Aku tidak akan mengabaikan anakku." tegas ku, sejenak Clara berpikir.
"Aku mau Richa memiliki keluarga yang lengkap, aku dan dirimu." ucap Clara membuatku tercengang. Apa maksudnya?
"Ma... maksudmu?"
"Nikahi aku!"
"Apa?"
"Aku mau kita menikah! Aku tidak mau mengalah lagi kepada perempuan manapun. Aku dan Richa sudah cukup menderita karena kau memilih Susan, dan Papa melarang aku untuk mengatakan kehamilanku dengan alasan tidak boleh mengganggu kebahagiaan Susan, Papa memiliki hutang Budi pada ayahnya. Tapi sekarang semuanya sudah selesai, aku mau kau menikahi aku secepatnya, demi anakmu Ricko, anak kita."
Tak segera ku iyakan permintaan Clara, mana mungkin aku menikahinya sedangkan aku dan Dila baru saja sepakat untuk memulai hidup baru.
Tapi jika tidak ku turuti permintaan Clara, aku takut dia nekat mengatakan semuanya kepada Dila, dan sudah pasti Dila akan Marah, lalu anakku?
Ya Tuhan, mengapa rumit begini...!
Aku pulang menjelang malam, sengaja aku pulang lambat karena pikiranku sedang kacau.
"Tadi banyak kerjaan." jawabku singkat, aku segera masuk setelah mengecup kening Dila.
Hambar, aku malah memikirkan Richa putriku.
"Dila sudah masak Mas, ikan sambel, sama sayur asem." ucapnya menuju meja makan.
"Ya." aku mengalah, setelah mandi segera aku makan bersama Dila, aku juga belum makan sejak siang.
Aku jadi teringat ketika aku baru menikah dengan Susan. Dia rela belajar memasak ikan sambel seperti ini, padahal dia sama sekali tak tahu tentang dapur.
"Mas, cepat habiskan makanannya." titah Dila.
Aku segera menghabiskan makanan ku, dan ternyata dia ingin di temani duduk di balkon lantai dua. Ingin bermanja-manja di sana.
"Cerah ya Mas?" ungkap Dila duduk menyandar di bahuku.
"Ya." jawabku, aku tersenyum menatap langit diatas sana. Aku senang Dila tak banyak ulah, dia bahkan berusaha menjadi istri yang baik untuk ku.
Sayup ku dengar suara Richa menangis, entah apa penyebabnya tapi bisa ku lihat dari tirai yang tipis, Clara sedang menggendong anakku, menenangkannya.
__ADS_1
"Mas, Bos kamu itu punya suami?" tanya Dila tiba-tiba.
"Hah! Hemm... Enggak tahu juga." jawabku berusaha tak gugup.
"Tapi enggak pernah lihat suaminya. Atau dia janda?" tanya Dila lagi, menebak-nebak.
"Mas enggak tahu kalau soal itu, setahu ku ya dia punya anak." jawabku tak mau memancing kecurigaan Dila.
"Janda sih kalau menurutku." ucap Dila meyakini pemikirannya sendiri.
"Kok Janda?" tanya ku menatap wajah Dila.
"Ya, kalau punya suami kan harusnya kelihatan suaminya. Ini malah gak pernah lihat."
"Mungkin belum sempat datang, kan baru pindahan." aku mengusap pundak Dila.
"Mungkin." jawabnya memelukku. Sedikit ku lirik tirai yang tadi, tak ada lagi bayangan Clara menggendong Richa, ku rasa dia sudah tidur.
Entah mengapa aku malah kesulitan tidur malam ini, aku memikirkan permintaan Clara untuk menikahi dirinya, juga Dila yang sebentar lagi akan melahirkan.
Kalau aku menolak Clara, maka kehancuran ku sudah pasti terjadi, dia juga akan memberi tahu Dila tentang anakku.
Tapi kalau aku menerimanya, maka sudah pasti aku harus membagi waktuku antara Dila dan Clara. Itu hal yang paling sederhana, dan sudah pasti akan ada hal rumit lainnya bermunculan. Dan akhirnya?
"Mas." panggil Dila.
"Hemm... Kenapa belum tidur?" tanyaku menatap wajah yang mendongak diriku.
"Kamu mikirin apa Mas?" tanya Dila mengusap Pipi ku.
"Enggak apa-apa, tangan ku kram karena terlalu lama di jalan, tadi macet." bohongku menggenggam dan membentang jariku.
"Nyetir motor memang begitu. Coba kalau naik mobil?" jawabnya tersenyum menggodaku.
"Pingin punya mobil?" aku balas menggodanya.
"Pingin Mas, nanti kalau punya anak kita bisa jalan-jalan bertiga, keliling, anak kita gak perlu kepanasan atau kehujanan." dia terlihat senang membayangkan kehadiran anak kami nanti. Aku pun bisa merasakannya.
"Doakan saja." jawabku kemudian tertidur lelap bersama Dila.
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap pergi ke kantor. Tak ku indahkan perkataan Clara ingin memecat aku, toh dia sedang emosi kemarin itu. Pada akhirnya dia menangis di dalam pelukanku, dasar wanita.
"Hati-hati ya Mas!" teriak Dila ketika sepeda motorku berlalu.
Aku menoleh pagar rumah Clara, ku lihat dia sedang menggendong anakku dan aku melambat.
__ADS_1
"Papa." ucap Richa dengan suara khasnya.
Aku senang, tapi segera aku menoleh pagar rumahku, ku lihat Dila masih berdiri dan aku segera melaju, aku takut Dila mendengar panggilan Papa dari Richa padaku.