
"Kamu kenapa San? Malam-malam ngamuk-ngamuk mukulin anak orang!" marah Mbak Tami, memeluk Dila yang bersikap seperti teraniaya.
"Ya jelas lah Mbak, ngapain dia di sini kalau bukan menjadi selingkuhan Mas Ricko, mereka berbuat mesum di rumahku! Apa aku harus diam saja?" bentak ku kepada Mbak Tami, geram sekali melihat wajah tetangga yang munafik.
"Dila di sini karena di suruh suamimu buat jaga rumah karena suamimu kemarin pergi ke kabupaten, besok pagi baru pulang."
"Hah!" aku jijik mendengar alasan tak masuk akal.
"Tadinya dia nyuruh Dila sama Cindy, tapi Cindy pulang ke rumah orang tuanya. Makanya Dila sendiri!" kesal Mbak Tami. seraya menoleh kepada dua orang tentangga lain yang ikut masuk.
"Aku tidak percaya ya Mbak, mana ada anak perempuan nginap di rumah suami orang yang jelas-jelas istrinya sedang tidak ada di rumah. Kalaupun beneran pergi ngapain nyuruh dia? Jangan-jangan Mbak bersekongkol sama mereka, menutupi perselingkuhan dan zina yang jelas dosanya sangat besar! Mbak nggak takut kena karma, hah!" bentak ku dengan berapi-api, ingin rasanya aku menyerang Mbak Tami yang sok jadi pahlawan, namun terlanjur dua orang tentangga lainnya menahan diriku seraya berkata sabar.
"Kalau tidak percaya kamu telepon saja suamimu!" ucapnya lagi, menatap sinis padaku.
Dengan nafas masih naik turun, aku meraih tas yang ada di bahuku.
Ku tatap sekilas wajah Dila yang seolah ketakutan di pelukan Mbak Tami, tapi bisa ku lihat kelicikan di wajah mudanya, terutama mata ja-langnya yang membuatku ingin menerkam.
"Mas! Kamu di mana?" ketus ku berbicara tanpa salam kepada Mas Ricko.
"Aku di kabupaten San, ada apa?" ucapnya suasana hening di seberang sana.
"Kamu nggak bohong kan? Ga lagi sembunyi di rumah tetangga kan?" melirik sinis Mbak Tami, entah mengapa aku curiga dia bersembunyi di rumah Mbak Tami.
"Apaan sih San, sembarangan kamu." kesal Mbak Tami.
"Sembarangan apa Mbak, jelas ini ada main gila diantara mereka, dan gilanya lagi Mbak Tami malah melindungi wanita yang suka menggoda suami orang." aku melupakan ponselku masih tersambung.
"Iya Tami, sungguh tidak pantas seorang gadis tidur di rumah suami orang yang jelas istrinya sedang tidak ada di rumah. Saya aja curiga, jangan-jangan benar mereka ada main gila." salah satu ibu tetangga ku menyahut.
"Sudah, sabar dulu. Barangkali benar begitu kejadiannya, jangan menuduh sebelum ada bukti." sahut seorang bapak-bapak lagi.
"Nah, denger kan kamu. Jangan asal menuduh!" Mbak Tami mengambil kesempatan.
"Buktinya akan muncul sendiri Mbak, lihat aja nanti! Sekarang kalian pergi dari rumah ku! Tidak tahu malu sekali malah membela pelakor yang sudah jelas salah." aku menatap sinis keduanya. Kepalang aku sudah tidak percaya kepada tetanggaku tersebut.
"Ayo Dila." ajaknya beranjak melewati aku.
Tak mau sia-sia, aku kembali menarik baju Dila hingga terdengar robek.
"Ehh, sabar San." kedua tetangga dan juga Kiki menahan ku agar tidak menyerang lebih.
"Kamu stres ya San?" ujar Mbak Tami menatap tajam.
__ADS_1
"Kamu juga stress Mbak!" teriakku.
Tak ku sangka, sosok tetangga yang selama ini aku hormati ternyata begitu sifat aslinya. Senang melihat aku seperti ini, ku akui saat ini aku seperti orang gila.
Ya, ini semua karena Mas Ricko.
"Kasih minum Bu." titah seorang bapak-bapak itu kepada Bu Endang, tetanggaku.
"Ini Bu." Mung Udin memberikan air mineral yang memang selalu tersedia di mejaku. Kiki membawaku duduk di sofa.
"Makasih Bu." ucapku, sedih dan malu.
"Mbak Susan yang sabar." nasehat Bu Endang mengelus pundak ku.
"Emang beneran Ricko pergi ke kabupaten?" Kiki bertanya kepada kami semua tentunya.
"Mana aku tahu Ki, tapi tadi sore aku lihat foto yang di posting sama cewek itu mereka ada foto berdua." aku menangis pada akhirnya. Usai marahku malah sedihku yang tak tertahankan.
"Bukannya Saya mau ikut campur ya Nak Susan. Tadi sore saya lihat suamimu lewat di depan rumah, sepertinya baru pulang dari bengkel."
"Tuh kan Ki!" aku berdiri cepat, emosi ku naik pesat ingin menghajar dua orang yang munafik itu, Mbak Tami dan Dila.
"Ehh tunggu, tunggu. Kalau lu ke sana ngamuk-ngamuk bisa kena masalah, dia bisa nuntut elu." Kiki meminta ku duduk.
"Enggak begitu juga Non, sebaiknya Non tenangkan diri dulu." kali ini Mang Udin berbicara.
"Sepintar-pintarnya mereka menyembunyikan bangkai, tetap akan berbau juga. Hanya waktunya yang belum pas. Allah maha besar, tidak pernah tidur Nak." nasehat Bu Endang lagi.
Aku kembali menangis tergugu, sungguh panas hatiku, api menyala tak mungkin padam, sakit perih dan benci menyatu seperti ombak besar bergulung-gulung siap menghantam karang yang hitam. Ya, mereka harus hancur!
"Makasih ya Bu, pak." ucap Kiki kepada dua orang tetangga ku.
Mereka pulang dengan menghembus nafas, tak bisa ku bayangkan betapa hebohnya esok pagi. Tapi terserah, harusnya bukan aku yang malu, tapi mereka.
Ah, aku lupa kalau mereka tidak punya malu, tuhan saja dia anggap tak ada.
***
Lelah aku menangis, hingga tertidur di sofa, sayup orang mengaji membangunkan aku.
"Lu udah bangun?" suara Kiki, ternyata dia sudah bangun duluan.
"Mang Udin mana Ki?"
__ADS_1
"Ada, lagi bersiap pulang."
"Pulang!" aku melempar selimut sembarangan ingin bertemu Mang Udin.
"Udah, nggak usah." cegah Kiki. "Udah gue kasih tahu untuk tutup mulut. Tapi enggak ngejamin lama sih."
Aku berdecak kesal, bukan pada Kiki tapi pada diriku sendiri yang kacau.
"Ga bisa pakai emosi kayanya. Mereka itu cerdas dalam hal beginian."
"Cerdas gimana Ki?" tanyaku menyandar putus asa.
"Ya, sepertinya sekarang Ricko mendapatkan partner yang sama. Cara pikir dan kelakuan mereka sama, makannya mereka cocok." tugas Kiki seraya memasukkan Roti kering ke dalam mulutnya.
"Yang pasti gue enggak rela kalau sampai mereka enak-enak di rumah gue." kesal ku.
"Rumah ini punya lu?" tanya Kiki menunjuk lantai.
"Ya, dia nge-DP doang, terus yang lunasin gue Ki, pake duit yang di kirim Mama tanpa setahu Papa. Tapi..."
"Tapi apa?"
Aku jadi ingat sesuatu.
"Sertifikatnya atas nama Mas Ricko."
"Cari!"
Perintah Kiki cepat, dia sudah melangkah lebih dulu masuk ke kamarku.
Aku tak mau kalah gesit, aku mencarinya di laci yang memiliki kunci khusus. Benar jika kami harus mengambil sertifikat rumahku, aku sungguh-sungguh tak rela mereka bersenang-senang di sini. Aku akan mengambilnya, menjualnya bila perlu.
"Ada San?" tanya Kiki puas mengobrak-abrik lemari pakaian ku tapi sia-sia.
"Enggak ada Ki, padahal terakhir aku melihatnya di sini!"
"Jangan-jangan udah di sembunyikan sama dia!" tebak Kiki, matanya melebar dengan dugaan yang sepertinya benar.
"Cari lagi Ki." perintahku hingga terlihat kacau seluruh isi kamarku. Dan aku berhenti sejenak ketika tanganku menemukan kemasan obat, isinya kecil-kecil dan banyak.
"Ini obat apa ya Ki?" tanya ku, aku takut jika Mas Ricko memakai barang haram.
Kiki meraih obat itu dari tanganku. keningnya berkerut ketika melihatnya lebih dekat.
__ADS_1
"Ini obat tidur San."