Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Menghajar Dila


__ADS_3

Sehari ku tinggal, aku penasaran dengan status Facebook Dila, biasanya dia akan mengungkapkan apa yang sedang di rasakan, mana tahu sekarang lagi bersenang-senang atas kepergian ku ke rumah Mama.


"Ya Tuhan, kali ini bukan status tapi foto." aku terbelalak dengan dada bergemuruh.


Tampak di layar ponselku Dila sedang berpakaian SMA yang super ketat, sedang duduk berdempetan dengan seseorang yang sungguh aku kenal lengan milik siapa itu. Meskipun sudah di crop tapi aku hafal betul setiap bentuk tubuh suamiku, termasuk lengan dan jarinya.


"Tidak salah lagi, aku harus pulang."


***


"Kenapa buru-buru sekali San, Mama masih kangen." berat, tatapan tak rela Mama terpaksa ku abaikan.


"Bulan depan Susan pulang lagi Ma, ini aku pergi sama Kiki." bujuk ku kepada Mama.


"Iya Tante, Kiki mau cari tempat untuk buka salon. Kali di pelosok begitu banyak peminatnya. Kiki dengar di sana juga banyak projek besar, geotermal energi." jawab Kiki bersemangat.


"Enggak tunggu Papa sama Radit?" bujuk Mama sekali lagi ingin menahan ku.


"Enggak Ma."


"Ya sudah." jawabnya kecewa.


Kiki hanya bisa nyengir kuda melihat wajah di tekuk Mama. Tentu dia tahu kalau saat ini Mama masih rindu dan kesal karena lagi-lagi harus mengalah dengan Mas Ricko.


"Ma." panggilku berdiri menatap Mama yang duduk di sofa, aku menghadapnya.


"Mama tidak apa-apa." jawabnya mendung.


"Susan minta maaf, karena belum bisa menjadi anak yang baik untuk Mama dan Papa."


Mama mendongak. "Kamu ngomong apa?"


Aku duduk bersimpuh meraih tangan Mama. "Susan minta maaf karena sudah tidak menurut kepada Mama, meninggalkan Papa dan Mama demi Mas Ricko. Susan salah."


Tak menunggu detik, air mata di pelupuk mata Mama jatuh begitu saja. Aku yakin, hatinya sudah bersedih sejak lama, atau jangan-jangan dia menangisi ku setiap malam ketika rindu. Sungguh aku merasa sangat menyesal dengan pernikahanku ini.


"Ma."


"Jika menurutmu Ricko adalah yang terbaik untuk kamu, ajaklah dia pulang. Mama akan berbicara dengan Papa nanti setelah Radit pulang, Papa pasti tidak akan membantah kalau Radit ikut bicara." isaknya.


Aku tersenyum dengan mata mulai basah, dulu memang aku berharap demikian, tapi sekarang aku tidak yakin.


"Maafkan Susan ya Ma." lirihku lagi.


"Mama sudah memaafkan kamu Nak, Mama tidak pernah marah ataupun benci sama kamu. Mama cuma pingin lihat kamu bahagia." dia semakin menangis tersedu.


"Terimakasih Ma."

__ADS_1


Mama memelukku erat, meluapkan segala khawatir yang sejak lama tidak terungkap, mungkin kesal dan benci kepada Mas Ricko membuat Mama berpura-pura kuat, dan aku tidak menyadarinya.


Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi padaku sehingga aku sempat tak berperasaan, hanya berperasaan kepada Mas Ricko saja. Astaghfirullah...


"Mama sayang banget sama kamu." ucap Mama lagi setelah melonggarkan pelukannya.


"Susan juga Ma, kalau begitu Susan pergi dulu." pamit ku mengusap butiran bening yang sudah jatuh di pipi, Mama mengangguk.


"Apa sebaiknya ajak Mang Udin saja?" tawar ibu untuk membawa sopir di rumah ini.


"Baiknya begitu sih San, kan nyampenya malem." Kiki juga memberi saran.


"Ya sudah, tidak boleh nolak." Mama mengusap pipinya yang basah, lalu beranjak memanggil Mang Udin.


"Nanti malah ribet Ki." ungkap ku khawatir, aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi di rumahku nanti.


"Udah, justru kita akan aman sampai rumah Lu." Kiki beranjak, kamipun keluar karena mobil ku sudah siap meluncur.


"Kita nyampe jam berapa San?" tanya Kiki ketika kami berhenti untuk makan malam, dua jam sudah terlalu lama untuknya.


"Pukul sembilan atau pukul sepuluh mungkin." jawabku sambil memasang kembali sabuk pengaman.


"Bagus! kita bisa tahu apa yang sedang suami elu lakukan." celetuknya, spontan aku menyenggol lengannya. Aku tidak mau Mang Udin tahu masalahku, walaupun entah nantinya, dia juga akan tahu.


Pukul 22:10 menit.


"Ini Non rumahnya?" tanya Mang Udin berhenti di depan rumah dua lantai milikku.


"Mang Udin di sini dulu ya, kita sedang ada urusan. Bisa?" Kiki berbicara kepada Mang Udin.


"I...iya Non." Mang Udin bingung sekaligus khawatir, tentu saja karena melihat gelagat kami berdua seperti maling.


Ku lihat sekeliling gelap, sepertinya Mas Ricko tidak menyalakan semua lampu, kecuali sebuah kamar di lantai dua. Aku semakin curiga karena selama kamar itu tak pernah kami tempati.


Ku arahkan kunci yang sudah aku siapkan dari jauh perjalanan, ku putar hingga pintu melonggar dan aku mulai membukanya perlahan agar tidak bersuara.


Tak lupa sandal yang kami pakai pun di lepas begitu saja agar tidak bersuara.


"San, gelap amat?" bisik Kiki yang mengikuti ku, sesekali ia berpegang ke bahuku.


"Lu di sini aja." Aku meminta ia diam di di anak tangga.


"Serius lu?"


"Ya."


Aku naik sendirian, samar tak terlalu gelap karena lampu kamar menyala, mungkin Mas Ricko ada di dalam, atau sedang bercinta dengan anak SMA binal, penggoda dan kegatelan. Aku sudah emosi sebelum memergoki mereka.

__ADS_1


Tanganku mengepal kuat, gigiku merapat, langkahku berhenti di depan pintu kamar di samping kamarku.


Aku berhitung di dalam hati. "1...2...3!"


Di kunci!


"Mas! Buka!" aku berteriak, sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tanganku menepuk pintu dengan kasar. Aku jamin aku akan menghabisi mereka berdua jika benar keduanya ada di dalam.


"Mas Ricko! Buka pintunya aku akan menghancurkan pintu kamar ini!"


Terus aku menggedor-gedor pintu kamar, tak peduli telapak tanganku sakit, mungkin sudah memerah.


"Mas Ricko!" teriakku lagi.


Cklek!


Aku menarik nafas cepat, bersiap akan memukul siapapun di dalam sana.


"Tan...te."


"Dasar ja-lang, beraninya kamu masuk dan tidur di rumahku, hah!" aku langsung menarik rambut panjang Dila dan menggulung sekuat tenaga, aku juga mendorongnya hingga ke ranjang, menghimpit seperti ingin membunuh.


"Tunggu Tante, ini salah paham." ucapnya menahan tanganku.


Aku yang sudah kesetanan semakin mendorong Dila dan menarik rambutnya. Sambil terus mengumpat dan menghina.


"Tante, aku sendirian, tidak ada Pak Ricko di sini!" dia meringis dan menangis.


"Aku tidak percaya, dasar brengsek, murahan!" aku semakin menyerang Dila.


"Tolong....tolong....!"


Diluar dugaan malah dia berteriak.


"San!" Kiki segera masuk menarikku.


"Lepas!" aku meronta-ronta ketika Kiki menahan dan memelukku.


"Tolong....tolong....." teriakan Dila semakin keras, dia menangis menahan sakit di kepalanya.


"Teriak saja, agar semua orang tahu siapa dirimu!" bentakku.


"Mana Ricko?" tanya Kiki kepada Dila.


Dia menggeleng sambil menangis.


Tak berapa lama kemudian terdengar beberapa orang menaiki anak tangga, sepertinya teriakan Dila dan kegaduhan atas kemarahanku membangunkan semua orang, termasuk Mang Udin ikut melihat kami.

__ADS_1


"Dila!" Mbak Tami masuk dan langsung mendekati Dila.


Heh! bagus sekali.


__ADS_2