
Belum habis aku berpikir seseorang wanita menyusul anak kecil itu dengan langkah terburu-buru.
"Maaf." ucapnya tersenyum ramah kepada kami semua. Tapi kemudian dia menatapku lama, memperhatikan wajahku.
"Hai." ucapku lebih dulu menyapa.
"Hai, aku Clara. Senang bertemu dengan pemilik saham perusahaan Papa." jawabnya tetap menjaga senyum, walaupun sudut bibirnya kaku. Ku rasa dia mengenali aku sejak lama, jika tidak dia tak akan langsung berbicara seperti itu.
"Kedepannya kalian akan sering bertemu, karena sudah beberapa Minggu ini Susan mulai bekerja di perusahaan kita." ucap Papa terdengar bijak, sambil memandangi Om Danu yang juga tersenyum tipis, dia mengangguk.
"Iya, Om. Tentu saja aku butuh belajar banyak dari Susan." jawabnya merendah saja.
"Ah tidak, kau pasti lebih berpengalaman dibandingkan aku, kau tahu aku bahkan tidak memiliki gelar sarjana." aku terkekeh.
"Oh ya? Ku pikir hanya aku?" dia tertawa, sepertinya pertemuan pertama ini tidak terlalu buruk.
Kami sama-sama tak segan mengakui kekurangan masing-masing, toh memang itu adanya.
"Richa sayang, kenalan dulu sama Tante." ajaknya kepada anak kecil yang berusia sekitar dua tahun itu. Dia begitu imut, mendekat dengan senyum berlesung pipi di sebelah kirinya. Persis Mas Ricko.
"Haoo Tante!"
"Ah, Sa...sayang. Halo juga." jawabku gugup menerima sapaan dari anak kecil itu.
Aku membungkuk, menatap wajah chubbynya. "Siapa namamu?" tanya ku pelan, jujur saja hatiku bergetar saat memegang tangan kecil Richa, aku teringat ketika aku mengandung anak Mas Ricko. Jika dia terlahir ke dunia, maka tak ubah juga wajah anakku akan seperti gadis kecil ini.
"Icha Tante." jawabnya imut.
"Richa San." ibunya meluruskan.
Ya Tuhan, dia benar-benar anak Mas Ricko. Aku menatap wajah Richa berkali-kali bergantian dengan Clara, bahkan wajah Richa itu hampir tak mirip dengan ibunya, seluruhnya...90 % Mas Ricko.
Aku pulang dengan perasaan kembali kacau, penasaran yang berlebihan tapi tak bisa aku menanyakan itu pada Clara. Tidak sopan bukan, walaupun aku yakin sekali gadis kecil itu adalah anak Mas Ricko.
Ya Tuhan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana dekatnya mereka ketika pacaran sehingga menghasilkan seorang anak.
"Tega sekali kamu Mas." gumamku di dalam hati. Bagaimana bisa dia menyia-nyiakan wanita yang sedang mengandung anaknya. Apakah tidak ada rasa bersalah sedikit saja ketika dia hidup bersama ku. Ku rasa beban Clara sangatlah berat menjalani semuanya sendirian. Tapi,... mengapa Clara tidak memberi tahu Mas Ricko? Bukankah seharusnya dia menuntut pertanggung jawaban jika benar itu adalah anaknya.
"Kita langsung pulang saja." ucap Papa membuyarkan pikiranku yang sudah kemana-mana.
"Baik Pak." jawab Mang Udin, kami melaju menuju rumahku.
"Pa." panggilku.
"Ya." jawab Papa menoleh.
__ADS_1
"Kapan Mas Radit pulang?" tanyaku, padahal sebenarnya aku ingin menanyakan tentang anak dari Clara itu, sungguh pikiranku kacau setelah bertemu dengan dua orang masa lalu Mas Ricko.
"Sabar, omongan Radit bisa di pegang." Papa tersenyum, mungkin dia sedang berpikir jika aku gelisah memikirkan Mas Radit.
Tak bohong juga, aku memang butuh dia, hanya Mas Radit saja yang ku butuhkan sekarang. Mendadak perasaanku kacau begini karena melihat anak perempuan yang persis Mas Ricko. Tentu jika Mas Radit ada dia akan menghiburku.
"Haoo Tante."
"Astaghfirullah, sampai terbawah mimpi wajah anaknya Clara." aku segera mengusap wajahku, ku lihat jam di atas meja menunjukkan pukul 00:20.
Harusnya aku sudah bebas dari Mas Ricko, Tapi malah kehadiran anaknya Clara mengganggu tidurku. Apakah dia benar anak Mas Ricko? Pusing kepalaku memikirkannya.
Ku raih ponsel di atas meja rias ku, mencari nama Mas Radit.
"Halo Sayang." jawabnya dari suara berat itu membuatku lega.
"Mas." panggilku kembali ke ranjang.
"Ada apa? Kenapa menelpon malam-malam begini?" tanya Mas Radit, ku rasa dia sedang tidur nyenyak tadi.
"Aku kangen Mas." jawabku asal, aku gelisah tapi tak sanggup bercerita. Entahlah...
"Hemmhh..." dia tersenyum, entah lucu atau dia tak percaya dengan ucapan ku aku tak peduli.
"Tidurlah... Kamu pasti mimpi buruk." tebaknya.
"Hemm." Aku mengangguk, membuang nafas berat dan mencoba menutup mata dengan ponsel menempel di telinga ku.
Ku dengar lagi di seberang sana Mas Radit menuang air dan meneguknya sambil tetap menelepon aku. Aku menutup mata tapi membayangkan Mas Radit seperti sedang melihatnya. Tak lama setelahnya terdengar bunyi pemantik, ku rasa dia menyulut sebatang rokok membuang kantuk.
"Mas merokok." tanya ku pelan, aku mulai mengantuk.
"Iya Sayang, sedikit biar bisa nemenin kamu tidur." jawabnya selalu terdengar mesra.
"Cepat pulang Mas." ucapku diantara nafas yang mulai teratur.
"Iya Sayang." sempat ku dengar dia menjawab hampir berbisik.
***
"Bagaimana San? Apakah pekerjaanmu masih terasa rumit?" tanya Papa ketika kami sarapan.
"Lumayan Pa, tapi semakin kesini aku mulai terbiasa." jawabku sambil terus memasukkan makanan ke mulutku.
"Baguslah, dengan begitu kamu bisa membantu Radit." Papa tersenyum senang.
__ADS_1
Aku berangkat bersama Papa, dia masih mendampingi aku sementara Mas Radit pulang.
"Nah, itu anaknya Om Danu." Papa menunjuk di lobi kantor Papa. Benar ternyata di sana Clara sudah berdiri, menatap mobil kami.
"Apakah dia akan mulai bekerja Pa?" tanyaku, harusnya dia belum bisa meninggalkan ayahnya yang sedang sakit bukan?
"Ya, mungkin karena ada kamu jadi dia ingin lebih cepat belajar." jelas Papa kemudian kami melangkah masuk.
"Selamat pagi Om, Susan." sapanya tersenyum.
"Pagi Clara." aku melihat sekeliling wanita itu, tapi tak menemukan anaknya. Ya semalam bocah itu mengganggu tidurku.
"Ada apa San?" tanya Clara melihat aku.
"Dimana Richa?" tanyaku, jelas membuat alis wanita itu beradu.
"Dia ku tinggal bersama Mama." jawabnya tersenyum, ada kecanggungan setelah aku menanyakan anaknya. Atau mungkin dia sadar bahwa aku terlalu memperhatikan anaknya? Sungguh aku sudah tidak tahan ingin menanyakan langsung kepada Clara.
Kalau bisa, anak itu bukanlah anak Mas Ricko, tapi anak orang lain saja. Sungguh aku tidak ingin hidupku di bayang-bayangi laki-laki yang sudah berkhianat itu selamanya.
Kami masuk ke ruangan masing-masing di bimbing oleh dua sekretaris Papa kami juga.
"San, ternyata kita senasib ya. Sama-sama enggak selesai kuliah." dia terkekeh lucu ketika kami mengisi data sebagaimana pemilik yang baru.
"Ya." jawabku ikut tertawa. Sejenak kemudian ku sadari jika kami tidak selesai kuliah itu karena satu orang laki-laki brengsek.
"Padahal tinggal satu semester akhir." dia tersenyum kecut, dan ku pikir jika sekaranglah waktunya aku bertanya.
"Clara, aku boleh tanya sesuatu? Hemmm..... Tentang kamu."
"Boleh aja San, gak usah sungkan." jawabnya tersenyum.
"Kamu udah menikah? Terus suami kamu..?"
"Enggak San, aku belum pernah menikah." jawabnya tersenyum tapi nafasnya berat. Betul kan apa yang aku pikirkan?
"Lalu Richa? Hemmm.. Ma... maksud ku... Di...dia..."
"Ya, kamu pasti kenal sama wajah Richa kan?" jawabnya tersenyum kecut.
Aku membiarkan dia mengatur nafasnya.
"Dia anak Ricko. Mantan suamimu."
Sumpah, bibirku yang tipis kini terbuka dengan huruf O sempurna.
__ADS_1