
"Selamat Pagi Pak Radit." sapa Linda sekretaris Papa.
Aku terkejut ternyata sosok Mas Radit sudah tak asing bagi pegawai Papa, bahkan Linda tampak tersenyum hormat menyapa calon suamiku itu dengan menyebut namanya.
"Selamat pagi Linda, apakah rapatnya sudah siap?" tanya mas Radit membuat aku semakin heran.
"Sudah Pak, sebentar lagi akan segera di mulai." jawab Linda mengangguk.
"Rapat apa?" tanya ku ketika kami memasuki ruangan ku.
"Rapat untuk menyambut asisten baru Nona Clara." dia tersenyum penuh arti padaku.
"Mas tahu?" tanya ku lagi, mendadak merasa bodoh begini.
"Tahu Sayang, Linda menghubungi Papa sebelumnya. Sejak kemarin aku dan Papa ada di kantor ini."
"Hah! Kok enggak ngajak aku Mas?"
"Ya, setelah ini kita akan selalu bersama." dia mengecup pipiku lembut, sebelum akhirnya kami melangkah menuju ruang rapat, aku menebak-nebak apa yang akan terjadi di sana sehingga Mas Radit sampai menyiapkan rapat.
"Pak, ini berkas-berkasnya." ku lihat Linda begitu gesit menyiapkan semua keperluan Rapat Mas Radit.
"Terimakasih." jawab Mas Radit kemudian menoleh ku dengan tersenyum. Beruntung dia tidak lupa bahwa akulah yang harus diprioritaskan di manapun. Sungguh senang dengan perlakuannya.
"Sebenarnya apa yang akan kita bahas sehingga harus di adakan Rapat seperti ini?" Clara menyela sebelum Linda membuka rapatnya.
"Di mulai saja Linda." titahku tak mau menjawab Clara. Ku lirik dia berdecak kesal karena ucapan ku. Terserah saja!
Sungguh semua orang menjadi tegang dengan rapat yang dipimpin Mas Radit, meskipun ada dua orang yang menatap sinis, tak suka.
"Saya hanya ingin meluruskan tentang pergantian pegawai yang mendadak, salah satunya asisten Nona Clara. Dan yang kedua adalah manager keuangan kita."
"Maaf Pak, bukankah Manager keuangan sudah ada, apakah beliau di pecat?" seorang pegawai penting perusahaan bertanya, sedangkan manager keuangan yang lama tampak tegang.
"Tidak. Hanya saja Saya butuh Manager dan wakil manager untuk mengelola keuangan." jawab Mas Radit tenang.
"Untuk menambahkan seseorang dalam mengurus keuangan harusnya kau bicarakan terlebih dahulu padaku. Lagipula kau bukan siapa-siapa di perusahaan ini, mengapa bisa kau yang berbicara seolah-olah kaulah bosnya! Kau tahu jika di sini hanya aku dan Susan yang berhak bicara tentang hal seperti ini." ucap Clara lantang.
"Maaf Bu, Pak Radit sudah memegang kuasa dari Pak Subroto jauh sebelum ini." sahut Linda membela Mas Radit.
"Tapi sekarang sudah berbeda, kau tidak bisa sembarangan mengambil keputusan!" kesal Clara pada Mas Radit.
__ADS_1
"Papa bahkan lebih percaya padanya daripada aku Clara." jawabku tak mau kalah, dia semakin kesal.
Dengan tenang Mas Radit membuka berkas yang di berikan Linda. Mengambil selembar kertas dan memberikan kepada Clara.
"Jangan lupa Nona Clara, kami memiliki saham 65 %. Bahkan keputusan mu memberhentikan seorang pegawai tanpa melakukan rapat terlebih dahulu itu sudah salah."
"Ayolah Radit, jangan ikut sertakan urusan pribadi pada pekerjaan." dia protes.
"Benarkah? Harusnya kata-kata itu berlaku kepada Anda sendiri. Bukankah kau masih terjerat cinta lama?" sungguh Mas Radit membuat ku kagum.
"Adik anda yang belum bisa move on! Dia terlalu terbawa suasana." balas Clara, sorot matanya sungguh menyiratkan perlawanan.
"Oh, aku hampir lupa memberi tahu Anda juga semuanya. Seperti yang kalian tahu aku bukanlah saudara kandung adikku ini. Sudah waktunya kalian tahu bahwa dia adalah adikku, juga calon istriku, kami akan segera menikah."
Hening sejenak ketika semua orang saling pandang.
Brakk!
Mas Ricko bangun dan menggebrak meja, dia menatap marah Mas Radit. "Brengsek Lu!"
"Jaga emosi Anda, di sini Anda hanya pegawai biasa." jawab Mas Radit tenang, menunjuk kursi Mas Ricko.
"Baiklah, Manager keuangan tetap Pak Rangga, wakilnya adalah Juna, bukan orang baru. Aku yakin kalian akan sangat bisa bekerja sama." Mas Radit mengangguk, menandakan rapat sudah bisa di akhiri.
"Tunggu! Juna sudah di pecat, mana mungkin dia bisa di pekerjakan lagi di sini." Clara tidak terima.
"Kenapa tidak? Anda tahu dia tidak melakukan kesalahan. Anda tidak punya alasan untuk memberhentikan Juna secara sepihak, bahkan dia bisa menuntut Anda karena tidak benar-benar memahami isi perjanjian kontrak kerja." terang Mas Radit. Tentu membuat Clara terdiam.
Ternyata mudah sekali membuat dua orang itu diam, aku menggandeng Mas Radit dengan bangga. Saatnya aku membuktikan bahwa Mas Ricko bukanlah apa-apa.
Di banding Mas Ricko? Dia kalah jauh, Penampilan Mas Raditku jauh lebih tampan, seratus kali lipat! Aku terkekeh di dalam hati.
"Are you ready?" dia mengangkat alisnya.
"Harus sepagi ini?" tanya ku tersenyum.
"Aku sudah tidak sabar ingin menikahi adikku yang terlalu sering merengek." dia menggodaku.
"Kapan aku merengek Mas."
"Malam sebelum aku pergi." jawabnya berbisik.
__ADS_1
"Itu tidak sengaja." aku mendorong wajahnya.
"Itu sungguh menyiksaku selama setengah tahun ini." dia meraih pinggangku. Perlakuannya sungguh membuatku menyesal, mengapa tak dari dulu aku menikah dengannya.
"Kita berangkat." ajak ku segera, meluncur ke sebuah butik terbaik, dimana banyak gaun yang bagus di sana.
"Mas, aku mau menikah di rumah saja." ucapku.
"Tapi Papa sudah memesan hotel, apakah sebaiknya kita menikah di aula besar hotel saja agar kau tidak lelah Sayang."
"Dulu aku juga Menikah di hotel, tanpa Papa." jawabku sedih.
"Itu berbeda Sayang. Sekarang Papa akan menikahkan kita. Papa dan Mama akan sangat bahagia. Jangan lagi mengingat masa lalu." Mas Radit menggenggam tanganku.
"Mas." panggilku lagi.
"Ya." dia menoleh seraya menyetir.
"Apakah aku bisa punya anak?" tanya ku, aku terbawa perasaan, terlalu khawatir.
"Tentu saja! Mengapa bicara seperti itu?"
"Aku selalu keguguran." jawabku jujur, entah apakah Mas Radit sudah tahu atau tidak, yang pasti aku sudah mengatakannya.
"Keguguran bukan tidak bisa hamil. Mengapa harus khawatir?" dia tersenyum, sama sekali tidak takut seperti aku.
"Tentu saja aku khawatir Mas. Mas lihat sendiri kan? Sama Dila dia begitu tokcer, mungkin akan segera melahirkan. Lalu sama Clara! Mas tahu? Mereka memiliki seorang anak perempuan!"
"Ya. Mungkin Ricko belum siap menerima rezeki yang halal dari Allah." jawabnya enteng.
Aku menarik nafas, apa yang di ucapkan Mas Radit ada benarnya. Entah aku harus bersyukur atau tidak, sungguh ketika aku menjadi istri Mas Ricko aku selalu memimpikan, mendambakan kehadiran seorang anak. Hanya saja, Allah belum mau memberikannya.
"Astaghfirullah!"
Ucap Mas Radit mengerem mendadak hingga berdecit.
"Mas!" Aku ikut memekik, takut sekali melihat di depan kami sebuah sepeda motor matic besar menghalangi. Aku kenal sepeda motor itu, milik Mas Ricko.
"Turun!" begitu kode yang ku tangkap dari pergerakan bibir Mas Ricko, menunjuk kaca mobil kami.
"Mas!" aku menahan lengan Mas Radit, aku takut sekali melihat Mas Ricko yang sepertinya sangat emosi.
__ADS_1