Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
POV Radit


__ADS_3

Aku memang sudah berjanji akan pulang setelah selesai urusanku di Jakarta, antara ingin bekerja tapi sebagian hati ku tidak mau jauh dari Susan untuk kesekian kalinya. Aku putuskan untuk mengambil proyek enam bulan saja di kota yang lebih dekat, tidak antar pulau lagi seperti kemarin. Dan akan lebih baik segera pulang sore ini walaupun hanya sehari saja. Tak apa, lelahku habis jika sudah melihat senyum Susan yang manis.


Sejak ia bercerai aku merasa di butuhkan dan dinantikan olehnya. Entahlah, ataukah itu hanya perasaan ku saja. Sungguh aku sudah memendam perasaan suka ku padanya sejak aku masih SMA. Waktu itu adikku itu masih kelas Enam Sekolah dasar. Gila bukan?


Kebersamaan ku dengannya selalu ku nikmati tanpa beban, dia teramat manja hingga usia belasan tahun saja dia masih meminta ku untuk menggendongnya. Itu lumayan menyiksa perasaan laki-laki yang sudah mulai dewasa.


Hari berganti, bulan dan tahun kemudian juga berganti. Aku sudah kuliah ketika itu, aku memiliki teman bernama Dedy, sering datang ke rumah dan cukup akrab denganku. Dan ternyata dia juga menyukai adikku. "Papa bilang, kalian kami tidak boleh pacaran." ucapku kepada Dedy, berharap dia mengerti. Sungguh aku cemburu, sesak hatiku.


Susan tumbuh menjadi gadis yang semakin cantik saja di mataku. Hingga aku sudah selesai kuliah, aku mencoba melamar pekerjaan dengan gaji besar di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi. Dan dengan nilai ku yang baik aku langsung di terima.


"Mas mau pergi?" tanya Susan hari itu.


"Ya. Mas sudah bekerja. biar nanti bisa dapet uang, dan beli hadiah yang banyak buat kamu." ucapku sambil mengemas pakaianku.


"Kenapa enggak bekerja sama Papa?" tanya Susan sendu. Ya, saat itu Papa masih menjadi pejabat dan usaha Papa juga terbilang banyak, beda sekarang Papa sudah pensiun tapi usaha Papa semakin berkembang.


"Sementara, Mas mau cari pengalaman dulu. Nanti kalau Papa butuh bantuan, tentu dengan senang hati Mas akan pulang." jawab ku meyakinkan adik kecilku yang teramat sangat aku cintai.


"Kalau Susan kangen gimana?" tanyanya lagi. Hatiku semakin tak karuan di tanya begitu. Tapi tak bisa mengungkapkannya.


"Mas akan pulang kalau kamu yang minta." jawabku mendapat cebikan dari gadis ku yang cantik.


"Gombal." ucapnya menghempas bokongnya di ranjang ku.


"Gombal sama kamu." aku tertawa.


Tak urung juga aku pergi, Susan ku menangis memelukku di bandara ketika itu.


"Dit, kamu harus pulang." ucap Papa padaku.


"Kontrak Radit dua tahun Pa." ucapku memberi tahu Papa.


"Papa tahu, setiap Susan libur semester kamu usahakan pulang."

__ADS_1


Aku sedikit berpikir dengan permintaan Papa.


"Papa tahu kamu menyukai Susan." ucap Papa lagi membuatku terkejut, aku menatap Papa dengan rasa bersalah juga takut.


"Setelah dia lulus SMA kamu boleh mendekati adikmu. Dan menikah kalau dia sudah setuju."


Aku semakin tak bisa berkata apa-apa, sungguh saat itu aku ingin berteriak juga menangis. Aku bahagia, tak menyangka Papa mengetahui perasaan ku, dan tidak melarang cintaku ini.


"Pergilah." perintah Papa menepuk pundak ku. Aku menggenggam tangan Papa dan mengecupnya berkali-kali. Sungguh dari tangan itu aku bisa tumbuh besar, dan mendapat hidup yang layak. Aku sangat menyayangi Papa.


Enam bulan sekali aku pulang menghabiskan gaji ku sebulan untuk pulang pergi. Waktu itu aku juga bertugas antar pulau.


"Mas Radit pulang!" serunya mengapit lenganku, tak mau lepas.


"Iya. Kangen sama kamu." goda Ku, dia tersipu malu. Papa membiarkan kebersamaan kami yang hanya sebagai adik kakak. Tentunya Papa tahu jika hatiku sudah berbeda, aku mencintai putrinya.


Hanya beberapa hari aku pulang, beberapa hari itu pula aku dan Susan menghabiskan waktu untuk nonton, jalan-jalan dan makan. Aku benar-benar merasa hidupku Sudah sempurna. Bayangkan saja di rumahku aku mendapatkan semua yang ku impikan. Papa yang mengakui ku dengan bangga. Mama yang penyayang dan tidak pernah marah. Dan yang terakhir adalah Susan, satu-satunya adik sekaligus perempuan yang aku cintai sepenuh hati. Aku tidak mau mencari perempuan lain lagi. Namun ku rasa Susan masih terlalu muda untuk menikah di usia belasan tahun, ku putuskan untuk mengajaknya menikah setelah kepulangan ku berikutnya.


"Pa, aku ingin menikah dengan Mas Ricko."


"Tidak, Papa tidak mengizinkan kamu menikah dengan Ricko." tolak Papa, dia melihat aku berdiri diambang pintu dengan kecewa.


Susan menangis dan terus memohon, hingga berhari-hari dia terus begitu. Mama ikut menangis dan memohon kepada Papa, aku pun akhirnya meminta Papa untuk merestui keduanya.


"Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Papa menatap wajahku yang tentu saja kecewa.


"Nikahkan saja Pa, aku tak apa-apa."


Begitulah akhirnya aku mengalah dengan Ricko, dan sekarang aku sudah memiliki kesempatan untuk mendapatkan Susan lagi.


Tringg...


Notifikasi pesan berbunyi membuyarkan lamunan masa laluku.

__ADS_1


"Mas, jadi pulang apa enggak?"


Tak lama kemudian sebuah pesan lagi menyusul. "Susan ketemuan sama Mas Ricko di cafe xxxx. Ngomongin masalah Rumah Susan di kampung."


Tanpa membalas aku sudah gelisah, tak sabar rasanya untuk segera sampai. Beruntung saat ini aku sudah di jalan menuju rumah, sungguh aku takut Ricko macam-macam.


Dan ternyata benar, dia tetap saja licik. Ingin sekali aku membunuh pria brengsek itu ketika aku melihat keadaan Susan, dia sedang tersiksa akibat ulah Ricko. Tak dapat ku bayangkan jika aku tidak langsung datang ke cafe sesuai isi pesan Susan padaku.


"Mas, tolongin Susan." dia menggeliat dan merengek di dadaku. Aku sampai sakit kepala karena tingkah Adikku ini.


"Brengsek turunin gue!" kesal Ricko yang sengaja ku bawa agar dia cemburu. Dan tentunya aku ingin dia bertanggung jawab.


"Mas, peluk aku Mas." dia merengek menciumi dadaku.


"Urus laki-laki brengsek ini, ikat jangan sampai lepas." titahku kepada dua orang-orangnya Papa.


Ku bawa Susan masuk ke kamarku agar lebih dekat, segera ku baringkan dia di ranjang, tapi tak di sangka dia malah merengkuh ku agar tetap memeluknya.


"Dek, tidak boleh begini." tolak ku melepaskan pelukan Susan.


"Mas, tolongin aku. Sekali aja Mas... Aku bisa mati...!" dia memaksaku, memelukku erat dan menciumi leherku dengan rakus bahkan menggigit kecil di sana. Ya Tuhan, aku jadi kesulitan jika seperti ini.


"Dek lepas dulu ya." pintaku pelan, sambil ku lepas kancing baju kemejaku. Dan dengan tak sabar malah Susan menariknya kasar hingga putus beberapa kancingnya. Ku lihat dia tersenyum senang.


Tak ku sia-siakan kesempatan, ku pegang dua tangan yang sudah keterlaluan ingin menarik ikat pinggangku itu. Lalu ku ikat di belakang menggunakan kemeja ku. Ku rasa dengan begini dia akan lebih baik.


"Mas jahat!" teriaknya mengarahkan kakinya padaku.


Ku rasa ikat pinggangku berguna, aku juga mengikat kakinya.


"Mas, tolongin Susan. Aku enggak kuat Mas." dia menangis, sungguh aku kasihan tapi tak mungkin ku lakukan hal itu padanya.


Hingga dua jam lebih akhirnya dia lemas karena kelelahan. Aku bersyukur obat yang diberikan Ricko tak terlalu tinggi dosisnya.

__ADS_1


"Mas." panggilnya lemas.


"Maaf Sayang." ucapku memeluknya hingga ia tertidur dengan kaki tangan terikat.


__ADS_2