Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Tinggal


__ADS_3

"Tante, kalau boleh Dila tahu sudah berapa lama Tante tinggal di rumah ini?" Tanya Dila.


Perempuan berusia tiga puluhan itu tersenyum. "Baru tiga bulan, sejak menikah dengan Om kamu."


"Hah! Jadi Tante baru menikah sama Om Heru?" Melirik perut besar perempuan yang pelan duduk di samping Dila.


Dia mengangguk. Membiarkan keponakan suaminya itu berpikir dan menduga-duga.


"Kita pernah ketemu?" Tanya Dila.


"Ya pernah mungkin, kan aku tinggal enggak jauh dari bengkel Om kamu. Aku juga tahu banyak cerita heboh tentang kamu yang katanya selingkuh sama tetangga terus menikah." ucapnya membuat Dila terkejut.


"Terus Tante Tami kemana?" tanya Dila tak suka masa lalunya kembali di ungkit.


"Tadinya kita tinggal serumah. Cuma sepertinya dia enggak betah, dan sekarang katanya dia tinggal di rumah ibumu." jawab perempuan itu menatap wajah Dila.


"Hah! Di rumah Ibu?" Dila terkejut, dia sedang membayangkan bagaimana susahnya kehidupan ibunya. Malah harus menampung Tami dan kedua anaknya.


"Iya, katanya mau menenangkan diri dulu." sambung wanita itu lagi.


"Tante kok tega sih merebut Om Heru, merusak kebahagiaan Tante Tami." Kesal Dila, dia ingat bagaimana Tami membela dirinya ketika itu.


"Halah Dila! Kok pake bilang aku tega. Terus yang kamu lakukan dulu itu apa? Kamu pikir tidak merusak kebahagiaan orang lain?" sinis perempuan tersebut, menggeser duduknya.


"Tau ah, Dila mau istirahat." Dila beranjak, menggendong Reno menuju kamar di dekat tangga. Dia ingat itu adalah kamar tamu yang pernah ia tempat dulu.


"Terserah saja, tapi kalau mau makan masak sendiri ya." Perempuan tersebut beranjak, naik ke lantai dua layaknya tuan rumah yang berkuasa.


"Baru juga tiga bulan." Gerutu Dila.


Dila beristirahat di kamar itu bersama Reno. Dapat di dengar pula di rumah sebelah deru mobil meninggalkan halaman, artinya semua orang sudah pergi ke rumah Andi.


Dia menarik nafas berat, memikirkan masa lalu juga masa depan yang kacau. Andaikan dia tidak tergoda dengan Ricko juga uangnya, mungkin sekarang dia sudah mendapatkan ijazah SMA dan bisa mencari pekerjaan sendiri. Tapi semuanya sudah terlanjur, mana mungkin waktu bisa di ulang setelah melakukan kesalahan, di dalam mimpi pun waktu itu tidak akan pernah terulang.


Sementara Dila larut dalam penyesalan, Clara dan Richa terlihat senang pergi ke acara Andi bersama Ricko. Walaupun Ricko sendiri tak nyaman dengan sorot mata banyak orang yang datang. Ya, beberapa orang diantaranya adalah rekan kerja Ricko termasuk Kepala sekolah. Juga tetangganya dulu yang ikut menggerebek ketika berbuat mesum dengan Dila.


"Pak Ricko!" Sapa seorang guru honorer mendekati Ricko.


"Agus, apa kabar?" jawab Ricko basa-basi kaku.

__ADS_1


"Baik, Alhamdulillah Pak. Bapak apa kabar?" tanya Agus, melirik dua perempuan yang tampak lengket dengannya. Richa paling menyita perhatian karena berada di pangkuan Ricko, dan wajah mereka mirip.


"Aku juga baik Gus." jawab Ricko, tidak mau menjelaskan tentang dyia perempuan yang bersamanya.


"Papa Icha mau pipis." rengek Richa, secara tidak langsung menjawab pertanyaan Agus yang tidak terucap.


"Baiklah Sayang." jawab Ricko.


Hingga acara selesai Ricko hanya memilih diam sambil menggendong Richa menjauh dari teman-temannya dulu.


"Kita langsung pulang." ucap Clara ketika mereka sudah menuju mobil masing-masing.


"Ya, kita langsung jemput Dila." jawab Ricko.


Clara menghembus nafas kasar, enggak suka. Hingga mereka kembali ke rumah dua lantai milik Heru. Ricko langsung masuk menemui Dila dan Reno.


"Mas." sapa Dila keluar dari kamarnya.


"Kita langsung pulang Dila." ucap Ricko serius.


"Lho, kok cepet banget Mas. Bukannya bisa nanti malam. Aku mau ketemu Ibu." ucap Dila memang dia sudah bersiap-siap.


"Ricko, Kita harus segera pulang." terdengar suara Clara berteriak dari luar.


"Mas, ini kampung ibuku lho, kampung kita." bujuk Dila.


"Tapi bukan sekarang waktunya Dila. Kamu tahu kita di sini karena Clara yang ada acara." Ricko berharap Dila mengerti.


"Yah, Mas. Apa salahnya menunggu sebentar, aku pergi sendiri enggak apa-apa." pinta Dila memohon.


"Enggak! Kamu bukan siapa-siapa sehingga semua orang harus menurut." sahut Clara masuk dengan tatapan sinis.


"Clara, aku cuma mau ketemu Ibu. Cuma dua jam!"


"Aku mau pulang, bisa kan buat dia mengerti bahwa aku sibuk, harus istirahat dan besok kita kembali bekerja. Bukan seperti dia yang cuma diam di rumah." sinis Clara. Bencinya semakin besar sejak bertengkar tadi pagi.


"Mas Ricko itu suamiku, aku istri pertamanya." kesal Dila.


"Ya, Istri pertama yang tidak berguna. Ingat ya mobil yang kamu pakai itu milikku." ketus Clara.

__ADS_1


Tentu Dila terkejut mendengar ungkapan Clara, Bukannya Ricko bilang itu hasil kerja lemburnya.


"Clara." Ricko menengahi.


"Memang itu kenyataannya, rumah itu juga uangku yang membayar cicilannya. Kalau Ricko tidak bekerja di kantorku maka rumah itu tidak akan dapat kalian beli."


"Mas? Benar begitu?" tanya Dila yang tentunya Ricko hanya menghembus nafas berat.


"Depe-nya dari Susan, dan yang lainnya dariku. Kamu enggak malu bersikap sok berkuasa sedangkan hidup kamu hanyalah parasit."


"Clara!" bentak Ricko, dia tidak suka dengan ucapan Clara.


"Itu kenyataan Ricko! Biar dia enggak terus-menerus sombong!"


"Tapi enggak begitu juga!" bela Ricko.


"Kita pulang, kalau kamu enggak mau menuruti mauku sekarang lebih baik kita selesai. Richa dan semua milikku aku ambil."


"Apa maksud kamu?" Ricko mulai emosi.


"Silahkan kamu pilih, hidup enak bersama anak kamu atau hidup susah sama dia yang tidak tahu malu?" teriak Clara.


"Aku enggak mau memilih Clara." ucap Ricko merendahkan suaranya. "Sebaiknya kita pulang Dila." bujuk Ricko pula kepada Dila yang sudah diam dengan air mata menggenang di pelupuk mata.


"Kalau dia enggak mau pulang, kita tinggal saja." ucap Clara lagi mendengus kesal, langsung keluar tanpa peduli Ricko.


"Dila, kita pulang dulu ya! Lain kali kita ke rumah Ibu." bujuk Ricko, dari cara dia bicara Dila sudah tahu Ricko tidak akan bisa membantah Clara. Artinya Ricko lebih menyayangi Clara, pasti akan mempertahankan Clara daripada dirinya.


Dan seterunya juga Clara akan semakin menginjak-injak harga diri Dila, apalagi jika pulang artinya dia kalah dengan Clara.


"Aku pulang ke rumah Ibu saja Mas, dua hari. Kamu kasih izin aku kan?" ucap Dila pelan, mengusap bulir bening yang akhirnya jatuh juga.


"Tapi Dila..."


"Mas pulanglah bersama Clara." ucap Dila pelan.


"Papa, ayo pulang!" suara Richa terdengar jelas dari kaca mobil yang terbuka. Dila tersenyum sinis, tahu jika itu Clara yang memintanya berteriak.


"Baiklah." jawab Ricko akhirnya. Dia keluar meninggalkan Dila yang menatap pilu, sedih dan perih rasa hatinya karena saat ini Ricko telah berubah. Lebih mengutamakan Clara dan Richa dibandingkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2