Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Akan Pulang


__ADS_3

"Mama."


"Susan, Sayang Mama." Wanita berusia hampir lima puluhan itu begitu bahagia melihat kedatangan putri semata wayang. "Akhirnya kamu pulang."


Sedih rasanya mendengar ungkapan kerinduan Mama, selama ini aku tidak pernah peduli dengan apa yang dirasakan Mama. Aku hanya memikirkan Mas Ricko saja, menjadi istri yang baik dan menjaga perasaannya. Sampai lupa, menjadi anak yang baik untuk Papa dan Mama.


"Makan ya San, Mama masak makanan kesukaan kamu." ucap Mama menggandengku menuju meja makan.


Rindu sekali aku dengan suasana rumah ini, anehnya mengapa baru sekarang aku merasa rindu. Ternyata rasa sakit yang di ciptakan Mas Ricko membuka mataku. Selama ini, aku benar-benar buta dan tuli karena cintaku padanya.


"Kok makannya sedikit?" Mama melihatku mengakhiri makan ku dan meneguk air putih.


"Sudah kenyang Ma." jawabku berusaha biasa-biasa saja.


Sejenak melihat sekeliling, juga kamar Mama yang tak kunjung terbuka.


"Papa mu lagi ke ibu kota. Tiga hari katanya, mungkin nanti pulangnya sekalian jemput Mas mu."


"Mas Radit?"


Mama mengangguk. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan anak angkat Papa dan Mama itu. Tiga tahun lebih, seperti apakah dia?


Dulu Papa dan Mama sulit mendapatkan keturunan, empat tahun menikah, berobat kemana-mana, tapi tak kunjung hamil juga. Hingga akhirnya mengadopsi Mas Radit, menyayangi setulus hati, bahkan sudah tidak terlalu berharap akan memiliki anak sendiri. Hingga usia Mas Radit lima tahun, Mama hamil.


Pukul 22:30. Aku bergegas mandi air hangat, lalu beristirahat di kamarku. "Andaikan pernikahanku dengan Mas Ricko direstui Papa dan Mama, mungkin kamar ini adalah milik kami berdua. Nyatanya masuk ke kamar ini pun dia tidak pernah."


Dan tidak akan pernah, setelah pengkhianatan ini.


Aku jadi berpikir, pasti saat ini Mas Ricko sedang bersenang-senang karena tidak ada diriku.


Air mata ku turun lagi, kembali membayang di pelupuk mata, batapa banyak tanda merah itu di dada Dila. Dan sekarang, mungkin mereka sedang melakukan hal yang sama.


Ingin rasanya aku pulang, dan memergoki keduanya. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Mas Ricko. Tapi... Aku juga tidak tahu bagaimana reaksi diriku ketika itu terjadi, apakah aku sanggup?


***


Bosan dan lelah rasaku. Siang hari kemudian aku menghubungi Kiki, temanku waktu kuliah, aku menunggunya di sebuah restoran ternama.


Jika diingat betapa banyak kebodohan ku, aku juga meninggalkan pendidikan demi Mas Ricko. Entah bagaimana aku berpikir di saat itu hingga tak satupun hal benar yang bisa aku putuskan. Harusnya aku juga sudah menjadi sarjana muda satu tahun yang lalu.


"Susan!" suara khas Kiki memekik tak sabar memeluk diriku.

__ADS_1


"Kiki." Aku tak kalah senang dapat bertemu lagi dengannya semenjak memutuskan untuk menikah.


"Lu apa kabar?" tanya Kiki memperhatikan wajah hingga ujung kakiku.


"Baik Ki." jawabku duduk diikuti olehnya.


"Syukurlah kalau lu baik, takutnya enggak baik." candanya membuatku kaku.


Kami memesan Jus juga makanan kesukaan kami, ayam bakar saur pedas manis dan nasi putih.


"Mana laki lu?" tanya Kiki lagi, menatap wajahku. Aku khawatir ada mendung di pelupuk mata yang tak bisa ku tutupi.


"Ada, di kampung orang, kerja." jawabku.


"Lu bahagia kan? Atau enggak?" dia nyengir kuda.


Aku tersenyum sedikit, entahlah aku harus bicara apa. Tentu aku tak punya teman dan tidak punya siapa-siapa untuk bercerita. Tadinya aku berharap Mbak Tami tetangga ku bisa di jadikan teman seperti saudara, eh ternyata dia lebih memilih berteman dan bersaudara dengan Mas Ricko.


"Ricko nggak nyakitin lu kan? Secara gue udah ingetin lu, kalau dia tidak sebaik yang lu tahu. Mantan pacarnya ada banyak."


"Kalau boleh gue tahu, waktu mereka pacaran itu putusnya gara-gara apa?" jadi tertarik ingin tahu lebih banyak, walaupun telat.


"Enggak tahu juga, tapi salah satu mantan pacarnya adalah sepupu gue, dan itu sebelum nikah sama lu. Parahnya gue tahu setelah lu menikah. Maaf ya infonya telat."


"Ya enggak gimana-gimana, dia langsung pindah keluar kota karena susah move on."


Aku menarik nafas, memijat keningku yang terasa mau meledak.


"Lu lagi ada masalah San?" ulangnya lagi.


"Kalau boleh jujur sih, iya. Mas Ricko berubah sejak gue keguguran yang ketiga kali."


"What? Tiga kali?"


"Jangan keras-keras." aku menoleh sekeliling, beberapa pengunjung sedang menoleh kearah kami.


"Tiga kali San?" ulangnya lebih pelan.


"Iya." Aku mengaduk-aduk jus jeruk dan meminumnya.


"Terus maksud lu berubah itu gimana?" Kiki menatapku semakin ingin tahu.

__ADS_1


"Aku curiga Mas Ricko selingkuh."


"Astaga San!"


"Dan gue yakin itu benar." lanjutku lagi.


"Terus, siapa pelakornya? Lu diem aja gitu?"


"Ya enggak, gue baru tahu akhir-akhir ini setelah melihat keadaan bengkel gue yang katanya sepi ternyata rame. Terus katanya keluar ke rumah kepala sekolah, tapi kata temannya malah ga pernah lagi ke sana. Dan parahnya, dia selingkuh sama anak SMA yang ngekos di sebelah rumah gue."


"Anjir, bocah SMA? Bener-bener si Ricko. Gue pikir dia udah berubah setelah menikahi Elu."


Aku menggeleng dengan air mata turun lagi. Entah apa yang terjadi di rumahku saat ini, atau jangan-jangan Mas Ricko membawa Dila ke kamarku.


"Nanti sore gue harus pulang, gue ga bisa membiarkan mereka bersenang-senang di rumah gue."


"Ya iya, enakan si Ricko. Lagian lu nekat bener mau diajak hidup di pelosok nun jauh kemana-mana. Kalau gue sih ogah, Kaya mukanya si Ricko ganteng aja."


"Jangan ngomong gitu lah Ki, gue juga sedang menyesal ini. Sangat menyesal malah ninggalin orang tua, mutusin kuliah, kok gue bodoh banget ya waktu itu?"


"Jangan-jangan lu di pelet lagi." sahut Kiki asal.


"Ih, amit-amit Ki, hari gini lu masih percaya hal begituan."


"Lha buktinya elu, Ricko itu kalau pacaran pilih-pilih yang modelan elu, anak orang kaya, punya jabatan dan punya pengaruh. Bisa jadi dia melet lu."


"Dah ah, makan." kesal ku tak percaya, aku tidak yakin Mas Ricko seperti itu.


"Jauh nggak sih kampung elu?" tanya Kiki mulai mengadu sendok di piringnya.


"Empat jam lah."


"Ada penginapan?"


"Lu mau ikut?" tanya ku menebak maksud Kiki.


"Ya, gue mau lihat bagaimana wajah cabe-cabean yang udah buat Si Ricko berpaling."


"Jadi gara-gara itu, bukan mau bantuin gue?"


"Ya bantuin Elu lah, cuma gue pingin tahu juga. Bukannya selera Ricko itu selalu tinggi, kok bisa kepincut sama gadis di kampung sana. Anak kepala desa?" tebak Kiki.

__ADS_1


"Enggak, dia anak petani. Bukan orang berada." Jawabku membuat kening Kiki berkerut.


__ADS_2