
Awalnya aku sedih, Tapi sejenak kemudian aku senang karena kehamilanku ini adalah caraku untuk mempertahankan Pak Ricko. Aku segera memberi tahu Tante Tami, om Heru, juga Ibu.
Dan benar saja Pak Ricko tidak berkutik ketika berhadapan dengan mereka. Aku beruntung bukan?
Setelah penggerebekan itu, aku di skors dari sekolah. Aku lebih memilih diam di rumah, terlebih lagi semua orang sedang menatap sinis padaku. Walaupun aku tak peduli yang penting Pak Ricko ada dalam genggaman ku. Lagipula istri Pak Ricko sudah pergi, artinya aku punya kesempatan yang banyak, aku satu-satunya sekarang.
"Bagaimana Pak Ricko, kapan pernikahan kalian akan di lakukan?" tanya Pak RT setelah hari memalukan itu.
"Dila sedang menunggu ayahnya Pak RT." jawab Pak Ricko dan memang benar ayahku ingin dia sendiri yang menikahkan aku.
Akan tetapi Tante Tami tak sabar menunggu beberapa hari saja. Aku di paksa untuk tinggal di rumah Pak Ricko, sebenarnya aku pun menginginkannya, hanya saja aku takut istrinya Pak Ricko datang.
Dan benar saja, hari itu dia menghentikan aku ketika akan membawa pakaian ku ke kamar atas. Dia terlihat mengerikan.
Kami pun pulang dengan rasa malu. Tak apa...
Beberapa menit saja aku memilih tidur di sofa rumah Tante Tami. Mas Ricko datang dengan membawa koper besar, sungguh membuat kami terkejut.
"Dila, untuk sementara aku tinggal di kosan kamu." ucapnya meminta kunci kamar ku.
Aku tak tahu harus berkata apa, dan begitu terkejut ketika kami keluar dari rumah Tante Tami, aku melihat rumah sebelah sudah di gembok, dan tulisan yang terpasang di pagar itu membuat ku meringis.
"Kok bisa Pak?" tanya ku tak percaya.
"Bukannya itu rumah kamu Ricko, kenapa Susan bisa menyegel rumah itu?" Tante Tami kesal.
"Ya, itu gara-gara saudara pungut Susan yang sok berkuasa." kesal Pak Ricko menggeret kopernya menuju kamar kos ku.
Yah, gagal aku memiliki rumah sebelah. Tapi tak apa, Pak Ricko masih punya gaji. Itu penting untuk modal membesarkan anak dalam perutku.
"Pak, apa sebaiknya kita segera menikah." pintaku lembut.
"Ya" jawabnya singkat, karena dia juga sedang mempertahankan posisinya di sekolah. Tidak mau ada kasus lainnya apalagi kalau sampai aku menuntut.
Aku tersenyum senang, sore itu akhirnya kami di nikahkan om Heru. Ayahku tak bisa datang lantaran ibu tiriku melarang.
"Sekarang kalian sah!" Ibu dan Tante Tami tersenyum bangga, anaknya bisa menikah dengan seorang guru.
Ibu langsung pulang ke kampung, sedangkan aku tetap bertahan di kos-kosan bersama Pak Ricko suamiku.
__ADS_1
"Aku keluar sebentar." pamit Mas Ricko malam itu.
"Kemana Mas?" tanya ku merubah panggilanku padanya.
"Ke bengkel." jawabnya.
Ku biarkan saja dia pergi, toh mau ke bengkel juga. Itu salah satu usaha Mas Ricko, penghasil uang yang banyak untuk memenuhi tabunganku.
Teringat tabungan, aku membuka lemari pakaian sederhana ku, meraih buku kecil berlogokan nama Bank. Angka terakhir yang tercetak, 50 juta.
Aku ingat beberapa waktu ini Mas Ricko tidak pernah lagi memberikan uang padaku. Ku harap setelah menjadi istrinya dia akan menafkahi aku seperti kemarin, atau bahkan lebih karena sekarang aku istrinya.
Tak berapa lama kemudian, pintu kamar ku di ketuk. Dan ternyata Mas Ricko sudah kembali dengan wajah kusut.
"Mas." rayuku menggandengnya masuk. Dia menepis tanganku, heran.
"Sial!" kesalnya.
"Ada apa?"
"Uang bengkel Semuanya di setor ke Susan." jelasnya tidur terlentang sambil menutup wajahnya.
"Mas pinjem uang kamu ya Dila." pinta Mas Ricko kemudian.
"Kok uangku Mas?" tanya ku aku tak mau rugi.
"Ya terus uang siapa? Kan uang kamu banyak, kemaren ku kasih 25 juta?"
"Ada, tapi enggak banyak lagi." jawabku. Kemudian mengambil uang di dalam dompetku.
"Segini?" tanya Mas Ricko menghitung uang tiga lembar itu.
"Ya. Banyak buat apa?" tanyaku.
"Besok harus ke sekolah. Mungkin juga ke kabupaten mengurus kepindahan ku kalau bisa ke kota." jawabnya.
"Besok Dila ambilkan di Bank." jawabku kemudian, tentu aku harus mendukung Mas Ricko. Apalagi aku adalah istrinya. Yang ku dengar dari Mas Ricko keluarganya juga orang kaya, hanya saja sedang tak merestui hubungannya dan Susan sehingga dia harus hidup susah di kampung ini.
"Ya sudah, aku ngantuk." Mas Ricko mengambil bantal dan tidur di ranjang kami.
__ADS_1
Aku segera menyusul, memeluknya hangat seperti biasa ketika malam-malam kami bercinta. Lagipula aku sudah istrinya, aku mengandung anaknya.
Tak urung juga aku mengambil uang satu juta dari Bank untuk Mas Ricko. Aku menatapnya pergi hingga menghilang dari tikungan depan, aku teringat ketika dulu diam-diam menatapnya pergi tanpa ketahuan istrinya. Sekarang dia milikku.
Pamitnya, besok sore baru pulang. Aku setia menunggu sambil mengelus perut rata ku. "Ternyata begini rasanya menjadi istri Mas Ricko."
Keesokan harinya, aku berdandan maksimal menyambut pulangnya Mas Ricko. Tak lupa make up sederhana dengan lipstik pink menggoda kesukaan Mas Ricko. Ku harap sore ini dia akan kembali bergairah setelah banyaknya masalah yang sudah kami lewati.
Motor Mas Ricko memasuki teras rumah Tante Tami.
"Mas." Aku meraih tangannya, mengecupnya hangat. Tapi tak terlihat senang wajahnya, malah langsung menuju kamar kos tanpa menggandeng tanganku.
"Kemasi barang-barang ku, aku akan pulang ke rumah Ibu." perintahnya tiba-tiba. Ini apa maksudnya?
"Tapi kamu baru sampai." jawabku terbata.
"Aku akan pulang ke rumah Ibu untuk sementara, karena urusan ku semakin rumit. Belum lagi persidangan ku dengan Susan yang sudah pasti memakan waktu dan biaya." ungkapnya menghempas bokongnya di ranjang sederhanaku.
"Mas, kalau kamu merasa Persidangan kamu rumit harusnya tak usah datang." jawabku, karena menurut pengalaman Ibu ketika bercerai dengan ayah harus seperti itu agar cepat selesai.
"Kamu tahu apa? Kalau aku tidak datang artinya aku mengabulkan keinginan Susan, dan aku tidak mau!"
Aku tersentak dengan bentakan Mas Ricko, seumur kami berkenalan dia tidak pernah seperti itu.
"Ngopi dulu ya Mas." aku merayunya, mungkin dia bisa rileks.
"Ga usah, aku terburu-buru." jawabnya sedikit melunak.
"Tapi aku tak mau di tinggal Mas." ucapku ragu.
"Terus mau ikut? Ngapain?" tanya Mas Ricko, kesal.
"Aku istrimu sekarang, aku tidak mau jauh-jauh dari kamu, aku sedang hamil lho Mas." tentu aku tidak mau ditinggalkan Mas Ricko, bisa-bisa dia tidak kembali dan meninggalkan aku.
"Tapi aku buru-buru, ini sudah sangat sore." Mas Ricko melihat jam di tangannya.
"Gak, pokoknya aku mau ikut. Aku enggak mau di tinggal disini." aku ngotot saja, daripada di tinggal.
"Baiklah."
__ADS_1
Ah, akhirnya Mas Ricko mengalah. Aku sungguh penasaran bagaimana rupa ibu mertuaku. Jika dia tidak menyukai Susan, bisa saja dia menyukaiku karena sebentar lagi aku akan memberikannya cucu.