
"Bagaimana pekerjaan di kantor Papa?" Mas Radit bertanya sambil memandangi wajahku. Malam ini kami sengaja keluar hanya sekedar jalan-jalan.
"Buruk." jawabku singkat. Mas Radit menautkan alisnya.
"Why?"
Aku menarik nafas berat, bingung sendiri bagaimana menjelaskan bahwa kantor yang baik-baik saja, tapi menjadi rumit karena kehadiran Mas Ricko.
"Sini." Mas Radit merengkuh aku dalam pelukannya, meminta ku berdiam di dadanya sejenak. "Apa Mas terlalu cepat pulang?" tanya Mas Radit mengelus rambutku.
Aku menggeleng, tentu aku tidak sedang berpikiran begitu. "Mau cepet-cepet nikah sama kamu Mas." lirihku, aku memeluknya sambil mendengarkan detak jantung yang berirama, perlahan aku tenang mendengarnya.
"Minggu depan." jawabnya mengecup pucuk kepala ku.
"Nggak bisa besok aja?" aku mendongak menggodanya.
"Mas malah maunya malam ini." jawabnya tersenyum mencubit hidungku, kami terkekeh pada akhirnya. Se-kalut apapun jiwaku, jika sudah bersama Mas Radit pasti akhirnya akan menjadi tenang.
"Kerjaan Mas udah selesai kan?" tanyaku menatap wajah tampan kakak sekaligus calon suamiku ini.
"Udah." jawabnya singkat. Ku lirik wajah tampan dalam remang cahaya itu terlihat sedang berpikir.
"Mas lagi mikir apa?" tanyaku tetap menyandar di bahunya.
"Tidak ada hal yang membuat Mas berpikir selain kamu." dia menoleh ku hingga ujung hidung kami begitu dekat.
"Aku? Kenapa?" tanyaku pelan.
"Apa kamu masih ada rasa sama Ricko?" pertanyaan yang membuat mata kami beradu, saling menyelami hati masing-masing.
"Mas ragu sama aku?" pertanyaan ku membuat ia tersenyum lalu mengangguk.
"Mas cuma takut terlalu percaya diri untuk memiliki kamu. Namanya pernah menikah pasti sulit untuk melupakannya. Kan Susan sendiri yang bilang." dia menatap dengan sorot mata tulus dan penuh harap.
"Aku memang tidak lupa Mas." jawabku, ku lihat wajah tampan kakak ku ini mendadak sendu.
Dia tetap mencoba tersenyum, walau getir ku lihat jelas.
"Aku tidak lupa bahwa aku teramat bodoh memilih dia dan meninggalkan Papa dan Mama. Aku juga tidak lupa bahwa dia sudah berselingkuh, bahkan aksinya sangat hebat sehingga membuat hamil muridnya sendiri. Jadi untuk apa aku mengingat Mas Ricko lagi. Sekarang aku hanya ingin memulai hidup baru bersama Papa, Mama, dan kamu Mas."
Mas Radit tersenyum senang, dapat ku dengar hembusan nafasnya lega. "Mas enggak mau mendengar kisah Ricko lagi." jawabnya memelukku, dia tidak tahu aku khawatir mendengarnya.
"Tapi_"
__ADS_1
"Enggak ada tapi." dia semakin memelukku erat. Atap cafe milik Papa ini selalu menjadi favorit kami jika sedang ingin berbicara, entah apa saja yang kami bahas maka akan terasa seru jika berada di ketinggian ini. Terlebih lagi saat ini kami sudah tahu perasaan kami bukanlah hanya sekedar saudara, tapi cinta.
"Gerimis Dek." dia menengadah langit, memastikan bahwa benar ada rintik hujan yang jatuh.
"Iya." jawabku ikut menengadah, melihat di atas sana gelap tapi indah.
"Pulang yuk, nanti kamu kedinginan. Anginnya kenceng, gelap lagi." ucap Mas Radit padaku.
"Ini aja udah dingin Mas." aku memeluk bahuku sendiri.
"Nanti Mas yang bikin hangat." dia tersenyum menggodaku.
"Apaan?" aku menepis tangan Mas Radit, dia terkekeh melihatku malu.
"Bukan apa-apa, emangnya kamu mikir apa?" dia meraih pinggangku, menempel padanya.
"Ya enggak mikir apa-apa." Aku menyembunyikan wajahku di dadanya.
"Bener? Pasti inget di cium waktu itu." dia berbicara, menempelkan bibirnya di telingaku. Aku merinding di buatnya, ku yakin dia sengaja.
"Enggak Mas." aku mendorongnya, ingin lepas dari pelukan Mas Radit.
"Enggak apa?" dia menahanku.
"Enggak usah pulang, di sini aja sampai pagi." dia semakin membuatku salah tingkah.
"Aku ngantuk Mas." alasanku saja. Hingga akhirnya dia mengalah, kami pulang tanpa membahas risauku lagi. Mungkin lusa Mas Ricko akan tahu sendiri, tak perlu aku mengacaukan suasana bahagia malam ini.
"Langsung tidur ya." ucap Mas Radit mengusap kepalaku, mobil sudah terparkir di rumah besar kami.
"Mas juga, jangan begadang atau menelpon sana-sini. Aku enggak suka." ucapku curiga. Dia terkekeh gemas. Tangan kokohnya melepaskan sabuk pengaman ku. Wajahnya begitu dekat dengan nafas hangat menyapa wajahku. Aku seperti tersedak menghirup aroma mint yang menggoda.
Cup.
Lagi dia mengecup bibirku sekilas, Sesak rasanya menahan gejolak di dadaku, terlebih lagi Mas Radit tak beranjak, di masih memandangiku sangat dekat.
Cup.
Aku membalasnya sedikit tapi liar, dia pikir hanya dia saja yang bisa membuat aku menggila dengan ciuman sekilas.
Aku membuka pintu segera, meninggalkan laki-laki yang sudah pasti tidak bisa tidur karena ulahku. Akhirnya aku bisa membalasnya, setelah berbulan-bulan menahan rindu karena ciuman sekilasnya itu.
Aku menoleh Mas Radit yang belum juga keluar dari mobil, ku rasa dia sedang menertawai ku yang sudah begitu berani padanya. Terserah saja....
__ADS_1
***
Memang dasarnya Papa selalu membuat Mas Radit sibuk, hari libur ini mereka pergi berdua entah kemana. Pulang malam dan kami tak sempat mengobrol, padahal aku ingin tahu bagaimana reaksinya setelah aku cium malam kemarin itu.
"Kalian akan ke kantor?" tanya papa ketika kami sarapan.
"Iya Pa, Radit mau menemani Susan hari ini, sekalian nanti mau fitting baju." jawab Mas Radit mengelap bibirnya dengan tissue.
"Ya! Kalian memang harus cepat menikah." Papa melirikku yang sejak tadi diam. Ku lirik Mas Radit tersenyum, mereka memang sehati, bikin aku cemburu saja.
"Kita berangkat Pa, Ma." pamit Mas Radit mengecup punggung tangan Mama dan Papa bergantian.
"Sayang, kenapa dari tadi diem aja?" tanya Mas Radit mulai melajukan mobil.
"Enggak." jawabku tak begitu menanggapi Mas Radit, walau ku tahu berkali-kali dia menoleh ku.
"Ini udah sampai tapi masih diem aja." ucapnya lagi ketika mobil sudah berhenti di halaman kantor Papa.
"Enggak apa-apa, cuma kesel karena Mas selalu sibuk sama Papa! Enggak peka banget." kesal ku.
"Enggak peka gimana Sayang? Mas pulang buat kamu lho."
"Iya buat aku, tapi pergi pagi pulang malem ngapain aja?" suaraku sedikit meninggi.
"Nemenin Papa ngecek bisnisnya." jelas Mas Radit.
"Bisnis yang mana coba? Enggak harus dua hari dong Mas?"
"Kan cuma dua hari sebelum kita menikah. Nanti Papa enggak mau mengganggu kita." rayu Mas Radit, dia mendekati wajahku. Sikap mesumnya kambuh kalau sudah dekat begini.
"Mau ngapain Mas?" aku menahan dadanya.
Dia tersenyum mesum, mengecup bibirku sedikit lama. Dia mempermainkan aku dengan caranya yang lembut.
"Kita udah telat." Aku melengos, menghindari Mas Radit yang seolah tak mau berhenti.
"Ya." Dia mengecup keningku berkali-kali.
Aku keluar tanpa menunggu Mas Radit membukakan pintu, ku lihat dia segera mendekati aku.
"Hem! Pagi-pagi udah sarapan aja." ucapan sinis itu terdengar di samping mobilku, Mas Ricko menyandar sambil melihat kami, ku rasa dia menyaksikan bagaimana Mas Radit mencium ku. Aku sedikit malu. Tapi ku lihat Mas Radit tersenyum tipis.
"Ya, seperti yang elu lihat, masih inget kan rasanya?" balas Mas Radit membuatku menganga, sikapnya seolah tidak terkejut, menggandengku masuk ke dalam kantor Papa tanpa menanggapi Mas Ricko.
__ADS_1